Reporting to 911

1110 Kata
“Aku harus menghubungi mereka!” gumam Ingrid, yang kini meraih handphonenya dengan kedua tangan yang bergetar. Meski jemarinya gemetar hebat akibat rasa keterkejutannya saat ini, namun dirinya berusaha untuk menekan tombol nine one one dengan benar dan segera menghubungi mereka untuk melaporkan kejadian itu. Pandangan Ingrid masih terpaku ke arah kedua anak-anak yang kini tertawa menatap ke arah bawah, mereka terlihat sangat senang saat itu. Namun tidak dengan Ingrid, yang kini menatap keduanya dengan perasaan takutnya. Tuuut … Tuuutt … Pip! “Emergency 911, Where is the problem?” sebuah pertanyaan yang di dengar oleh Ingrid pada saat itu pun membuat Ingrid segera berucap dengan tergesa dan histeris. “Help me!! They … They jump from their room!!” jawab Ingrid dengan napas yang tersengal dan air mata yang mulai mengalir dari kedua bola matanya, ia merasa ketakutan dan khawatir saat ini. Bagaimana tidak? Ia merupakan seorang guru TK dan harus melihat kejadian tersebut, tanpa bisa ia hentikan tepat di hadapan matanya siang itu. “...” Ingrid tidak mendengar sesuatu dari sang operator kala itu, yang membuatnya kembali memastikan bahwa ia masih bersama dengan dirinya. “Halo?!” panggil Ingrid lagi, “Yes, Mom! I’m here!” ucap operator itu, dan membuat Ingrid semakin menangis ketika melihat kedua anak di sana kini saling bertatapan satu sama lain untuk mendiskusikan sesuatu hal yang menurut Ingrid buruk. “Oh My God! Apa yang harus aku lakukan … aku benar-benar membutuhkan pertolongan, I need Help!!” ucap Ingrid kepada operator yang menangani dirinya saat itu. “Hh … hhh … hhh …” napas Ingrid menjadi tidak karuan ketika melihat keduanya kini saling berbisik di seberang sana dan kemudian tersenyum datu sama lain, yang tentu saja membuat Ingrid menggelengkan kepalanya dan memukul-mukul jendela dihadapannya agar setidakn ya kedua anak itu bisa melihat dirinya saat ini. “Hei … Hei … tenanglah Ingrid! Now, tell me! Apa yang telah terjadi di sana? Siapa yang terluka dan apakah ada yang membahayakan di sana, agar aku bisa mendeskripsikan semua kejadiannya kepada Ambulance, Pemadam dan Polisi jika perlu!” ucapan sang operator saat itu, membuat Ingrid seketika mengerutkan dahinya ketika ia mendengar namanya di sebut pada saat ini, sedangkan dirinya sadar bahwa ia belum menyebutkan nama saat itu kepada sang operator. “What? B … bagaimana kau tahu namaku?!” tanya Ingrid dengan terkejut, pandangannya masih tidak lepas dari kedua anak lelaki itu. “Itu tidak penting, Ingrid! Bantu aku agar aku bisa membantumu sekarang juga! Siapa yang meloompat? Dan bagaimana keadaan mereka saat ini?!” tanya sang operator lagi kepada dirinya yang kini membuat Ingrid menggelengkan kepalanya seraya berucap, “Mereka anak berusia enam dan sembilan tahun! Mereka meloompat dari apartemen Los d Angel, dari ketinggian tiga belas lantai! Dan aku saksi mata mereka secara langsung, mereka meloompat bebas! Dua anak itu … dan aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang, karena aku sedang memantau dua anak lainnya yang berisap untuk meloompat juga!” ucap Ingrid, ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap membuka jendela apartemennya. “Oh God!! aku tidak bisa membuka jendela apartemenku, dan mereka juga sama sekali tidak mendengarkan ancamanku! Mereka hanya tertawa melihatku saat ini. Please … I neer help!” ucap Ingrid begitu histeris dan sangat khawatir ketika melihat kedua anak lelaki itu kini berdiri dari duduknya untuk kemudian merentangkan kedua tangan mereka, sama seperti hal yang diperagakan oleh Luna, anak perempuan yang sudah meloompat lebih awal dari yang lainnya pada saat itu. “No … no … please!” gumam Ingrid dengan perlahan kepada mereka, namun hal itu sia-sia karena keduanya meloompat bersamaan dan tentu saja membuat Ingrid kembali histeris karenanya. “NOOO!!!!!” jerit Ingrid dan hal itu membuat dirinya kini terjatuh lagi dari pijakannya saat ini. “Ingrid … Ingrid!!” panggil sang operator yang masih terhubung dnegan Ingrid saat ini, namun Ingrid masih terdiam karena benar-benar terkejut saat itu. “Ingrid!! Ingrid, can you hear me?!” panggil sang operator lagi, dan kini dengantangan yang bergetar, membuat Ingrid meraih handphone miliknya untuk kemudian mendekatkan handphone itu di telinganya dna berucap, “T .. They jump … oh my God … this is horrible!” ucap Ingrid histeris dan mulai menangis karenanya, “Please … help” ucap Ingrid nyaris berbisik saat itu kepada sang operator, dirinya benar-benar sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Tubuh Ingrid spontan menjadi lemas hingga ia tidak bisa berbuat banyak selain menangis dan tubuhnya bahkan bergetar hebat tanpa bisa ia kendalikan saat ini. “Alamat … alamatkuhh …” Ingrid teringat dengan alamat yang belum ia sertakan kepada sang operator, namun ia juga tidak bisa berucap banyak dan berpikir dengan jernih di mana ia berada karena ia merasa panik. “Euh … alamatku … “Aku sudah mengirimkan Ambulance dan juga Tony, Ingrid!” ucap sang operator itu, yang tentu saja membuat Ingrid menjadi semakin menangis dan merasa bersyukur juga merasa bingung di saat yang bersamaan, karena ia merasa bahwa operator ini mengetahui banyak tentangnya dan itu yang harus dipertanyakan saat ini, namun ia tidak bisa memikirkan hal itu selain nasib dari keempat anak yang baru saja ia lihat meloompat dari lantai tiga belas di sana. “Dan Ingrid … selama mereka berada di dalam perjalanan menuju Apartemen kalian saat ini, bisakkah kau tetap bersama denganku di sambungan ini? Jangan kau tutup hingga mereka datang, okay?” ucap sang operator kepada Ingrid, yang kemudian membuat Ingrid kini menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk menjawab hal itu dan berucap, “Yeah … aku akan melakukannya!” ucap Ingrid dengan pelan, dan kemudian sang operator pun berucap, “Ingrid … bisakkah kau membantuku saat ini? Aku tahu kau pasti terkejut, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu saat ini!” ucap sang operator itu dengan lembut kepada Ingrid yang kini kembali menganggukkan kepalanya dan kemudian mengusap air matanya, “Apa yang bisa aku bantu?” tanya Ingrid kepada sang operator, yang kemudian berucap, “Bisakkah kau membantuku untuk mengecek keadaan dari anak-anak itu saat ini? Karena aku rasa kita bisa membuat mereka bertindak cepat di sana, karena kita tidak akan tahu situasi dan kondisi dari mereka jika tidak ada yang melihat kondisi mereka secara langsung … eum, maksudku … kau harus mengeceknya agar setidaknya aku bisa mengirimkan informasimu kepada ambulance dan selama itu jangan kau tutup teleponnya! Bisakkah kau melakukannya? Tetap bersamaku dan berbincang lah selama kau turun ke lobby apartemenmu!” ucap sang operator memerintah Ingrid, yang kemudian karena ucapan itu, membuat Ingrid mengangguk dengan pelan dan berusaha untuk berdiri dan melakukan apa yang diperintahkan oleh sang operator. “Hh … hhh … okay!” jawab Ingrid kepada sang operator, sebisa mungkin ia menguatkan kedua kakinya dan berjalan perlahan menuju lift apartemen. …  To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN