Rose memang saat ini sedang mengingat kembali penjelasan Dokter Parta kala itu.
"Apa yang terjadi sehingga dia sulit hamil dok?" Marchel yang bertanya terlebih dahulu pada dokter karena Rose memilih diam saja.
"Rose memiliki gejala PCO atau Policystic Ovarium, yang ditandai dengan sel telur yang kecil-kecil, siklus haid yang tidak normal dan bisa menimbulkan penebalan pada dinding rahim" dan penjelasan sang dokter mampu membuat Rose terdiam. Memang selama ini dia memiliki gejala seperti itu, dia jarang mendapatkan tamu bulanannya dan bahkan sang ibu pernah menuduhnya hamil karena tidak mendapatkan menstruasi hampir 2 bulan dan bagi Rosee, karena dia tidak pernah melakukan hubungan lebih jauh dengan siapapun maka dia bersikap biasa-biasa saja.
"Hahhhhh" Rose menghempaskan nafasnya panjang, mengingat semuanya dia kemudian berusaha membawa dirinya melupakan semuanya dengan memejamkan matanya perlahan.
Sebelum matanya terpejam panggilan di telfon genggamnya sedang berdering dan dengan malas dia meraihnya.
'Marchel' lirihnya dalam hati.
"Halo sayang" sapa lelaki itu dari seberang sana.
"Ya Chel, kenapa?" ketusnya.
"Kok jawabnya ketus gitu?" buru-buru Marchel membalasnya.
Menghela nafas kasar sambil menggeleng, Rose menjawab dengan malas.
"Nggak apa-apa, aku mau istirahat. Capek" ketusnya.
Baru sehari berlalu, sejak pemakaman sang ayah, rasanya sangat sepi bagi Rose. Bagaimana tidak, ayahnya adalah orang yang paling dekat dengannya. Orang yang menguatkannya ketika Dirga memilih pergi karena di jodohkan oleh orang tuanya.
Ayahnya memberikannya motivasi dan membangkitkan kembali semangatnya sehingga bisa terus kokoh berjalan dengan tentunya melupakan Dirga. Sampai akhirnya Rose sendiri yang jatuh cinta dengan Marchel.
"Sayang, besok aku jemput ya!" kata-katanya seperti sebuah perintah. Marchel memang selalu berusaha membelenggu kekasihnya dengan ucapan yang manis namun terkesan memerintah.
"Kemana?" kata Rose lagi.
"Bertemu ibu" jawabnya lagi. Rose sempat terdiam namun kemudian memberanikan diri untuk sedikit bercerita pada Marchel tunangannya itu.
"Chel, apa kamu juga berfikir yang sama dengan ibumu?" kata-kata Rose lebih pada sebuah harapan agar kekasihnya itu tidak terlalu memojokkannya bahwa kelainan seperti dirinya yang mengalami PCO adalah sesuatu yang dibesar-besarkan sehingga mengancam rencana pernikahan mereka.
"Sayang, kita akan membicarakannya lagi besok ya. Aku jemput kamu, tunggu aku ya sayang". Kemudian panggilan itu terputus dan Marchel maupun Rose sama-sama ada dalam dilema yang sangat dalam. Rose tidak ingin pernikahannya menjadi boomerang bagi hubungan Marchel dan ibunya hanya karena dirinya yang sulit punya anak, kemudian Marchelpun demikian. Dia sangat gundah memikirkan apa yang akan di katakan oleh ibunya besok jika bertemu dengan Rose lagi.
Rose memilih segera tidur dengan sebelumnya dia melakukan ritual malamnya yang identik dengan perawatan seorang wanita apalagi dia sebelumnya melakukan itu karena sudah mendekati hari pernikahan. Namun siapa sangka jika pernikahannya kini justru banyak menemukan kendala.
Rose menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya seperti malam-malam sebelumnya. Setelah itu ia naik ke ranjangnya yang sangat unik itu sambil terus mencari informasi tentang kelainan yang dia alami.
Masih terngiang dalam penjelasan dokter, tentang PCO yang dialaminya. Polikistik Ovarium bisa diatasi dengan memperbaiki gaya hidup dan rajin berolahraga. Dia mencoba bergabung di beberapa grup media sosial yang membahas tentang perjuangan wanita dan ibu-ibu untuk mendapatkan tiket H ataupun garis 2 dengan gejala yang sama dengan dirinya. Hingga akhirnya malam semakin larut, semakin dia semangat untuk membaca komentar-komentar dalam postingan beberapa wanita di media sosial tersebut.
'Aku adalah seorang wanita dengan gejala PCO. Haidku tidak lancar, kadang 2 bulan dan kadang juga 3 bulan sehingga aku dan suami sulit menentukan masa subur sehingga belum di karunia anak. Kami menikah sudah 5 tahun, dan memang sebenarnya dokter sudah menyarankan aku untuk melakukan diet karbo dan gula namun aku belum bisa konsisten melakukannya. Adakah teman-teman di grup ini yang bernasib sama denganku? tapi kemudian berhasil hamil?' salah satu komentar dalam sebuah postingan yang menanyakan tentang wanita yang memiliki kelainan PCO.
Rose terus membaca dan semakin serius mencari informasi agar dia bisa paham tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu di kediaman Marchel, ibunya sedang berbicara dengan tegas kepada putranya yang sangat di sayanginya, Marchel.
"Ma, tolonglah ngerti aku juga ma" bantah Machel. Ibunya bersikeras untuk menunda pernikahan Marchel dan Rose, sambil menunggu Rose melakukan pengobatan hingga Rose dinyatakan subur oleh dokter dan bisa segera hamil.
"Marchel, kamu pernah berjanji untuk melakukan 1 permintaan mama jika mama sadar dari koma. Benarkan?" kata ibunya. Marchel kemudian mendekati mamanya dengan perasaan yang sedikit meminta iba.
"Ma, jangan meminta permintaan itu saat ini. Aku tau itu pasti akan sangat berat bagiku ma, tolong jangan pisahkan aku dan Rose ma. Marchel sangat mencintainya, Ma" mohon Marchel pada ibunya.
"Dengar Chel, mama tidak akan memisahkan kalian, mama hanya minta ditunda agar Rose sehat dan normal dulu"
"Atau, mama punya pilihan kedua dan ketiga. Pilihlah salah satu dan kemudian keputusan apapun darimu maka itu akan jadi permintaan mama yang harus kamu lakukan" sambungnya lagi. Marchel sangat galau, dia takut jika keinginan mamanya ini terlalu berat untuk dapat dipenuhi olenya.
Sebagai anak yang sangat di sayangi oleh sang Ibu, Marchel tidak ingin mengecewakan wanita yang sudah melahirkannya itu namun dia juga tidak bisa begitu saja menerima dan kemudian mengabaikan perasaannya sendiri dan juga perasaan wanita yang sangat dicintainya.
"Apa kamu tidak mau mendengar pilihan kedua mama?" tanya ibunya lagi.
"Katakan ma, Marchel akan mencoba memilih"
"Baiklah, yang pertama kau bisa kau bisa menunda sampai Rose di katakan sembuh, kedua kau bisa menikahi Rose tapi kau juga harus menikahi wanita pilihan mama,"
"Jadi mama minta aku poligami ma?" potong Marchel kemudian.
"Ah, kau sudah bisa mengartikannya sendiri kan, dan yang ketiga" dia menjeda kembali kata-katanya.
"Yang ketiga, kau meninggalkannya dan bisa memilih wanita lain yang sehat dan bisa segera melahirkan cucu buat mama" ucapnya lagi.
"Ma, tidak ada yang bisa Marchel pilih ma, semua pilihan mama sulit. Mama, Marchel mohon" dia bahkan telah memohon kepada ibunya agar dia dan Rose bisa menikah secepatnya.
"Mama, mau tidur dulu. Capek, dan jangan lupa Chel, pilih salah satunya" tegas sang mama dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Marchel yang masih saja bingung dengan kata-kata sang mama.
'Jika menikahi wanita lain tapi masih bisa menikahi Rose, mungkin itu pilihan yang baik. Tapi apakah Rose mau?' gumamnya dalam hati.
Saat dia akan beranjak masuk ke dalam kamarnya, Marchel menonton sebuah tayangan di TV swasta yang memberitakan tentang seorang wanita yang sedang melaporkan sang pacar yang bekerja sebagai aparat di pemerintahan, namun dia menghamili kekasih gelapnya dan kemudian memintanya untuk menggugurkannya. Namun karena dia tidak tega akhirnya dia membawa kasus ini sampai ke permukaan. Perut wanita yang sudah membesar itu membuat Marchel memikirkan salah satu rencana yang mungkin kurang baik.
Marchel mulai berfikir liar agar dia dan Rose bisa segera bersama.
'Sayang, jangan lupa besok aku jemput' sent.
Marchel mengirimkan pesan itu ke nomor kekasihnya, Rose. Besok dia merencanakan sesuatu yang mungkin saja bisa membuatnya dan Rose segera menikah. Apakah rencana itu?
Tanpa menunggu balasan pesan dari Rose, Marchel menutup matanya dan segera membaca doa tidurnya, besok dia mulai akan merencakan aksinya. Begitu pula dengan Rose, dia tidak sempat membaca lagi pesan yang dikirimkan oleh Marchel.
Nafas teratur dari keduanya, Rose dan Marchel dari tempat yang berbeda menandakan malam ini mereka sudah beristirahat dengan harapan hari esok akan lebih baik dari hari ini.
Bersambung...