BAB 10 Mencoba Membuka Hati

1766 Kata
"Pulang yuk" ajak Alan. Sore ini dia sengaja menjemput Rose dari tempatnya bekerja. Rose yang menjadi pemilik sebuah butik berlabel 'Rose Collection' di pusat kota di Jakarta Timur memang bisa pulang kapan saja sesuai keinginannya apalagi dia memiliki karyawan yang setia padanya selama beberapa tahun ini. Rose juga sekarang sedang menghandle perusahaan sang ayah yang diwariskan padanya. "Ayo, aku sudah selesai kok" jawab Rose dengan senyumannya. "Kita jalan-jalan dulu yuk, malam minggu" godanya lagi pada Rose. "Boleh, tapi jangan pulang malam ya, aku pengen cepat istirahat" "Hmmm" Alan hanya berdehem saja sambil terus memperhatikan jalanan di depannya. Dia memilih mengangguk untuk menyetujui permintaan Rose dan terus menuju sebuah taman kecil di pinggiran kota itu. "Di sini?" tunjuk Rose pada sebuah tempat duduk mungil yang hanya bisa di duduki berdua saja. "Iya, kamu keberatan duduk berdua denganku?" sambil menatap netra mata Rose dengan lembut, kemudian berjalan melangkah maju untuk lebih dekat dengan gadis itu. "Kita bahkan pernah berpelukan dengan adegan sebagai sepasang kekasih dalam drama itu, iya kan?" debaran d**a pria itu sangat dirasakan oleh Rose, apalagi kita mereka sudah berada sangat dekat. "Itu kan cuma peran kita dalam drama, Lan" Rose mengalihkan pandangannya saat wajah Alan sudah sangat dekat dengannya. "Rose, dengarkan aku. Sejak SMA, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" "Apa?" pekik Rose. Walaupun dia sudah mendengarnya langsung dari ibunda Alan, namun mendengar langsung pengakuan darinya membuat hati Rose berdesir kencang. Tak di sangka, jika pria ini dengan berani langsung mengutarakan isi hatinya pada Rose. "Rose, aku berjanji akan membuatmu bahagia" "Alan, aku tidak bisa. Maaf" desisnya lagi. "Kenapa?" "Karena aku, aku mencintai seseorang, orang lain Lan. Aku tidak mau berpura-pura mencintaimu jika ternyata hatiku masih terpaut pada orang lain" jawabnya panjang lebar. Alan menarik tubuh mungil gadis di depannya itu kepelukannya, tanpa persetujuan dari Rose. "Rose" "Please Alan, jangan seperti ini" Rose berusaha melepaskan pelukan itu dengan gerakan tubuhnya. "Biarkan aku memelukmu, jika bukan sebagai kekasihmu, ijinkan aku melakukan ini sebagai sahabatmu" terdengar lirih di telinga Rose. 'Betapa jahatnya aku Tuhan, aku membiarkan diriku terluka dalam rasa yang begitu dalam, sementara aku melukai orang yang aku tau sejak dulu sangat mencintaiku' gumamku dalam hati. Aku menganggukkan kepalaku dan membalas pelukannya dengan lembut, dia masih dengan kata-katanya yang mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Sudah 2 bulan kebersamaanku dengan Alan yang aku anggap sebagai sahabat, entah bagaimana pemikiran dia dan keluarganya. Namun kebersamaanku yang semakin intens ini memang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Menikmati malam minggu bersama dan juga kadang aku menikmati liburanku di rumah Alan bersama adik dan juga ibunya. Jangan tanyakan ibu tiriku, dia masih asyik dengan dunianya yang sibuk shopping dan sekali-kali mengurus perusahaan yang diberikan ayah untuknya dan juga Resti. Oh iya, mengenai pernikahan mereka, terlihat bahagia walaupun sampai detik ini Resti belum juga hamil. Namun hasil pemeriksaan dokter menyatakan jika Resti memiliki rahim yang bagus dan normal. Namun untuk pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyarankan pemeriksaan HSG untuk melihat saluran tuba yang di miliki oleh Resti, hal ini untuk mempermudah dokter mengetahui kendala yang di alami oleh mereka. Namun karena usia pernikahan mereka yang masih tergolong muda itu, membuat Marchel dan juga Resti belum terlalu terburu-buru melakukan pemeriksaan HSG ituu walaupun ibunda Marchel, Raisa sudah mendesaknya untuk segera memberikan kabar gembira pada sang ibu. Sebagai pewaris tunggal keluarga besar Atmajaya, membuatnya seperti pihak pesakitan yang harus segera melakukan tugas sesuai keinginan sang ibu. Rose yang sudah memulai membuka hatinya untuk Alan berada dalam dilema karena Dirga yang saat itu ditinggalkan istrinya mulai mendekati Rose. Alan mendekati Rose yang memilih duduk sendirian di taman depan rumah orang tua Alan yang cukup besar itu. Dia melihat wanita yang saat ini menjadi sahabatnya itu dengan penuh cinta dan debaran hati. Andai bisa memutar waktu, dia ingin mengutarakan perasaan hatinya saat SMA, sebelum hati wanita itu terpaut pada pria lain. "Kamu sendirian di sini?" tegur Alan. "Hmmm, iya. Ibu kamu dan Renata masih bawa piring ke dapur, mereka habis makan tadi denganku" "Apa kamu bahagia berada di dekat mereka?" Alan mencoba mencari keberuntungannya dalam setiap pandangan dan juga ucapan Rose, siapa tau bisa mendapatkan celah untuk dirinya masuk dalam hati dan cinta Rose. "Mereka sangat baik, mengingatkanku pada ibu dan adikku" "Lalu, apakah kamu mau melihat mereka?" "Tidak, aku sudah nyaman di rumahku sendiri, walau tidak sebesar rumah itu" sahut Rose kemudian. Seminggu yang lalu, Rose memutuskan untuk pindah ke rumahnya sendiri. Rumah yang sudah di belikan oleh ayahnya sebagai hadiah pernikahannya. Walaupun akhirnya dia batal menikah dengan Marchel, namun Rose sudah menerima hadiah itu dari ayahnya dan akan menjadikan rumah itu sebagai rumahnya dengan bayangan ayahnya yang sangat dicintainya. Kepergian Rose itu juga seiring dengan berbagai masalah yang dihadapi Rose di rumah lamanya bersama sang ibu tiri dan juga adik tirinya Resti yang semakin sering pamer kemesraan bersama suaminya, Marchel. Rose memang sudah mulai mencoba move on dari Marchel, namun pandangan Marchel yang tidak biasa pada Rose saat Rose di jemput oleh Alan, membuatnya harus memikirkan jalan yang lebih baik untuk dirinya sendiri. "Baiklah Rose, malam ini mamaku ingin kamu tidur di sini dengan Renata. Bisa kan? sekali saja" "Tapi Lan, ini tidak baik. Aku tidur di rumah laki-laki" jawabnya. "Kita kan nggak ada hubungan melebihi sahabat, iya kan? kok takut?" Rose mengangguk, apa yang dikatakan Alan memang benar, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, karena sebagai sahabat bukankah itu sangat baik jika mereka akhirnya dekat? Malam ini, di rumah besar Alan, mereka bermain dan bercerita sepanjang malam. Renata yang begitu dekat dengan Alan, menjadi sangat nyaman pula berada di dekat Rose. "Kak, kenapa nggak nikah dengan Kak Rose saja. Aku senang punya kakak seperti Kak Rose" celoteh gadis kecil itu. Rose tersenyum ramah dan kemudian membelai rambut Renata, karena gadis kecil itu ternyata memilih merebahkan kepalanya di paha Rose. "Kamu masih kecil Ren" sahut Alan dan kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh Rose serta jawaban yang tegas. "Benar kata kakak kamu, belajar dulu yang rajin" sambung Rose lagi. "Aku sudah banyak belajar kak, tapi belum dapat juara 1 ya kak. Kenapa ya?" tanyanya dengan riang, dia bercerita dengan ceria tentang nilainya yang hanya berada di posisi ke tiga. "itu artinya, Renata belum maksimal. Lebih keras lagi belajarnya" Mamanya yang kini menyambungnya untuk memberikan pengertian kepada gadis itu. "Nanti kepala aku botak, Ma" jawabnya perlahan sambil memegang kepalanya. Sontak pernyataan polosnya itu membawa semua orang yang berada di ruang keluarga itu menjadi tertawa bersama, termasuk Rose. Kehangatan keluarga ini, berkali-kali membuat Rose nyaman dan bahkan membawanya pada rasa yang begitu dalam. Entah itu benar perasaan cinta ataukah hanya perasaan nyaman semata, namun Rose bisa merasakan betapa damainya berada dalam keluarga ini. Tak terasa kedamaian itu membawanya pada perasaan yang tidak ingin di tinggalkan. Sehari saja Alan tak memberikan kabar padanya saat mereka berjauhan, Rose merasakan rindu dalam dirinya. Namun ia tidak mau mengartikan getaran itu sebagai cinta, karena baginya masih terlalu awam untuk menyatakannya. "Rose pulang dulu bu" sambil menciumi punggung tangan ibu paruh baya itu dengan lembut. "Hati-hati di rumah dan kunci rumah dengan baik" jawabnya kemudian dan di angguki oleh Rose. Seperti malam-malam sebelumnya jika Alan mengantarkan Rose pulang, dia pasti menanyakan perihal makanan yang ingin Rose beli sebelum pulang. "Malam ini aku sudah kenyang, tadi makan di rumahmu. Nich, ibu sudah bungkusin aku makanan untuk esok" sambil memperlihatkan kotak yang mungkin sudah berisi lauk pauk untuknya esok hari. "Hmm, kamu dekat sekali dengan ibuku. Terimakasih ya, sudah membuat ibuku tersenyum dan bahagia seperti itu" "Maksudmu?" "Ibuku sangat sedih, setelah kabar meninggalnya Santi, tunanganku dalam kejadian kecelakaan pesawat Jakarta - Surabaya, tahun lalu. Santi sangat menyayangi ibuku, dan kami sudah merencakan pernikahan. Namun akhirnya semua itu tidak pernah terjadi. Sejak itu, ibuku selalu berkabung dalam dirinya. Hingga dia terkejut melihatmu" jelasnya. "Mengapa terkejut?" tanyanya penasaran. "Karena ibu tau, sebelum aku menerima untuk di jodohkan dengan Santi, aku hanya mencintaimu dan aku bahkan menutup rapat diriku dari siapapun sampai akhirnya bersedia menerima Santi" sambungnya lagi. "Alan, maafkan aku" kata-kata Rose lagi dan lagi, maaf dan maaf. Saat memasuki rumahnya itu, Rose segera mengatur makanan-makanan yang di bawanya. Bik Sari yang menemani Rose di rumah ini bahkan kini memilih makan makanan yang di bawa Rose. Kesendirian Rose di rumah ini membuatnya membawa serta sang asisten setia yang sudah sejak ibunya masih hidup sudah mengabdikan dirinya untuk keluarga ini. Rose sangat bahagia. "Aku pulang dulu, jangan lupa kunci pagarnya sekarang" kata Alan. Rose mendekati Alan dan kemudian tersenyum, ada desiran nyaman dalam hatinya yang meronta sedih ketika Alan akan pergi. Lelaki itu mengatakan bahwa dirinya besok akan berangkat ke sebuah tempat bersama rekan-rekan di masa kuliahnya untuk camping selama 2 hari. Rose merasakan bahwa waktu 2 hari itu akan menjadi hari yang berat untuknya jika tidak bersama Alan atau mendengar kabar tentangnya. "Apa? 2 hari? lama banget campingnya?" jawab Rose, ketika Alan mengatakan perihal keberangkatannya. "Kok ngegas sih? kangen ya?" "Eh, siapa yang kangen?" "Rose, katakan sekali saja jika kau membutuhkan aku, maka aku tidak akan pergi" Getaran ketakutan akan kehilangan lelaki itu muncul dalam diri Rose, meronta-ronta untuk diberikan waktu untuk mengisi namanya dalam hati gadis itu. Namun perasaannya pada nama lelaki lain membuatnya masih kokoh pada nama orang lain. Namun saat mobil itu berlalu pergi, ada rasa yang hilang. Perlakuan Alan, Renata adiknya dan juga ibunya membuat Rose menjadi semakin membutuhkan keluarga itu, dia sudah sangat nyaman dengan mereka. 'Jangan pergi, tetaplah menjadi perlindungku' sent. Rose segera mengirimkan pesan itu pada lelaki yang saat ini sudah memicingkan senyum terindahnya di bibir tipisnya, kemudian berteriak bahagia hingga ibunya mendekatinya. "Kenapa? baru sampai sudah teriak. Masuk dulu" kata ibunya. "Rose ma, dia tidak mengijinkan aku pergi camping. Artinya dia membutuhkan aku" kata Alan. Dia refleks langsung memeluk tubuh sang ibu hingga tersungkur ke kursi sofa. "Sayangi dia, ibu menyukai dia" "Apalagi aku ma, aku sangat menyukainya" balasnya lagi. "Jika dia mau, kita bisa membawanya untuk berkenalan dengan keluarga besar kita" "Membawanya pada kakek dan nenek, ma?" ucapnya lagi. Ibunya mengangguk dan memberikan isyarat bahwa wanita yang di bicarakannya adalah wanita yang layak diperkenalkan ke keluarga besar mereka. "Kapan ma?" "Sabar nak, kita harus mempersiapkan diri juga" "Aku tidak sabar bertemu kakek dan nenek" "Mama juga" * * * Dalam pertemuan keluarga besar itu, Rose seketika menarik langkahnya ketika harus bertemu orang yang sudah lama mencoba untuk di lupakannya. "Dirga" lirihnya namun mampu di dengar oleh Alan. Dia berjalan dengan terus memegang pergelangan tangan Rose. Tarikan Rose dan langkahnya yang memilih berhenti bahkan mundur membuat Alan mengernyitkan keningnya. "Ada apa?" bisiknya lagi dan mampu di lihat dengan jelas oleh Dirga. 'Dirga, apakah itu benar Dirga?' masih ragu dia menanyakannya, maka dia hanya mengucapkan dalam hatinya. "Halo Kak Dirga, dia calonku, Rose" 'Rose?' teriak Dirga dalam hatinya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN