Argumen

1653 Kata
“Kau bercanda?! untuk apa kau mengambil cutimu? Kau akan pergi ke mana, Adam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Rouyl pada saat itu, membuat Adma yang tengah membuat sebuah surat cuti pun kini menghembuskan napasnya dan kemudian berucap, “Tidak akan lama Roul, aku hanya akan pergi selama dua hari, untuk mengunjungi teman lamaku!” ucap Adam kepada Roul yang kini mendenguskan napasnya dan kemudian menggelengkan kepala seraya berucap, “Teman lama?? teman yang mana?? bukankah kau sendiri yang mengatakan kepadaku jika kau tidak banyak teman??” tanya Roul, dan hal itu segera saja membuat Adam kini menoleh menatap dirinya dengan pandangan yang amat terganggu, seolah ia mengatakan jika ia memiliki banyak teman hanya saja tidak terlalu dekat, dan hal itu di ketahui oleh Roul yang kini berucap, “Ayo lah! Kau akan meninggalkan diriku di sini sendirian?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Roul pada saat itu, membuat Adam segera mengerutkan dahinya dan kemudian berucap, “ Tentu! Aku tidak perlu mengkhawatirkan dirimu!” ucap Adam kepada Roul yang kini berdecak kesal seraya menyalakan TV di sana, untuk kemudian menghembuskan napasnya dna berkata, “Kau tidak mau aku ikut kah??” tanya Roul, dan hal itu membuat Adam menghentikan kedua jemarinya dalam mengetik surat cutinya ketika mengetahui jika sebenarnya Roul bukan tidak ingin di tinggalkan sendirian, namun ia ingin Adam untuk mengajaknya saat itu. “No Roul … aku tidak bisa mengajakmu, ini adalah tugas yang berbahaya!” ucap Adam kepada Roul yang kini menghembuskan napasnya lagi dan kembali berucap, “Tugas?! kenapa kau selalu menjalankan tugas yang bahkan aku rasa tidak ada sangkutannya denganmu, Adam!” ucap Roul, namun dengan seketika Adam menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak Roul … tugas ini sangat bersangkut pautan dengan diriku! Jadi aku harus segera menyelesaikannya secepat yang aku bisa!” ucap Adam kepada Roul, yang kembali berkata, “Memangnya kenapa harus terburu-buru?? apakah ada sesuatu hal yang akan terjadi nantinya?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Roul pada saat itu pun, membuat Adam seketika tersadar jika hal itu mungkin saja akan terjadi, yang membuat Adam kini menganggukkan kepala seraya berkata, “Yeah … itu mungkin saja akan terjadi!” ucap Adam seraya kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menulis surat cuti. Sedangkan Roul kini hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali menatap layar TV yang kala itu menayangkan pemberitaan tentang debat pilpress. … Hari berganti dengan begitu cepat, Adam terbangun di saat mentari belum menampakkan sinarnya. Ia terbangun untuk kemudian segera bersiap-siap karena ia tidak ingin mengulur waktu lagi, dan terlebih setelah ia mendengar ucapan dari Roul, dirinya merasa jika ia harus segera menemui teman lamanya itu. Pandangan Adam kini menoleh menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul lima pagi, dan membuat dirinya kini segera masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya dan berganti baju. Ditemani oleh roti panggang dan segelas s**u segar, Adam menatap layar Tv yang menayangkan pemberitaan mengenai cuaca di hari itu, dan menyadari jika hari itu akan turun hujan, dan membuat Adam pun menghembuskan napasnya menanggapi hal itu. Cklek! ”Ughh!” sebuah leguhan yang terdengar, membuat Adam yang tengah menyantap roti panggangnya kala itu menoleh menatap Roul yang baru saja terbangun dari tidurnya, “Morning!” ucap Adam kembali menatap ke arah layar TV di sana, dan hal itu membuat Roul terkejut hingga ia menghentikan langkahnya untuk menatap ke arah Adam yang saat itu sudah sangat rapih. Di tolehkan pandangan Roul menuju ke arah jam dinding, yang kemudian membuat dahi Roul berkerut di sana seraya berkata, “Kau akan pergi sepagi ini, Adam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Roul, membuat Adam menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan tersebut dan kemudian berkata, “Yeah … aku akan pergi sekarang! Aku titip surat cutinya bersamamu ya, Roul!” ucap Adam kepada Roul yang kini menghembuskan napasnya untuk kemudian menganggukan kepala di sana seraya berkata, “Yeah … aku akan menyerahkannya! Jangan lupa bahwa oleh-oleh untukku bodoh!” ucap Roul yang kala itu membuka kulkas untuk melihat isi yang ada di dalam kulkas di pagi itu, dan membuat Adam yang kini beranjak dari sofa pun menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi untuk keluar dari apartemen miliknya dengan membawa satu buah tas serta sebuah kunci mobil. … Adam mengendarai mobil pergi dari Kota Bafehood menuju Kota Roa, dan perjalanan yang di tempuh adalah enam jam lamanya, namun Adam tidak keberatan akan hal itu dan tidak merasa lelah, karena ia tahu jika ia tidak boleh berleha-leha di saat itu, terutama di waktu cutinya. “Tidakkah seharusnya kau memberitahukan kepada Ingrid terlebih dahulu, jika kau akan pergi Adam?” sebuah pertanyaan yang seketika muncul begitu saja di dalam benak Adam pada saat itu pun membuat Adam seketika menginjak rem mobilnya yang membuat sebuah klakson dari mobil belakang terdengar, karena Adam menginjak rem itu secara tiba-tiba. “Hh … apakah sebaiknya aku mengabarinya terlebih dahulu?” gumam Adam, dan akhirnya Adam pun mengedikkan kepalanya dan kembali menjalankan mobilnya, namun saat itu ia memutarkan kemudinya menuju kediaman dari Tony dan juga Ingrid. … Pagi itu, tepat pukul tujuh. Tony baru saja terbangun dari tidurnya dan kini menoleh menatap ke arah Ingrid yang tertidur dengan sangat lelap di sana, yang membuatnya tersenyum ketika mendapati wajah cantik dari kekasih hatinya itu. Ting … tong … Sebuah suara bel yang kencang saat itu, seketika membangunkan Ingrid yang kini membuka matanya dengan perlahan, sedangkan Tony segera menoleh menatap ke arah luar kamarnya untuk kemudian sedikit menggerutu di sana, namun ia segera beranjak untuk membukakan pintu, “Siapa itu, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat tony dengan segera menoleh menyadari bahwa suara bel itu membangunkan Ingrid, “Ah? Aku tidak tahu … tapi aku akan membukakan pintunya, kau beristirahat lah lagi!” ucap Tony, namun Ingrid tersenyum dan malah terbangun dari atas kasur ketika sang kekasih sudah melenggang terlebih dahulu menuruni anak tangga dan membukakan pintu rumah itu. “Oh, Adam?? ada apa, masuk lah! Tidak biasanya kau datang sepagi ini!” ucapan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu pun terdengar oleh Ingrid, yang karenanya membuat Ingrid segera terbangkit dari duduknya untuk segera membereskan rambut berantakannya di sana dan segera turun ke bawah untuk bertemu dengan Adam, karena saat ini dirinya yakin jika Adam akan memberikan sebuah kabar mengenai Erik, atau setidaknya seperti itu. Karena Ingrid selalu mengingat jika Adam mengakatan bahwa ia akan mengabari setelah ia bertemu dengan Erik malam tadi. Tap … tap … tap … Pandangan Adam dan juga Tony yang kala itu tengah berbincang di sofa tamu ruang utama itu pun segera saja menoleh menatap Ingrid yang baru saja turun dari lantai dua rumahnya, dan membuat Adam menghembuskan napasnya setelah melihat Ingrid saat itu, dan hembusan napas dari Adam tentu saja terdengar oleh Tony, yang kini mengerutkan dahinya dan kemudian bertanya, “Sebenarnya ada apa Adam?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Adam dengan cepat menoleh menatapnya dan tersenyum seraya berucap, “Ah … ya, aku akan pergi ke luar kota selama dua hari ini!” ucap Adam kepada Tony, yang seketika saja membuat Tony mengerutkan dahinya kebingungan sedangkan Ingrid segera melirik Adam dengan sangat-sangat terkejut pada saat itu, “Apa yang terjadi?? kenapa kau harus pergi ke luar kota??” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu pun tentu saja membuat Tony merasa terkejut, karena melihat Ingrid terlihat sangat penasaran dengan Adam saat ini, yang membuatnya tidak bergeming dan terus memerhatikan keduanya dengan sekasama, “Ada hal aneh yang harus segera aku selesaikan … dan selama aku pergi, aku meminta kepadamu untuk setidaknya mengambil cuti, Tony!” ucap Adam kepada Tony, yang seketika saja mengerutkan dahinya terkejut mendengar hal itu, “Apa?? kenapa aku juga harus melakukannya?” tanya Tony, namun detik kemudian Adam terdiam dan menggelengkan kepala seraya berucap, “Tidak perlu … gunakan saja gelang ini! Setidaknya itu akan memastikanmu baik-baik saja!” jelas Adam kepada Tony, yang kembali membuatnya menghembuskan napasnya di sana dan kemudian berkata, “Aku tidak mengerti, Adam … sebenarnya apa yang terjadi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu membuat Adam menghembuskan napasnya lagi dan kemudian berucap, “Pakai saja, ini demi kekasihmu!” ucap Adam kepada Tony, yang seketika saja membuat Tony entah mengapa merasa marah kepada Adam yang baru saja berucap tadi, “Kenapa kau sangat peduli dengan kekasihku, huh?! apakah kau menyukainya dan tertarik kepadanya?!” sebuah ucapan yang di loontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Adam dan Ingrid seketika terhentak dan menatap raut Tony yang terlihat kesal di sana. “Apa yang kau katakan, Tony?? aku melakukan ini demimu juga!” ucap Adam berusaha untuk tetap tenang, karena mengetahui jika api tidak akan padam jika di sulut dengan api lainnya, “Buull Shiit! Katakan kalau kau mencintai Ingrid bukan? Kenapa kau bisa mengetahui Ingrid, sedangkan aku sama sekali tidak menceritakannya kepadamu?!” tanya Tony kepada Adam, yang kini menghembuskan napasnya lagi untuk kemudian berkata, “Kau salah paham, Tony … please tenangkan pikiranmu!” ucap Adam, namun Tony menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kau juga memberikan gelang ini kepada Ingrid bukan?? untuk apa itu semua huh?? kenapa kau menyuruhku untuk pindah dari apartemenku dan membeli rumah ini?? kenapa kau juga memerintahku untuk menanam bunga mawar sebanyak-banyaknya di pekarangan rumah? yang seharusnya aku lah yang menentukan bunga apa yang haru aku tanam!” ucap Tony dengan nada yang semakin naik dan naik lagi di hadapan Adam yang kini terlihat berusaha menahan amarahnya, “Katakan Adam!! kenapa kau mengatur hidupku dengan kekasihku saat ini?!!” bentak Tony lagi, dan itu membuat Adam sudah cukup muak, sehingga dirinya piun terbangkit dari duduknya untuk kemudian berucap, “Itu karena aku memimpikan kematianmu satu bulan yang lalu, Tony!!!” jawab Adam dengan bentakan yang cukup kencang, sehingga Ingrid dan bahkan Tony tertegun mendengar Adam berkata demikian. Deruan napas Adam kini menderu-deru tidak karuan, ia merasa marah dan khawatir terhadap temannya yang satu itu. …. To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN