Kekesalan Amira

1315 Kata
Amira bergegas mencari keberadaan Andre di rumahnya. Amira mencari ke kamarnya, mengetuk pintu kamar mandi, ke ruang tamu, dapur, ruang keluarga, bahkan Amira mencari sampai ke taman belakang rumah tapi tidak nampak lelaki tersebut. "Kemana perginya manusia itu? Mobilnya juga sudah tidak ada. Baru saja aku ingin berterima kasih kepadanya tapi dia malah sudah pergi, tanpa pamit pula," gumam Amira dengan nada kesal. Lelah mencari keberadaan Andre, Amira pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan berniat akan menemui Andre di kantornya. Dari kejauhan, Andre yang melihat Amira kebingungan mencarinya hanya tersenyum memandang betapa lucu dan menggemaskan calon istrinya itu. Andre pun pergi dari rumah Amira menuju ke kantornya. *** Sampai di kantor seperti biasa, Andre telah disibukkan dengan berbagai berkas yang ada di meja kerjanya. Banyak sekali berkas yang harus ditandatangani. Ketika sedang asik berkutat dengan berbagai pekerjaannya, tiba-tiba Andre dikagetkan dengan kedatangan tamu yang tidak diduga-duga. Amira tiba-tiba datang ke kantor Andre membuat Andre terkejut sekaligus senang bukan kepalang. "Wahhh, kejutan sekali. Calon istriku tiba-tiba datang ke kantorku. Ada apa Amira? Apa kamu mencariku pagi tadi? Karena tidak berhasil menemuiku, lalu kamu susul aku ke tempat kerjaku? Ohhh, atau kamu merindukanku dan terbayang akan wajahku yang tampan yang kau tatap pagi tadi?" ucap Andre dengan pedenya dan sengaja ingin menggoda Amira. "Cihhh, gak usah kepedean deh ya!" ucap Amira sembari memutar bola matanya dengan malas. "Lalu kenapa kamu kesini?" tanya Andre. "Aku kesini cuma mau bilang terimakasih karena semalam kamu sudah menolongku, hanya itu!" ucap Amira lalu melangkahkan kakinya pergi dari ruang kerja yang membuat dadanya sangat sesak dan panas. Belum sempat membuka pintu Amira dikagetkan dengan suara bariton yang jelas sekali terdengar. "Apa hanya sebuah ucapan terimakasih yang kamu berikan setelah apa yang saya lakukan semalam? Saya tidak tahu bagaimana nasibmu jika semalam saya tidak datang," ucap Andre dengan nada sedikit menggoda sengaja ingin membuat calon istrinya itu kesal. Dan benar saja Andre pun berhasil membuat Amira kesal. "Lalu, kau mau apa?" ucap Amira dengan nada sedikit kesal. "Saya mau nanti kita makan siang bersama di cafe dekat kantor mu, hanya itu dan kamu tidak boleh menolaknya, oke!" ucap Andre. "Hanya itu? Oke-oke, baiklah nanti siang aku datang," ucap Amira dengan nada malas. Amira pun bergegas pergi meninggalkan ruang kerja yang menurutnya ruangan terkutuk di dunia ini. Ia berjalan dengan cepat menuju ke basement dan mencari letak keberadaan mobilnya. Ia duduk dan menyalakan mobilnya lalu melajukan mobilnya berharap ingin cepat-cepat keluar dari gedung perkantoran yang paling tidak ia sukai. Andre yang melihatnya pun hanya tersenyum. "Sudah aku duga, dia pasti kepedean kan karena kejadian tadi pagi, pake acara ngajak makan siang segala, huft!" kesal Amira tiada henti di sepanjang perjalanan dari ruang kerja Andre menuju parkiran mobil. Sampai di parkiran, Amira bergegas mengendarai mobilnya agar cepat-cepat keluar tadi kantor yang menurut dia adalah kantor paling terkutuk karena didalamnya terdapat pemimpin yang sangat-sangat menyebalkan baginya. *** Pukul 12.00, jam makan siang pun telah tiba. Amira yang sebenarnya enggan pergi menemui Andre di cafe yang sudah dijanjikan tadi pagi mau tidak mau ia harus menemuinya. Dengan malasnya ia berjalan ke cafe sambil menenteng tas miliknya. Ya, Amira berjalan kaki karena kebetulan cafenya dekat sekali dengan kantor Amira. "Huft, males banget aku tuh sebenarnya bertemu sama manusia itu, kalau saja bukan karena dia telah menolongku waktu itu gak akan aku mau menuruti kemauannya," gerutu Amira selama perjalanannya menuju cafe. Begitu ia sampai, tidak dilihatnya batang hidung Andre. Amira kemudian mencari tempat duduk untuknya dan memesan minuman dan makanan untuknya sendiri. 15 menit menunggu, pesanan Amira pun datang. Melihat situasi cafe yang sangat ramai karena jam makan siang para karyawan kantor jadi pesanan Amira agak lama. Amira menyantap pesanannya dengan begitu lahapnya karena ia sebenarnya sangat lapar. Banyak yang memandangi wajah cantik Amira tapi kebanyakan dari mereka tidak ada yang berani untuk mendekatinya karena mereka sudah mengetahui perihal perjodohan Amira dengan Andre. Siapa yang berani berurusan dengan Andre. Pemimpin tegas yang paling tidak suka miliknya disentuh oleh siapapun. 30 menit berlalu sejak Amira sudah menghabiskan pesanannya dan sudah memesan beberapa gelas minuman lagi tapi Andre tak kunjung datang. Hal itu membuat Amira semakin kesal dibuatnya. Amira mencoba beberapa kali menelepon Andre tapi nomornya tidak aktif. Amira pun mulai bosan. "Aduh, ya ampun ini orang kemana sih ditungguin gak nongol-nongol, emang dia kira aku gak punya kerjaan apa ya. Atau jangan-jangan dia sengaja mau ngerjain aku mungkin," kesal Amira tiada henti karena sudah bosan menunggu lama. Amira pun bergegas untuk pergi meninggalkan cafe tersebut, namun ketika ia ingin melangkah pergi tiba-tiba Andre muncul dengan tergesa-gesa dan nafas yang tidak teratur. "Maaf..maaf saya telat, kebetulan tadi ada rapat penting dan rapatnya agak lama, maaf ya," ucap Andre kepada Amira dengan raut wajah bersalah karena telah membuat calon istrinya menunggu terlalu lama. "Kurang lebih satu jam saya menunggu anda disini, liat sendiri ada berapa banyak gelas minuman yang ada di meja, anda pikir saya tidak punya banyak pekerjaan," ucap Amira dengan nada kesal yang terlihat dari raut di wajahnya. "Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, dan sekali lagi terima kasih atas pertolongan anda malam itu," lanjut Amira sembari menaruh beberapa lembar uang lima puluh ribuan di meja untuk membayar pesanannya kemudian melangkah pergi meninggalkan Andre yang berdiri mematung. Andre yang melihat kekecewaan pada calon istrinya pun hanya bisa terdiam. Ia pun tidak tahu apa yang harus diperbuat agar calon istrinya bisa memaafkan kesalahan yang telah diperbuatnya tanpa sengaja. Dengan lesu, Andre hanya bisa memandang punggung wanita yang dicintainya yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Benar-benar sungguh diluar ekspektasi Andre, makan siang yang seharusnya menjadi makan siang pertama baginya dengan Amira harus berantakan karena kesalahannya. Ia tahu betapa susahnya membujuk wanita keras kepala itu untuk mau makan bersama dengannya namun ketika Amira mau menuruti kemauan Andre, Andre lah yang malah menghancurkan semuanya dan tambah membuat Amira semakin membencinya. Sungguh malang nasib Andre. Andre pun berpikir dan mencari cara agar bisa bertemu dengan Amira dan meminta maaf kepadanya. Andre mengambil handphone dari saku jasnya kemudian ia menelepon seseorang. "Bisa kau kirim buket bunga mawar ke kantor Amira sekarang? Saya akan kirim alamatnya," perintah Andre dari sambungan telepon kepada orang kepercayaan yang dihubunginya. Andre pun kemudian melangkah pergi dari cafe tersebut dan kembali menuju kantornya dengan kekacauan yang ada pada dirinya. *** Di dalam ruang kerja, masih sangat terlihat jelas raut wajah kesal Amira atas kejadian di cafe. Sungguh konyol, baru kali pertama ia dikerjai habis-habisan oleh seseorang. Menunggu terlalu lama adalah hal yang paling tidak Amira sukai. Ya, meskipun terkadang ia sendiri juga sering datang terlambat dalam menghadiri pertemuan apa pun. Kecuali pertemuan dengan klien-klien penting, ia selalu datang tepat pada waktunya bahkan jauh beberapa menit sebelum pertemuan itu dimulai. "Sial, benar-benar manusia itu. Seenaknya saja membuatku menunggu lama-lama di cafe, dia pikir dia siapa," gerutu Amira yang masih diselimuti kekesalan kemudian duduk di kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Belum sempat ia memulai pekerjaannya, pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang kemudian muncul dari balik pintu sekretarisnya yang memberikan sebuah buket bunga mawar dengan ukuran yang lumayan besar. "Maaf Bu, ada kiriman bunga untuk ibu," ucap sang sekretaris sambil menyodorkan buket bunga mawar kepada Amira dan disambut Amira karena memang Amira sangat menyukai bunga mawar. Setelah menerima buket bunga itu Amira menyuruh sekretarisnya untuk keluar dan melanjutkan pekerjaannya. "Siapa yang memberikan bunga sebesar ini?" Amira bertanya-tanya sambil mencari nama pengirim bunga mawar itu. 'maafkan saya Amira atas keterlambatan saya tadi, saya harap kamu bisa mengerti dan mau memaafkan saya'. Begitulah isi tulisan yang terdapat di sepucuk surat yang Amira temukan. Tanpa banyak berpikir panjang, Amira sudah tahu siapa pengirim buket bunga mawar itu. Amira segera mengambil gagang telepon kemudian menelepon sekretarisnya untuk masuk ke dalam ruangannya. "Tolong buang buket bunga ini ke tempat sampah sejauh-jauhnya karena saya tidak mau melihatnya," ucap Amira begitu sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya. Tanpa banyak bertanya, sekretaris Amira pun hanya menuruti kemauan atasannya kemudian pergi untuk membuang buket bunga tersebut. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN