"Pergilah Rose" suara itu membuatnya ketakutan, kemudian berlarian ke luar rumah. Pikiran sudah semakin tak menentu. Dia tidak tau bahwa ibu tirinya sangat menginginkan kehancurannya sejak dulu, namun dia melakukannya dengan cara yang perlahan agar tidak seorangpun bisa menyadarinya termasuk anaknya sendiri, Resti.
"Siapa kamu? tidak tidak" teriak Rose, Seilla tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya.
"Rose, kamu kenapa?" berusaha tetap tenang agar tidak ada seorangpun yang mencurigainya.
Rose berlarian keluar rumah dan Seilla membiarkannya saja. Memberikan kesempatan kepada Rose mencari dirinya sendiri seperti dirinya sendiri yang kini bisa tersenyum bahagia.
Anaknya dan menantunya sedang berada di Lombok untuk menikmati indahnya bulan madu. Resti selalu memberikan kabar menggembirakan, perkembangan hubungannya dan perlakukan Marchel padanya membuat Seilla sangat bahagia.
Sementara itu, Rose terus saja berlari dan ketakutan, efek obat yang diberikan itu membuatnya sering berhalusinasi seolah akan ada orang yang mengejarnya juga ingin membunuhnya.
"Hei" teriak seorang pria. Rose mencoba bangun namun ia justru sudah terbaring lemah di jalanan.
Pria itu mencoba membangunkan gadis itu, namun belum ada jawaban.
'Cantik juga ni cewek' gumamnya dalam hati. Pikiran kotor pria itu menyelimutinya, hingga di jalanan yang sepi ini dia mencoba mencari keberuntungannya sendiri, dia mengangkat tubuh wanita itu dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
Dia memikirkan ide untuk membawa gadis ini ke suatu tempat yang tidak bisa di temui oleh siapapun, namun pikirannya justru tertuju pada sebuah rumah yang pernah menjadi lokasi dia dan temannya untuk bersenang-senang.
"Alan, aku mau minjem rumah kontrakanmu dong" suara pria itu.
"Untuk apa?"
"Aku pengen istirahat aja dengan pacarku. Boleh kan?"
"Hmmm, jangan bikin kegaduhan. Itu kompleks warga yang taat, mereka bisa menangkapmu" sahut pria di seberangnya kemudian.
"Aku cuma pengen istirahat saja"
"Kamu jemput kuncinya ini, aku deket aja dengan rumah. Di toko ku yang dekat kontrakkan." Kemudian menutup ponselnya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Alan memiliki usaha Render Tech di sebuah pusat kecamatan di Jakarta Timur, yang bergerak di bidang desain dan render, untuk membuat video pernikahan, undangan maupun baliho-baliho yang sering digunakan orang dalam setiap kegiatan.
Sahabatnya itu mengambil kunci dan kemudian kembali melajukan kendaraannya menuju rumah kontrakkan itu, namun ternyata Rose sudah mulai sadar. Efek obat itu sudah habis.
"Hhh, aku dimana? siapa kamu?" ucapnya pertama kali saat tersadar bahwa dia berada di dalam sebuah mobil bersama dengan seorang pria yang tidak dikenal.
"Aku Ronal, panggil aku Onal" sahutnya.
"Lalu, mengapa aku bersamamu?"
"Kamu tadi seperti orang kesurupan, dan aku hampir menabrakmu" jawabnya kemudian. Rose mulai mengerti bahwa dia tadi memang sempat seperti orang yang dikejar-kejar oleh seorang pembunuh.
"Maafkan aku" jawab Rose.
Pria itu mengangguk dan tetap fokus untuk mengendarai mobil HRV hitam miliknya.
"Tolong, turunkan aku di sini, aku harus pulang" Rose yang mulai merasakan gelagat tidak baik dari pria ini, mencoba peruntungannya untuk segera turun. Alarm dalam dirinya mulai berbunyi ketika lelaki itu perlahan meliriknya dengan senyum yang tak biasa.
"Kita akan ke suatu tempat" kata pria itu lagi.
Mobil telah berhenti di sebuah rumah dan Rose merasa bahwa ini tidak benar.
"Ayo turun" perintahnya lagi.
"Tidak, tidak.. Tolong aku tidak mau" teriaknya pada pria itu.
Lelaki itu sudah mulai gelisah karena menolak untuk turun dan mulai memberontak.
"Tolong aku" teriak Rose, saat ada seorang wanita yang melewati tempat itu.
"Kenapa non?" wanita itu mencoba mendekat.
Pria itu kemudian memeluk Rose dari samping.
"Maaf bu, dia pacar saya. Tapi lagi sensitif makanya sering marah-marah, sepertinya lagi PMS"
Ibu itu mengangguk dan kemudian berjalan pergi. Pria itu kemudian melepaskan pelukannya yang keras pada Rose dan kemudian membuat Rose bisa bernafas lega. Rose sudah dibawanya ke dalam rumah, namun saat pria itu mengambil kunci rumah yang terjatuh karena gerakan Rose, dia segera berlarian keluar rumahnya.
Rose berhasil bersembunyi sehingga tidak ditemukan oleh pria itu.
Dia kemudian berjalan perlahan dan mulai merenungi nasibnya, ditinggal menikah dua kali oleh pacarnya dan kini dia hampir dilecehkan oleh seorang pria.
Rose berjalan tanpa arah dan sangat putus asa. Hingga di sebuah jembatan yang cukup tinggi, dia mencoba akan mengakhiri hidupnya.
"Ayah, ibu, aku ingin menyusul kalian." Kemudian dia memejamkan matanya, mencoba meresapi apakah yang dilakukan ini benar.
'Lakukan Rose, lakukan saja' bisikan dalam dirinya begitu kuat, hingga kemudian dia memutuskan untuk menaiki salah satu tiang jembatan. Dia sudah berada di satu tingkat lebih tinggi dan satu lompatan saja maka akan berhasil membawanya ke jurang terdalam jembatan ini.
"Wanita aneh" suara bariton pria yang tiba-tiba menarik tangannya.
Rose justru tersungkur ke dalam pelukan pria itu.
"Rose?" pekik pria itu.
"Kau? Alan?" tanyanya kemudian.
Mereka bertatapan dan kemudian Rose menyadari itu, dia melepaskan pegangan tangan Alan pada pinggangnya.
"Kenapa harus bunuh diri?" ejeknya pada Rose. Alan hanya ingin sekedar berjalan di sore hari, disekitar rumahnya. Namun tiba-tiba ia mendengar wanita yang sedang menangis dan berteriak tidak.
Rumah orang tuanya memang berada di sebuah lahan pertanian yang terdapat sebuah jembatan penghubung antara desanya dan desa sebelah. Dia mengikuti arah wanita itu, hingga mendekatinya saat wanita itu justru bersikap seolah ingin bunuh diri.
"Siapa yang mau bunuh diri?"
"Kamu?" sahutnya cepat.
"Nggak, aku cuma mau ngecek ketinggian saja" frustasinya.
"Aku tau kamu itu pobia ketinggian, mustahil banget kamu cuma mau ngetes ketinggian?" ulang Alan lagi.
"Itu dulu Lan, saat aku masih SMA sekarang aku berani kok." Rose tidak mau mengalah begitu saja.
"Baiklah, apa yang membuatmu ke tempat ini? bisakah kita bercerita? bukankah kita teman?" Alan mengulurkan kembali tangannya dan kemudian di sambut oleh Rose perlahan.
Alan membawanya berjalan menyusuri indahnya lahan pertanian di tempat ini. Tempat yang asri, Srengseng Sawah. Sebuah kelurahan yang ada di kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kelurahan ini merupakan kelurahan terluas di Kecamatan Jagakarsa pada masa itu.
"Rose, kamu adalah wanita yang sangat tangguh dan aku tau itu" sambil menarik kembali nafasnya perlahan, Alan melanjutkan kata-katanya.
"Tidak boleh ada kata putus asa dalam kehidupan dan mengakhiri masalah itu dengan sebuah tindakan konyol, bunuh diri" sambungnya lagi.
Rose menghentikan langkahnya dan kemudian melirik perlahan sahabatnya itu.
"Alan, dulu kau adalah pribadi yang tertutup juga terkesan introvert di mataku"
"hmm, benar. Tapi semua mulai berubah seiring berjalannya waktu dan aku bisa menjadi lebih ceria setelah banyak menghadapi cobaa. Buktinya aku lebih ceria daripada kamu" ejeknya sambil mengulas senyum tipis.
Rose mengangguk menandakan dia setuju dengan ucapan pria di sampingnya itu.
"Aku kalah padamu" Rose menyerah.
"Kamu wanita hebat Rose, aku nggak pernah melihat kamu serapuh ini sejak SMA" sambungnya lagi.
"Aku tau."
Alan membawa Rose ke rumahnya, disambut oleh ayah dan ibunya yang sedang mengurus perhitungan hasil penjualan jagung di kebun miliknya.
"Bukankah, ini nak Rose?" tanya sang ibu.
"Kok, ibu tau?" Rose semakin tidak mengerti. Dipandangi ibu yang masih cantik di usia tuanya itu, dia tersenyum lembut dan kemudian di sampingnya ada lelaki tua yang juga sangat lembut terlihat sangat menyayangi wanita tua itu.
"Kamu pernah bermain drama waktu ujian praktek sekolah, dan waktu itu Alan jadi pangerannya kan? kamu putrinya" sambung ibu itu.
Rose kembali mengingat masa-masa indahnya di SMA. Memang benar, saat itu dia pernah bermain drama bersama Alan, mereka berperan sangat baik, bahkan guru serta sahabat-sahabatnya menyanjung perannya yang sangat totalitas pada saat itu. Menjadi pasangan terbaik dalam adegan itu, yang bercerita tentang kesadaran seorang putri pada cinta sang pangeran.
"Ah iya bu, saya Rose" jawab Rose, saat menyadari ibu tua yang masih cantik itu menyentuh pundaknya.
"Sudah lama sekali ya. Kamu kemana saja sejak naik kelas 3 kamu sudah tidak pernah main dengan Alan?" tanya wanita itu.
Mereka berbicara sangat dekat dan bagaikan ibu dan anak, Rose menyadari sikap orang tua Alan begitu baik padanya, seolah sudah mengenal dengan sangat dekat dengan dirinya. Rose menjadi sangat bahagia dan nyaman berada di rumah ini.
"Saya pindah ke Jakarta Barat bu, ikut ayah mengelola usahanya"
"Oh, lalu bagaimana kabar ayahmu?"
"Ayah?"
Tanpa terasa air mata langsung mengalir perlahan dari kelopak mata indah Rose dan itu disadari oleh Alan dan ibunya.
"Rose? maafkan mama" ucap Alan.
Rose yang menyadari itu langsung mengusapkan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Tidak Lan, kalian tidak salah. Ayahku sudah meninggal, sebulan yang lalu"
"Apakah karena itu kamu sefrustasi ini?" tanya Alan kemudian.
Rose menggeleng dan kemudian kembali terdiam, dia mengarahkan pandangan ke jalan yang sudah mulai sepi karena hari sudah mulai gelap.
"Kita bersiap-siap makan yuk, sebentar kita lanjutkan" ajak sang ibu.
"Ibu sudah menyuruh Renata membelikan Rose baju untuk berganti malam ini" sambung ibunya lagi.
"Tapi bu, saya mau pulang saja. Saya takut ibu saya mencari saya"
"Makanlah dulu, sebentar akan coba ibu hubungi ibumu, untuk meminta ijin agar kamu bisa menginap di tempat ini sehari saja" sambung ibunya Alan.
Alan menyunggingkan senyumnya, bisa merasakan kembali kehadiran wanita pujaannya yang sejak SMA sudah mengisi relung hatinya, walaupun sekarang dia sudah memiliki kekasih namun kehadiran Rose mampu mengisi kekosongan hatinya yang tidak bisa di isi oleh siapapun.
Makan malam bersama setelah Rose menjalani ritual mandi dan berganti pakaian.
Renata dan Ibunya sudah berhasil menghubungi ibu Rose, untuk meminta ijin agar Rose bisa menginap di rumah mereka malam ini. Besok Rose akan di antarkan pulang kembali ke rumah orang tuanya.
Tak seperti malam-malam biasanya, Alan menjadi pribadi yang sangat ceria malam ini. Senyum selalu memancar di sudut bibir tipisnya.
"Kenapa?" tanya Alan saat menyadari Renata memperhatikannya.
"Kakak menyukai Kak Rose?" selidik Renata.
"Kepo, kamu anak kecil" jawab Alan singkat.
"Aku sudah kelas 3 SMP kak, dikit lagi SMA, aku ngerti kali kak" ejeknya lagi. Alan kemudian meraih kepala adiknya itu dengan lembut, kemudian mengacak-acak rambutnya.
"Dasar adik kakak yang paling aneh"
"Kakak?" kesalnya lagi.
Pemandangan tentang keseruan adik dan kakak itu membuat hati Rose kembali menghangat. Keluarga ini sangat indah dengan keakraban yang tercipta, antara orang tuanya juga anak-anaknya.
"Rose?" sebuah panggilan mengejutkannya.
"Ah, Iya bu" sahutnya kemudian. Rose menyadari kehadiran ibunda Alan di sampingnya karena panggilan namanya di samping telinganya. Rose tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah wanita paruh baya itu.
"Mereka bukan saudara sedarah, ibu menemukan Renata saat masih bayi di sebuah jembatan di dekat sini. Ibunya meninggal tapi dia masih selamat walaupun ibunya tak selamat. Dia anak yang kuat dan Alan sangat menyayanginya"
"Maksud ibu, bunuh diri?" Rose memikirkan dirinya yang tadi hendak melompat di jembatan itu, namun Alan hadir menolongnya.
"Entahlah, kami menemukannya di atas tubuh sang ibu sambil menangis. Dia sangat imut" sambungnya lagi.
"Rose, apakah kamu sudah punya pacar?" tanya ibunda Alan lagi. Pandangannya penuh tanya dan menuntut jawaban yang sesegera mungkin.
"Sekarang tidak Bu, pacar saya baru menikah bulan lalu" jawabnya dengan tatapan nanar.
"Oh ya? Kamu di tinggalkan nikah ceritanya?"
"Iya Bu"
"Alan pun demikian, pernikahan yang sudah di depan matanya gagal karena dia memilih pria yang lebih kaya" penjelasan ibunda Alan membuat Rose bertanya-tanya, sekaya apa lelaki yang berhasil membuat wanita itu meninggalkan Alan. Padahal menurutnya Alan adalah lelaki yang sukses.
"Tapi Renata belum tau jika kakak yang disayanginya itu ternyata akan gagal menikah"
Pantas saja, Rose mendengar bahwa kakak Renata ini sudah memiliki tunangan, namun masih memikirkan wanita lain.
"Tapi ibu rasa, ada masalah lain yang membuat wanita itu merasa lebih nyaman dengan pria lain dibandingkan Alan" sambungnya kemudian.
Rose menjadi bingung, mengapa ibu Alan menceritakan masalah ini padanya, padahal mereka baru mengenal.
"Ibu, kenapa ibu menceritakan nya padaku?"
"Karena ibu tau, sejak SMA ada satu wanita yang dicintai anak ibu, yaitu kamu Rose"
"Apa?" Teriaknya pelan.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengarahkan pandangannya pada Rose kemudian menyentuh pundak Rose.
"Kamu jadi pulang hari ini?" Suara Alan yang khas itu mendekati Rose.
"Ibu bahkan belum puas bicara dengannya, kamu sudah mau ngajak dia pulang" kesal sang ibu.
"Tapi Bu, kasian keluarganya" jawabnya kemudian di barengi dengan senyumannya pada sang ibu dan juga pada Rose.
Wanita paruh baya itu memberikan senyumnya pada Rose, saat dia berpamitan pada orang tua Alan dan adiknya Renata.
"Kakak kapan kesini lagi?" Kata gadis kecil itu, kata-kata nya sukses membuat Rose meneteskan air matanya.
"Kakak akan datang lagi"
"Janji ya kak" Renata memeluk Rose dengan lembut. Rose menjadi sangat tenang berada di lingkungan keluarga ini, sepertinya ia merasakan kembali kenyamanan keluarga yang hampir hilang karena masalah yang beberapa bulan ini sudah merusak kenyamanan Rose sendiri.
Rose hari ini akan kembali ke rumahnya dan kemudian menata kehidupan nya juga perusahaan yang sudah di wariskan ayahnya untuknya.
Alan mengantarkan Rose pulang ke rumahnya, perjalanan ini terasa begitu indah bagi Alan.
Bagaimana tidak? Rose adalah wanita yang pernah di ceritakan Alan pada ibunya, pernah hadir dalam hatinya apalagi setelah kegiatan drama yang sukses itu. Banyak teman-teman di sekolahnya menjodohkan Alan dengan Rose, namun ternyata Rose terlebih dahulu pindah sekolah bersama kepindahan sang ayah.
Kini saat mereka dipertemukan kembali, ingin rasanya Alan mengungkapkan perasaan hatinya, namun ia takut jika ini terlalu cepat bagi Rose untuk mengetahui perasaan hati sebenarnya dari Alan.
Sementara itu Dirga di tempatnya masih memikirkan keberadaan kekasih kecilnya, di tambah lagi sekarang Yuanti mantan istrinya itu mengabarkan akan segera menikah jika masa idah nya telah selesai.
'Gadis kecilku, dimanakah kau sekarang?' sebuah caption dalam postingan media sosial Dirga, jelas-jelas menandakan kegundahan hatinya.
Media sosial milik Rose bahkan sudah tidak terlihat lagi berlalu lalang dalam beranda Dirga. Dokter yang agak sibuk dengan pekerjaan itu memang tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengecek keberadaan sang kekasih hati.
Dia bahkan banyak menghabiskan waktunya dengan anaknya Gauri, agar tidak terlalu membuatnya bersedih.
Bersambung ..