“Lakukan sekarang, Sebastian!” ucap Kapten Erik kepada sang paramedis yang kini menganggukkan kepalanya seraya memasukkan boneka itu ke dalam pelastik dan menyembunyikannya di dalam tas yang ia bawa pada saat itu. Langkah sebastian saat ini berjalan masuk ke dalam apartemen Treasure untuk kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat satu persatu wanita yang ada di sana, dan pada akhirnya pandangannya kini tertuju kearah seorang wanita yang rautnya lain dari pada yang lainnya. Karena pada saat itu, wanita yang kala itu tengah terduduk di sofa aula apartemen terlihat seperti seseorang yang baru saja mengalami shock, sedangkan wanita lain yang ada di sana terlihat kebingungan atas kedatangan para pemadam dan para medis pada saat itu.
‘Kurasa itu adalah orangnya!’ kata itu lah yang ada di dalam benaknya saat ini yang kemudian berjalan menghampirinya untuk kemudian berucap,
“Hey, apakah kau Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu pun membuat wanita tersebut kini menolehkan pandangannya ke arah sang paramedis untuk kemudian menganggukkan kepala mendengar pertanyaan itu.
“Ya, saya Ingrid!” ucap Ingrid menjawabnya dan kemudian membuat Sebastian pun kini mengangguk dan berjongkok di hadapannya seraya berucap,
“Saya Sebastian, bisakah saya bertanya mengenai apa yang anda lihat tadi?? seperti anak-anak itu menggunakan baju apa dan ciri-ciri dari mereka seperti apa? Bisakah anda membantuku?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian saat itu pun membuat Ingrid kini mengerutkan dahinya dan kemuidan berucap,
“kenapa?? apakah kalian tidak bisa mengenali mereka saat ini?!” tanya Ingrid kepada Sebastian yang kini membelalakan kedua matanya untuk kemudian mengedikan kepalanya seraya berucap,
“Eum … saya rasa anda tidak perlu mengetahui bagaimana keadaan di luar sana, saya hanya ingin mendengar ciri-cirinya dari anda, agar saya bisa memastikan sesuatu di sini, Nona Ingrid!” ucap Sebastian kepada Ingrid yang kemudian kini membuat Ingrid pun menghembuskan napasnya dan menganggukkan kepala seraya berucap,
”Yang pertama melompat adalah seorang anak perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahun, ia tidak gemuk namun pipinya chubby, mereka memanggilnya Luna! Eum, dia menggunakan mini dress sepanjang lutut dengan motif kotak-kotak coklat muda dan tua, ia juga dikucir dua disamping kanan dan kirinya, ia terlihat sangat cantik karena bola matanya berwarna biru terang!” ucap ingrid kepada Sebastian yang kemudian menghembuskan napasnya seraya mengangguk dan menuliskan semua kesaksian yang diberikan mengenai anak perempuan bernama Luna saat itu.
“Eum … bagaimana dengan ketiga anak yang lainnya? Apakah kau juga masih mengingat pakaian dan deksripsi dari tubuh mereka?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu pun membuat Ingrid kembali menganggukkan kepalanya seraya berucap,
“Yeah! Yang satu adalah kakaknya, sekitar berusia sembilan hingga sepuluh tahun, ia terlihat kurus namun memiliki warna rambut coklat sama seperti Luna, ia mengenakan kemeja putih dengan celana yang memiliki tali yang menyangkut di kedua bahu kanan dan kirinya, dan motifnya serupa dengan dress yang dikenakan oleh Luna saat itu! Untuk dua orang yang lainnya, salah satu bertubuh tambun dan memiliki rambut hitam ikal dengan baju biru muda serta celana hitam, dan ia mengenakan dasi kupu-kupu berwarna merah! Untuk anak yang lainnya dia terlihat berbeda karena memakai kacamata yang tebal, ia ia mengenakan kemeja putih serta rompi kotak-kotam berwarna merah dan hijau dan juga celana panjang hitam serta topi baret yang ia kenakan!” ucap Ingrid kembali mendeskripsikan kepada Sebastian yang kemudian berucap,
“Apakah topi baretnya memiliki motif yang sama dengan baju yang dikenakan olehnya, Ingrid?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian saat itu pun membuat Ingrid menganggukkan kepalanya dan membuat Sebastian mengangguk dan menghembuskan napasnya.
“Baiklah … terima kasih atas bantuan anda di sini, tunggu lah beberapa saat hingga para medis yang lain datang untuk mengecek keadaan anda!” ucap Sebastian kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, dan membuat Sebastian pun segera pergi dari tempat itu seraya melihat catatan yang dia dapatkan tadi.
Kepala Sebastian kini mengedik ketika dirinya kini mengeluarkan satu boneka yang mereka temui di sana, yang terlihat sangat persis dengan apa yang di deskripsikan oleh Ingrid saat itu, boneka anak lelaki yang terlihat berisi di sana dengan kemeja biru terang, memiliki rambut hitam ikal, celana hitam panjang, dan boneka itu pun mengenakan dasi kupu-kupu berwarna merah, itu persis seperti deskripsi Ingrid mengenai salah satunya.
“Sebastian!” sebuah panggilan dari tim paramedis saat itu, membuat dirinya menoleh dan mengedikkan kepalanya seolah bertanya apa yang membuat orang itu memanggilnya saat ini,
“Kami menemukan tiga yang lainnya!” ucap lelaki itu, yang kemudian membuat Sebastian kini mengerutkan dahinya dan berlari menuju tempat di mana mobil ambulance dan pemadam kebakaran berada saat itu.
“Apa yang kalian temukan?!” tanya Sebastian, dan kemudian langkah dari Sebastian seketika melambat dan terhenti ketika mendapati tiga boneka yang benar-benar sama dideskripsikan oleh Ingrid saat itu pada akhirnya ditemukan dengan noda darah yang juga berlumuran pada boneka-boneka itu.
“Masukkan ke dalam plastik yang berbeda dan masukkan ke dalam kotak!” ucap Sebastian seraya melempar salah satu boneka yang ia genggam kepada temannya yang ada di sana yang dengan sigap segera menangkapnya.
Pandangan Sebastian kini menoleh menatap beberapa pemadam kebakaran yang datang, yang kemudian membuatnya kini segera menghentikan langkah kaki salah satunya seraya berucap,
“Pinjamkan aku Walkie-talkie yang menghubungkan langsung kepada Erik!” ucap Sebastian kepada salah satu pemadam tersebut, yang kemudian dengan segera membuat lelaki itu kini melepaskan Walkie talkie miliknya dan memberikan alat penghubung itu kepada Sebastian.
“Thanks!” ucap Sebastian, yang saat itu pun segera menekan tombol di sana dna berucap,
Krrsskk!!
“Erik, Sebastian di sini! Kami sudah berhasil menemukan tiga boneka lainnya, dan kau harus mengetahui ini, wanita itu mendeskripsikan mereka dengan benar, apa yang sebenarnya terjadi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian saat itu, membuat dirinya pun segera dapat jawaban dari Erik.
Krrsssk!!
“Sebastian, aku pikir kau harus melihat hal ini dan menyimpulkan apa yang terjadi kepadanya!” ucap Erik, yang kemudian membuat Sebastian mengerutkan dahinya setelah mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Erik yang kemudian membuat Sebastian pun berucap,
“Aku harus ke atas sana?” tanya Sebastian,
“Tidak! Kami sedang menuju ke bawah, tunggu lah kami!” ucap Erik kepada Sebastian yang kemudian menganggukkan kepalanya seraya menghembuskan napasnya untuk menoleh ke arah sekitar sana.
…
Tidak lama dari dirinya mengabari Erik, beberapam tim pemadam pun datang bersama dengan Erik serta seornag anak remaja yang berjalan menghampirinya membawa sebuah laptop.
“Jadi … apa yang harus aku lihat?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pun membuat Erik kini menunjuk ke arah sang Remaja yang segera saja terduduk di sampingnya dna memberikan laptop miliknya untuk kemudian memperlihatkan sebuah Video CCTV siang itu.
Pandangan Sebastian kini dengan jelas menatap Ingrid yang berjalan untuk mendekati jendela seraya memeluk empat buah boneka yang berbeda, yang kemudian dirinya membuka kaca jendela itu, raut yang diperlihatkan oleh Ingrid saat itu terlihat panik dan khawatir, ia berkali-kali menggelengkan kepala dan berteriak di sana. Untuk kemudian melempar satu boneka anak perempuan ke arah kaca jendela apartemen seberang untuk kembali berteriak dengan histeris saat itu. Dan beberapa menit lagi ia melempar yang kedua dan kembali berteriak di sana. Dengan sangat jelas Sebastian bisa melihat tubuh dari Ingrid bergetar ketakutan dan meraih handphone miliknya dan terlihat ia menelepon seseorang saat itu.
“Apakah dia menelepon Emergency?” tanya Sebastian, yang kemudian membuat Erik kini menganggukkan kepalanya lagi, dan akhirnya Ingrid terlihat kembali melemparkan dua boneka lainnya seraya kembali berteriak dengan histeris saat itu, yang berakhir dengan pintu kaca yang kembali tertutup dengan sendirinya, yang tentu saja membuat Sebastian terkejut melihat hal itu dan menolehkan pandangannya ke arah Erik.
“Did you see that?!” tanya Sebastian, dan membuat Erik kini mengerutkan dahinya menanggapi pertanyaan dari sang paramedis,
“Apa yang aku lewatkan?” tanya Erik kepada sebastian yang kemudian berucap,
“Ada dua hal yang janggal saat ini, yang pertama adalah boneka mereka, dan yang kedua adalah jendelanya!” ucap Ssebastian kepada Erik yang kini mengedikkan kepalanya tidak mengerti.
“Bisakkah kita Zoom gambarnya dan lebih terfokus kepada bonekanya, nak?” tanya Sebastian kepada Billie yang kini mengangguk dan melakukan hal yang diinginkan oleh Sebastian di situ,
“Erik, lihatlah ini! Tak ada noda darah di boneka ini!” ucap Sebastian dan membuat Ingrid kini mengerutkan dahinya dan kemudian menganggukkan kepala nya menanggapi hal itu.
“Bagaimana bisa itu terjadi? Apakah dirinya memasang sebuah kantung darah?” tanya Erik kepada Sebastian yang kini menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu,
“Lalu yang kedua itu apa?” tanya Erik, dan membuat Sebastian kini menunjuk ke arah jendela yang tertutup dengan sendirinya.
“Jendela itu tertutup dengan sendirinya, tidakkah itu aneh?” tanya Sebastian kepada Erik yang kini menghembuskan napasnya dan kemudian berucap,
“Aku pikir itu karena angin, dan kita tidak perlu mengurusi noda darah itu saat ini sebastian, karena kita memang harus melihat apa yang terjadi secara keseluruhan … tapi untuk saat ini, aku membutuhkanmu untuk mendiagnosis Ingrid secara kedokteran, Sebastian! Apa yang harus dilakukan untuk menanganinya?” tanya Erik kepada Sebastian yang kemudian kini mengerutkan dahi dan menganggukkan kepala seraya berucap,
“Jika melihat dari gerak-geriknya, Ingrid mengalami depresi dan halusinasi … jadi untuk sementara waktu ini akan lebih baik jika kita membawanya untuk direhabilitas di Rumah sakit jiwa!” ucap Sebastian kepada Erik, yang kemudian menganggukkan kepalanya dan berucap,
“Kalau begitu, bawa lah dia ke sana… katakan kepada Tony apa yang tengah dialami oleh Ingrid saat ini!” ucap Erik, dan membuat Sebastian pun mengangguk menanggapi hal itu.
Sebastian baru saja hendak pergi dari hadapan Erik, namun dengan cepat Erik menghentikannya dan kemudian berucap,
“Setelah itu, aku ingin kau membantuku mengecek DNA dari noda darah yang ada di seluruh boneka yang kita temukan itu, Sebastian!” ucap Erik kepada Sebastian, yang kembali membuat Sebastian menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan Erik.
…
To Be Continue,