Di dalam mobil, Ara tidak berhenti menangis. Sekarang ia malah menyesal sudah memancing amarah Raka. Namun tidak bisa ia pungkiri bahwa ia masih kesal. Raka juga salah di sana, namun kenapa hanya Raka yang boleh marah sedangkan Ara tidak? “Ini nggak adil! Kak Raka egois!” protes Ara semakin kesal dan semakin keras menangis. “Diam kamu! Simpan tenaga kamu buat protes nanti. Aku nggak mau celakain kita berdua di jalan gara gara aku emosi sama kamu!” sentak Raka. Ara sesenggukan. Ia tidak bisa berhenti menangis. Bagaimana ia bisa berhenti menangis sedangkan dirinya merasa terpojok. Raka pintar sekali membuat lawannya tidak berkutik seolah apa yang dilakukan Ara adalah kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan. “Berhenti nangis!” sentak Raka. “Kamu juga salah di sini, nggak cuma aku,

