Aurel mengerang di atas kasur besarnya. Hawa dingin menyusup di balik kaus tipis Aurel l, sehingga gadis itu harus menarik selimut untuk semakin menyelimuti tubuh kecilnya. Meringkuk seperti anak bayi. Setengah sadar, Aurel mendengar suara-suara yang ia yakini berasal dari ruamg tengah. Bunyi decitan jendelanya juga turut serta membuatnya semakin menyembunyukan kepala di bawah bantal. Pintu kamarnya selalu dikunci setiap malam. Seingatnya juga, jendela masih tertutup rapat saat ia meninggalkan kamar terakhir kali. Angin kencang terus masuk ke dalam kamar Aurel. Sesekali jendela kayu yang sengaja tidak diberi warna agar memberikan kesan estetik itu bergerak membuka dan menutup. Bunyinya keras, seolah mau menandingi suara ribut di luar yang kian menjadi. Ah, Aurel ingat. Semalam ia ter

