Langkah kaki dari Ingrid kini mengikuti langkah kaki dari wanita cantik tersebut, ia menuntun Ingrid keluar dari ruang gelap hampa yang ditakuti olehnya beberapa waktu yang lalu. Ia menuntun jalan Ingrid ke sebuah desa yang amat sepi, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi bertanya-tanya, kenapa dirinya bisa berada di desa yang terlihat tak berpenghuni saat itu.
Wush!
“Huh!” dengan sigap Ingrid langsung menolehkan pandangannya ke arah samping ketika ia menyadari sesuatu melesat dengan begitu cepat di sampingnya. Pandangan Ingrid kini menoleh menatap ke arah belakang, dan mendapati seorang lelaki yang amat ia kenali kini berlari dengan sangat cepat seolah ia berlari dari sesuatu hal yang tidak di ketahui olehnya. Merasa penasaran, membuat Ingrid kini menoleh untuk bertanya ke arah wanita cantik yang beberapa saat lalu menuntunnya ke sana.
“A …
Ucapan Ingrid terhenti ketika dirinya tidak lagi menemukan wanita itu, yang pada akhirnya Ingrid pun berlari untuk menyusul laki-laki tersebut.
“...” langkah kaki Ingrid kini berlari dengan cepat untuk menyusul langkah kaki dari lelaki tersebut, yang ia yakini adalah kapten dari tim sang kekasih. Ya … Ingrid meyakini hal itu dan bahkan masih mengingatnya dengan jelas.
Lelaki itu bernama Erik, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi bertanya-tanya perihal apa yang ia lakukan di sana, dan kenapa wajahnya terlihat amat ketakutan saat ini.
Apa yang baru saja di lakukan olehnya?
Syut!!
“!!”
Tap .. tap …
Hal itu begitu saja terjadi, Ingrid yang kala itu berlari untuk mengejar Erik pun pada akhirnya menghentikan langkah kakinya setelah sesuatu hal yang sangat besar dan berbulu hitam melesat dengan cepat mendahului langkah kaki dari Ingrid pada saat itu, dan itu lah yang mengejutkan Ingrid saat ini.
“A … apa itu?” gumam Ingrid dengan bergetar, ia tidak bisa menebak hewan apa itu, karena pada kenyataannya ia mengetahui bahwa itu bukan lah hewan dan juga bukan seorang manusia.
“Hh … hh ….” napas Ingrid perlahan menjadi menderu-deru, ketika ia melihat makhluk itu berlari dan benar-benar mengejar Erik, hingga Ingrid menyadari jika Erik berlari dari makhluk tersebut. Namun, Ingrid masih belum mengetahui kenapa Erik bisa dikejar oleh makhluk menyeramkan itu di sana.
Malam itu, Ingrid sangat ingin mengetahuinya, namun ia terlalu takut untuk menyusul langkah kaki dari Erik, yang membuatnya kini hanya bisa mematung di tengah jalan itu, tanpa sedikit pun berkutik.
“A … apakah aku harus mengejarnya?” itu lah gumaman Ingrid dengan pelan, ia merasa ragu akan hal itu.
“Hahahaha!!!”
“Hehehehehe!!!”
“Hahahaha!!”
Tubuh Ingrid praktis membeku ketika mendengar suara tawa dari anak-anak yang ia yakini berasal dari arah belakang saat itu, suara tawa itu perlahan mendekat dan terus mendekat, yang tentunya membuat tubuh Ingrid praktis bergetar hebat, ia ketakutan mendengar suara tawa itu.
Syut!!
“Hah!” Ingrid terkesiap ketika anak-anak yang kala itu tertawa melalui dirinya begitu saja, mereka melesat dengan cepat, seolah mengejar Erik dan makhluk hitam besar di sana, namun yang lebih menakutkan pada saat itu, ketika Ingrid menyadari anak-anak tersebut tidak menapak di atas tanah melainkan melayang. Ya! Mereka benar-benar melayang secara misterius dan melesat dengan sangat cepat.
“Hhh ….hhh…” hal itu tentu saja menakuti Ingrid, yang kini merasa jika dirinya tidak bisa untuk menyusul Erik pada saat ini, karena ia juga ketakutan saat itu.
“T… tidak … aku tidak bisaa!” gumam Ingrid dengan pelan, namun sebuah bau yang begitu harum menusuk indra penciuman dari Ingrid, yang membuat dirinya yang tadi sempat memejamkan mata dan bergetar ketakutan, kini membuka kedua matanya dan mendapati sang wanita cantik itu kini berdiri tepat di sampingnya, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi bertanya-tanya ke mana dirinya selama itu?
“Ke … ke mana saja kau?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat wanita tersebut kini menoleh dengan perlahan ke arahnya dan kemudian berucap,
“Apakah kau ingin mengetahui hal itu, Ingrid?” Pertanyaan yang di lontarkan oleh wanita cantik tersebut, membuat Ingrid menelan salivanya dan menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan tersebut,
“T … tidak, ke .. kenapa kau membawaku ke sini, s … siapa dirimu?” tanya Ingrid mulai merasa penasaran dengan wanita cantik itu yang kini tersenyum menanggapinya dan kemudian berkata,
“Saya Ningrum … dan saya tidak membawamu kemari Ingrid … saya hanya memberikan jalan yang tepat agar setidaknya makhluk itu tidak membawamu ke keadaan di mana kau yang merasakan semuanya!” jelas Ningrum kepada Ingrid, yang tentu saja membuat Ingrid kini mengerutkan dahinya menanggapi hal itu,
“A… aku tidak mengerti maksudmu, Ningrum!” ucap Ingrid, dan membuat Ningrum menganggukkan kepala dan berkata,
“Kau memang tidak akan mengerti … dan saya akan membiarkan anda yang membandingkan hal yang seharusnya terjadi, agar kau mengerti!” ucap Ingrid kini mengulurkan tangannya ke arah Ingrid untuk kemudian menutup kedua mata Ingrid yang ada di sampingnya saat itu, yang seketika saja membuat Ingrid kini berada diantara ladang jagung kering yang tingginya melebihi dirinya dan bahkan nyaris dapat di katakan sebagai sebuah labirin pohon jagung yang besar, dan di sana ia merasakan jika dirinya sangat-sangat ketakutan saat ini.
Tubuhnya bergetar dengan hebat dan bahkan keringatnya mengalir dengan begitu deras.
“Hhh … hhh … hhh …”
Deruan napas itu begitu kencang hingga dirinya sendiri bisa mendengar dengan jelas deruan napas tersebut, pandangan Ingridn kini tertoleh ke kanan dan ke kiri untuk kemudian ia berushaa untuk bersembunyi di antara pepohonan jagung tersebut.
“Heu … heu …” sebuah isakan yang ia keluarkan saat itu, akhirnya mengejutkan Ingrid dan menyadari jika saat ini dirinya bukan lah Ingrid, melainkan kapten dari sang kekasih yang baru saja berlari, dan itu adalah Erik.
“!!” Ingrid tentu sangat terkejut menyadari hal itu, ia saat ini adalah Erik dan itu sangat-sangat tidak bisa ia percayai.
Apa yang telah terjadi? Dan bagaimana bisa ini terjadi?
Dua pertanyaan itu lah yang ada di dalam benak dari Ingrid, namun pada saat ini tubuhnya tidak bereaksi seolah dirinya kebingungan, melainkan dirinya saat ini sangat-sangat ketakutan.
“A … aku harus keluar dari sinih … hh …” gumam Erik yang kala itu di rasakan oleh Ingrid, dengan cepat dirinya kini mengeluarkan handphone miliknya, dan segera membuka layar kunci dari ponselnya tersebut, namun berkali-kali garis kode yang ia masukkan salah karena tangannya bergetar dengan hebat menandakan ia sangat-sangat ketakutan pada saat ini.
“Oh … came on .. p ..pleasehh!” gumam Ingrid lagi terdengar bergetar, dan pada akhirnya handphone itu pun terbuka, yang membuat dirinya langsung saja menghubungi seseorang yang terakhir kali ia hubungi malam itu, dan itu adalah Dr.Sebastian.
“Hh .. hhh … hhh …”
Tuuut … tuuut … tuuut…
Cklek!
“Ya, bagaimana Erik?” sebuah suara yang di dengar oleh Ingrid pada saat itu pun membuat drinya merasa sangat-sangat lega, yang tentu saja membuat dirinya merasa jika Erik pasti merasakan hal yang sama pada saat itu. Namun detik kemudian secara emosional, Ingrid mulai merasakan jika dirinya menangis.
“S … sebastianhh … h … help me … hk … pl.. please, help me….” ucapan itu lah yang terlontar dari mulut Ingrid saat ini, yang membuat dirinya sangat-sangat ketakutan, karena di saat yang bersamaan ia menangis seolah ia tahu jika sebentar lagi ia akan mati.
…
To Be Continue.