Sore itu, Ingrid tengah mengupas buah pear pemberian dari Rose, yang kemudian Tony pun datang dan tersenyum kepada dirinya. Pandangan Ingrid kini menoleh menatap ke arah Tony, yang kemudian ia menyodorkan buah pear tersebut kepada sang kekasih seraya bertanya,
“Apakah kau mau?” tanya Ingrid kepada Tony, yang dengan senang melahap buah tersebut dari tangan Ingrid.
“Eum … ini enak sekali!” ucap Tony kepada Ingrid yang membuat dirinya kini tersenyum menanggapi hal itu, Ingrid menganggukkan kepalanya dengan senang.
“Yeah … buah ini lezat!” ucap Ingrid dengan senang, dan membuat Tony pun berkata,
“Ah … hari ini aku mengundang teman-temanku ke mari, kita kan memiliki banyak sekali buah-buahan … jadi aku ingin membaginya kepada mereka, tidak masalah kan, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, terkesan seperti seorang suami yang meminta idzin kepada sang istri. Dan hal itu membuat Ingrid menganggukkan kepalanya seraya berucap,
“Astaga … tentu saja boleh, Tony!” ucap Ingrid dan hal itu membuat Tony merasa senang dan menganggukkan kepalanya karena hal itu.
“Kalau begitu, lebih baik kau bersiap Ingrid … aku rasa mereka sudah ada di perjalanan menuju ke mari!” ucap Tony, dan hal itu membuat Ingrid menganggukkan kepalanya dengan santai dan segera beranjak untuk berganti pakaian.
Baru saja Ingrid naik ke atas dan masuk ke dalam ruang baju miliknya, sebuah suara bel pun terdengar dan membuat Ingrid dapat menebak jika itu adalah teman-teman dari Tony.
“Uhm! Aku rasa mereka sudah datang!” gumam Ingrid kepada dirinya sendiri, dan hal itu membuat Ingrid segera mempercepat gerakannya untuk memakai baju yang setidaknya baik untuk di pandang oleh teman-teman dari Tony di sore hari itu. Dengan menggunakan dress berwarna biru muda yang terlihat tidak terlalu mencolok_ atau katakan saja biru yang kalem, dan juga beberapa motif bunga kecil indah berwarna putih yang menghiasi dress itu, menjadikan baju tersebut sangat indah untuk di gunakan oleh Ingrid di sore hari itu.
Pandangan Ingrid tertuju ke arah dirinya sendiri dan ia hanya terdiam di sana untuk waktu yang cukup lama, dan pada akhirnya setelah ia merasa jika baju itu pas untuknya di hari itu, membuat Ingrid pun kini tersenyum dengan senang dan berjalan menuruni anak tangga untuk bertemu dengan teman-teman atau rekan kerja dari Tony.
“Oh, Hello!” sebuah sapaan yang di lontarkan oleh Robert pada saat itu, membuat Ingrid tersenyum ke arahnya dan menganggukkan kepala seraya berucap,
“Oh, Hi!” balas Ingrid dan membuat mereka yang ada di sana pun secara serempak kini tertuju dan menatap ke arahnya.
“Oh! Ingrid, ini adalah teman-temanku … guys, ini kekasihku!” ucap Tony dan hal itu membuat mereka semua terenyum seraya berucap,
“Kami semua sudah mengetahui hal itu, Tony!” ucap Robert, dan hal itu membuat Tony tertawa mendengarnya. Diantara banyaknya teman-teman Tony, pandangan Ingrid saat ini tertuju ke arah seorang lelaki dewasa yang bertubuh tegap dengan usia berkisar 40 tahun yang kala itu sama sekali tidak tertawa seperti yang lainnya, melainkan menatap Ingrid dengan tatapan yang cukup menakutkan pada saat itu, yang tentu saja membuat Ingrid merasa terkejut ketika menyadarinya.
“Oh …, eum … Tony, bisakah kita berbicara saat ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat Tony menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Ingrid yang berjalan berbelok menuju ke arah dapur, dan meninggalkan mereka yang kembali asyik berbincang di sana.
“Ada apa, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony, membuat Ingrid menghembuskan napasnya dan kemudian berkata,
“Eum … s… siapa lelaki bertubuh tinggi yang mengenakan baju hitam di sana, Tony?? apakah dia juga temanmu?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat Tony mengerutkan dahinya dan kemudian menoleh singkat ke arah teman-temannya yang ada di ruang lainnya, untuk kemudian berucap,
“Ah! Erik?? dia adalah kapten tim kami, Ingrid … ada apa?” tanya Tony ketika mengetahui dan menyadari bahwa lelaki yang dipertanyakan oleh Ingrid adalah ketua darinya, mendengar jawaban itu membuat Ingrid menggelengkan kepalanya dan berucap,
“T … tidak, hanya saja aku merasa risih ketika dia menatapku seperti itu!” jelas Ingrid kepada Tony yang kini karenanya mengerutkan dahi dan kemudian bertanya,
“Seperti itu seperti apa??” tanya Tony, dan membuat Ingrid mengedikkan kedua bahunya, seolah dirinya enggan untuk membahas itu. Merasa bahwa hal itu tidak perlu di pikirkan oleh Ingrid, membuat Tony kini menepuk bahunya untuk kemudian berkata,
“Tidak apa … tak ada yang perlu kau khawatirkan Ingrid, dia adalah orang yang baik!” ucap Tony kepada Ingrid, yang karenanya membuat Ingrid kini menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan dari sang kekasih, dan pada akhirnya mereka pun kembali keluar dari dapur dan ikut berbincang dengan yang lainnya, dan bahkan Ingrid menyiapkan minuman untuk mereka semua di sana.
…
Waktu bergulir dengan sangat cepat, suasana yang semula ramai kini sudah sangat-sangat sepi. Dan bahkan kedua penghuni rumah di sana pun sudah terlelap dan masuk ke dalam mimpi masing-masing dari mereka. Namun, dari kedua raut yang di perlihatkan oleh kedua penghuni rumah pada saat itu, tergambar dengan jelas perbedaan mimpi yang tengah mereka alami.
Ingrid kala itu terlelap dengan keringat yang bercucuran, dan ia pun bahkan terlihat sangat tidak nyaman di dalam tidurnya. Bagaimana tidak? Saat ini Ingrid tengah melayang diantara kegelapan yang membelenggu dirinya, yang tentu saja membuat Ingrid merasa ketakutan sekaligus panik. Ia takut jika ia berhadapan dengan hal-hal yang tidak dirinya inginkan, yang membuatnya hanya bisa menangis di dalam mimpinya saat itu.
Sadar. Ya …Ingrid memang tersadar jika dirinya tengah bermimpi saat itu, dan bahkan ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa terbangun dari mimpinya tersebut meski pada kenyataannya ia tidak bisa melakukan hal itu.
“Hh … hhh … ayolah! Bangun!! ku mohon, bangun!” gumam Ingrid kepada dirinya sendiri, berusaha untuk bisa terbangun dari dalam mimpinya, Ingrid bahkan berkali-kali memukul tubuhnya agar terbangun namun usaha yang ia lakukan pada saat itu hanya sia-sia saja.
“Percuma kau melakukannya, kau tidak akan bisa terbangun dengan mudah … Ingrid!” sebuah suara yang terdengar oleh Ingrid pada saat itu pun akhirnya membuat Ingrid menghentikan aktivitasnya dalam memukul dirinya sendiri. Saat ini ia sibuk menolehkan pandangan ke kanan dan ke kiri hanya untuk menemukan siapa suara yang baru saja di dengar olehnya, suara seorang wanita yang terdengar amat berwibawa, namun hal itu juga membuat Ingrid merasakan takut secara bersamaan.
“S… siapa?!” tanya Ingrid berusaha untuk memberanikan dirinya, ia memutarkan pandangannya ke sekeliling yang kala itu sangat-sangat gelap.
Cklek!!
Sebuah suara pintu yang terbuka dari samping kanan di sana, membuat Ingrid secara spontan menoleh menatap ke arah kanan, di mana kini sebuah pintu terbuka dan menampilkan cahaya yang sangat terang di ujung sana, yang bahkan cahaya itu mampu menyinari meski dengan remang, ruang gelap yang di tempati oleh Ingrid pada saat itu.
Tidak hanya cahaya, namun pintu itu pun menghadirkan seorang wanita cantik dengan sebuah kain indah yang ia ikat di pinggangnya, yang bahkan membuat Ingrid kini bertanya-tanya siapa wanita cantik itu yang kini menatap Ingrid dengan sangat-sangat serius pada saat itu.
“Ikut lah … ada sesuatu yang harus kau ketahui, Ingrid!” ucap wanita itu kepada Ingrid, yang tentu saja membuat Ingrid mengikuti langkah kaki dari wanita itu meski di awal ia takut da ragu dengannya.
…
To Be Continue.