Sesuai dengan apa yang diekspetasikan oleh Tony, tiga hari setelah mereka ke psikologi Ingrid tidak lagi mengalami mimpi buruk dan juga suara-suara yang aneh, Ingrid menjadi lebih tenang dari yang biasanya, yang membuat Tony berpikir jika obat yang diberikan oleh sang dokter benar-benar manjut kepada Ingrid.
“Good Morning babe!” ucap Ingrid menyapa Tony yang baru saja keluar dari kamar tidurnya, dan kemudian dirinya tersenyum ketika mendapati Ingrid lah yang memasak sarapan untuk mereka kali ini.
“Hi … bagaimana dengan tidur mu tadi malam?” itu lah yang di tanyakan oleh Tony kepada Ingrid yang kini meletakkan segelas jus dan satu potong roti bakar di hadapan Tony, seraya tersenyum dan kemudian berucap,
“Good! Aku tidur nyenyak sekali malam tadi!” ucap Ingrid kepada Tony yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu dan segera meraih roti panggang itu untuk kemudian menyantapnya.
“Hari ini aku akan bertugas, kau tidak masalah berada di sini?” pertanyaan Tony pada saat itu, membuat Ingrid menoleh dan menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu,
“Yeah, aku akan baik-baik saja di sini!” ucap Ingrid kepada Tony, yang kemudian membuat Tony pun semakin senang mendengarnya, dan akhirnya ia pun segera bersiap untuk berangkat bekerja pagi itu.
…
“Aku pergi okay? Ah … tolong kau dekorasi rumah ini, pindahkan beberapa barang agar setidaknya kau tidak bosan dengan suasana dari apartemen ini!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan sang kekasih, yang kini membuat Tony semakin tersenyum dengan senang, untuk akhirnya mengecup pipi Ingrid dan pergi meninggalkan apartemen pagi itu.
…
“Hhh …” Ingrid hanya bisa tersenyum ketika Tony pergi meninggalkannya, dan detik kemudian pandangannya kini teralihkan menatap ke seluruh penjuru apartemen mereka untuk kemudian sepakat dengan Tony, jika apartemen mereka saat itu harus di robak, agar setidaknya menghasilkan suasana yang baru. Karena bertepatan haru itu merupakan hari libur dari Ingrid, dirinya pun bersiap dan memulai melakukan bersih-bersih dan geser-geser barang-barang dan perabotan di sana.
Ingrid dengan telaten membersihkan bantalan sofa yang ada di sana, ia sengaja melepas sprainya untuk mengganti dengan sarung yang baru, namun pandangannya kini teralihkan ketika ia mendengar sebuah benda kecil jatuh dari atas sofa itu, dan membuat Ingrid kini menoleh ke arah bawah dan mendapati jika Card milik sang kekasih tertinggal di sana. Dan tentu saja membuat Ingrid mendecih dan menggelengkan kepala ketika mengetahui bahwa Tony merupakan anak yang ceroboh.
Dengan langkah cepatnya, Ingrid berjalan menuju handphone nya yang ia letakkan di atas meja dapur, yang kemudian dengan segera ia menghubungi kekasihnya itu.
Tuuut …. tuuutt…
Cklek
“Anthony!” panggil Ingrid dengan sangat tegas, yang kemudian mendapat balasan yang sangat canggung di sana.
“Oh … Hi! Honey … ada apa?” itu lah pertanyaan yang di dengar oleh Ingrid, dan membuat Ingrid kini berucap,
“Kau lupa membawa Card mu!” ucap Ingrid kepada Tony yang segera berucap,
“Ah … Yeah … aku lupa membawanya!” jelas Tony, yang kemudian membuat Ingrid tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan tersebut,
“Kau ini … kenapa kau selalu menjadi anak yang ceroboh di depanku, hmm??” ucap Ingrid kepada Tony yang terdengar tawanya di sana, dan pada akhirnya membuat Ingrid pun kembali berucap,
“Yasudah kalau begitu, aku simpan ini di nakas meja!” ucap Ingrid dan membuat Tony kembali berkata,
“Thank you … Aku akan secepatnya pulang!” ucap Tony, dan membuat Ingrid menganggukkan kepalanya seraya berjalan menuju kamar,
“Ok, I Will waiting You for dinner!” ucap Ingrid lagi kepada Tony, sebelum akhirnya ia pun menutup sambungan mereka, dan membuat Ingrid kini meletakkan card tersebut di atas nakas mejanya. Ingrid tersenyum dan menggelengkan kepala mengingat kecerobohan Tony, dan pada akhirnya Ingrid pun kembali melakukan aktivitasnya untuk merobak apartemen milik mereka di sana.
Dengan penuh rasa senang dna semangat, Ingrid mulai menggeres-geres, memindahkan satu persatu dan juga membersikah semuanya dengan sangat-sangat telaten, karena kebetulan juga Ingrid adalah wanita yang sangat menyukai kebersihan.
Membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam baginya untuk mendekorasi ulang semua sudut apartemen di sana dan membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membersihkan ruang utama, yang tentu saja membuat Ingrid merasa sangat-sangat lelah, namun menyenangkan.
“Hmmm??” pandangan Ingrid kini tertoleh menatap ke arah Ankh, sebuah benda katanya merupakan bonus oleh-oleh dari mesir yang kini tergeletak di rak kaca tempat di mana Tony menyimpan semua koleksi guci dan pernak-pernih lainnya. Namun, Ingrid merasa bahwa Ankh itu tidak cocok jika di simpan di kotak kaca tersebut, yang membuat Ingrid pun akhirnya berpikir,
Dimana aku harus menyimpan itu?
Itu lah pertanyaan yang dia gumamkan, namun seketika kedua matanya menoleh menatap sebuah paku yang kala itu berada tepat di samping pintu keluar apartemen mereka, yang kemudian membuat Ingrid pun merasa jika Ankh akan menjadi cocok untuk di simpan di sana.
Tanpa ragu, ia pun meraih Ankh tersebut untuk kemudian menggantungkannya di tempat itu. Melihat jika itu merupakan sentuhan yang bagus, membuat Ingrid pun tersebut dengan puas.
Prok … prok!!
“Yah! Akhirnya selesai juga mendekorasinya!” ucap Ingrid seraya menepuk tangannya sebanyak dua kali, ketika ia merasa senang karena ia telah berhasil mendekorasi ulang apartemen miliknya dan juga milik sang kekasih. Pandangan Ingrid kini menoleh menatap ke arah jam dinding yang kala itu menunjukkan pukul setengah sebelas pagi, yang tentu saja membuat Ingrid menghembuskan napasnya ketika menyadari jika waktu bergulir dengan sangat lamban di hari itu.
“Wah … masih banyak waktu yang tersisa! Ck! Baiklah … aku akan menyikat kamar mandi kalau begitu!” itu merupakan sebuah semangat yang sangat-sangat besar. Ingrid dengan penuh bara pun tidak ada habisnya dan kembali memulai untuk membersihkan kamar mandi mereka.
Srak … Srak …. Srak ….
Dengan penuh keuletan, Ingrid menyikat setiap sudut kamar mandi yang beralaskan batuan marmer yang indah saat itu. Ia memastikan bahwa tidak ada sedikitpun lantai atau sisi yang terlewat di sana.
Srak … Srak … Srak …
“Hihihihi!”
Srak!
Pergerakan Ingrid seketika terhenti ketika ia mendengar suara tawa anak kecil yang sangat-sangat samar di telinganya pada saat itu, yang tentu saja membuat Ingrid kini mengerutkan dahinya lagi untuk kembali mendengarkan apa yang baru saja ia dengar beberapa saat yang lalu.
Kring …
Din…
Brum …
Tidak ada suara yang lain di sana selain suara lonceng sepeda, klakson mobil dan suara knalpot dari motor, namun detik kemudian ia kembali dengan samar mendengar suara tawa anak kecil.
“Hihihi!”
“Hehehe!”
Tidak, bukan anak kecil, namun beberapa anak kecil, yang tentu saja membuat Ingrid kini penasaran dan memutuskan untuk melihat tetangga sebelah, karena ia yakin suara tawa itu berasal dari mereka saat ini. Anak-anak kecil yang ia lihat beberapa waktu yang lalu.
“Apa yang mereka lakukan sekarang?!” itu lah yang digumamkan oleh Ingrid seraya berjalan menuju dapat untuk melihat apa yang dilakukan kedua anak itu.
“!!” Seketika Ingrid terkejut kala ia melihat hal yang di lakukan oleh kedua anak kecil tersebut, dan dua anak kecil lainnya yang berasal dari samping apartemen itu.
….
To Be Continue.