BAB 11 Pertemuan Dirga

2127 Kata
Masa lalu? Terkadang ada yang perlu diperjuangkan dan ada pula yang perlu di lupakan. "Pernikahan?" Dirga membaca undangan pernikahan mantan istrinya dengan Ismail, ayah kandung anaknya yang juga adalah mantan pacarnya sebelum dia menikah denganku. "Ga, aku sengaja mengantarkannya langsung padamu agar aku juga bisa bertemu dengan anakku, Gauri" ucapnya perlahan dan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah yang sudah hampir 4 tahun itu pernah di tempatinya. Rumah yang menjadikan anaknya tumbuh dengan dipenuhi kasih sayang. "Mama?" teriak Gauri pada Yuanti. "Papa?" saat itupun dia berteriak, berpindah dari gendongan ibunya kemudian ke gendongan papanya. "Kamu akan datang kan, Ga?" Dirga memperhatikan Gauri yang sedang memeluk Ismail dengan sangat erat, dia mendengar ucapan Yuanti kemudian mengangguk mantap. "Aku akan datang, dengan Gauri" "Baiklah, dia akan tetap di sini denganmu? atau bersamaku?" Yuanti kembali menyambung pembicaraan itu. Memang benar, perceraian mungkin kebanyakan membuat pasangan yang berpisah itu saling membenci, namun tidak halnya dengan Yuanti dan Dirga. Mereka telah sepakat untuk mengakhiri pernikahan itu dengan cara yang baik dan tetap menjalin hubungan yang baik pula. Walau setelah kelahiran Gauri, hubungan Yuanti dan Dirga sempat berjalan normal layaknya hubungan suami istri yang bahagia, namun perasaan mereka sama-sama tidak bisa di bohongi. Apalagi dengan kehadiran Ismail di antara mereka yang merupakan ayah kandung Gauri, membuat hubungan yang memang tidak begitu baik itu semakin tidak bisa semakin membaik. Sama-sama berpura-pura bahagia, namun menyakiti diri sendiri adalah hal yang harus sama-sama mereka singkirkan hingga keputusan perpisahan menjadi solusi terbaik. Dirga menatap ke arah Gauri yang kini sudah turun dari gendongan papanya, kemudian mendekati anaknya itu, walau bukan anak kandungnya. "Gauri mau ikut mama? atau papa?" tanya Dirga pada Gauri. "Kemana?" tanyanya bingung. "Mama dan papa mau jalan-jalan, terus ada pesta begitu seperti yang Gauri pernah lihat kemarin, ada makanan yang enak" cerita Dirga membuat mata Gauri membelalak. "Makanan enak itu banyak Dad?" 'Ha ha ha ... ' mereka semua sontak tertawa melihat tingkah menggemaskan anak kecil itu. "Iya, banyak makanan di sana" "Tapi ada Daddy juga kan?" bujuknya sambil menarik tangan Dirga. "Ga, kayaknya dia maunya dengan kamu, aku juga masih harus menyiapkan beberapa hal" Ismail mengangguk membenarkan perkataan Yuanti. Dirga tersenyum. "Aku mengerti, serahkan saja padaku, anak Daddy ini akan senang seharian bermain dengan Daddy. Iya kan?" tanya Dirga kemudian. Gauri tampak mengangguk, Yuanti tersenyum bahagia. Perpisahan ini justru menjadikan mereka bahagia satu sama lain. "Pernikahan kalian masih seminggu juga kan? aku akan membereskan beberapa perkerjaanku supaya bisa menemani Gauri di pernikahan kalian nanti" "Terimakasih Ga, maaf jika aku mengambil Yuanti darimu" Ismail mendekati Dirga dengan tatapan yang sedikit terasa tidak enak. "Nggak nggak, kamu nggak boleh berpikir begitu. Aku justru berterimakasih padamu, Aku tidak mampu memberikan bahagia pada Yuanti karena dia hanya mencintaimu dan aku akan memberikan kesempatan itu padamu. Aku yang duluan mengambil dia darimu, aku yang seharusnya meminta maaf" Ismail langsung memeluk erat tubuh kekar Dirga, di saksikan oleh Yuanti. Dia tersenyum bahagia, karena benar-benar hubungan yang sangat indah dan dia berharap Dirga pun bisa bahagia seperti dirinya, menemukan kembali orang yang di cintainya. "Semoga kamu bisa menemukan dia, Ga" ucap Yuanti sebelum pergi dari rumah itu. Ada beberapa agenda yang harus di lakukan Yuanti dengan Ismail, sehingga dia menjadi sangat sibuk. Melakukan pengecekan lokasi pernikahan, pembicaraan dengan WO yang mengurus pernikahan mereka yang sudah di depan mata itu. "Terimakasih Yu, kamu harus bahagia selalu" "I wish" Kemudian mereka melambaikan tangannya, karena mengajarkan pada Gauri, putri mereka. "Da da, Mama, da da Papa" celoteh Gauri di dalam gendongan Dirga, Daddynya. Dirga membawanya masuk ke dalam rumah dengan bahagia. Weekend seperti ini biasanya mereka berlibur dan mencari tempat wisata yang indah, biarpun hanya sekedar mengabadikan moment-moment kebersamaan atau juga hanya sekedar ingin mengabadikan indahnya pemandangan yang ada. Dirga biasanya senang menjadikan Gauri sebagai model ciliknya dalam mengabadikan tempat-tempat yang menurutnya indah. Namun kabar pernikahan yang di bawa Yuanti, mantan istrinya itu sedikitnya membuat hati Dirga berdenyut nyeri. Ada perasaan kehilangan, walau itu terkesan biasa-biasa saja, namun lebih pada perasaan bahagia pada kebahagiaan yang nampak di wajah mantan istrinya itu. Tetapi, ada perasaan sedih yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. Jika mantan istrinya sudah bahagia dengan orang yang dicintainya, bagaimana dengan dirinya? mengapa dia terkesan menyendiri dan tidak memiliki kemajuan dalam kehidupan percintaannya. Sambil memperhatikan Gauri yang bermain Lego di ruang keluarga itu, Dirga mengecek kembali pesan yang di kirimnya melalui aku media sosialnya miliknya pada Rose, namun tidak terkirim. 'Tidak aktif' lirihnya lagi. Dirga mencoba mencari akun media sosial lainnya dengan nama Rose atau juga foto profil wanita pujaannya, namun tidak berhasil. Semua jejak tentang sang mantan pacar yang masih di hatinya itu, tidak di temukan. Dirga meletakkan kembali ponselnya, kemudian Dirga berteriak saat melihat Gauri mengeluarkan sebuah foto dari album pernikahannya dengan Yuanti. "Gauri?" panggilnya. "Daddy? ini siapa?" tunjuknya pada sebuah foto. Kulihat foto nenek dan kakekku dalam foto keluargaku saat pernikahanku bersama Yuanti. "Oh, ini kakek dan nenek, sayang" "Kakek?" "Oh, itu Eyang buyutnya Gauri sayang" "Eyang buyut?" tanyanya lagi. Dirga tersenyum menyaksikan lucunya tingkat anaknya itu. "Hmmmm, baiklah sepertinya weekend kali ini kita ke rumah kakek dan neneknya Daddy saja ya" sambung Dirga kemudian mempersiapkan dirinya dan juga Gauri. Dia akan mengajak Gauri berlibur ke rumah kakek dan neneknya, tentunya Eyang buyutnya Gauri. Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman sang kakek memang lumayan jauh, hingga membuat Gauri tertidur di samping kemudi Dirga. Kemudian dia berhenti sejenak untuk memperbaiki posisi tidur anaknya. Mengisi bantal kecil di pinggir kiri dan kanan, lalu Gauri langsung memeluk bantal peluk kecil yang di rasakannya di samping dirinya. Dirga kembali tersenyum melihat tingkah laku anaknya itu. 'Menggemaskan' gumamnya dalam hati. "Assalamualaikum" saat Dirga keluar dari mobilnya dan langsung berlari bersama Gauri untuk mendekati kakek dan neneknya. Menciumi punggung tangannya yang sudah keriput dan di ikuti oleh Gauri. "Eyang buyut?" lirih si bocah itu dengan manis. Mereka langsung tertawa melihat tingkat lucu mereka. "Yuanti tidak ikut nak?" Nenek menanyakan keberadaan mantan istrinya itu. Dirga menggeleng kemudian memberikan senyuman agar si kakek dan nenek tidak bersedih. "Yuanti akan datang kalau sudah ada waktu nek, jangan bersedih begitu kan ada Dirga dengan Gauri" jawabnya kemudian. Dirga tau, kakek dan neneknya sangat menyayangi cucu menantunya itu. Penampilannya yang sederhana dan juga sikap mudah bergaulnya membuat Yuanti mudah di terima di keluarga besarnya. Namun kembali lagi pada perasaan mereka berdua, karena hubungan itu di bangun dengan rasa, bukan hanya sekedar keinginan untuk membuat orang lain bahagia. "Ayo masuk" tanteku mengajak mereka masuk. Di rumah besar ini, ibunya hidup sejak kecil dengan bahagia. Kasih sayang yang diberikan tidak mampu digambarkan dengan apapun. Ibunda Dirga bersaudara 4 orang, dengan 3 perempuan dan 1 laki-laki. Dengan begitu Dirga pun tau bahwa dia memilik paman dan bibi yang masih sehat dan juga sepupu yang jumlahnya juga lumayan banyak. Setelah kedatangan Dirga ke rumah besar kakek dan neneknya, dia juga mendengar bahwa sepupunya yang lain akan datang karena akan memperkenalkan calon isteri mereka. Inilah tradisi keluarga besar ini, sebelum mengikatkan hubungan ke arah yang lebih serius, mereka di minta untuk membawanya ke rumah besar ini untuk perkenalan dan memperoleh restu dari kakek dan nenek. Makan malam sudah siap, kakek sedang menerima telfon dari salah satu sepupuku, Alan. Setelah salam yang di ucapkan Alan untuk kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, seorang wanita yang di pegangnya kemudian menarik dirinya. Perasaan ragu untuk masuk, aku yang tidak terlalu memperhatikannya hanya terdiam karena asyik menyuapi Gauri yang meminta makan walaupun yang lainnya belum makan karena menunggu kedatangan Alan. "Dirga" lirih suaranya mampu di dengar oleh Dirga. Mungkin karena tidak ingin membuat kecurigaan pada diri Alan, Rose mengikuti saja langkah Alan yang mengajaknya masuk dan melenggang masuk ke arah kami. Alan sempat mengernyitkan keningnya karena Rose mencoba menahan langkahnya dan menarik tangannya. "Ada apa?" bisik Alan pada Rose. Rose hanya menggeleng dan Alan mengira bahwa itu adalah sikap yang ditunjukkan oleh Rose karena malu bertemu dengan keluarga besarnya. "Hai Lan" sapa Dirga terlebih dahulu, Bibi yang kemudian melanjutkan aktivitas menyuapi Gauri yang memilih makan sambil menonton TV. Dirga melihat ke arah wanita cantik di gandeng oleh Alan, di depannya. Hatiku langsung berdesir mengingat bahwa gadis inilah yang di carinya sejak lama, yang telah merobohkan hatinya dan membuatnya mencari hingga detik ini. "Halo Kak Dirga, dia calonku, Rose" "Apa? calon?" setelah bertanya dalam hatinya, dia tanpa sengaja berteriak kecil tentang kata calon yang di utarakan sepupunya itu pada mereka. "Iya, calon istriku" Rose menatap Dirga dengan ragu, melihat pandangan itu Dirga merasa seperti mencelos, hatinya yang telah hilang kini hadir kembali, seperti menemukan air di kekeringan pegunungan. Ingin rasanya dia langsung mengambil tangan lembut itu untuk di ciumnya, dia bahkan merindukan gadis kecilnya itu. Gadis yang telah lama di rindunya, kini justru hadir sebagai calon istri sepupunya. "Ayo kita mulai makan" Kakek memotong lamunan Dirga yang kemudian di lanjutkan dengan anggukan kepala menandakan mereka semua sudah siap untuk menikmati makan malam ini. Suasana makan malam yang berbeda di mata Rose, Dirga dan juga Alan. Pandangan yang di layangkan Dirga pada Rose mengundang tanya pada diri Alan. "Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Pertanyaan Alan membuat mereka terkejut, tak terkecuali kakek dan juga nenek. "Makan dulu, sebentar ada waktu kalian untuk bercerita" potong kakek. "Maaf Kek" "Enak kan? ini masakan Bibi mu lo, sudah seminggu ini dia liburan di sini. Kalau kalian palingan cuma datang sehari doang" sindirnya sambil melirik ke arah Alan dan juga Dirga. "Iya enak Eyang, hmmmmm" sambil menggumam dan berhasil membuat suasana keluarga itu kembali menjadi mencair dan ceria lagi. Gauri menjawab dengan sedikit teriakan, membuat semua pandangan mengarah padanya. "Dia Gauri, anaknya Kak Dirga" jelas Alan saat melihat Rose melihat gadis kecil itu. Dirga berjalan mendekati Gauri dan menggendong anaknya itu yang ternyata sudah selesai makan. "Aku mau dengan tante cantik, Dad" teriaknya lagi. "Baiklah, namanya Tante Rose" sahut Dirga lagi. Melihat anaknya yang meronta menginginkan Rose, Dirga menjadi bahagia. Mungkin ini bisa menjadi kesempatannya berbicara lebih dekat dengan Rose setelah bertahun-tahun tak bertemu. Pertemuan pertama Rose di rumah ini menjadi sejarah tersendiri baginya, setelah lama mencari justru secara tidak sengaja dia bertemu dengan Dirga di rumah ini. Jangan di tanyakan lagi bagaimana perasaannya, bahagia yang membuncah namun kembali bersedih mengingat dia sudah membawa anak yang sangat cantik dan manis. Tidak ingin membuat Alan curiga, Rose memilih duduk sambil memainkan ponsel miliknya. "Rose, kita akan tidur di sini malam ini. Kakek dan Nenek tidak mengijinkan kita pulang" terang Alan sambil mendekati Rose. "Hmmm, baiklah" Rose menuju kamar tamu yang sudah di sediakan dan kemudian memilih membersihkan diri sebelum beranjak tidur. Sebelum dia tidur dia mendengar suara anak kecil yang terus-terusan menangis dan Rose memilih keluar dari kamarnya. "Kamu belum tidur?" Alan mendekati Rose, dia mencoba memberi pengertian bahwa anak itu menangis karena merindukan ibunya. "Sayang, bobo dengan Daddy ya" bujuk Dirga lagi. "Nggak, Gauri mau mama" "Kok tumben nak, biasanya juga dengan Daddy kan?" "Daddy" sambil memeluk erat Dirga, anak itu terus saja menangis. Rose mendekatinya dan mengusap kepala anak itu. Dia mendongak dan segera melepaskan pelukan Dirga, dia memilih mengulurkan tangannya pada Rose. Rose yang bingung, menatap Alan seolah meminta ijin dan pria itu mengangguk seolah memberikan dia ijin untuk menggendongnya. Anak itu sudah terdiam dalam gendongan Rose, di sebuah taman di depan rumah itu terdapat pula gazebo kecil yang nyaman untuk beristirahat. Hanya ada Rose, Alan dan juga Gauri di san, mereka bermain dan berusaha menenangkan hati gadis kecil itu. "Aku dengar, ibunya akan segera menikah minggu depan" ucap Alan. "Lalu? anak ini tidak bersama ibunya? mengapa harus dengan Kak Dirga?" "Hmmm" Alan mengangguk. "Sejak lahir, Dirga sangat menyayanginya layaknya anak kandung. Gauri terbiasa bersama Dirga saat dia tidak sibuk, Yuanti hanya memikirkan dirinya dan juga perasaannya sendiri, namun tidak dengan perasaan Kak Dirga" "Maksudmu? anak kandung?" "Hhhh" desahnya kemudian. "Ini sudah larut malam, kita tidur. Besok kau bisa tanyakan sendiri pada Kakak sepupuku yang super cuek itu" sambil menggendong Gauri untuk di bawanya pada Dirga yang sudah menunggu di depan ruang keluarga. "Terimakasih ya Lan, anakku tumben bawel begini" Dirga menerima anaknya ke dalam gendongannya. "Mungkin dia sedih karena kalian akan berpisah dan dia akan mendapatkan papa baru" "Hmmm, kami bahagia seperti ini Lan" kemudian berjalan memasuki kamarnya dan membawa Gauri ke ranjang tempatnya tidur. Malam ini Alan dan Dirga akan tidur di sebuah kamar yang sama karena kamar tamu di tempati oleh Rose. "Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Alan. Pertanyaan itu sukses membuat kening Alan mengkerut. "Entahlah, dia bahkan tidak respect padaku" "Kenapa?" "Sepertinya dia masih mencintai masa lalunya" 'Masa lalunya? aku? ataukah itu Marchel?' gumamnya sendiri dalam hati. Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba hati Dirga menjadi menghangat, jika dia yang masih ada dalam pikiran Rose, maka ini akan menjadi lebih mudah baginya untuk mendapatkan Rose kembali. Dia berjanji dalam dirinya akan berjuang demi Rose, setelah kegagalan pernikahan Rose dengan Marchel, Dirga sangat menyesali dirinya yang tidak segera memperjuangkan Rose hingga akhirnya justru Rose bertemu dengan Alan sepupunya sendiri. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN