“Erik are you ok?” pertanyaan dari dokter Sebastian kala itu terdengar, dan membuat Ingrid semakin menangis dan menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan itu.
“Please… aku takut … kau benar … aku tidak seharusnya datang ke mari! Aku mohon … tolong aku!” ucap Ingrid, dirinya merasa sangat-sangat putus asa pada saat itu, yang tentu saja membuat Ingrid tidak ingin merasakan hal ini, tubuhnya bergetar benar-benar hebat.
“Di mana kamu?! aku akan segera menyusul!” Ingrid menganggukkan kepalanya merasa senang,
“Aku masih berada di desa ini, aku mohon … tolong aku!” itu lah yang di ucapkan oleh Ingrid, yang kemudian membuat Dokter Sebastian pun kembali berkata,
“Tunggu lah! Aku akan ke tempatmu secepat yang aku bisa!”
…
Pip!
Ingrid menekat tombol merah tersebut, kedua tangannya masih bergetar dengan hebat, saat ini ia terisak ketakutan, namun ia juga berusaha untuk menutup kedua mulutnya agar suara isakkan itu tidak terdengar.
Srakk … srakkk …
“Hahahaha!”
“Hehehhe!”
Suara tawa yang terdengar samar di sana, semakin membuat Ingrid merasa ketakutan pada saat ini, yang membuat dirinya beringsut secara perlahan ke arah belakang, berusaha untuk bersembunyi semakin dalam di antara pepohonan jagung di sana.
“Eri~k … di mana kamu??” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh seornag anak perempuan di sana, membuat Ingrid semakin bergetar ketakutan karenanya,
“Eri~k ….” nama dari Erik terus terpanggil, dan semakin lama tubuh Ingrid semakin ketakutan dan bertambah ketakutan lagi karenanya.
“Kau tahu?? seharusnya kau tidak bersembunyi, karena aku menemukanmu dengan cepat!” sebuah bisikan yang terdengar di telinga kiri Ingrid saat itu, membuat dirinya seketika berbalik dan mendapati seorang anak perempuan yang belum pernah ia kenal sebelumnya,
“Ah! Hahh … T … tolo … janganh …” ucap Erik ketakutan saat itu, dan membuat anak perempuan yang berdiri tepat di hadapannya saat ini pun kini tertawa dengan lebar, seolah menertawakan Erik yang ketakutan di hadapannya saat ini.
“Ahahahahahahahaha!!!” tawanya begitu menyeramkan, karena suara dari anak perempuan itu kini berubah menjadi suara nenek-nenek seram yang serak, dan perubahan pun terjadi pada wajah anak itu, senhingga Ingrid pun tidak mampu menahan rasa takutnya dan teriak sekencang-kencangnya pada saat itu.
Tentu saja itu akan terjadi, wajah cantik dari anak perempuan itu seketika saja berubah seperti permukaan kulit yang perlahan meleleh, dengan bola mata yang juga turun dan bahkan lepas dari tempatnya, kulitnya pada saat itu selayaknya lilin yang mencair ketika di bakar, dan itu sangat-sangat mengerikan.
“EAAAAGHH!!!” Ingrid teriak dengan sangat-sangat kencang karenanya, namun tanpa ia duga tubuhnya saat ini terangkat dari tempatnya terduduk, kedua bahunya kini terasa di remas oleh sesuatu hal yang sangat besar karena ia merasakan sakit di sana.
“AAAA!!!”
Bahkan mulut dari Ingrid kini tidak dapat tertutup lagi, yang membuatnya kini nampak sangat terkejut ketika menyadari seorang anak lelaki yang ia kenali bernama Leo kini menahan mulut dari Ingrid dengan memeganginya, satu tangan memegangi bibir atasnya dan satunya lagi yang bawah, sehingga mustahil bagi Ingrid untuk menutup kedua mulutnya saat itu. Ia hanya bisa mengerang ketika melihat wajah dari anak lelaki itu tersenyum dengan lebar dan terasa amat menyeramkan.
Pandangan Ingrid kini menoleh menatap ke arah samping di mana banyak sekali makhluk hitam besar dengan bulu lebat serta taring besar di diujung bibirnya, matanya bahkan terlihat sangat menyeramkan layaknya leak di bali. Tubuh Ingrid semakin bergetar ketika menyadari bahwa dirinya saat ini di kepung oleh anak-anak serta makhluk menyeramkan itu.
KRRRRRRR ….
Suara dari salah satu makhluk di sana, mampu membuat Ingrid terdiam kaku, ia ketakutan pada saat itu, ia bahkan menangis sebisanya di sana dan ia masih tetap tidak bisa menutup mulutnya.
“Rasuki dia!” ucapan anak perempuan itu membuat para makhluk di sana bersorak dengan senang, dan bersamaan dengan itu Ingrid merasa terbatuk, seolah sesuatu dengan ukuran yang sangat besar masuk ke dalam rongga mulutnya dan hal itu membuatnya kini merasa tercekat.
“Eukkhh … ukhh…”
Ingrid merasakan kesakitan pada saat yang bersamaan, ketika ia menyadari jika makhluk besar itu berusaha masuk ke dalam tubuhnya, ia memasukkan tangannya yang besar itu ke dalam mulutnya, dan hal itu tentu sana membuat Ingrid mengejang dan berusaha untuk berontak. Namun, semakin Ingrid memberontak, semakin leluasa pula monster itu masuk ke dalam tubuhnya.
“Hh … hhh …”
Deruan napas dari Ingrid semakin tidak terkontrol lagi, ia menangis dan memejamkan kedua matanya. Ia sangat tidak ingin merasakan hal itu, yang membuat Ingrid pun berteriak di dalam hatinya.
Please!!! Selamatkan aku!!
Dan tidak lama dari sana sebuah cahaya pun datang dan membuat dirinya kini terbangun dari tidurnya dan terbangun pula dari mimpi buruknya pada saat itu.
“Ah!! hhh … hhh … hahh …”
Ingrid segera saja terduduk dari atas kasurnya, dan bernapas dengan sangat-sangat kencang, seolah pasokan udara pada saat itu tidak ada sama sekali. Yang membuat Tony yang mendengar napas Ingrid yang kala itu kesulitan pun dengan segera terbangun dan menatap Ingrid dengan sangat cemas,
“Hei … hei … are you okay??” tanya Tony kepada Ingrid, yang kini menoleh menatap sang kekasih dengan terkejut, dan ia masih bernapas dengan menderu-deru.
“Hei … Ingrid … hei … “ ucap Tony, dengan segera beranjak dari kasurnya untuk menyalakan lampu kamar tersebut, dan segera meraih segelas air ketika menyadari jika Ingrid menangis di hadapannya.
“Hk … hk … aku takut … Tony …. hk” isak Ingrid kepada Tony yang segera naik ke atas kasur dan memeluknya dengan erat guna menenangkan kekasihnya di sana.
“Hei … it’s okay … It just a bad dream … tak ada yang harus kau takuti … aku di sini …” bisik Tony kepada Ingrid yang menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan Tony dengan sangat erat. Ingrid terus menangis merasa takut, namun pelukan yang dilakukan oleh Tony, membuat dirinya perlahan merasa baik dan tangisannya pun perlahan berhenti.
Menyadari jika sang kekasih sudah berhenti menangis, membuat Tony kini melepaskan pelukannya dan menatap dengan seksama Ingrid yang masih terisak meski sesekali,
“Ingin bercerita?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Ingrid menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Tony, yang membuat Tony menganggukkan kepalanya paham dan kembali memeluk Ingrid dengan erat seraya berucap,
“Okay … that’s okay … tidak perlu di bahas … itu hanya mimpi!” itu lah yang di katakan oleh Tony, dan membuat Ingrid kembali menganggukkan kepalanya lagi menanggapi hal itu. Namun, sejak Ingrid terbangun dari mimpi buruknya, ia tidak lagi ingin tertidur dan memilih untuk menonton Tv, dan untungnya Tony adalah tipikal lelaki yang pengertian, yang pada akhirnya ia juga memilih untuk menemani sang kekasih menonton TV bersama di pukul empat pagi itu.
…
“Apakah hari ini kau bekerja, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat Tony menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu,
“Yeah … hari ini aku akan lembur, apakah kau baik-baik saja? Eum … jika tidak, kau bisa memanggil temanmu atau Rose untuk menemanimu di sini!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini tersenyum mendengar ucapan itu seraya berkata,
“Aku belum mengenal Rose, Tony!” ucap Ingrid dan membuat Tony menganggukkan kepalanya tahu akan hal itu,
“Yeah … aku tahu itu, tapi … Rose adalah orang yang humble! Aku yakin kau betah dengannya!” ucap Tony, dan membuat Ingrid kembali tersenyum menendengar hal itu,
“Aku akan memanggil Tiffany untuk menemaniku di sini!” ucap Ingrid dan membuat Tony menganggukkan kepalanya mengerti dan menyetujui ucapan tersebut.
“Yeah … baiklah … itu akan membuat diriku semakin tenang!” ucap Tony yang kala itu meraih roti panggang buatan Ingrid, untuk kemudian ia santap dengan lahap di pagi itu.
Sementara itu, Ingrid merasa penasaran dengan mimpi yang ia alami semalam. Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam benaknya pada saat itu, terutama mengenai wanita cantik yang bernama Ningrum di sana, yang membuat dirinya secara tiba-tiba ingin segera menemui Adam untuk bertanya mengenai Ningrum, yang tentu saja membuatnya kebingungan saat ini.
Kenapa mesti Adam? Itu lah pertanyaan yang ada di dalam benaknya, namun karena ia merasa jika pikiran dan niat pertamanya adalah yang tepat, membuat Ingrid pun memutuskan untuk bertemu dengan Adam di siang harinya, untuk bertanya mengenai Ningrum.
Satu hal lainnya yang menjadi pertanyaan dari Ingrid adalah perihal Erik, kenapa dia bisa merasakan apa yang Erik rasakan dan itu rasanya sangat-sangat nyata? Apa yang terjadi, dan kenapa dia pergi ke desa sepi itu hanya seorang diri saja? Apa yang di cari sebenarnya? Itu lah pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikiran Ingrid ketika mengingat mimpi buruk tersebut, namun merasa jika ia belum memiliki jawabannya ia memilih untuk mengabaikan mimpi itu terlebih dahulu.
…
Seperti yang sudah di niat kan oleh Ingrid, siang itu Ingrid dengan sengaja pergi ke kantor pusat Emergency call yang terletak tidak jauh dari perumahan tempat dirinya tinggal. Ingrid dengan tenang berjalan menuju resepsionis dan kemudian datang menghadapi lelaki penjaga resepsionis di sana.
“Ada yang bisa saya bantu?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh lelaki itu, membuat Ingrid kini tersenyum dan berkata,
“Bisa kah aku bertemu dengan Adam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat sang resepsionis pun mengangguk dan berucap,
“Mohon tunggu sebentar, saya akan panggilkan Adam! Silahkan duduk selagi menunggu!” ucap sang resepsionis kepada dirinya, yang membuat Ingrid pun menganggukkan kepala dan terduduk di sofa yang disediakan di aula kantor tersebut.
Ingrid terdiam menunggu kedatangan dari Adam, yang tidak berselang dari lima menit, Adam pun datang dan memanggil Ingrid yang tengah menunggu dirinya di aula itu.
“Ingrid?” sebuah panggilan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu pun, membuat Ingrid kini menoleh menatapnya dan kemudian berdiri dari duduknya. Ia menatap Adam dengan sangat serius, yang membuat Adam merasa jika ada sesuatu hal yang baru saja terjadi kepadanya.
…
To Be Continue.