Black Crow Play

1138 Kata
Brught!! Aktivitas Ingrid yang pada saat itu tengah menyikat dinding kamar mandi pun berhenti seketika setelah ia mendengar dengan jelas suara dentuman yang membuatnya sempat terkejut kala itu. “...” Ingrid terdiam dan mencoba untuk mendengarkan lebih jelas lagi, dan ketika ia mendengar suara dentuman seperti sesuatu hal seperti bantal atau semacamnya yang bertubrukan dengan jendela di sana, yang kemudian disertai suara tawa dari anak-anaak kecil kala itu, membuat Ingrid menghembuskan napasnya dan memejamkan kedua mata merasa jika pasti anak-anak yang ia lihat beberapa waktu yang lalu melemparkan sesuatu ke jendela apartemennya, yang tentu saja membuat dirinya tidak bisa membiarkan itu, dan membuatnya bergegas untuk pergi menemui mereka berdua. “Apa yang mereka lakukan sekarang?!” itu lah ucapan yang di lontarkan oleh Ingrid ketika ia berjalan dengan tergesa menuju jendela yang letaknya berada tepat di samping dapurnya. Namun, langkah kaki Ingrid seketika berhenti, dan tidak hanya itu dirinya kini terkejut tatkala melihat empat orang anak yang tengah tertawa bersama di balkon jendela mereka yang kala itu memang tidak memiliki pagar pembatasnya, karena jendela itu memang tidak diperuntukkan untuk menjadi balkon, melainkan hanya sebuah tembok yang sengaja dibuat sedikit kelebihan untuk para penghuninya menanam tanaman hias agar mempercantiknya, yang tentu saja akan sangat berbahaya jika anak-anak seperti mereka yang bermain dan duduk-duduk dengan santainya di sana seraya menatap ke arah Ingrid dengan tawa mereka yang bahagia. Keempat anak itu memang tidak duduk di satu jendela yang sama, melainkan mereka memiliki jendela yang bersebelahan dan dua anak lainnya yang sebelumnya tidak pernah Ingrid lihat sebelumnhya pun membuat Ingrid yakin jika keduanya merupakan tetangga sebelah dari anak wanita dan anak lelaki yang pernah ia temui sebelumnya. “Hei!! Don’t play in there, Get into your Room!!” ucap Ingrid kepada keempatnya, yang kemudian membuat anak wanita yang berusa tujuh tahun di sana tertawa, dan membuat ketiga anak lelaki lainnya pun ikut menertawakan Ingrid yang kini mulai menjadi khawatir ketika melihat mereka tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ingrid saat ini. “Eish! Itu sangat berbahaya!” ucap Ingrid, dan dengan tergesa dirinya berusaha untuk membuka jendela apartemen miliknya, agar setidaknya ia bisa memerintahkan mereka secara langsung, dan mereka dapat mendengar perintah itu. Namun, Ingrid terkejut ketika ia sama sekali tidak bisa membuka jendela pintu itu, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi lebih berusaha lagi untuk membukanya, dan anak-anak itu yang melihatnya hanya tertawa melihat Ingrid yang kesusahan di sana, seolah Ingrid baru saja melakukan sebuah lelucon yang lucu menurut mereka saat itu. “Did you want to play, guys?!” sebuah suara yang dilontarkan oleh anaak kecil itu, membuat Ingrid kini menoleh menatapnya dengan penuh rasa penasaran, karena dirinya takut jika mereka akan melakukan sesuatu hal yang membahayakan di sana. “Yes! Let’s play, Luna!” ucap sang kakak kepada adiknya yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk kemudian menoleh menatap ke arah kedua teman baru mereka yang berada di samping apartemen. “Apakah kalian juga ikut?” tanya anak perempuan yang baru saja di panggil Luna oleh sang kakak, yang kemudian membuat keduanya menganggukkan kepala dan kemudian salah satu dari kedua anak lelaki tersebut pun bertanya, “But, What game are we going to play, Luna?!” itu lah pertanyaan yang di lontarkan oleh anak lelaki yang sedikit gembul dari anak lelaki yang lainnya, yang tentu saja membuat Luna terlihat berpikir pada saat itu, sedangkan Ingrid kini menghembuskan napasnya dan menggelengkan kepala, masih berusaha untuk membuka jendela di sana, seraya mengawasi keempat anak tersebut. “Let’s play black crow! Kita harus meloompat dan terbang untuk mencari bangkai yang mati!” ucap Luna, yang seketika saja membuat Ingrid kini membelalakan kedua matanya dan segera membentak mereka se-kencang yang ia bisa, karena ia tahu bahwa yang mereka mainkan akan membahayakan diri mereka sendiri. “HEI!!” panggil Ingrid dengan kencang, yang akhirnya membuat keempat orang yang ada di sana pun menoleh menatap Ingrid dengan terkejut, yang kemudian membuat Ingrid segera berucap, “No!! Don’t you dare to play that!” ucap Ingrid kepada mereka berempat, yang kemudian karena larangan itu lah yang membuat Luna kini tersenyum dan tertawa geli melihatnya, dan itu diikuti oleh ketiga anak lelaki di sana. “Hihihi!” “Hehehe!” “Hahahaha!” Tawa mereka terdengar di telinga Ingrid, yang tentu saja membuat Ingrid merasa aneh dan harus segera menghentikan mereka saat ini. Dengan cepat ia menoleh ke arah sekitar untuk akhirnya mendapati sebuah pisau dapur, yang membuatnya kini segera meraih pisau itu dan kembali berusaha untuk mencongkel jendela apartemen miliknya, agar setidaknya bisa benar-benar menghentikan keempatnya di sana. “Bagaimana? Apakah kita akan bermain??” tanya Luna, yang kemudian membuat ketiganya kini menganggukkan kepala menanggapi hal itu, “Let’s play!” ucap anak lelaki yang kala itu adalah anak yang satu-satunya mengenakan kacamata yang tebal dibandingkan mereka yang tidak memakainnya. Ingrid menatap keempatnya dengan sangat-sangat serius, pandangannya kini bahkan menatap Luna, anak berusia sekitar enam sampai tujuh tahun yang kini tersenyum menatap dirinya, untuk kemudian berdiri dari duduknya di balkon tanpa pagar itu. Ketiga anak yang lain pun kini hanya terduduk untuk menatap anak perempuan itu, yang kini merentangkan kedua tangannya, seolah menggambarkan bahwa ia merupakan seekor burung atau sebuah pesawat di sana, namun hal itu sama sekali sangat membahayakan, dan Ingrid tahu akan hal itu. “No, don’t you dare to doing that … Luna!” ucap Ingrid bergumam, napas Ingrid kini memburu, degup jantungnya pun berdetak dengan cepat karena ia menatap tepat di kedua mata anak tersebut yang masih mengembangkan senyumannya ke arah Ingrid. Untuk detik kemudian, anak itu pun benar-benar meloompat dari balkon lantai dua belas B, atau lebih tepatnya lantai tiga belas yang tentu saja membuat Ingrid terkejut bukan main hingga ia berteriak dengan histeris. “KYAAAA!!!” ia berteriak begitu kencang, dan merasa shock. Namun, berbeda dengan Ingrid ketiga anak lelaki yang menyaksikan Luna meloompat kini tertawa serempak, seolah mereka melihat Luna benar-benar melakukan permainan itu, yang kemudian hal itu pun membuat sang kakak yang berusia sekitar sepuluh tahun di sana kini berdiri dari duduknya untuk melakukan hal yang sama, yang tentu saja membuat Ingrid berusaha untuk menghentikannya. Brak!! “NOO!!!” teriak Ingrid dengan kencang, setelah sebelumnya ia memukul kaca jendela apartemen miliknya dengan benar-benar kuat. Kedua tangan Ingrid bergetar dengan hebat dan bahkan ketika anak tersebut memeragakan hal yang sama dan meloompat, Ingrid kembali berteriak karena ia adalah saksi mata dan ia juga tidak bisa menghentikan anak-anak tersebut. “No … No!!!! Help!!” ucap Ingrid, untuk detik kemudian ia pun menyadari bahwa ia harus segera menelpon pihak yang berwenang dan mengatakan semua yang ia lihat saat ini, sebelum kedua anak lainnya meloompat saat itu. Dengan sekuat tenaga ia berdiri dari tempatnya, setelah ia terjatuh karena merasa lemas di kedua kakinya. Ingrid melangkah dengan susah payah untuk kemudian meraih handphone miliknya yang tidak jauh dari tempatnya saat ini untuk kemudian menghubungi Emergency call. …  To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN