12.30 malam
Tap … tap … tap …
Langkah kaki seorang lelaki dengan setelan seorang dokter di sana kini berjalan tengah menggenggam secangkir coffee hangat. Ia berjalan menuju sebuah ruangan yang bertuliskan Dr.Sebastian, yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan menyangka jika lelaki yang mengenakan pakaian dokter dan baru saja melangkah masuk ke dalam ruang Dr.Sebastian merupakan dokter Sebastian, dan itu adalah benar. Lelaki itu adalah dokter Sebastian.
Dengan segera ia meletakkan cangkir coffee itu di atas meja dan kembali terduduk di kursinya untuk kemudian kembali menatap ke arah layar komputer miliknya saat itu, melihat ribuan nama yang tersedia pada saat itu dan juga tulisan Not Match dengan warna merah yang tertera pada saat itu, yang tentu saja membuat Dokter Sebastian kini menghembuskan napasnya untuk terus menscroll tabel nama-nama tersebut.
“Tidak mungkin tidak ada … pasti ada seseorang yang cocok dengan sampel DNA ini!” gumam dokter Sebastian, dan membuat dirinya kembali menyeruput coffee yang sempat ia bawa saat itu.
Ia terus saja menscroll tabel tersebut, bahkan ia melakukan itu sekitar satu setengah jam, untuk pada akhirnya ia mendapatkan sebuah nama dan sebuah tulisan berwarna hijau yang kala itu bertuliskan Match! Atau cocok, yang tentu saja membuat Sebastian yang semua merasa kantuk dan malas, kini menjadi terkejut dan segar setelah menatap nama dari orang yang cocok dengan salah satu DNA yang ia dapatkan dari keempat boneka yang mereka temukan siang tadi, yang pada akhirnya membuat Dokter Sebastian pun segera menuliskan nama dari sang pemilik DNA itu, dan kemudian ia segera menggeserkan kursinya menuju laptop pribadi miliknya yang sengaja ia bawa, dan mulai mensearch pemilik nama tersebut, dan nama itu adalah Matt Edward Brown.
Dengan jemari yang lincahnya, Dokter Sebastian pun memasukkan nama tersebut dan ia mencari di google pemilik nama itu, yang pada akhirnya banyak artikel pun bermunculan, yang membuat Sebastian harus melihat satu-persatu nama yang benar diantara nama-nama yang dicari olehnya, yang pada akhirnya ia pun menemukan satu buah artikel yang cukup mengejutkannya pada saat itu.
Pemberitaan di mana seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang hilang ketika tengah berlibur di desa tempat kakeknya berada, dan anak itu bernama Matt Edward Brown. Keluarga yang cukup terpandang, dan hal yang cukup mengejutkan baginya saat itu adalah waktu di mana Matt menghilang.
Tahun yang tertera pada saat itu adalah satu sembilan delapan satu, yang tentu saja mengejutkan Dokter Sebastian karena pemberitaan hilang dari Matt Edward Brown adalah empat puluh tahun yang lalu, yang tentu saja semua hal itu sangat tidak masuk akal menurutnya. Darah yang terdapat di dalam boneka itu telihat sangat segar dan itu mustahil jika didapatkan dari seseornag yang menghilang empat puluh tahun yang lalu, dan diyakini sudah meninggal karena tidak memiliki jejaknya.
Seketika Dokter Sebastian menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan pada saat itu.
“Apa mungkin Wanita itu penculiknya? Tapi … bagaimana bisa?? atau kah wanita itu bertemu dengan Matt yang sudah tua dan kemudian membunuhnya? Itu tidak masuk di dalam akalku!” gumam Dokter Sebastian pada saat itu, yang kemudian membuat dirinya kini mendecih dan kembali menggeserkan tubuhnya untuk melihat layar komputer yang mempeluhatkan nama Matt di sana.
“Aku harus mencari data dari DNA yang lainnya, ini belum bisa aku tarik kesimpulannya!” gumam Dokter Sebastian, yang kemudian kini kembali menscroll tabel nama tersebut untuk mencari DNA lainnya yang setidaknya cocok dengan ketiga DNA yang ia temukan selain DNA milik Matt.
Srak … srakk … srakk …
Suara dari kursor yang ia putar ke bawah untuk membantu dirinya agar cepat mencari nama yang cocok saat itu, yang pada akhirnya setelah menscroll dua puluh menit lamanya, ia kembali menemukan sebuah nama yang dan keterangan dari DNA yang cocok dari darah yang ia temukan siang itu.
Jack Olsen, itu adalah nama dari pemilik DNA yang cocok dengan darah yang ditemukan oleh mereka di dalam boneka itu, yang segera saja membuat Dokter Sebastian kini kembali menghampiri laptop miliknya untuk kemudian menekan tab di sana, menambahkan tabel pencarian dna mulai mencari nama dari Jack Olsen dan kali ini ia beruntung karena ia menemukan kota tenmpat di mana DNA dari Jack Olesen di simpan dan itu adalah Kota Mako. Yang membuat Dokter Sebastian kini hanya perlu menyertakan nama Jack Olsen, serta tanda tambah dan menyertakan Kota Mako di sana, untuk akhirnya ia mendapatkan sebuah artikel lainnya, yang kembali mengejutkan Dokter Sebastian pagi buta itu.
Dokter Sebastian menggelengkan kepalanya setelah melihat artikel tersebut, yang ternyata artikel itu merupakan sebuah Scanning dari surat kabar lama yang cukup menggemparkan pada masanya. Artikel itu menyebutkan, sayembara besar-besaran dalam sejarah Negara ABM dalam pencarian putera wali kota Mako yang menghilang pada tahun 1941. yang tentu saja membuat hal itu semakin tidka masuk akal menurutnya.
“Apa ini?? kenapa DNA ini cocok dengan orang hilang??” gumam Dokter Sebastian kebingungan, dirinya kembali membaca artikel tersebut, karena merasa penasaran dengan pemberitaan tersebut, yang ternyata Jack Olsen menghilang ketika usianya genap menginjak sepuluh tahun, ia menghilang ketika Keluarga Olsen tengah berkunjung ke sebuah Desa yang ada di provinsi yang berbeda dari tempatnya menjabat, yang kemudian karenanya membuat sang Wali kota membuka sayembara dan menjanjikkan sejumlah uang yang tidak main-main harganya, yang tentu saja banyak sekali orang yang berusaha untuk mencari Jack kecil, namun sampai detik ini Jack Olsen tidak pernah ditemukan. Bahkan di dalam artikel tersebut, foto dari Jack Olsen tersemat, yang kemudian membuat Dokter sebastian kini mengingat bahwa ia pernah menanyakan perihal postur tubuh dari anak-anak yang disaksikan oleh Ingrid, yang pada akhirnya membuat dirinya pun segera beranjak dari Kursinya untuk kemudian pergi menuju ruang Data di mana ia sempat menyimpan Boneka dan juga kertas keterangan dari Ingrid ke dalam sebuah kotak kardus.
“Jika semua yang ia katakan adalah benar … aku benar-benar menanyakan dari mana dia bisa mengetahui dan mendapatkan darah mereka semua!” gumam Dokter Sebastian yang kini masuk ke dalam ruang data dengan tergesa-gesa untuk kemudian melewati beberapa rak yang cukup tinggi di sana, untuk akhirnya berhenti tepat di sebuah kotak dan tempat yang sangat ia hafal yang kemudian membuat Dokter Sebastian pun kini mengambil kotak tersebut untuk kembali ke dalam ruangannya.
Pandangannya kini menatap ke arah foto dari Jack Olsen, untuk kemudian dirinya kembali membaca data yang ia tulis siang tadi, dan benar saja, semua yang diucapkan oleh Ingrid adalah benar, ia benar-benar menggambarkan sosok Jack Olsen ketika terakhir kalinya Jack dinyatakan menghilang, ia tahu mulai dari pakaian serta dasi yang dikenakan oleh anak lelaki tambun itu. Yang membuat Dokter Sebastian kini menghembuskan napasnya seraya menggelengkan kepala dan berucap,
“Oh … My God!” ucapnya terdengar sangat-sangat terkejut, namun ia kembali tergesa untuk membuka artikel mengenai Matt Edward Brown untuk kembali mencocokkan dengan salah satu yang diucapkan oleh Ingrid, dan lagi itu benar. Anak lelaki bertubuh kecil dengan kacamata yang tebal yang dikenakan olehnya benar-benar digambarkan kembali oleh Ingrid pada saat itu.
“Tidak mungkin jika ini bukan sebuah prank bukan?? apa maskdu dari Ingrid melakukan hal ini?!” gumam Dokter Sebastian kepada dirinya sendiri, namun pandangan Dokter Sebastian kini menoleh menatap tanda kutip yang ada di dalam artikel dari Matt Edward Brown saat itu, yang kemudian membuat Dokter Sebastian pun membaca dengan seksama kutipan itu.
[Selama berada di rumah sang kakek, Matt selalu berucap ‘I will go and want to be a seven for the vassal, Mommy!’ yang tentu saja membuat sang ibu mengira jika dirinya ingin menjadi sang peternak dari tujuh sheep yang akan selalu mengikuti langkah kakinya, yang ia yakini jika tujuh sheeps itu merupakan lirik dari lagu Have you any sheep yang populer sejak tahun 1765. dan bahkan sang ibu selalu mendapati Matt berkata jika ada Luna sang gagak hitam dan Leo sang kucing hitam yang selalu mendatanginya dan mengajaknya untuk pergi. Yang kemudian memberikan sebuah kecurigaan jika Luna dan Leo yang ia maksud merupakan penculik yang berusaha menggoda Matt untuk ikut dengan mereka, namun selama pencarian berlangsung mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk lainnya selain kesaksian dari sang Ibu, yang pada akhirnya kasus ini pun di tutup setelah pasangan dari keluarga Brown meninggal karena usia. Namun semasa hidup keduanya, mereka tidak pernah berhenti berharap dan meyakini jika Matt Edward Brown masih hidup. ]
Dahi Dokter Sebastian kini mengerut ketika ia membaca sebuah nama yang tidak asing baginya saat itu, yang kemudian dirinya pun tertuju pada nama Luna, yang membuat Dokter Sebastian pun kembali menolehkan pandangannya terhadap catatan yang ia buat, di mana nama dari Luna tercantum di sana, dan sesuai yang diucapkan oleh Ingrid saat itu, Luna merupakan anak perempuan yang mengajak mereka untuk melompat bersama-sama dengan kedok bermain Black Crow.
“Black Crow??” gumam Dokter Sebastian, merasa banyak sekali kecocokan dan hal janggal yang ia temukan pada saat itu, yang membuat Dokter Sebastian pun kembali menuliskan kasus ini di sebuah catatan yang sengaja ia sediakan khusus untuk kasus tersebut, karena ia merasa jika ini merupakan kasus yang baru yang akan menjadi sebuah kenangan yang hebat jika memang Ingrid lah yang merupakan seorang tersangka nya atau setidaknya akan menjadi memori yang luar biasa ketika mengetahui jika Ingrid melakukan sebuah prank yang menurutnya sama sekali tidak lucu.
Dengan telaten, Dokter Sebastian mencatat semua yang ia ketahui di dalam buku kasus tersebut, yang kemudian dirinya kini menghembuskan napasnya untuk kemudian bergumam,
“Hh … aku rasa Erik harus mengetahui hal ini, agar setidaknya ia juga sama terkejutnya dengan diriku saat ini!” itu lah yang di gumamkan oleh Dokter Sebastian ketika dirinya menutup catatan yang sudah berhasil ia tuliskan semua yang ia alami pada saat itu.
…
To Be Continue.