Hati Rose berdenyut nyeri membaca status mantan pacarnya itu. Menikah.
'Memang benar, dia sudah menikah tapi bukankah Gilang mengatakan bahwa dia sudah bercerai? mengapa bio di akun media sosialnya masih berstatus menikah? sebesar itukah rasa cintanya pada istrinya? hingga setelah bercerai pun Dirga enggan untuk mengganti bio nya?' gumam Rose dalam hatinya.
Sementara itu Dirga di kediamannya juga sedang memikirkan Rose, namun ia tidak ingin di sadari oleh siapapun termasuk oleh hatinya sendiri.
Tiba-tiba sebuah panggilan di ponselnya membuyarkan lamunan pikirannya.
"Tumben nelfon aku Lang" seru Dirga pada pria yang menelfonnya.
"Kangen kamu, kakak sepupu yang paling ganteng"
"Hmmmm, ada maunya nich"
"Enak aja" potong Gilang sambil tertawa ngakak dari seberang telfon.
"Kak Dirga bakalan ngucapin terimakasih yang tak terhingga padaku jika menyampaikan berita ini" sambil terus tersenyum dari seberang.
"Oh ya? kepedean kayaknya nich adik sepupuku ini." Dirga memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan keluarganya dari sebelah ayah, semenjak ayahnya pergi meninggalkan mereka. Gilang, adik sepupunya ini merupakan salah satu keluarga dari pihak ayah yang masih berkomunikasi dengan baik dengan Dirga.
"Baiklah, aku nggak bakalan cerita kak Dirga, cuma aku mau menyampaikan kalau Rose, mantan pacar kakak itu lagi galau"
"Apa? Rose? kamu tau dia dimana?"
"Ha ha ha haaa. Katanya aku kepedean, tapi kok sekarang Kak Dirga main nyerobot aja?" ejek Gilang pada Dirga.
"Baiklah, kakak minta maaf. Sekarang katakan, Rose galau kenapa? bukannya dia akan menikah?"
"Kak Dirga tau dari mana? kalau dia akan menikah?" tanya Gilang kemudian. Gilang menjadi penasaran, dia belum pernah menceritakan sama sekali tentang kabar Rose pada siapapun termasuk Dirga, kakak sepupunya itu yang juga adalah mantan pacar terindah yang dimiliki Rose. Memikirkan tentang mantan pacar terindah, Gilang menjadi tersenyum pada dirinya sendiri, cinta membawa mereka untuk tetap saling memikirkan walaupun mereka tidak bersama secara fisik tapi setidaknya Gilang tau bahwa hati mereka masih saling terpaut.
"Kak, tau dari mana?" ulangnya kemudian.
"Dari postingannya di media sosial dan bio nya juga tertulis bertunangan" jawab Dirga kemudian.
Dirga yang memang akhir-akhir ini sering mengabadikan kebersamaan dirinya bersama anaknya, tepatnya anak Yuanti ke akun media sosialnya, secara sengaja mencoba mencari akun media sosial milik Rose dan dia menemukannya. Yang membuat Dirga kemudian menghentikan keinginannya untuk menghubungi Rose adalah status di media sosialnya 'bertunangan'.
Di salah satu postingannya, Rose bahkan mengabadikan moment saat dirinya berada di sebuah gedung pernikahan yang di rencanakan akan menjadi tempat mereka melangsungkan resepsi pernikahan mereka.
Dirga menjadi merasa bersalah, jika di detik-detik kebahagiaan Rose dia justru datang mengganggunya. Dia tidak ingin cinta yang masih di bawanya, akan membuat Rose tidak bahagia.
"Oh, akun media sosial? semua itu belum tentu seperti yang terlihat kak, buktinya kakak juga statusnya menikah padahal kakak sudah bercerai, iya kan?"
"Hmmm, kamu benar"
"Ya, itulah kak makanya, aku minggu lalu ketemu Rose di kompleks perumahannya, dia sedang berjalan-jalan pagi sendirian"
'Sendirian?' lirih Dirga di hatinya. Dia mengingat bahwa ayah Rose sudah meninggal dan dia tidak dapat menguatkan hati Rose, yang di tau adalah wanita yang sangat rapuh jika ditinggalkan orang yang sangat dekat dengannya.
Masih terekam jelas dalam ingatannya, saat gadis kecil itu kehilangan ibunya. Dia bahkan sakit berhari-hari, hingga dokter memintanya untuk di rawat di rumah sakit. Dirga yang sebelumnya adalah tetangga dekat yang juga lelaki yang sangat dekat dengannya, sehingga Dirga berusaha menenangkan diri Rose sebisanya. Sejak itulah, Dirga memiliki cita-cita untuk menjadi dokter.
Sekarang dia sudah menjadi dokter namun justru dia harus menjalani kehidupan percintaannya dengan orang lain, hasil perjodohan orang tuanya dan kini orang tua Dirga tidak akan ikut campur dengan urusan cinta sang anak, dia menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada Dirga. Olehnya itu Dirga ingin menjemput kembali cinta masa lalunya yang ternyata tetap subur dalam hati dan ingatan Dirga.
"Rose batal menikah kak"
"Apa? batal?"
"Iya"
"Tapi kenapa?" tanya Dirga lagi.
"Aku nggak tau kak, dia tidak mau bercerita. Hanya selalu mengulang kata bahwa mereka tidak berjodoh. Aku rasa ini kesempatan kakak"
"Terimakasih informasinya, Lang. Kakak akan segera menuju Jakarta akhir pekan, ada operasi yang harus kakak selesaikan karena sudah terjadwal di rumah sakit" jelas Dirga panjang lebar.
"Baiklah kak, jangan lupa. Nanti malah kehilangan lagi"
"'Baiklah, thanks ya"
"Oke, aku mau makan dulu ya"
"Hmmm"
Panggilan itu terputus. Dirga mengulas senyum di bibirnya yang indah dan kemudian mengambil ponselnya yang sejak panggilan itu terputus ia letakkan di meja depan ruang TV nya. Dia menonton sebuah tayangan tentang sebuah talkshow di sebuah TV swasta, namun ingatannya kembali pada Rose.
Dia mencoba mengirimkan pesan melalui messenger karena dia sudah tidak memiliki kontak ponsel Rose.
"Gadis kecilku, apa kabarnya?, Dirga" sebuah kalimat yang terkirim, namun tidak aktif. Memikirkan kembali bio yang tertulis di akun media sosialnya, dia segera menggantinya dengan status berpisah.
Pagi ini semua persiapan pernikahan sudah siap. Rose harus bisa menerima dengan lapang d**a bahwa kekasihnya harus menikah dengan adik tirinya, Resti. Dia sebenarnya ingin mempertahankan, namun mendengar penuturan Resti padanya tentang perasaannya pada Marchel membuatnya merasa bersalah jika masih menginginkan Marchel. Kemudian terlihat juga Marchel sudah tidak menolak keinginan mamanya untuk menikahkan dia dengan Resti.
Marchel nampak begitu tampan dengan pakaian jas berwarna hitam di padankan dengan Rose yang menggunakan kebaya brokat yang panjang dan mewah berwarna putih s**u, menambah kesan elegan, manis dan indah.
"Saya terima nikah dan kawinnya....."
Rose tidak sanggup mendengarkannya hingga selesai. Nama Restilah yang disebutkan Marchel, bukan dirinya. Satu bening air matanya melolos dari matanya yang indah, namun segera dikedipkan matanya agar tidak adalagi air mata yang akan terjatuh dan dia tidak ingin merusak pernikahan sang mantan kekasih dan juga adiknya.
"Selamat buat kalian berdua" aku memberikan ucapan itu dengan tetap terrsenyum manis.
"Kakak" lirih Resti dan masih terdengar dengan baik.
"Berbahagialah dan Marchel..." Rose menjeda kalimatnya. Marchel menoleh pada Rose, mencoba tersenyum padanya.
"Tolong bahagiakan adik aku dan ingat, sayangi dia" kata Rose lagi.
"Rose" panggil Marchel dengan lembut. Resti tentunya sangat sakit hati mendengar betapa lembutnya panggilan suaminya itu pada kakak tirinya, Rose.
"Oh ya, kalian mau bulan madu dimana?" potong Rose.
Marchel melirik ke arah Resti, dia tersenyum saja saat matanya bertemu dengan Marchel. Resti tau bahwa dia merasakan debaran yang sangat besar saat Marchel menatap dirinya dengan status barunya sebagai suami.
"Mama memberikan mereka hadiah bulan madu, tiket ke Lombok" Raisa, Mama Marchel langsung datang dan tiba-tiba hadir di antara mereka. Rose lalu meraih tangan Raisa untuk mencium punggung tangannya begitu juga dengan Resti, menantunya.
"Wah, selamat ya. Semoga segera mendapatkan hasil" ucap Rose kemudian. Resti dan Marchel menjadi salah tingkah, ketika kata hasil itu justru keluar dari bibir manis Rose, tidak nampak kecemburuan di sana.
***
Dua hari sudah setelah pernikahan itu terlaksana, Marchel dan Resti masih berbulan madu di Lombok.
Malam saat pertama mereka ada di Lombok adalah malam di mana Marchel harus melupakan segalanya. Ingatannya pada kejadian malam itu, dimana dia merasakan untuk pertama kalinya menjadi lelaki sejati, yaitu sebagai suami. Resti yang dalam pikirannya mungkin tidak sebaik Rose, ternyata juga adalah wanita yang menjaga kehormatannya dengan baik.
"Pelan-pelan Kak, aku takut" bisiknya lembut di telinga Marchel. Dia adalah lelaki normal yang juga tidak bisa menghindari hubungan badan. Hal ini terbukti dari dirinya yang telah seutuhnya bersatu dengan sang istri.
"Tahan ya, ini akan sakit di awal, tapi setelah itu kamu bisa menikmatinya" jawabnya kemudian. Marchel bukanlah lelaki yang baik, dia pernah menikmati malamnya dengan wanita lain. Sehingga nya untuk menahan diri tidak menyentuh istrinya adalah hal yang tidak bisa dilakukannya. Walaupun dia sangat menjaga pacar-pacarnya, namun dia lebih memilih melakukannya dengan orang lain jika menginginkannya.
Semua rasa yang diberikan Resti pada Marchel malam ini sangatlah berbeda, dia begitu menikmatinya bahkan setelah dia melihat noda darah dalam pergulatan mereka di malam pertama itu, membuat Marchel memutuskan untuk menjalani pernikahannya dengan baik dan sempurna bersama istrinya.
Dia juga mengingat bahwa Rose juga dengan lapang d**a memberikan dirinya menikah dengan adiknya serta memintanya untuk mencintai Marchel.
Maka inilah dirinya, dia tidak ingin menjadi lelaki pengecut ataupun pecundang yang meninggalkan Resti begitu saja, setelah dia menjadi lelaki pertama untuk wanita itu.
"Ti, kita jalan ke pantai yuk" setelah melakukan ritual kecupnya pada sang istri.
"Hmmm" Resti hanya menggumam, saat suaminya terus saja menciuminya.
"Ayo" Resti mencoba untuk bangun dari ranjang bulan madunya.
"Awww" teriak Resti saat dia akan bangkit. Marchel tersenyum, dia melakukannya bahkan berkali-kali dengan istrinya itu. Hubungan yang halal itu membawanya pada perlakuan yang selalu menuntun lebih dan lebih.
Diapun berjalan mendekati sang istri dan menggendongnya. Membawanya ke bathtub yang di sediakan di vila tempat mereka menginap. Air hangat ternyata sudah di sediakan oleh Marchel untuk istrinya itu. Resti tersenyum dan kemudian mengucapkan terima kasih.
"Aku suamimu, kewajibanku melayanimu seperti kamu melayaniku" ucap Marchel sambil mengecup kembali bibir manis Resti. Namun saat Resti melepas selimut yang menutupi dirinya untuk masuk ke dalam bathtub, Marchel merasakan dirinya tidak mampu untuk mengendalikan dirinya. Miliknya mengeras dan menuntut untuk mencari pelepasan kembali.
'Ah, indahnya pernikahan' gumamnya dalam hati. Marchel melanjutkan aktivitas panasnya dengan sang istri di pagi hari ini.
"Bagaimana kita mau jalan ke pantai, kalau kakak bikin aku kayak gini" kesal Resti pada Marchel.
"Hmmm, kita ke pantai sore aja ya. Kamu pasti lelah dan butuh istirahat. Berendamlah, kakak akan carikan makan"
Sambil kemudian berlalu meninggalkan Resti yang harus kembali berendam untuk sedikit menghilangkan rasa lelah dalam tubuhnya. Namun dia tersenyum karena perlakukan Marchel padanya begitu lembut, benar-benar perlakuan seorang suami yang begitu indah.
Resti yang memang sudah mencintai Marchel sejak dulu menjadi begitu bahagia dan diam-diam dia menjadi sangat bahagia dan bersyukur karena memilih menceritakan tentang perasaannya dengan sang mama. Semuanya berbuah manis, seperti manisnya bulan madu yang sedang dia nikmati.
Resti kemudian memilih beberapa foto kebersamaan mereka di pantai, di vila dan juga di ruang makan saat bersama Marchel untuk di abadikan dalam media sosial mereka. Resti bahkan menandai Marchel sebagai suaminya.
Sementara itu Rose melihat sebuah postingan romantis Resti bersama suaminya, Marchel. Rose tersenyum lembut dan kembali mengucapkan kata-kata perpisahan pada Marchel dalam hatinya.
Rose langsung kembali pada ingatannya pada sang ayah yang tiba-tiba terkena serangan jantung karena keputusan awal Marchel dan keluarganya, sehingga ayahnya meninggal.
Rose ternyata telah mengganti akun media sosialnya, sehari setelah Marchel menikah. Namun hanya keluarga intinya saja yang mengetahui akunnya tersebut. Hal inilah yang membuat Rose tidak bisa membaca pesan yang di kirimkan Dirga pada Rose.
Sementara itu Seilla, Ibu tiri Rose telah begitu bahagia dengan pernikahan sang anak, sehingga saat ini tujuannya telah tercapai, membuat Rose menderita secara perlahan. Di tatapnya Rose yang hanya duduk menyendiri di taman belakang rumah mereka.
'Berikutnya adalah kau harus pergi dari rumah ini' gumam wanita itu lagi.
Ibunya selalu meminta Rose menggantikan pekerjaan rumah secara keseluruhan dan kemudian Seila juga terus menyalahkan Rose atas meninggalnya sang ayah. Tentu dia menjadi sangat tertekan hingga akhirnya mencoba berlari dari rumahnya.
"Pergilah Rose" sebuah suara yang kini mendatangi dirinya dan sangat dekat dengannya.
"Siapa kamu? tidak tidak" teriak Rose.
"Rose, kamu kenapa?" Ibu tirinya datang dan menghampiri Rose yang sudah berteriak. Entah apa yang sudah di berikan Seilla pada Rose, gadis ini justru sangat ketakutan ketika melihat orang lain di rumah ini. Baik ibu tirinya maupun kedatangan asisten rumah tangganya juga membuat Rose justru ketakutan. Dia berlari meninggalkan rumah sambil terus menangis, berkata tidak dan tidak.
Hingga kemudian sebuah kendaraan berhenti tepat di depannya, setelah sedikit menyenggol tubuh Rose.
"Hei" teriak pria itu. Namun Rose justru sudah terbaring lemah di jalanan.
Bersambung...