"Ya Allah, berikanlah kekuatan atas apapun takdir yang harus hambaMu ini jalani. Hamba ikhlas ya Allah" sepenggal kalimat yang mengalir dari bibir manis Rose dalam doanya di subuh ini. Rose sangat menyadari saat hatinya gundah hanya kepada Sang pemilik kehidupanlah dia mengadu.
Melipat kembali sajadahnya dan kemudian berjalan menuju dapur, subuh ini dia ingin membantu ibunya untuk memasak dan bisa berjalan-jalan di kompleks rumahnya sebelum Marchel datang ke rumahnya.
"Rose?" panggil sang ibu ketika mendapati Rose berjalan di dapur.
"Ma, masak apa hari ini?" tanya Rose pada ibunya yang juga keluar dari kamarnya. Sepertinya ibunya juga baru selesai melaksanakan kewajibannya pada Sang Kuasa.
"Apa kamu akan kedatangan tamu? kenapa kamu menanyakan masak apa? biasanya juga kamu masak seperti biasa sesuai bahan yang ada" jawab sang Ibu. Memang Rose sudah terbiasa membantu ibunya memasak, apalagi semenjak ibu kandungnya meninggal. Rose terbiasa memasak untuk ayahnya sejak kecil sehingga saat ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, dia sudah terbiasa memasak untuk keluarga ini.
Rose mengangguk mantap.
"Apakah pacar baru?" sambung sang ibu. Semenjak kepergian sang ayah, ibu tirinya memang berfikir bahwa Marchel benar-benar telah mengakhiri hubungan mereka karena Marchel belum pernah datang ke rumah itu lagi.
"Marchel ma" jawab Rose singkat dan kemudian melanjutkan aktivitasnya memotong kentang dan wortel. Dia ingin memasak sup ayam untuknya juga keluarga ini serta keluarga Marchel.
"Oh, apakah Tante Raisa juga akan datang?" Rose sempat terkejut mendengar ibunya menyebut Tante Raisa, padahal sebelumnya ibunya tidak pernah menyebut nama ibunya Marchel.
"Memang kenapa ma?"
"Mama nanya saja"
"Hmmmm" Rose mengangguk dan kemudian melanjutkan aktivitas memasaknya.
***
Pagi ini Rose berjalan di kompleks rumahnya, setelah semua aktivitas telah selesai memang dia terbiasa memanfaatkan waktu weekendnya dengan berjalan di sekitarnya sekedar untuk melihat pemandangan sekitar dan juga bersapa dengan tetangganya. Kebiasaan ini dilakukannya juga karena kebiasaan sang ayah bersama ibunya sebelum mereka pergi meninggalkan Rose untuk selamanya.
"Pagi cantikku" sapa seorang pria, Rose menoleh ke belakang.
"Ah kamu Lang?" Gilang, sahabat kecilnya menegurnya. Gilang adalah sahabatnya ketika dia masih sekolah di SMP dan seingat Rose, dia juga adalah adik dari sahabat akrab Dirga.
"Rose, tumben kamu jalan sendirian aja? ayahmu mana?" seketika itu raut wajah Rose meredup dan kemudian menunduk.
"Ayah sudah meninggal, Lang. Sebulan yang lalu"
"Innalillahi, maafkan aku Rose. Aku tidak tau, aku baru saja datang dari Bandung" sambungnya lagi.
Rose dan Gilang mengambil posisi duduk di sebuah taman, mereka berbicara sebagai sahabat yang telah lama tidak bertemu.
"Aku ingat, saat pesiar ke rumah tanteku di kompleks ini pasti akan bertemu denganmu yang jalan-jalan pagi saat weekend dan kau pasti bersama ayahmu"
"Iya Lang, tapi ayahku sudah pergi" tak terasa kepedihan itu kembali terasa karena kenangan-kenangan sang ayah. Kesedihan yang paling berat dirasakan Rose adalah ketika mengingat bahwa penyebab meninggalnya sang ayah adalah karena rencana pernikahan dirinya yang menjadi konflik kala berita tentang dirinya yang sulit hamil.
"Lalu, kamu sekarang apa kabar?"
Rose mengangguk dan menatap sahabatnya itu sambil tersenyum kemudian.
"Aku baik, kok tumben bangun kamu formal kayak gini nanyain kabar aku?" sergah Gilang.
"Aku mendengar dari tanteku, kamu akan menikah. Benarkah?"
Rose mengangguk, namun tatapannya tiba-tiba menjadi layu dan sedih. Matanya tampak menjadi berkaca-kaca walaupun genangan air di sana tidak terlihat karena Rose mampu mengendalikan dirinya.
"Kenapa? bukankah itu kabar bahagia?" sambung Gilang kemudian.
"Hmmm, iya" Rose tidak ingin mengatakan apapun lagi mengenai kelanjutan pernikahannya walaupun keputusan final itu akan dibicarakan sebentar sore ataupun malam oleh keluarga Marchel dan keluarganya.
"Oh iya Ros, kamu nggak pernah ketemu Dirga lagi?" tiba-tiba pertanyaan itu kembali mengingatkannya pada sosok sang mantan kekasih, cinta pertamanya yang telah lama pergi. Ia pergi karena pernikahannya dengan Yuanti, anak sahabat ayahnya.
"Nggak Lang, aku nggak pernah tau dia lagi. Cuma terakhir katanya dia sudah jadi dokter spesialis ya?" Rose memandang ke arah Gilang, lalu membuang pandangan itu jauh ke depan.
"Hmmm, Iya. Itu kamu tau kalau dia sudah jadi dokter spesialis" goda Gilang padanya. Rose kemudian tertawa dan bangkit dari duduknya.
"Udah ah, dia masa lalu saja kok Lang. Dia sudah bahagia dengan istrinya dan aku akan menata hidupnya sekarang. Gue mau pulang duluan." ucap Rose kemudian. Dia bersiap mengambil tas kecil yang dibawanya untuk kemudian berjalan kembali pulang ke rumahnya.
"Tapi Ros, bagaimana jika Dirga masih mencintaimu?" d**a Rose bergemuruh, apakah mungkin?
"Tapi itu sudah 7 tahun lalu Lang, dia ninggalin aku bahkan sebelum dia menikah." Rose kemudian menghela nafasnya, mengingat betapa sakitnya ditinggalkan tanpa kabar oleh kekasihnya, kemudian mendengar kabar dia sudah menikah dengan orang lain.
"Dia pergi karena ingin sukses dan menjemputmu kembali Ros"
"Tapi kenyataannya dia meninggalkanku Lang" Rose mencoba berjalan perlahan menjauhi Gilang, sahabatnya.
"Sudahlah, aku akan maju melangkah dan biarkan dia bahagia dengan kehidupannya"
"Dirga sudah cerai dengan istrinya, Ros. Dia tidak pernah mencintai orang lain selain kamu" ucapan Gilang menampar sisi perasaan Rose, bagaimana mungkin dia yang sudah berusaha membuang semua rasa dalam dirinya dan juga janji yang di ucapkan Dirga padanya sebelum dia pergi, jika ternyata dia masih mencarinya.
"Dia mencarimu, tapi dia takut datang disaat dia tau kamu akan menikah. Dia juga ingin kamu bahagia" sambungnya lagi.
'Oh Tuhan, aku bahkan merasakan sangat nyeri mendengarnya' gumamnya dalam hati.
"Mungkin kami tidak berjodoh Lang. Aku pulang dulu, calon suamiku mau datang ke rumah siang ini".
"Aku harap kamu bahagia Ros" sambung Gilang lagi.
Gilang menatap Rose yang terus berjalan meninggalkan dirinya, dan dia yang sedikitnya mengetahui kisah antara Rose dan Dirga juga Rose dan Marchel, berusaha memberikan Rose waktu pada Rose untuk mencari jalan keluar dari masalahnya.
***
"Rose, ditungguin Marchel di ruang tamu" teriak ibunya dari luar kamar. Setelah selesai dengan aktivitasnya, dia memilih tidur sambil menunggu Marchel menjemputnya sesuai dengan janjinya semalam.
"Iya ma" jawab Rose kemudian.
Saat keluar dari kamar, terlihat adik tiri Rose bernama Resti sedang berbicara dengan Marchel. Dia tersenyum, Rose berfikir kedekatan keluarganya dengan Rose sudah sangat baik dan jika pernikahan ini gagal, mungkin hubungan mereka tidak akan sebaik itu lagi.
"Kami keluar dulu tante, sebentar malam saya dan mama juga keluarga akan datang ke sini lagi tante" pamit Marchel pada ibunya Rose.
"Iya, tante tunggu kalian ya"
"Iya tante, saya permisi. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab ibunya Rose.
Rose berjalan di belakang Marchel dan kemudian Marchel membukakan pintu di samping kemudi mobilnya. Mempersilahkan duduk dan kemudian Marchel berjalan menuju kemudi.
"Kita kemana?" Rose membuka pertanyaan awalnya.
"Ke suatu tempat, kamu percaya saja sama aku, okey" balasnya dengan senyum.
Rose mengangguk setuju dan kemudian terlihat Marchel membawanya ke sebuah rumah yang memang rencananya akan menjadi tempat mereka tinggal setelah menikah.
"Aku ingin kita mengatur beberapa barang, di tempat kita yang baru setelah menikah sayang" kata Marchel sebelum Rose bertanya.
Rose berjalan dan kemudian tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah yang memiliki desain minimalis dengan membawa barang-barang kebutuhan mereka untuk di atur di tempat itu. Setelah 30 menit mengatur bunga dan juga beberapa lukisan-lukisan yang memang sangat disukai oleh Rose terpasang, Marchel mengeluh lapar.
"Kamu mau makan apa?" Rose menanyakannya sambil kemudian menuju dapur. Dapur itu sangat indah, kitchen set yang minimalis namun sangat elegan yang dipadukan de ngan rak terbuka di bawah lemari, meja berwarna hitam menggunakan bahan granit dan lemari gantung terbuat dari bahan HPL yang menambah suasana indah dan terkesan mewah. Dipojok bagian sebelah kiri terdapat oven dan beberapa jenis peralatan dapur lainnya. Rose juga memajang beberapa tannaman buatan di rak terbuka itu agar terkesan lebih menarik dan hidup.
Marchel juga memberikan sesuatu yang berbeda di dapur itu, ia memasang ubin kaca untuk mendapatkan pesona yang berbeda. Jenis dekorasi ini ternyata memberikan ilusi ruangan yang sangat berbeda. Untuk melengkapi interior dapurnya, Rose dan Marchel sepakat memasang rak kayu di dinding yang memang dibuat lebih terang. Kombinasi itu ternyata sangat bagus sehingga membuat siapapun betah saat melakukan ritual memasak setiap hari.
Rose sangat lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat, dia berjalan menuju kamarnya yang ternyata Marchel di sana sedang mengutak atik laptopnya. Pekerjaannya ternyata membuatnya sangat sibuk.
"Sayang, kamu perlu istirahat dulu. Aku dikit lagi selesai, baru kita pulang"
"Aku pengen tidur ya" Rose mendekati Marchel dan kemudian melihat beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Marchel, Rose hanya tersenyum saja.
Marchel kemudian mendekati Rose dan memeluknya. Tujuannya membawa Rose ke tempat ini adalah untuk memiliki Rose seutuhnya.
Marchel mencium Rose perlahan, dia berusaha membuat Rose relaks dan memberikan kesan menuntut walau tidak memaksa. Rose menikmati ciuman itu, karena memang mereka sudah menjalani hubungan itu selama 2 tahun dan sebulan lagi mereka akan menikah. Ciuman yang hanya sebatas bibir saja sering mereka lakukan, namun saat ini Marchel merencanakan sesuatu, yaitu kehamilan Rose. Jika saja sejak dulu Rose mau melakukannya, mungkin saja dia bisa hamil dan keinginan mereka untuk menikah pasti tidak akan mendapatkan rintangan dari orang tuanya, terutama mama Marchel.
Rose sudah terlena, desakan ciuman yang lembut dan perlahan itu membawanya lupa pada segalanya. Tangan Marchel telah bergerilya menggerayangi badan Rose, walaupun baju itu masih menutupi tubuhnya. Tangan kekar Marchel segera membuka satu persatu kancing baju rajut berwarna satin itu, hingga kemudian bukit kembarnya mulai terlihat. Marchel sangat terpukau karena padatnya milik Rose itu. Marchel semakin leluasa melakukan aksinya saat dia menyadari Rose hanya menutup mata dan mulai menikmati serangannya. Entah karena Rose mulai pasrah ataukah dia yang memang hari ini beruntung jika akan mendapatkan Rose.
Mulutnya kini sudah mulai melakukan hisapan di sebelah kanan, tangannya kemudian berpindah di bagian bawah kewanitaan Rose, menelusup dan menemukan rerumputan yang terasa lembut. Namun ternyata Rose menyadari sesuatu saat tangan itu mulai menyentuh bagian yang paling sensitif.
"Ah, tidak. Marchel, apa yang kau lakukan?" Rose mendorong tubuh Marchel dengan kuat, namun Marchel sudah menguasainya. Dia masih menindih tubuh mungil Rose, walaupun dia belum melakukan penyatuannya. Hal ini karena Marchel ingin Rose melakukannya dengan menikmatinya bersama-sama, namun seperti biasa, Rose sangat kokoh dengan pendiriannya bahwa semua ini hanya boleh dilakukan jika telah menikah dan sah menjadi suami istri.
"Rose, please. Hanya ini pilihan kita, akan kita buktikan bahwa kau sehat dan kita bisa menikah secepatnya. Aku berharap kamu bisa hamil setelah ini" pinta Marchel.
"Tidak, Marchel please. Aku akan sangat membencimu jika melakukan ini, aku akan meninggalkanmu. Aku bersumpah" ancam Rose pada Marchel. Ancaman itu berhasil membuat Marchel melepaskan Rose.
"Aku benci jika harus melakukan hal ini Chel, ini dosa" sambungnya lagi, kemudian mengaitkan kembali Bra yang sudah terlepas. Marchel harus menelan salivanya karena menyaksikan bukit kembar Rose yang tadi sempat di nikmatinya dan membayangkan kembali kekasihnya itu sempat menikmati sentuhan yang dibuatnya.
"Maafkan aku sayang, aku khilaf" Marchel tau betapa kerasnya prinsip tentang kehormatan yang di miliki oleh Rose, dia tidak ingin membuat Rose membencinya karena dirinya yang menginginkan pernikahan tetap berjalan sesuai keinginan Marchel.
"Aku ingin pulang, antarkan aku" ucap Rose pada Marchel.
"Rose, maafkan aku" Marchel kembali bermohon, kemudian memeluknya dengan lembut.
"Aku hanya takut kehilanganmu, tolong maafkan aku" Rose hanya menangis, karena perlakuan Marchel padanya. Dia sedih hampir kehilangan kehormatannya tapi dia juga tidak bisa lupa begitu saja bahwa Marchel adalah kekasih yang juga sangat menjaganya beberapa tahun belakangan ini. Dan kejadian ini adalah yang pertamakalinya terjadi sejak hubungan mereka itu, maka Rose berusaha memaafkannya.
"Jangan menangis, pukullah aku Rose, please. Maafkan aku"
"Baiklah, antarkan aku pulang" masih dengan mata yang dipenuhi derai air mata, Rose berjalan keluar kamar setelah merapikan dirinya agar terlihat lebih baik kembali ke rumah.
Rose masih terdiam dalam mobil itu, Marchel menyesali perbuatannya karena hampir melecehkan kekasihnya sendiri. Kekasih yang telah dijaganya dan kemudian dia berjanji untuk menjadikannya wanita mulia dengan menjadikannya suci sampai pernikahan terjadi.
"Halo ma" sebuah panggilan di ponselnya, Marchel menepikan mobilnya dan menerimanya, ternyata sang mama yang menghubunginya.
"Apa?" Marchel nampak terkejut, Rose memalingkan wajahnya untuk melihat Marchel.
Panggilan itu terputus dan Marchel meletakkan kembali ponselnya di dalam tas kecil miliknya.
"Kenapa?" tanya Rose saat mobil itu sudah berjalan perlahan.
"Mama dan keluarga sudah ada di rumah kamu, kita sudah di tunggu"
"Oh"
Marchel meraih tangan Rose dan memberikan sedikit remasan dengan lembut.
"Rose"
"Aku mengerti Chel, kamu harus berjanji apapun keputusan keluargamu dan keluarga kita, kita tidak boleh melawan mereka"
"Tapi Rose"
"Mereka menyayangi kita semua Chel, kamu salah satu penerus keluarga, jadii wajar jika tante Raisa sangat menginginkan cucu"
"Hmmm" Marchel hanya mengangguk karena tidak ingin berdebat dengan kekasihnya ini. Namun dia sangat ketakutan dalam dirinya jika mengingat bahwa ketiga pilihan yang diberikan ibunya tidak ada yang benar-benar membuat Marchel tenang.
Mobil memasuki rumah milik ibu tiri Rose, ya, rumah itu sudah diberikan ayahnya kepada ibu tirinya sebagai hadiah pernikahan. Sedangkan Rose di berikan sebuah rumah yang kini di sewakan agar tetap terawat.
"Hahahhaa, kamu benar sekali Raisa, sepertinya Resti cocok jadi menantumu"
'Duaarrrr'
"Apa? Resti? apa aku tidak salah mendengar?" Rose dari luar sudah mendengar, langsung masuk ke dalam untuk menanyakan perlihal pembicaraan mereka saat Rose belum ada di antara mereka.
"Keluarga Marchel memutuskan membatalkan rencana pernikahan kalian dan kemudian memilih Resti sebagai istri Marchel" kata Sella, ibu tiri Rose.
"Benar Chel" sambung Raisa.
"Mama?" teriak Marchel kemudian.
Bersambung....