POV SERENA LEE
Keesokan paginya aku terbangun karena mencium aroma makanan. Bukan aroma mie instan. Bukan juga aroma kopi sachet yang biasanya jadi sarapan mantan atlet bangkrut sepertiku.
Ini aroma… mentega dan bawang putih. Dan sesuatu yang terlalu mahal untuk ukuran dapur rumahku.
Aku membuka mata perlahan. Langit-langit kamar Mama menyambutku. Butuh lima detik untuk otakku bekerja. Sepuluh detik berikutnya untuk mengingat kenapa aku tidur di kamar Mama. Dan tepat di detik ke sebelas— aku bangkit duduk.
Sekarang aku adalah wanita yang sudah menikah. Dan suamiku itu adalah Samudra Raditya. Aku menatap buku nikah yang masih tergeletak di meja samping tempat tidur seperti barang bukti kriminal.
Masih ada di sana, artinya itu bukan mimpi. Aku jatuh kembali ke kasur.
“Astaga… Serena Lee…”
Aku menikah kurang dari satu jam setelah melamar seseorang di restoran Padang. Kalau Mama masih hidup mungkin beliau akan memukulku pakai sendok sayur. Aku mengacak rambut sendiri sebelum akhirnya bangun.
Dengan posisi masih mengumpulkan nyawa baru bangun tidur, aku membuka pintu kamar perlahan. Langkah kakiku menyeret menuju kamar mandi. Masih setengah sadar. Masih pakai kaos tidur kebesaran. Masih dengan rambut yang pasti menyerupai sarang burung. Aku memutar gagang pintu kamar mandi.
Terkunci. Aku hampir berbalik— ketika pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Dan seorang pria keluar. Dengan rambut basah, berbelit handuk kecil di leher. Kemeja belum dikancingkan. Air masih menetes di ujung rambutnya.
Aku membeku. Dia membeku. Kami saling menatap.
Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Otakku langsung menjerit.
HUAAAAAAA!!
Aku menarik napas panjang. Mulutku terbuka. SIAP BERTERIAK.
Namun tepat sebelum suara itu keluar— ingatan menghantam kepalaku seperti bola voli servis keras.
Aku sudah menikah.
Aku sudah menikah.
Aku sudah menikah.
Mulutku langsung menutup. Samudra Raditya mengangkat satu alis.
“Selamat pagi.” Nada suaranya santai. Seolah pagi ini masih pagi yang sama seperti kemarin. Seolah status suami istri tidak pernah berlaku di antara kami.
Aku menunjuknya dengan gemetar.
“Kamu… kamu…”
Dia menunggu. Aku menghela napas panjang.
“Kamu suamiku.”
Dia tersenyum kecil. “Iya.”
Aku menutup wajah. Ya Tuhan. Aku benar-benar menikah.
“Aku hampir teriak maling,” gumamku.
Sam tertawa pelan. Suara itu membuat suasana yang tadinya absurd jadi hangat.
“Kalau aku maling, aku maling rumah yang salah,” katanya. “Apa yang bisa dicuri di rumah ini selain seorang gadis.”
Aku langsung kabur ke kamar mandi sebelum otakku overheat. Air dingin membasahi wajahku. Aku menatap pantulan diri di cermin.
“Serena Lee.” Aku menunjuk diriku sendiri di cermin.
“Kamu punya suami sekarang.” Pantulan itu terlihat sama tidak percayanya. Aku menepuk-nepuk wajahku agar kembali sadar.
Aku mandi lebih lama dari biasanya. Bukan karena ingin santai. Tapi karena aku mencoba menerima fakta.
Ada pria lain di rumah ini. Bukan tamu. Bukan teman. Tapi suami.
Aku hampir terpeleset sendiri memikirkan kata itu. Sam itu temanku zaman SMP, aku tahu pria itu. Tapi setelah dua belas tahun, kenapa Sam jadi terlihat lebih gagah dan – tampan.
Astaga Serena! Jangan baper! Dia itu dulu cuma teman satu sekolah. Jadi mana mungkin ada romantisme antara kami.
Ketika akhirnya aku keluar dengan rambut setengah basah. Aroma makanan kembali menyeruak. Aku mengikuti aroma itu menuju ruang makan. Dan aku berhenti. Meja makan sudah penuh. Bukan penuh nasi bungkus. Bukan gorengan.
Ada omelette.
Sup hangat.
Roti panggang.
Buah potong.
Bahkan jus jeruk.
Aku menatapnya lama.
Ini bukan sarapan.
Ini sarapan hotel bintang lima.
Sam keluar dari dapur membawa dua cangkir kopi. Seolah ini pagi paling normal di dunia.
Aku menunjuk meja. “Ini dari mana?”
Dia meletakkan kopi di depanku. “Aku yang masak.”
Aku mengedipkan mata lebih dari sekali, saking tidak percayanya kalau Sam yang memasak semua sarapan lezat ini.
“Kamu masak pakai apa?”
Sam terlihat berpikir.
“Pakai tangan lah.”
Aku hampir melempar sendal. “Maksudku kamu masak bahan-bahannya dari mana?!”
“Oh.” Dia duduk santai.
“Tadi subuh aku ke pasar.”
Aku membeku. “Subuh?”
Dia mengangguk.
“Aku lihat kulkas kamu kosong.”
Aku langsung merasa bersalah.
“Iya.”
“Jadi sekalian aku beli bahan makanan.”
Dia menunjuk dapur.
“Sudah aku isi.”
Aku berjalan ke sana. Dan hampir menangis.
Sayur.
Buah.
Telur.
Daging.
Bumbu dapur.
Beras.
Semuanya rapi.
Kulkas yang kemarin terdengar kosong sekarang penuh dengan s**u segar, jus, air mineral dan snack. Dadaku terasa aneh.
Rumah ini sudah lama tidak terasa seperti rumah. Aku kembali ke meja makan. Duduk dengan pelan di seberangnya.
“Sam…”
Dia menoleh.
“Nanti kalau gajiku turun… aku ganti ya.”
Aku berkata pelan. Tidak enak rasanya menerima semua ini. Kami memang menikah. Tapi tetap saja. Ini rumahku. Masalahku. Sam menatapku beberapa detik. Lalu menggeleng ringan.
“Nggak perlu.”
“Aku nggak enak.”
Dia tersenyum tipis. “Anggap saja giliran aku.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Kita tinggal satu rumah sekarang.”
Dia minum kopinya. “Belanja bulanan gantian saja.”
Aku menatapnya.
“Gantian?”
Dia mengangguk. “Bulan ini aku, jadi bulan depan kamu.”
Sederhana. Masuk akal. Tidak terasa seperti belas kasihan. Lebih seperti… kerja sama.
Aku mengangguk kecil. “Oke.”
Dia tersenyum lagi. Dan entah kenapa— sarapan pertama sebagai suami istri itu terasa lebih hangat dari yang seharusnya.
Aku mengambil sendok. Mencicipi omelette. Lalu menoleh pelan.
“Kamu dulu pernah bekerja jadi chef restoran?”
Dia tertawa. Untuk pertama kalinya sejak Mama pergi— suara tawa kembali memenuhi rumah ini.
Dan aku mulai curiga. Pernikahan darurat ini … mungkin bukan sekedar pernikahan modus mengatasi masalah bersama. Tapi aku merasa kalau ini merubah suasana rumah ini menjadi lebih hidup.
“Aku pernah belajar masak sama chef beneran di hotel.”
“Seriusan? “tanyaku yang tak percaya jika selain menjadi programmer dia pintar memasak. Aku jadi malu, aku yang seorang wanita justru tertinggal jauh olehnya.
Dia mengangguk sambil mengambilkan roti panggang ke atas piringku. Aku langsung menyantapnya dengan lahap.
“Pokoknya orang yang menikah denganku nggak bakal kekurangan nutrisi. Kebutuhan gizinya cukup! “ ucapnya dengan santai.
Cukup santai tapi tidak denganku. Aku berusaha untuk gugup karena kata-katanya sangat terang-terangan menegaskan aku ini istrinya.
“Terima kasih, tapi aku tidak pintar memasak dan tidak pintar mencari uang. Aku merasa bersalah padamu. “
Aku menundukkan kepala karena malu.
“Nggak apa-apa. Aku tidak butuh kamu pintar masak. Biar aku yang masak, kalau malas masak kita makan di luar. Aku juga tidak butuh kamu pintar cari uang. Karena aku suami, jadi aku yang cari uang. Aku yang memberi nafkah. Hanya satu yang aku butuh darimu. “
Aku mengangkat wajahku dan menatap horor padanya. Jangan-jangan yang dimaksud Sam adalah tubuhku. Tidak! Bukan itu yang aku harapkan dari Sam.
Hanya satu yang aku butuh darimu, Serena.
Wajahku langsung pucat karena shock. Bisa-bisanya Sam punya pikiran m***m padaku.