Tony terdiam setelah mendengar ucapan dari Adam mengenai mimpi buruknya, yang kala itu memimpikan kematian dari Tony. Napas Adam masih menderu-deru saat itu, diakembali berusaha untuk menguasai dirinya seraya berkata,
“Aku melihat kau tewas terkena ledakan, dan itu lah sebabnya aku mencampuri kehidupanmu untuk saat ini …aku tidak mengenal Ingrid, namun di dalam mimpiku aku mengenal namanya dan mengetahui jika ia adalah kekasihmu!” jelas Adam panjang lebar kepada Tony, agar setidaknya Tony percaya dan mengerti kenapa Adam mencampuri hidupnya saat ini.
“Aku hanya tidak ingin temanku mati dengan mengerikan … aku mengkhawatirkamu, Tony …” ucap Adam kini menghembuskan napasnya dengan pelan, berusaha untuk kembali tenang.
Pandangannya tetap menatap Tony, yang kini memejamkan matanya dna menghembuskan napasnya untuk kemudian meraih gelang yang tergeletak di atas meja itu, yang kemudian ia kenakan dengan terpaksa, seolah ia masih merasa kesal, namun tetap memepercayai semua ucapan dari Adam saat itu.
“Right … jika itu yang kau ucapkan, maka aku akan memakainya sekarang, Adam!” ucap Tony dengan pelan, dan hal itu membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi Tony.
“Lalu … apa yang akan kau lakukan?? sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Tony kepada Adam seraya kembali mengambil duduknya di sofa itu, yang kini membuat Adam pun mengikuti pergerakan Tony untuk terduduk di sofa tersebut.
Pandangan Adam kini tertuju kepada Ingrid, yang kemudian berucap,
“Aku juga ingin kau mendengarkannya, Ingrid!” ucap Adam, dan membuat Ingrid kini berjalan perlahan untuk kemudian duduk tepat di samping Tony. Dan saat itu, Adam pun mulai menceritakan tentang hal yang ia alami selama ini. Semenjak dirinya bermimpi mengenai Tony, hingga keanehan yang di perlihatkan oleh Erik kemarin malam. Dan cerita panjang tersebut, pada akhirnya membuat Tony mengerti dan mempercayai ucapan dari Adam saat itu.
“Apapun yang terjadi, jangan pernah kau dengarkan atau mengikuti ucapan Erik!” itu lah pesan yang di berikan oleh Adam kepada Tony, yang kini mengingat ucapan itu dengan sangat baik.
…
Setelah berbincang dengan Tony dan Ingrid, Adam pun segera pergi dari kediaman keduanya dan segera pergi menuju kota Roa, tempat di mana teman lamanya yaitu Sam Lucas yang merupakan sepupu dari Ajeng yang berkaitan dengan Sarah, serta Flora Pitterson yang merupakan Istri dari Sam Lucas yang juga pernah tinggal di Desa Fareham.
“Tak Ada waktu lagi, aku harus cepat-cepat menemui mereka!” itu lah yang di ucapkan oleh Adam seraya mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang.
Seperti yang sudah di perkirakan oleh Adam, pergi menuju kota Roa dan menghampiri kediaman dari Sam akan membutuhkan waktu sekitar sembilan jam, tidak seperti tahun lalu ketika ia menemui mereka pertama kalinya, Adam hanya butuh waktu dua jam saja untuk sampai, namun karena kabarnya keduanya pindah rumah, membuat Adam pun merasa cukup keculitan untuk berbagi kabar atau mengunjungi keduanya saat itu.
Hari itu, ia seharusnya pergi dari kota Bafehood jam enam, yang nantinya akan sampai di kediaman dari Sam pada pukul 3 sore, namun karena ia harus berdebat panjang dengan Tony, membuat waktunya pun terbuang hingga ia berangkat pukul 10 pagi dan membuat dirinya pun memperkirakan akan sampai di kediaman dari Sam pada pukul tujuh malam, yang tentu saja membuatnya merasa harus pergi secepat yang ia bisa.
Dan benar saja, Adam tiba tepat di sebuah rumah sederhana dengan tingkat dua serta halaman yang dipenuhi oleh bunga-bunga mawar yang cantik itu pada pukul setengah tujuh malam, dan Adam merasa sangat senang karena setidaknya dirinya lebih cepat tiga puluh menit dari perkiraan awalnya.
Adam menghentikan mesin mobil di sana, untuk kemudian segera keluar dari dalam mobilnya.
Dup!
Pip!
Baru saja Adam menutup dan mengunci pintu mobilnya, pandangannya pun kini tertoleh menatap ke arah seorang wanita dengan perawakan sangat lembut yang kini tersenyum ke arahnya, seperti tahun lalu. Adam yakin jika mereka akan tahu kedatangannya karena Ningrum.
“Bagaimana perjalananmu, Adam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh wanita itu, membuat Adam tersenyum dan berucap,
“Melelahkan, Flora!” jawab Adam, dan membuat Flora tersenyum dna berkata,
“Masuk lah Adam, kami sudah menunggumu!” ucap Flora mempersilahkan Adam untuk masuk, yang membuat Adam pun kini mengangguk untuk kemudian berjalan memasuki gerbang rumah yang hanya setinggi pinggang di sana, dan ia pun melewati banyak sekali bunga-bunga mawar nan indah yang terawat dengan begitu baik.
“Kau bahkan membawa seluruh tanaman dari rumahmu yang lalu, Flora!” ucap Adam dan membuat Flora terkekeh karenanya dan berucap,
“Yeah … aku mengambil semuanya dari sana!” ucap FLora yang kini membuka pintu rumahnya untuk kemudian mempersilahkan Adam untuk masuk terlebih dahulu, dan Adam pun mengikuti perintah dari Flora.
“Sam! Sam … lihat lah, orang yang kita tunggu sudah datang!” ucap Flora memanggil Sam, dan hal itu membuat Adma cukup terperanjat ketika Sam muncul secara tiba-tiba di ujung lorong itu dan tersenyum ke arah dirinya.
“Oh, Adam! Kenapa kau baru datang di saat ini huh?!” tanya Sam kepada Adam yang kini mengerutkan dahinya dan bertanya,
“Apakah aku datang di waktu yang tidak tepat?” tanya Adam, dan hal itu membuat keduanya tertawa, lalu Sam pun segera keluar dari lorong itu dengan membawa seorang bayi kecil yang sangat manis dan lucu, yang tentu saja membuat dirinya terkejut menyadari jika keduanya memiliki anak saat ini.
“Tidak … tidak … kau datang di waktu yang sangat tepat, karena kita akan makan malam!” ucap Sam, dan membuat Adma tersenyum menyadarinya,
“Kalian memiliki anak?! wahh … selamat!” ucap Adam, dan membuat FLora menganggukkan kepala seraya menunjuk ke arah meja makan dan berkata,
“Duduk lah … kita makan sebelum berbincang panjang!” ucap Flora, dan membuat Adam menganggukkan kepalanya untuk kemudian berbincang dengan Sam.
Mereka berbincang dengan sangat akrab, seolah Adam merupakan keluarga baru di keluarga kecil Sam, dan itu lah yang di rasakan oleh Sam pada saat ini, karena ia selalu merasa nyaman jika bersama dengan kedua orang tersebut, dan bahkan rasa nyaman itu melebihi rasa nyamannya jika tinggal dengan Roul atau Rose yang notabenenya adalah teman kerjanya yang selalu ia temui.
“Siapa nama anak kalian?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Adam , membuat Sam tersenyum dan berkata,
“Adam Samuel Pitterson!” ucap Sam kepada Adam yang kini terkejut mendengar hal itu,
“Really? Kalian menamainya nama yang sama denganku?” tanya Adam, dan membuat Flora yang kini meletakan ayam panggang di hadapan mereka pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab hal itu, dan tentu membuat Adma terkejut mendengarnya,
“Why?? kenapa kalian melakukan itu?” tanya Adam terkejut, dan membuat Sam kini berkata,
“Dua tahun yang lalu, Flora di nyatakan tidak memiliki keturunan, namun … tepat di hari kau mendatangi kami, malam harinya Flora merasa tidak enak badan dna membuat kami pergi ke rumah sakit … dan ternyata dia hamil!” jelas Sam kepada Adam yang kini menoleh menatap Flora tidak percaya, namun Flora tersenyum seraya mengangguk,
“Kau datang bersama dengan anak kami … jadi itu lah sebabnya kami sepakat untuk menamainya namamu, Adam!” jelas Flora lagi, dan hal itu membuat Adam merasa sangat tersentuh mendengarnya.
…
Malam itu, Adam tengah terduduk berhadapan dengan Flora dan juga Sam yang kini menatap dirinya dengan penuh rasa penasaran, yang kemudian membuat Sam pun kini berkata,
“Apa yang ingin kau tanyakan kepada kami?? karena semalam aku bertemu dengan Ningrum di dalam mimpiku dan dia mengatakan bahwa kau ingin meminta sebuah jawaban kepada kami!” jelas Sam kepada Adam, yang kini menghembuskan napasnya menanggapi hal itu dan kemudian menganggukkan kepalanya serta berkata,
“Aku bertemu dengan seseorang, dan ini berkaitan dengan desa Fareham serta Sarah, aku merasa jika ini berkaitan dengannya!” jelas Adam kepada Flora dan juga Sam, yang kemudian membuat Flora pun mengerutkan dahinya seraya berucap,
“Seperti apa, Adam?” tanya Flora, dan Adam pun menghembuskan napasnya untuk kemudian berucap,
“Satu bulan yang lalu aku memimpikan temanku tewas, namun sebelum itu aku berada di tengah hutan menyeramkan dan banyak sekali anak-anak yang tertawa dan mengejarku di sana, aku tidak tahu pasti … tapi itu sangat menyeramkan. Dan hari yang sama aku mengenal pacar dari temanku yang sebenarnya aku tidak pernah bertemu dengannya, dia … dia melihat tiga anak yang terjatuh dari lantai tiga belas apartemen seberangnya dan ternyata laporan itu palsu, lalu dia di masukkan ke rumah sakit jiwa yang ternyata …
Adam menceritakan semua kisah yang ia ketahui mengenai Ingrid, Tony dan bahkan perasaannya ketika ia memasuki apartemen milik Tony. Dan bahkan ketika dirinya melihat banyak sekali kabut hitam yang menyelubungi lorong apartemen tersebut.
“Ningrum memintamu untuk membuat temanmu itu pindah dari sana?” tanya Flora kepada Adam yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan tersebut.
“Aku tidak mengerti … banyak hal yang menjadi pertanyaanku saat ini, Flora!” jelas Adam terdengar sangat putus asa kepada Flora, yang kemudian membuat Flora pun tertegun mendengarnya. “Apa hubungannya desa itu dengan mereka semua?? bahkan aku tahu temanku itu adalah orang yang baik, kenapa aku harus melihatnya mati di dalam mimpiku?!” tanya Adam, dan kembali membuat Flora menganggukkan kepala,
“Ini terlalu rumit jika aku jelaskan, Adam … apakah kau mengetahui sejak kapan mereka mulai menghantui wanita itu?” tanya Flora, dan membuat Adam menggelengkan kepalanya,
“Kau harus bertanya kepadanya!” jelas Flora, dan hal itu membuat Adam mengerutkan dahinya, “Dari mimpinya yang kau jelaskan itu … aku merasa jika dia pernah datang ke desa itu dan membawa sesuatu hal yang harus segera ia selesaikan!” jelas Flora lagi kepada Adam, yang tentu saja membuat Adam kiini menahan napasnya ketika mendengar hal itu dan kemudian menjadi penasaran mengenai apa yang ia bawa hingga membuatnya dalam masalah besar seperti itu.
...
To Be Continue.