"Kakak ... buka pintunya ...." Gedoran pintu serta suara dari Mio melemah setelah beberapa jam berteriak dan mengetuk pintu secara brutal. Ia menangis ingin dikeluarkan, pun mendapatkan penjelasan dari Arsen. Arsen yang berada di luar kamar hanya bisa menangis pelan, tak ingin terdengar. Ia kalang kabut, pikirannya mengawang mencoba untuk berpikir jernih. Ia harus bertindak menentukan pilihannya. Ia ingin mengekang Mio bersamanya ... tapi, ia ingin kebahagiaan Mio .... Akankah Mio tetap bahagia bersamanya walaupun telah tahu kebenarannya? - Arsen memasuki kamar setelah keadaan mulai tenang. Ia melihat Mio yang tertidur di lantai, kemungkinan terlalu lelah karena menangis hampir tiga jam lamanya. Matanya membengkak, wajahnya merah dan keringatnya mengucur. Mio mengisak dalam tidurnya,

