Pernikahan Darurat

1256 Kata
POV SERENA LEE Ada dua jenis manusia yang menikah di dunia. Yang pertama, manusia yang mempertimbangkan keputusan hidupnya dengan matang. Mereka melalui proses pacaran bertahun-tahun, bertemu keluarga masing-masing, berdiskusi soal masa depan, bahkan mungkin membuat daftar plus minus sebelum akhirnya berkata, ya, aku siap menikah. Yang kedua— manusia yang berdiri di depan Kantor Urusan Agama sambil memegang map berisi fotokopi KTP, pas foto ukuran tiga kali empat, dan formulir pengantar RT karena baru saja setuju menikah kurang dari setengah jam yang lalu. Aku termasuk jenis kedua. Aku berdiri mematung di depan papan nama KUA kecamatan dengan napas terasa terlalu berat. Kebaya putih yang kupakai sejak pagi mulai terasa gerah. Telapak tanganku dingin, sementara kepalaku dipenuhi satu pertanyaan yang berputar tanpa henti. Aku benar-benar melakukan ini? Di sampingku, Samudra Raditya berjalan santai seperti mau menghadiri rapat orangtua di sekolah. Kemeja putihnya masih rapi. Ekspresinya tenang. Bahkan dia sempat membuka ponsel untuk membalas pesan seseorang. Aku meliriknya. Dia melirik balik. Kami berhenti berjalan hampir bersamaan. “Kita… beneran menikah ya?” tanyaku pelan. Sam mengangkat alis. “Kamu yang ngajak nikah duluan.” Aku menghembuskan napas panjang. Benar juga. Tidak ada yang menyeretku ke sini. Aku sendiri yang lompat. Setelah berada di dalam gedung KUA, ruangan pelayanan tidak terlalu besar. Dinding krem yang mulai pudar. Kipas angin tua berputar lambat di langit-langit, menimbulkan bunyi berderit halus seperti ikut mengomentari keputusan hidupku. Seorang petugas perempuan menatap kami dari balik meja. Tatapannya bergantian. Dari aku. Ke Samudra. Kembali lagi ke aku. Ekspresi khas orang yang sedang mencoba memahami situasi yang mencurigakan. “Mau konsultasi?” tanyanya ramah. Sam menjawab cepat. “Mau daftar nikah.” Aku hampir tersedak udara sendiri. Langsung? Tanpa basa-basi? Petugas itu berkedip. “Kapan rencananya?” “Sekarang.” Sunyi. Aku yakin bahkan kipas angin berhenti satu detik. Petugas itu menatapku lagi. “Maksudnya … hari ini? Aku membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ini titik di mana manusia normal seharusnya mundur. Sayangnya aku bukan manusia normal hari ini. “Iya, Bu.” jawabku akhirnya. Suaraku sedikit serak. “Kalau bisa … sekarang.” Petugas itu menghela napas, seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak drama manusia sepanjang kariernya. “Kebetulan penghulu masih ada. sore ini jadwal kosong.” Aku langsung menoleh. Serius? “Tapi semua administrasi harus selesai sebelum jam dua siang.” Sam mengangguk mantap. “Kami siap.” “Kami”, aku belum terbiasa dengan kata itu. Menikah ternyata lebih banyak tanda tangan daripada yang kubayangkan. Formulir. Materai. Fotokopi. Pas foto. Dan pertanyaan paling mengerikan. “Sudah yakin menikah?” Aku hampir menjawab tidak secara refleks. “Saya yakin,” jawabku akhirnya. Sam di sampingku terlihat terlalu tenang. Dia bahkan membantu menempelkan foto di formulirku. Jari kami bersentuhan sebentar. Hangat. Aku langsung menarik tangan. Kenapa deg-degan? Ini kontrak. Hanya kontrak. Ketika semua selesai, petugas berdiri. “Silakan tunggu sebentar. Kita akan mengadakan akad hari ini juga.” Hari ini. Aku menikah. Tidak ada make up pengantin. Aku memanggil Pak Rama lagi sebagai saksi nikah. Tidak ada wali nikah dari keluarga ayahku. Kakek, dan pamanku dari pihak ayah sudah meninggal. Jadi untuk wali nikahku adalah wali hakim dari pihak KUA. Hanya ruangan kecil dengan meja kayu panjang. Aku duduk sambil menggenggam ujung kebaya. Ketika Sam masuk ruangan setelah berganti jas sederhana — aku hampir tidak mengenalinya. Lebih dewasa dari ingatanku. Dia duduk di sampingku. Aku benar-benar tidak mengira kalau aku sudah melangkah jauh. Tadinya aku akan menikah dengan Theo, tapi seketika semua rencana berubah. Yang akan menikah denganku justru orang yang tak pernah terbayang sebelumnya. Samudra Raditya. Lalu bagaimana dengan Theo? Kemana dia? Aku tidak yakin karena sampai sekarang pun tidak ada kabar darinya. Jangankan kabar pemberitahuan kalau dia tidak bisa datang, minta maaf pun tidak setelah dia memberi harapan palsu. Aku tidak ambil pusing, karena Theo seperti itu pasti ada alasannya. Lagipula menikah bukan hal yang gampang diterima. Dia pasti berubah pikiran dalam semalam. “Kamu kelihatan tegang,” katanya. “Kamu juga,” balasku cepat. Dia tertawa kecil. Aneh. Suara itu membuat dadaku sedikit tenang. Akad berlangsung singkat. Sangat singkat. Ijab kabul diucapkan tanpa jeda. Tanpa salah. Saksi mengangguk. Petugas tersenyum. “Sah.” Satu kata. Dan hidupku berubah. Buku nikah itu terasa berat di tanganku. Namaku tercetak di sana. Serena Lee. Istri dari— Samudra Raditya. Aku resmi memiliki suami. Ini seperti mimpi di siang bolong. Aku sudah menjadi istri orang, meski tidak pernah terpikirkan menjadi seorang istri dari teman SMP dulu. Kami saling menatap sebentar. Tidak ada musik romantis, dan tidak ada pelukan. Hanya dua orang yang terlihat sama-sama lega seperti baru lolos dari ujian nasional. Setelah menikah dan mendapat buku nikah kami pulang, Sam bilang sementara ini dia akan ikut ke rumahku karena ingin melihat kondisi rumah sekaligus mengurus beberapa hal yang harus dilakukan agar penyitaan rumah itu ditunda. Mobil Sam berhenti di depan pagar besi rumahku. Catnya mulai terkelupas. Bougenville Mama masih tumbuh di sudut halaman. Aku turun lebih dulu. Sam berhenti di teras. Dia tidak langsung masuk. Tatapannya menyapu halaman. Bangku kayu tua. Jendela besar. Tiang rumah. Matanya berubah. “Tidak ada yang berubah dari rumah ini,” katanya pelan. Aku menoleh memperhatikan Samudra yang tengah bernostalgia melihat rumah yang dulu pernah menjadi tempat mengungsinya. “Waktu SMP… aku tidur di sofa ruang tamu kalau habis kabur dari rumah.” Dadaku terasa hangat. Mama memang selalu menerimanya. Dia mengusap wajahnya. Tersenyum tipis. “Aku nggak nyangka bisa balik lagi.” Dia menoleh padaku. “Balik lagi sebagai suami kamu.” Dadaku terasa penuh mendengarnya. Kenapa kalimat itu terdengar berbahaya? Aku buru-buru membuka pintu. “Masuk dulu.” Sebelum aku benar-benar kehilangan kemampuan berpikir. *** Masalah sebenarnya muncul ketika malam tiba. Rumah ini hanya punya dua kamar. Kamar Mama. Dan kamarku. Tidak ada kamar tamu. Ada satu kamar kosong namun itu dijadikan gudang, kalau mau dirapihkan harus membutuhkan waktu. Kami berdiri di ruang tengah. Sam membawa tas yang berisi baju ganti. Sementar aku membawa kegugupan. Sunyi. Jam dinding berdetak keras. Aku menarik napas panjang. Mode atlet aktif. “Dengar ya.” Dia mengangkat alis. “Meskipun kita sudah sah secara hukum…” Aku menunjuk dirinya. “… kita tetap butuh adaptasi.” Dia menahan senyum. Aku pura-pura tidak melihat. “Tidak masuk kamar tanpa izin.” “Oke.” “Tidak ada sentuhan fisik sembarangan.” “Oke.” “Kita tidur terpisah.” Dia mengangguk tanpa protes. “Aku bisa tidur di mana saja. Di sofa pun jadi.” Aku langsung merasa bersalah. “Itu sempit.” “Aku pernah tidur di sana.” Jawabannya terlalu ringan. “Itu waktu dulu, sekarang badanmu udah nggak muat kalau tidur di situ!” “Jadi aku tidur di kamar mana?” tanyanya dengan salah tingkah. “Kamu tidur di kamarku. Aku di kamar mama.” Dia mengangguk mengerti. Lampu ruang tamu redup. Aku berdiri di depan pintu kamar mama. Dia berdiri di depan pintu kamarku. Kami saling menoleh bersamaan. “Selamat malam… suami,” kataku tanpa sadar. Aku langsung ingin menghilang. Samudra membeku. Lalu tertawa pelan. Hangat. “Selamat malam… istri.” Jantungku langsung salto. Aku buru-buru masuk kamar. Menutup pintu. Bersandar di sana. Menggenggam buku nikah di d**a. Hari ini rumahku terselamatkan. Aku menikah. Dengan pria yang dulu sering pulang ke rumah ini ketika dunia menolaknya. Dan entah kenapa— untuk pertama kalinya sejak Mama pergi— rumah ini terasa hidup kembali. Astaga Serena! Jangan baper! Jangan sampai kamu jatuh hati duluan sama Samudra! Kutekan dadaku agar jantungku berhenti berdebar. Sam mau menikah denganku saja sudah sangat beruntung. Jadi, jangan berpikir jauh. Ini hanya pernikahan darurat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN