Ingrid terdiam setelah sebelumnya ia berbincang bersama dengan Dokter Sebastian yang bertanya mengenai postur tubuh dari anak-anak yang ia lihat melompat siang itu.
“Ingrid!” sebuah panggilan yang di lontarkan oleh Tony sang kekasihnya pada saat itu, membuat Ingrid segera berdiri dan Tony segera memeluknya dengan erat seraya berucap,
“Kau akan baik-baik saja … Ok?” sebuah ucapan yang di lontarkan oleh Tony pada saat itu, membuat Ingrid mengerutkan dahinya menanggapi ucapan dari Tony pada saat itu, yang kemudian membuat Ingrid mengertukan dahinya tidka mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Tony saat itu.
“Ada apa Tony?? kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Ingrid kepada Tony, yang bersamaan dengan itu beberapa perawat datang dan memegangi kedua tangan Ingrid seraya berucap,
“Nona Ingrid mari ikut dengan kami!” ucap mereka, yang tentu saja membuat Ingrid kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh mereka, kenapa dirinya kini digiring menuju mobil ambulance, yang tentu saja membuat Ingrid kini menoleh menatap ke arah Tony sang kekasihnya dan kemudian bertanya,
“Tony?? untuk apa ini?” tanya Ingrid, yang kemudian membuat Tony segera menggelengkan kepala merasa bahwa perlakuan seperti itu tidak boleh di lakukan kepada kekasihnya, yang membuatnya kini berlari dan segera menyingkirkan lengan kedua perawat di sana seraya berucap,
“Jangan perlakukan dia seperti itu, dia tidak gila!” ucap Tony kepada kedua perawat itu, yang tentu saja membuat Ingrid yang mendengarnya kini terkejut karena melihat Tony terlihat khawatir kepada Ingrid saat ini.
“Tony! Apakah mereka akan membawaku ?!” tanya Ingrid yang membuat Tony pun mengangukkan kepalanya dan membuat Ingrid berucap,
“Kenapa?? apa salahku?” tanya Ingrid kepada Tony yang segera saja menggelengkan kepalanya dan berucap,
“No … no! Kamu tidak salah apapun Babe!” ucap Tony kepada Ingrid yang kemudian membuat Ingrid terlihat sedih saat ini.
“Dengar Ingrid! Mereka hanya membawamu untuk melakukan healing karena kau baru saja mengalami Shock! Percaya padaku, mereka tidak akan menyakitimu di sana!” ucap Tony kepada Ingrid, dirinya kini menggenggam lengan Ingrid dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya dan tidak ingin membuat Ingrid kecewa saat itu.
Merasa bahwa Tony tidak akan pernah membuat Ingrid kecewa dan sedih, membuat Ingrid pun percaya bahwa hal yang dikatakan Tony adalah benar, yang kini membuatnya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Tony saat ini.
“Yeah … aku tidak akan apa-apa Tony, Jaga dirimu selama aku di sana, okay?” ucap Ingrid, yang membuat Tony menganggukkan kepalanya dna berucap,
”Aku akan mendatangimu sesering mungkin!” ucap Tony, dan membuat Ingrid tersenyum dan menganggukkan kepalanya, yang pada akhirnya Ingrid pun berjalan bersama dengan kedua perawat di sana untuk kemudian masuk ke dalam ambulance dan di bawa ke rumah sakit jiwa bernama Serenity Angels.
Selama di perjalanan, Ingrid terdiam dan tidak berbicara sama sekali, ia terlihat kebingungan dan tidak mengerti kenapa dirinya di bawa oleh Ambulace ini, yang seharusnya Ambulance ini berisikan anak-anak tersebut, namun karena ia juga merasa ada hal yang aneh di sana, membuat dirinya tidak berucap apapun selain mengikuti saja mereka yang akan membawa Ingrid ke suatu tempat saat ini.
…
Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku baru menyadari satu hal. Mereka yang membawaku kemari sudah menganggapku gila! Dengan bukti bahwa aku di bawa ke sebuah ruangan yang hanya berisikan satu ranjang tidur dan satu buah jam dinding yang menempel di atas sana. Tanpa ada jendela yang memperlihatkan dunia luar saat itu. Yang kemudian membuatku bertanya di dalam hatiku, kenapa mereka menganggapku gila? Aku tidak gila … aku melihat apa yang aku lihat siang itu, dan aku melaporkan dengan penuh kesadaran diriku saat itu, namun sepertinya tidak ada yang melihatnya, yang pada akhirnya semua kesaksianku hanya membuatku masuk ke dalam sebuah ruang sempit ini. Hingga satu waktu, aku benar-benar tidak sadar dan tidak tahu apa saja yang aku lakukan di dalam ruangan itu, hingga pada akhirnya aku bertemu dengan seorang lelaki yang amat aku kenali suaranya saat itu. Adam, itu lah nama dari lelaki yang kini duduk tepat di hadapanku saat ini.
“Eum … Hai … Ini aku Ingrid, namaku Adam … kau mungkin kenal dengan suaraku saat ini, Kau yang menelepon panggilan Emergency beberapa hari yang lalu, dan aku lah yang menangani laporan yang kau berikan saat itu, apakah kau mengingatnya?” ucapan yang di lontarkan oleh lelaki yang ada di hadapanku saat itu, membuatku mengerutkan dahi mendengarnya, dan mengingat dengan jelas suara dari operator saat itu,
“Kau yang ada di Telepon saat itu kan?!” ucapku kepadanya yang kini menganggukkan kepalanya menanggapiku, aku merasa cukup penasaran dengan lelaki itu, namun detik kemudian aku menyadari bahwa mungkin saja dia kemari untuk menegurku karena memberikan sebuah kesaksian palsu kepadanya yang membuatku kini segera menundukkan kepala untuk kemudian berkata,
“Maafkan aku … aku Tidak bermaksud untuk memberikan kesaksian palsu kepadamu saat itu Adam! Tapi … aku benar-benar melihat anak-anak itu dengan jelas!” belaku kepadanya yang kini menatap diriku seolah ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Namun, nyatanya ia hanya diam saja, dan membuatku merasa sedih … sepertinya lelaki bernama Adam ini pun menganggapku gila,
“Aku tidak gila, tapi … tak ada satu orang pun yang mempercayaiku!” ucapku kepadanya, aku merasa sangat-sangat putus asa, hingga aku merasa bahwa Tony tidak akan pernah menjemput diriku lagi dari rumah sakit jiwa ini.
“Tidak … Ingrid, aku mempercayainya! Aku mempercayai semua yang kau katakan kepadaku saat itu!” sebuah ucapan yang aku dengar membuat diriku kini menoleh menatapnya yang baru saja berucap demikian, yang tentu saja membuatku merasa senang dan sekaligus tidak mempercayainya, hingga aku kembali bertanya kepada dirinya untuk memastikan itu semua. Aku menatap kedua matanya dengan lekat, berusaha untuk membaca semua kejujurannya, seraya bertanya,
“Sungguh?” tanyaku dan kemudian ketika ia menganggukkan kepalanya lagi, aku pun kini sadar bahwa lelaki itu sangat-sangat serius dan tidak membohongi diriku sama sekali. Ia mempercayai apa yang aku lihat siang itu.
“Tentu … aku mempercayaimu, maka dari itu … bisakkah kau juga mempercayaiku dan menceritakan semuanya kepadaku secara rinci lagi, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan olehnya kepadaku saat itu, membuatku terdiam dan merasa Bimbang, mengenai apakah aku harus mempercayai dirinya juga dan bercerita mengenai semuanya atau tidak? Yang membuatku kini terdiam di hadapannya yang menatapku dengan sangat lembut, seolah dia benar-benar ingin membantu permasalahan yang aku alami saat ini.
…
To Be Continue.