10. Signal

1591 Kata
90 H: 21 M: 13 S AFTER THE ABDUCTION SIGNAL . . . . Para member BTL sedang melakukan latihan di studio Bhome. Musik mulai berdentum, lagu andalan mereka Sweat and Tears, terdengar di ruang latihan. Semua mencoba berkonsentrasi pada bagian masing-masing. Sebenarnya, ini sangat sulit. Tekanan yang dibuat penculik, dengan melakukan pemukulan terhadap petugas kemarin membuat member BTL semakin khawatir. Bukankah berarti ia juga bisa melakukan hal yang sama terhadap Jeon-gu? Namun, mereka harus tetap melakukan yang terbaik demi penampilan yang akan di dedikasikan kepada para penggemar meski tanpa Jeon-gu. Guru tari mereka, pelatih Jung memerhatikan melihat situasi tak baik dan tarian gang gak bertenaga buat ia menghentikan pemutar musik. Semua menatap heran dan bingung mengapa sang pelatih melakukan hal itu. "Ada apa dengan kalian? Tidak ada tenaga? Tidak ada ekspresi? Tidak ada energi yang kalian sampaikan? Semangat kalian hilang karena Jeon-gu sakit?" ucap Jung kesal. Sedari tadi ia memperhatikan tapi semua member seolah kehilangan semangat. Sayang, pelatih mereka tak tau tekanan berat yang mereka alami. Tentu saja jika ia tau pasti iantak akan marah seperti ini. Para member BTL dan para penari latar pun hanya terdiam. Para member hanya bisa saling menatap. Mereka tau ini kesalahan. Tapi, perasaan terkadang bukan hal yang bisa dikendalikan bukan? Apalagi setelah tekanan berat membayangkan bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jeon-gu. Itu menambah beban pikiran mereka yang juga jelas sangat kurang beristirahat. "Sekarang beristirahatlah, pastikan kalian kembali lebih baik dalam tiga puluh menit. Kalian BTL dan lunya tanggung jawab pada para penggemar untuk penampilan kalian besok. Aku harap kalian ingat itu." ucap Jung penuh penekanan ia menatap semua member satu-persatu. Kemudian, melangkahkan kakinya keluar diikuti penari latar, mereka semua meninggalkan para member BTL berada di ruang latihan. Hanya ketujuh member kini di ruang latihan. Semua duduk karena kelelahan. Tae memegangi wajahnya dengan kedua tangannya, Jimmy menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya. Perasaan mereka campur aduk khawatir namun harus tetap berusaha baik-baik saja. "Aku akan gila sebentar lagi," keluh Jimmy. "Yunki hyeong ..." panggil Jimin pada Yunki yang saat ini telah merebahkan tubuhnya ke lantai studio. "Eung?" sahutnya sambil menatap Jimmy. "Apa kau tak mencoba menghubungi b******n itu?" tanya Jimmy yang kali ini terlihat begitu marah. "Aku terus menghubunginya. Tapi, ponselnya tidak aktif." jawab pria berkulit putih itu. Jelas saja ia melakukan itu berkali-kali dan harus melakukannya untuk mencari tahu bagaimana keadaan si bungsu. Heosok menghela nafasnya, "saat kemarin aku melihat video itu perasaanku sakit sekali," keluhnya dengan suara tang bergetar. Semua menatap Heosok dengan tatapan yang sama. Mereka terluka melihat keadaan Jeon-gu yang beberapa hari lalu hanya bisa mereka saksikan dari video. Siapa yang tak terluka? mereka bukan hanya sekedar anggota BTL mereka adalah saudara, keluarga, sahabat bisa dibayangkan bagaimana terlukanya mereka saat ini. "Ia bahkan menjadi kurus sekali," Tae mengacak-acak rambutnya karena kesal dan marah pada penculik namun ia tak bisa mengungkap secara langsung pada pelaku. Andai ia bisa melakukan itu entah apa yang mungkin akan ia lakukan. "Sebenarnya, apa yang diinginkannya?" tanya Seojin. Ia bersandar pada dinding kemudian memejamkan kedua matanya Sang leader dan si pucat menggeleng, "entahlah," "Kita harus kuat menghadapi ini, aku tau ini sulit. Tapi, bertahanlah." Yunki coba menguatkan yang lain. Tentu saja semua harua saling menguatkan. Karena ini masalah bagi semuanya bukan hanya satu orang saja. "Sekarang kita konsentrasi untuk penampilan kita besok. Ini demi L-ME, demi BTL dan demi Jeon-gu," ucap Seojin yang juga mengerti harus berlaku selayaknya kakak. Semua mengangguk, karena mereka sadar hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini. "Besok penampilan live kita, Jimmy kau gantikan part Jeon-gu untuk awal dan di bagi menjadi 2 dengan Seojin hyeong," sang leader BTL memberi arahan menurutnya suara keduanya cocok untuk menggantikannya. Keduanya mengangguk setelah diberikan arahan sang leader. Kemudian Yunki mengarahkan tangannya ke depan, Tae menyusul meletakan tangannya di atas, disusul Seojin, Namjun, Heosok dan Jimmy. "Hwaiting?" tanya Yoongi. "Hwaiting!!!!" Semua bersorak bersama, kini membuat situasi menjadi lebih baik. Seojin mengacak-acak rambut Jimmy kemudian Tae. Para hyeong line mencoba menenangkan para member muda. Heosok merangkul Jimmy, Seojin menepuk pundak Tae, Yunki menggenggam tangan Namjun. Hanya untuk sekedar saling menguatkan. Ya ... setidaknya saat ini saling menguatkan adalah cara mereka menata pikiran dan perasaan mereka. ***** *** * Yunki berjalan memasuki kamar ia merasa lelah setelah latihan. Saat itu ponselnya berdering. "Jeon-gu?" gumamnya. Yunki segera mengangkat panggilan dan berjalan dengan cepat keluar kamar. Ia lalu duduk di sofa. Saat itu Tae, jimmy dan Heosok sedang sibuk di ruang tengah. Menghafalkan kembali gerakan tari mereka. Sementara Seojin dan Namjun duduk di ruang makan. Keduanya jelas melihat keanehan dari gerakan Yunki. Yunki menggerakan tangannya meminta semua mendekat. Keduanya berjalan cepat mendekatinya. "Apa kalian menungguku?" "Cepat berikan kami kodenya." Pinta Yunki jelas menahan amarahnya. "Bersabarlah, saat ini tawananku sedang sakit. Ahaa! kalian pasti sudah melihatnya di video itu kan? Aku akan berbaik hati merawatnya," "SEBENARNYA APA MAUMU b******n!!" Si pucat tak dapat lagi menahan emosinya. Namjun menepuk-nepuk pundak si pemilik kulit pucat itu agar ia lebih bersabar. Tentu saja saat ini tak mungkin menganggapi penjahat ity dengan emosi ia akan semakin senang. "Hahahhahhahahah, bersabarlah dan nikmati hari kalian. Aku mungkin akan memberi kejutan. Lakukan dengan cara kalian. Aku mungkin akan melakukan sesuatu pada anak ini jika kalian berani bekerja sama dengan polisi." Yunki menatap Namjun mereka saling bertatapan merasa takut dengan ancaman Penculik. Klik Panggilan di matikan. Para member BTL hanya bisa saling bertatapan dengan khawatir. Ini benar-benar membuat mereka merasa kesal. Baru saja mereka saling meyakinkan dan menguatkan. Tapi, sesaat kemudian pikiran dan perasaan mereka kembali di kacaukan oleh panggilan dari penculik. Setelah mendapatkan panggilan dari penculik tadi, semua member hanya duduk di ruang tengah dan saling terdiam. Bel di dorm berbunyi. Namjun berdiri dan berjalan untuk membuka pintu. Sesaat kemudian ia berjalan masuk bersama Jiwook kepala kepolisian yang menangani kasus mereka sebelumnya. Ia datang mengenakan pakaian staff BTL sambil membawa sebuah koper dengan logo Bhome. Semua menatap kaget mereka teringat dengan apa yang dikatakan sang penculik barusan. Di ruangan itu hanya Yunki dan Namjun yang terlihat tidak terkejut dengan kejadiran Jiwook. Para member memerhatikan Jiwook dengan penasaran juga menatap Yunki dan Namjun yang jelas tak terlihat kaget dengan kehadiran sang ketua kepolisian. Jiwook memerhatikan sekitar, lalu para member, kemudian melirik Namjun. "Kau belum mengatakan apapun pada teman-temanmu?" tanyanya. Namjun hanya mengangguk sambil menghela nafasnya. Ia tau jika ia mengatakan pada yang lain kemungkinan mereka akan merasa resah. Pasalnya, penculik terus mengatakan agar tak menghubungi polisi tentu saja ini akan menjadi perdebatan. Maka dalam perjalanan pulang Namjun dan Yunki memutuskan tak memberitahu yang lain. "Sepertinya, dua teman kalian belum menjelaskan apapun. Ijinkan aku memperkenalkan diri. Aku kepala satuan khusus Seoul, namaku Jiwook. Aku akan membantu kalian dan kupastikan rahasia kalian akan tetap aman." Jiwook memperkenalkan diri dengan meyakinkan kalau mereka dan juga Jeon-gu akan baik-baik saja. Semua menatap Yunki dan Namjun lagi secara bergantian. Mereka seolah mengingatkan tentang ancaman penculik beberapa saat lalu. Yunki dan sang leader hanya membalas tatapan dengan anggukan mencoba meyakinkan agar mereka percaya dan tidak khawatir. Sementata itu Jiwook membuka koper yang ia bawa. Isinya adalah aneka peralatan mata-mata dan yang lain. Kemudian membuka laptopnya meja ruang tengah. Kemudian mencoba menunjukkan sesuatu. "Aku kemari karena aku tau baru saja penculik itu menghubungi kalian. Sayangnya, aku tak bisa menangkap lokasinya. Butuh tiga menit untuk kami mendapatkannya. Dan, untuk penculik itu-" Semua menatap penasaran dengan ucapan menggantung dari pria dihadapan mereka. "Yang jelas kita butuh waktu lebih lama, penculik itu mengunakan pemancar pengalih yang ia sebar di beberapa titik. Artinya jika ia melakukan panggilan akan terpancar dari pemancar pengalihan sinyal yang di pasang sesuai urutan pengaktifan. Entah, berapa pengalih yang ia pasang. Yang jelas, kami kesulitan mendeteksi. Dan berita baik dan buruknya kami menemukan satu yang paling dekat." Jiwook menatap semua bergantian ia menatap para member yang terlihat sangat penasaran. "Pemancar itu ada di gedung ini " "Mwo?" Yunki, Seojin dan Jimmy terpekik bersamaan. "Tugas kita sekarang mencari pemancar itu, karena bisa juga dorm ini juga sudah di sadap. Dan mungkin saat ini ia sudah tau bahwa aku membantu kalian," jelas sang ketua. Lalu Jiwook memberikan sebuah alat seperti tongkat namun dengan ujung membulat. "Gunakan, ini dan cari di seluruh dorm," alat Itu akan membantu mendeteksi logam. Dan telah di kembangkan dengan khusus oleh Seok salah satu anak buah Jiwook menjadi lebih peka dan menambah beberapa kepekaan sensor. Tim satu Yunki, jimmy dan Heosok akan mencari di ruang bawah yaitu ruangan staff. Sementara yang menjadi Tim dua Namjun, Seojin dan Tae akab mencari di gedung atas di ruangan mereka. Dan Jiwook yang akan mencari di tempat parkir. Tim satu membicarakan rencana mereka. Karena ada beberapa staff di bawah yang memang selalu ada untuk menjaga mereka. Setelah yakin dengan rencana yang disusun, mereka melangkahkan kakinya masuk ke ruang staff. Jimmy dan Heosok berjalan mendekati dua orang staff yang sedang mengobrol. Mereka meminta staff untuk bermain game online. Yunki hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para staf. Si pucat berjalan dengan santai memasuki salah satu kamar staf, kemudian ke kamar yang lain. "Yak Yunki, apa yang kau lakukan?" tanya Yun salah satu staf yang biasanya bertugas menjaga BTL. "Aku hanya penasaran bagaimana kamar kalian." jawabnya enteng. Ia dengan tampang datar, berjalan mendekati pintu kamar belakang yang tepat berada di samping dapur. Ia mencoba membukanya. Tapi tidak berhasil. "Yun hyeong, kamar siapa ini?" Tanya Yunki Yun menatap Yunki, "ahhh, kamar itu tak bisa kami buka dari awal kami ke sini. Kami juga penasaran dengan isinya. Karena staff kekurangan ruang untuk alat dan coba membukanya. Tapi, tidak bisa dibuka karena kuncinya menghilang. Sepertinya, kami akan memanggil seseorang untuk membukanya." Jimmy dan Heosok saling menatap tentu saja karena mereka curiga dan penasaran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN