Malam itu, tepat hari di mana sebuah laporan palsu datang kepada Timnya dna juga Emergency Call, Erik selaku ketua dari tim pemadam kebakaran pun merasa tidak habis pikir dengan semua hal yang di lakukan oleh Ingrid, karena pasalnya ia adalah kekasih dari salah satu anak buahnya yang paling bisa ia andalkan.
“Sir! Kami semua sudah membersihkan truck dan mengecek semua peralatan yang kurang!” pandangan Erik saat ini menoleh menatap Robert yang baru saja melaporkan status mereka saat ini, yang tentu saja membuat Erik yang kala itu tengah berada di ruang atas pun menganggukkan kepalanya untuk kemudian berucap,
“Ya, kalian semua boleh pulang! Kita akan mengganti Shift dengan yang lainnya!” perintah Erik, yang tentu saja membuat Robert terlihat sangat senang untuk kemudian melaporkan perintah dari sang kapten kepada yang lainnya. Berbeda dengan anak buahnya, Tony adalah orang yang terlihat murung pada saat itu. Dan hal itu pun di sadari oleh Erik yang kemudian berjalan mendekati Tony untuk kemudian berucap,
“Tony!” panggil Erik kepada Tony, yang segera saja menolehkan pandangannya ke arah sang Kapten yang kemudian membuatnya tersenyum, namun Erik tahu jika Tony merasa sangat sedih saat ini, itu lah yang membuat Erik kini menepuk bahu Tony seraya berucap,
“Tenang lah … dia akan baik-baik saja di sana!” ucap Erik kepada Tony, yang kembali menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, dan kemudian membuat Tony pun berucap,
“Yeah … aku tahu, hanya saja … aku merasa kecewa padaku sendiri, karena aku tidak bisa membuatnya bahagia saat ini!” jelas Tony kepada Erik yang kemudian membuat Erik menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Tony pada saat itu,
“No, Kau sudah berusaha dengan keras, dan aku tahu dia pasti tahu akan hal ini!” jelas Erik kepada Tony, yang kemudiam membuat Tony pun menganggukkan kepalanya dan Erik menepuk bahunya sebanyak dua kali, sebelum akhirnya mereka pun berpisah di sana.
…
Erik saat itu tengah mengendarai Jeeo miliknya untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan istri dan anak-anaknya, namun ponselnya saat itu berdering, yang membuatnya kini menepi dan mengangkat sambungan tersebut.
“Halo?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik saat itu pun akhirnya dibalas oleh orang yang menghubunginya saat itu,
“Erik?! it is me, Sebastian!” ucap Sebastian yang tentu saja membuat dahi Erik berkerut saat ini, dan kemudian berucap,
“Ya, Sebastian, ada apa?” tanya Erik kepada Sebastian,
“Kau ingat kau memintaku untuk mengetes DNA dari darah yang ada pada boneka-boneka ini kan?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Sebastian pada saat itu, membuat Erik kini menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata,
“Yeah … ada apa?? apakah kau sudah mendapatkan hasilnya?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu pun segera diberi jawaban oleh Sebastian yang kini berucap,
“Ya! Aku mendapatkannya, tapi … darah dari keempat boneka ini berbeda dengan darah dari Ingrid, masing-masing darah juga tidak memiliki kecocokkan satu sama lain!” jelas Sebastian, yang tentu saja membuat Erik seketika mengertukan dahinya mendengar penjelasan dari Sebastian pada saat itu.
“W… what?? jadi maksudmu keempat darah itu dari orang yang berbeda?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pun membuat Sebastian kini berkata,
“Ya, Erik … darah mereka berasal dari orang-orang yang berbeda!” ucap Sebastian, dan membuat Erik kini menghembuskan napasnya dan kemudian berkata,
“Apakah ini akan menjadi sebuah kasus jika ternyata darah yang kita temukan adalah darah manusia?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu pun membuat Sebastian kini kembali berucap,
“Mereka memang darah manusia, Erik! Dan ya … ini akan menjadi sebuah kasus pembunuhan dan Ingrid pasti akan menjadi tersangkanya jika kita melaporkan ini kepada pihak yang berwajib!” jelas Sebastian kepada Erik, yang tentu saja membuat Erik kini merasa jika hal itu tidak boleh terjadi, mereka harus mengusut semuanya sebelum melapor kepada polisi, karena ia tidak mau melihat Tony, yang ia sudah anggap sebagai saudara dan anaknya itu merasa semakin sedih ketika mengetahui bahwa Ingrid dijadikan tersangka dari pembunuhan yang belum jelas siapa yang ia bunuh dan apa motifnya saat itu.
“Sebastian! Bisakkah kau menyimpan hal ini sebagai rahasia kita terlebih dahulu, sebelum melaporkannya kepada polisi?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu pun membuat Sebastian kini berucap,
“Kenapa?” tanya Sebastian,
“Aku akan mengecek apartemen dari Tony, dan aku ingin kita mengetahui atau setidaknya menemukan siapa pemilik darah dari orang-orang ini, karena bisa saja ternyata darah itu ia beli dirumah sakit dan digunakan untuk menakut-nakuti, bukan begitu?” tanya Erik kepada Sebastian, sebelum akhirnya membuat Sebastian pun berkata,
“Dia tidak melakukannya untuk menakut-nakuti orang lain, Erik … tidakkah kau lihat CCTVnya? Dia seperti sengaja melakukan itu untuk menakut-nakuti dirinya sendiri!” jelas Sebastian, dan membuat Erik menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya untuk kemudian berucap,
“Sebelum kita laporkan kepada pihak kepolisian, setidaknya kita dulu yang harus mengusut ini semua, Sebastian! Kita harus tahu motif dari Ingrid dan darah siapa itu!” ucap Erik lagi, yang kemudian membuat Sebastian pun setuju akan hal itu dan berucap,
“Baillah kalau begitu, aku akan mencocokkan DNA darah ini kepada semua masyarakat yang ada di kota ini, dan jika aku tidak menemukannya … kita laporkan ini kepada pihak yang berwajib! Dan selama aku mengurusi ini, aku ingin kau mencari jasad atau kesaksian yang lainnya dari tetangga-tetangga dan teman-teman wanita ini!” ucap Sebastian, dan membuat Erik pun menganggukkan kepalanya menanggapi rencana tersebut,
“Ya … aku akan pergi ke apartemen Tony sekarang!” jelas Erik kepada Sebastian, sebelum akhirnya sambungan itu pun dihentikan oleh keduanya saat itu.
“Hhh …” Erik menghembuskan napasnya dengan panjang, ketika ia memutuskan sambungan itu dengan Sebastian, dirinya kini tertegun beberapa saat memikirkan semua yang diucapkan oleh Sebastian pada saat itu, namun detik kemudian ia pun segera melaju kan mobil jeep miliknya menuju apartemen Treasure, tempat di mana Tony tinggal saat itu.
“Aku harus mengecek semuanya secara langsung!” itu lah yang di lontarkan oleh Erik dan membuatnya kini menganggukkan kepalanya sendiri.
…
Sedangkan di tempat yang berbeda, saat ini Sebastian tengah berdiri di depan meja laboratorium dirumah sakit tempat ia bekerja saat itu, dengan sebuah jas ketokteran, masker dan sarung tangan yang steril, ia menoleh menatap ke arah empat kaca yang berisikkan darah dari masing-masing boneka yang kini tergeletak di masing-masing nampan besi yang ia siapkan saat itu.
“...” Sebastian tertegun saat itu, ia tidak terdiam untuk melihat keempat kaca yang berisikan sampel darah tersebut, namun saat ini pikirannya tengah melayang dan kembali memutas rekaman CCTV yang ia lihat, ketika Ingrid melemparkan keempat boneka tersebut yang ia yakini seratus persen terlihat sangat bersih di sana, yang tentu saja menjadi sangat janggal ketika jendela apartemen di sana tertutup secara tiba-tiba.
“Hh … ada hal yang janggal yang aku rasakan dari Video itu!” gumam Sebastian seraya mengedikan kepalanya dan menggelengkan kepala untuk akhirnya berjalan menuju laptop miliknya, untuk melihat scan-an dari DNA yang tengah diproses pada saat itu.
…
Tony tengah menyetir dari kantor Emergency Call center menuju apartemennya saat itu, dan bersamaan dengan itu sebuah suara klakson dari mobil pun membuat Tony segera menolehkan pandangannya ke arah sebuah mobil Jeep yang sangat ia hafal yang tentu saja membuatnya bisa melihat jika itu adalah kapten dari timnya, yang membuat Tony kini mengerutkan dahinya menyadari hal itu.
…
“Tidak apa jika aku datang ke sini untuk menemanimu, Tony?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Erik pada saat itu, pun membuat Tony yang kini baru saja membukakan pintu apartemen darinya kini menganggukkan kepala untuk kemudian berucap,
“Sure! Aku sangat senang, karena kau mampir ke apartemenku untuk pertama kalinya, Kap!” ucap Tony kepada Erik yang kini tertawa mendengar hal itu, dan kemudian Tony pun mempersilakan Erik untuk masuk ke dalam apartemen itu.
Satu kata yang bisa digambarkan oleh Erik ketika menginjakkan kaki di dalam apartemen itu, adalah nyaman dan sangat bersih!
“Woah … bersih sekali apartemenmu, Tony!” puji Erik kepada Tony yang kini menganggukkan kepalanya untuk kemudian berucap,
“Yeah … aku rasa Ingrid membersihkan apartemen ini sebelumnya!” jelas Tony kepada Erik yang kini mengerutkan dahinya untuk kemudian segera tersenyum dan mengangguk, menyembunyikan rasa penasarannya saat itu.
“Kap … tak apa aku tinggal sendiri sebentar? Aku ingin mandi!” ucap Tony kepada Erik, yang dengan segera menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu, yang membuat Tony kini mengangguk dan kemudian berucap,
“Anggap saja rumah sendiri, minuman ada di dalam kulkas!” ucap Tony kepada Erik, yang kemudian membuat Erik menganggukkan kepalanya lagi, dan Tony pun berjalan menuju kamar mandi untuk mandi. Dan saat itu lah Erik segera bertindak mencari setidaknya sebuah barang bukti lainnya yang bisa ia temukan di sana, jika memang benar Ingrid melakukan sebuah kejahatan atau sebuah prank.
Dengan cepat Erik berjalan menuju kulkas untuk melihat isi dari dalam kulkas tersebut, dan segera berpindah mencari disemua laci lemari yang ada di dapur saat itu untuk kemudian berjalan dengan cepat mengecek kolong sofa dan meja, namun Erik sama sekati tidak menemukan kejanggalan di sana.
Pandangan Erik dengan cepat tertuju ke arah kamar dari Tony, yang membuatnya pun berbuat nekat untuk masuk dan mencari barang bukti itu. Namun seperti di awal, ia sama sekali tidak mendapatkan apapun saat itu.
Bruk!!
“!” Erik terkejut ketika mendengar sebuah benda yang jatuh dari luar kamar itu, yang membuatnya kini berjalan dengan perlahan menuju ruang tamu, dan kemudian dirinya kini mendapati sebuah buku yang terjatuh dari dalam tas wanita yang tersimpan di atas meja kecil saat itu, yang tentu saja membuat dahi Erik mengerutk ketika menjadari seharusnya tas itu tidak terjatuh, namun karena dirinya penasaran, Erik pun berjalan mendekati tas itu dan melihat banyak sekali barang-barang dari dalam tas itu yang berhamburan, yang diantaranya adalah peralatan make up, parfum, dan sebuah catatan kecil yang tentu saja membuat Erik kini tertarik dengan buku catatan itu. Yang pada akhirnya dengan cepat Erik pun meraih buku catatan itu untuk kemudian ia masukkan ke dalam saku celananya.
Cklek!
Dan di saat yang bersamaan pintu kamar mandi pun terbuka, yang membuat Erik dengan panik memasukkan semua barang-barang berupa make up dan parfum ke dalam tas yang ia yakini merupakan milik dari Ingrid.
“Oh!” ucap Tony ketika melihat Erik sibuk memasukkan barang-barang itu ke dalam tas tersebut, menyadari jika Tony mengetahuinya, membuat Erik pun berucap,
“Ah … Sorry, aku tidak sengaja menjatuhkannya!” ucap Erik kepada Tony yang kini tertawa dan kemudian berucap,
“Hahaha … tidak apa, biarkan saja Kap! Aku yang akan bereskan!” ucap Tony dengan santai, namun Erik kini terkekeh seraya berucap,
“Tidak apa, lagi pula ini harus segera dimasukkan … kekasihmu pasti akan marah jika tahu aku menjatuhkannya!” jelas Erik dan hal itu membuat Tony tertawa dan mengangguk, merasa bahwa Erik ada benarnya juga.
Malam itu, Erik berhasil mendapatkan sebuah buku catatan milik Ingrid, yang mungkin saja catatan tersebut adalah barang bukti yang kuat, yang selanjutnya membuat Erik memutuskan untuk bertemu dengan Sebastian di hari berikutnya.
…
To Be Continue.