Jeani menatap Rizal seolah dia ingin mulai berbicara tentang tujuannya tetapi, pelayan datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan Rizal sebelumnya. “Mas pesan semua ini?” “He eh, kenapa?” “Lalu siapa lagi yang Mas undang kesini?” “Hanya kita berdua. Bukankah semua itu makanan kesukaan kamu?” Jeani menatap pelayang yang masih meletakkan piring berisi hidangan di atas meja sehingga hanya menyisakan tempat untuk mereka makan saja. “Sebagian memang kesukaanku, tapi mana mungkin aku bisa makan semuanya. Mas pikir aku pengungsi yang udah tahunan gak makan?” Bukannya menjawab Rizal justru tertawa keras hingga menarik perhatian beberapa orang yang duduk di sekitar mereka. “Kamu pikir masih bisa menghirup udara kalau udah tahunan gak makan?” Jeani menatap Rizal seolah lelaki di depa

