Saat mereka turun dari mobil, memang tidak ada yang menyambut karena ternyata mereka sudah bercerita dan terlihat sangat bahagia. Sampai kemudian telinga Rose menangkap kata-kata yang mampu membuatnya terkejut dan tentunya menyakitkan perasaannya.
"Hahahhaa, kamu benar sekali Raisa, sepertinya Resti cocok jadi menantumu" ibu tiriku terdengar sangat nyaring mengatakan itu. Marchel tidak sempat mendengarkannya karena masih mengeluarkan kue yang kami beli dari mobil untuk di bagi dalam acara keluarga ini. Moodku langsung berubah, menyadari perubahan wajahku, Marchel yang sudah menghampiriku kemudian bertanya.
"Kenapa sayang? ayo masuk, pasti mereka sudah di dalam" ajak Marchel.
"Halo sayang, kamu akhirnya sudah pulang" kata ibu tiriku itu. Aku jadi bingung, apakah yang aku dengar tadi adalah sebuah kebenaran atau hanya telingaku yang salah mendengar. Melihat perlakuan ibuku padaku, aku menjadi ragu.
Semua sudah duduk dan makanan sudah dihidangkan di atas meja, kami melakukan kegiatan yang paling di tunggu jika melakukan pertemuan yaitu santap bersama.
Berbagai menu kesukaan Marchel, kesukaan ayahku dan juga kesukaan tante Raisa, ibunya Marchel juga ada. Tadi aku sudah memasak sebagian dan sebagiannya lagi di selesaikan oleh bibi dan ibuku.
Kami kembali duduk bersantai di ruang keluarga untuk lebih serius membicarakan rencana pernikahanku ke depan.
"Bagaimana Rose, kamu sudah cek lagi tentang kondisi kamu? apakah sudah normal?" tanya ibuku. Ibu bahkan terlihat sangat mengintimidasi diriku dalam sebutan-sebutan kondisiku dan ketidaknormalanku.
"Belum ma"
"Tante, mama. Tolong jangan bahas ini" Marchel memulainya. Dia bahkan memeluk Rose dari samping untuk memberikannya kekuatan.
"Marchel, kamu hanya perlu memilih 3 pilihan mama"
"Apa itu?" potong Rose kemudian.
"Katakan Chel. Oh iya Rose, mama tidak pernah melarang anak mama berhubungan dengan siapapun, mama hanya ingin punya cucu, itu saja" balasnya kemudian.
"Mama, hentikan!" perintah Marchel kemudian.
"Kamu membentak mama?"
"Maaf ma, bisakah mama memikirkan perasaan Rose dan aku ma?" nampak nada bicaranya sudah mulai meninggi.
"Jadi, katakan pada Rose. Mungkin saja dia sepakat dengan salah satu pilihan yang mama berikan" Raisa mulai berbicara dengan nada yang tidak biasa, nampak sedikit emosi karena Marchel membentaknya tadi.
"Aku tidak bisa ma" jawab Marchel lagi dan itu sukses membuat ibunya emosi.
"Apa?" Raisa nampak tidak terima.
"Tante, katakan padaku Tan" usul Rose.
"Rose, tante hanya ingin segera punya cucu. Maafkan Tante" Raisa bahkan meraih tangan Rose dan kemudian mengambil sikap untuk berlutut, namun Rose segera meraihnya.
"Tante, katakan padaku" Raisa mengangguk mantap dan menatap Marchel, dia hanya terdiam menunggu kata demi kata yang akan keluar dari bibir sang ibu.
"Jika ketiga pilihan itu, salah satunya aku terima? siapa yang akan menjadi wanita piihan tante untuk Marchel?" Rose yang telah mendengarkan ketiga pilihan itu, mencoba mencari alternatif pilihan jika dia menikah dengan Marchel maka akan mengijinkan Marchel juga menikahi wanita lain, wanita pilihan ibunya.
'Duaarrrr'
"Apa? Resti? apa aku tidak salah mendengar?" Rose yang dari luar sudah mendengar, mencoba mencerna kembali bahwa apa yang dia dengar tadi saat dirinya masih di luar adalah sebuah kebenaran.
"Iya Rose, tante ingin tetap ada hubungan antara tante dan mamamu, sehingga tante ingin menikahkan salah satu dari kalian"
'salah satu? itu artinya antara aku dan Resti adikku' gumamku sendiri dalam hatiku.
'Baiklah, aku mungkin memang tidak diharapkan, maka aku harus mundur dengan cara yang terhormat'
"Baiklah, mungkin sebaiknya aku mengikuti kata-kata almarhum ayahku, aku akan membatalkan pernikahan ini" kata Rose dengan mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh, setelah hasil pemeriksaan itu dirinya seolah menjadi pesakitan yang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan.
"Aku hanya ingin menikahi Rose, ma. Tolong mengertilah" mohon Marchel, dan suasana sudah mulai memanas karena ketegangan yang di ciptakan oleh Marchel yang tetap ingin menikahi Rose.
"Marchel, kau boleh menikahi Rose, jika Rose mau menerima Resti sebagai madunya"
"Mama?" bentak Marchel lagi.
"Marchel, kau membentak mama? demi wanita ini? inikah janji yang kau berikan pada mama? lebih baik mama tidak sadar saat itu dan mati saja" kata-kata Raisa memang sangat menyakiti perasaan Rose, dia memang tidak terlalu akrab dengan Raisa saat menjadi pacar Marchel, karena kesibukannya bekerja. Rose juga mengingat tentang kejadian dimana tante Raisa pernah dinyatakan koma saat melindungi Marchel dari kejahatan sang pacar sebelum Marchel bertemu Rose dan Marchel berjanji akan melakukan apapun untuk mamanya jika sang mama sadar dari komanya.
"Chel, aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Maafkan aku" Rose memilih pergi dari tempat itu dan meninggalkan mereka semua, namun Marchel mengikuti langkah Rose menuju ke ruang belakang rumahnya.
"Rose, kenapa kamu menyerah?" serang Marchel dan dengan memandang nanar wajah kekasihnya itu.
"Chel, dengarkan aku. Seberapapun besar cinta kita, tidak akan mampu membalas kebaikan orang tua kita pada mereka, aku bahkan meyakini bahwa kebahagiaan kita sangat bergantung pada restu yang mereka berikan. Maka aku sangat tidak menginginkan pernikahan tanpa restu, apalagi itu berhubungan dengan keselamatan mamamu. Ingat Chel, aku sudah kehilangan ayah dan aku tidak ingin kamu kehilangan mamamu hanya karena keegoisan kita" jawaban Rose mampu menggetarkan hati Marchel, bagaimana tidak? Marchel adalah anak yang sangat baik dan sangat menyayangi ibunya, sejak ayah kandungnya pergi dia diberikan banyak kebahagiaan oleh ibunya dan juga ayah tirinya.
"Keluarga besar Marchel memutuskan membatalkan rencana pernikahan kalian dan kemudian memilih Resti sebagai istrimu" kata Sella, ibu tiri Rose saat Marchel sudah kembali.
"Benar Chel" sambung Raisa.
"Mama?" teriak Marchel kemudian.
"Ini keputusan final kami, kau dan Resti akan menikah" Raisa kembali menekankan kata-katanya.
"Ma, Marchel mohon. Berikan aku waktu"
"Chel, usiamu sudah tidak muda, kamu harus segera memiliki anak, cucu buat mama" tekannya kembali.
Pembicaraan ini telah berakhir, seperti rasa sakit yang dialami Marchel, Rose merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa? setelah lama ditinggalkan Dirga, sekarang dia kembali di tinggalkan oleh Marchel, tunangannya.
Marchel tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rose saat ini, karena kegagalan pernikahan ini dan juga menngetahui berita selanjutnya bahwa dia bahkan akan menikah dengan adik tirinya, Resti.
Rose kembali meneteskan air matanya di kamarnya yang indah, kamar dengan ukuran 4x4 meter. Cukup luas, dengan warna dinding coklat s**u, di isi hiasan dinding yang menandakan kepemilikan kamar ini adalah seorang wanita. Ia menengadahkan kepalanya ke atas kamarnya.
Ia mungkin bisa saja mengikuti saran Marchel untuk bertahan, namun kembali dia diingatkan bahwa restu sangat berharga baginya.
"Rose, jika kau akan menikah, ingat pesan ayah dan ibu bahwa restu orang tua adalah kunci utamanya". Ingatan itu membawanya pada kenangannya dengan ayah dan ibunya saat mereka masih hidup, mereka sama-sama bahagia. Ayah dan ibu sangat menyayanginya hingga ketika ibunya mengalami seragam jantung, entah karena kabar apa yang di terimanya, namun kami menemui ibu sudah dalam keadaan tak berdaya. Ayah sangat shock sejak itu sehingga memutuskan untuk menerima perjodohan dari kakek dengan tante Sella. Entah mengapa, Tante Sella langsung hadir secepat itu setelah kematian ibu. Dia hadir memberikan sedikit warna dalam kehidupan ayah yang sepertinya mati karena kehilangan ibu.
Tante Sella juga sangat menyayangi Rose, hingga setelah kematian kakek, semua sikap Tante Rose berubah. Aku menjadi salah satu orang yang merasa tertekan apalagi sekarang ayahkupun telah tiada. Aku harus mencari kebahagiaanku dengan caraku sendiri.
'Dirga' Rose tiba-tiba teringat dengan Dirga, lelaki yang meminta ijinnya untuk melanjutkan studi kedokterannya di Universitas Udayana, Bali beberapa tahun yang lalu. Laki-laki itu kembali hadir dalam ingatannya karena percakapan antara dirinya dengan Gilang, sahabatnya.
'Sudah bercerai' dua kata itu diingatnya lagi. Bagaimana mungkin mereka bercerai secepat itu?
Rose malam ini akan merasakan malam yang panjang, karena ingatannya yang kacau serta kegagalan pernikahannya yang baru saja di putuskan oleh kedua keluarga besar.
"Kak, makan bareng yuk" suara Resti dari luar kamarnya menyadarkannya dari lamunannya yang panjang. Setelah kepergian keluarga Marchel, Rose memang belum mau makan. Dia sengaja mengurung dirinya dan ingin segera tidur, namun dia belum bisa juga menutup matanya dan melupakan semua yang terjadi.
'Resti' gumamnya lagi. Adiknya itu bahkan sangat akrab dengan dirinya semenjak dia tinggal bersama Rose di rumah ini, sejak orang tua mereka menikah. Rose tidak menyalahkan Resti karena sebenarnya adik tirinya itu adalah adik yang baik, tidak banyak menuntut dan anak yang penurut. Maka tak salah jika dia menerima begitu saja permintaan Tante Raisa dan juga keinginan Sella, sang mama.
Rose membukakan pintu kamarnya dan melihat Resti yang sudah menitikkan air matanya.
"Resti?" sapanya dan membawa sang adik kepelukannya.
Resti dan Rose memang hanya terpaut usia setahun saja, sehingga mereka tumbuh sama-sama menjadi gadis yang cantik di keluarga ini. Bahkan ayahnya selalu membelikan mainan, baju atau barang apapun yang sama, sehingga banyak yang berfikir mereka adalah saudara kandung, walau kenyataannya mereka hanya saudara tiri.
"Kakak, maafkan aku"
"Kenapa minta maaf?" tanya Rose. Adiknya seperti orang yang ketakutan saat meminta maaf pada Rose.
"Semua karena salahku kak, aku yang salah"
"Kenapa? ceritakan sama kakak" bujuknya lagi.
"Maafkan aku kak, aku salah bercerita pada ibu tentang perasaanku, hiks hiks hikss." Tidak mampu dia melanjutkan kata-kata itu dan terus menangis perlahan, nampak sangat ketakutan.
"Perasaan apa Ti? katakan? apakah ada yang kakak tidak tau?"
Resti mengangguk dan terus menangis dipelukan Rose, sang kakak.
"Coba cerita sama kakak, berhentilah menangis" bujuknya lagi.
"Tapi kakak janji, maafkan kesalahan aku" sambungnya lagi. Rose mengangguk mantap dan kemudian memberikan senyumnya pada sang adik agar dia tidak menangis lagi.
"Janji, kakak tidak akan marah" lalu mengeluarkan jari kelingkingnya, sebagai pertanda janjinya pada sang adik.
Mereka kemudian mengambil posisi duduk di ranjang kamar Rose, dia melihat adiknya yang sangat sedih padahal dia akan segera dinikahkan dengan Marchel, yang notabene adalah tunangan Rose.
"Aku mencintai Kak Marchel"
"Apa?" teriak Rose.
"Iya kak, dan aku menceritakannya pada ibu, hingga akhirnya ibu berjanji untuk membuatku bisa memiliki Kak Marchel, tapi aku tidak pernah ingin jika dengan cara seperti ini"
"Sejak kapan kau mencintai Marchel?"
"Sejak aku SMA kak, saat dia mengantarkan kami pulang bersama" Resti adalah sahabat karib dari Meli, adik kesayangan Marchel. Mereka sekolah bersama-sama dann menjadi sahabat yang selalu saling melengkapi. Resti sering menghabiskan waktu bermain dan mengerjakan tugasnya di rumah Meli. Di situlah dia bertemu Marchel.
Setelah menceritakan semuanya, Rose kemudian tersenyum.
"Kenapa kakak malah tersenyum?" Resti menjadi khawatir dengan senyum yang justru di tampilkan oleh sang kakak.
"Kakak bahagia, ternyata kamu akan menikah dengan orang yang kamu cintai"
"Tapi dia tidak mencintaiku kak, dia hanya mencintai kakak" sambungnya lagi sambil menunduk. Resti berusaha memperbaiki hatinya agar tidak merasakan luka yang mendalam.
"Resti, Kak Marchel pasti akan menyayangimu, kamu wanita yang baik dan tulus"
"Tapi kak"
"Berbahagialah. Kakak merestui kalian" sambung Rose kemudian.
Rose memeluk adiknya, Resti kemudian tersenyum bahagia. Rose memang sangat menyayangi adiknya, namun tidak ada yang tau bagaimana dengan perasaan Resti pada sang kakak.
Rose kemudian berfikir jika dirinya saja masih mengingat cinta pertamanya pada Dirga, mungkin itu bisa saja terjadi pada Marchel yang tidak akan dengan mudah move on darinya. Rose menjadi merasa kasihan pada adiknya, jika nanti menikah namun Marchel tidak bisa memperlakukannya dengan baik.
Namun Rose sangat berharap, jika kemudian Marchel bisa hidup bahagia dan memberikan cucu yang banyak untuk Tante Raisa, mamanya.
"Berhentilah menangis, ayo kita makan" Rose memecah kesunyian itu, Resti hanya terdiam. Rose mulai berfikir bahwa takdir dan jodohnya memang hanya rahasia Illahi, seperti saat ini. Segala rencana hanya menjadi rencana, keputusan final ada pada pemilik keputusan dan Tuhan tetap menjadi pemberi keputusan utama dalam setiap perjalanan hidup manusia.
Mereka berjalan bersama menuju dapur dan sudah di sambut oleh sang mama.
"Kalian makanlah"
"Iya ma" sahut mereka bersamaan. Seilla seperti tidak ada salah kepada Rose, dia bersikap biasa, bahkan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahannya yang batal. Walau sakit, namun Rose berusaha berbesar hati dan dia yakin semua cobaan yang di alaminya adalah bentuk kekuatan dalam dirinya agar menjadi pribadi yang lebih tangguh lagi.
"Gedung pernikahan yang kalian pesan kan sudah di bayar, kayaknya tinggal dipesan ganti nama aja yang Rose?" pernyataan mama memang menyakitkan.
'Aku dan Marchel yang banyak mengurus rencana pernikahan itu dan akhirnya yang akan menikah adalah adikku' gumam Rose kemudian.
"Iya ma" Rose selalu berusaha tegar.
"Kak?" seru Resti. Rose tersenyum dan mengangguk memberikan pesan pada adik tirinya ini, bahwa dia baik-baik saja.
Makan malam yang menyedihkan bagi Rose, karena sebelumnya dipenuhi canda tawa dan akhir-akhir ini setelah kepergian ayahnya semuanya berubah. Rencana pernikahan yang gagal, kemudian yang terakhir dia harus menyaksikan pernikahan sang tunangan dengan adik tirinya.
Namun Rose menyadari bahwa sekuat-kuatnya dirinya, diapun hanyalah wanita yang penuh dengan kelemahan.
Malam ini ia sengaja bangun untuk memohon doa di sepertiga malamnya, memohon pada yang Kuasa untuk satu nama yang kemudian bisa menjadi imamnya kelak. Dia tidak menyebutkan siapa yang ia inginkan, namun ia meminta agar Allah memberikannya kesehatan dan kekuatan untuk bisa bertemu dengan orang yang menjadi takdirnya di kemudian hari.
Setelah tahajud yang di lakukan itu selesai, dia tidak kembalii untuk tidur. Rose memilih mengambil handphonenya dan berselancar di dunia maya.
Mencari sebuah nama yang masih di hatinya, Dirga.
Dia mendapati nama itu di sebuah media sosial pribadinya, dengan profil bersama anak kecil. Status menikah.
Bersambung....