Satu Syarat

1349 Kata
POV SERENA LEE Aku menatap Samudra seperti sedang melihat orang asing. Baru saja dia mengatakan— “Aku cuma butuh satu hal darimu.” Dan otakku langsung berlari terlalu jauh. Aku menelan ludah. Jantungku berdetak cepat. Tidak. Tidak mungkin. Sam itu anak baik. Teman SMP-ku. Anak yang dulu makan mie instan di rumahku sambil pura-pura bilang dia tidak lapar. Tapi— dia sekarang laki-laki dewasa. Aku juga perempuan dewasa. Kami menikah. Secara hukum. Secara agama. Dan kami tinggal satu rumah. OH TIDAK. Wajahku langsung panas. Jangan bilang dia meminta syarat sewajarnya seorang suami pada istrinya. Aku menegakkan punggung perlahan. Mode siaga atlet aktif. “Sa… Sam,” kataku hati-hati. Dia mengangkat alis. “Iya?” Aku menunjuk dirinya. Lalu menunjuk diriku. “Kita ini… menikah karena darurat.” Dia mengangguk santai. “Iya.” “Dan kita sepakat butuh adaptasi dulu.” “Iya.” Aku menarik napas panjang. Menarik napas dalam-salam sebelum aku melanjutkan ucapanku. Aku menggenggam sendok seperti pegangan hidup terakhir. “Kalau yang kamu maksud itu… soal itu …” Aku hampir tersedak kata sendiri. “Jujur, aku belum siap.” Sunyi. Benar-benar sunyi. Samudra membeku. Sendok di tangannya berhenti di udara. Lalu— dia mengedipkan matanya beberapa kali seolah sangat berusaha untuk mencerna apa kata maksudku. “Apa?” Aku sudah terlanjur malu. Pipi terasa panas. “Aku cuma bilang sekali aja ya. Nggak perlu dua kali ngomong,” lanjutku cepat sebelum keberanian kabur. “Kita baru menikah satu hari. Aku belum bisa langsung—” Dia menutup wajahnya. Benar-benar menutup wajahnya. Bahu lebarnya bergetar. Aku mengernyit. “… kamu kenapa?” Lalu suara itu keluar. Tertahan. Serak. Dia tertawa. Bukan tertawa kecil. Tertawa ngakak dan itu sungguhan. Aku langsung tersinggung. “Kamu ketawa?!” Dia menggeleng sambil masih menahan tawa. “Serena…” Dia menarik napas panjang. “Aku nggak ngomong soal itu.” Aku membeku. “… bukan?” Dia bahkan terlihat sedikit frustasi. “Astaga.” Dia mengusap wajah. “Kamu pikir aku pria macam apa?” Aku langsung menutup mulut. Oke. Aku salah. Sangat salah. Aku ingin menghilang ke dalam sup hangat di depanku. Sam akhirnya menatapku lagi. Tatapannya berubah serius. Tidak lagi bercanda. “Aku cuma mau satu hal dari kamu.” Nada suaranya pelan sekarang tapi terdengar tegas. “Jangan selingkuh.” Aku berkedip. Apa? Dia melanjutkan. “Aku paling nggak tahan sama pasangan menikah yang selingkuh.” Tangannya mengepal di atas meja. Matanya tidak melihatku. Seolah melihat sesuatu yang jauh. “Dulu orang tuaku menikah karena dijodohkan dan karena bisnis juga, tapi itu tidak dibenarkan juga jadi alasan untuk berselingkuh. Itu benar-benar mengganggu.” Dadaku langsung terasa sesak. Aku tahu cerita itu. Sedikit. Dari dulu. Ayahnya sering membawa perempuan lain pulang. Ibunya menangis. Rumah mereka seperti medan perang. Sam sering kabur. Dan sofa rumahku jadi tempat perlindungannya. Dia tersenyum tipis. Tapi pahit. “Aku tumbuh melihat orang yang seharusnya jadi contoh malah menghancurkan keluarganya sendiri.” Sunyi. Aku bahkan tidak berani mengunyah. “Aku nggak peduli ini pernikahan kontrak atau bukan,” lanjutnya. “Tapi selama kita menikah…” Dia akhirnya menatapku. “Aku nggak mau ada orang ketiga.” Aku menelan ludah. Dia berkata lagi. “Kalau kamu punya pacar sekarang…” Dia berhenti sebentar. “Putuskan dia sekarang!” Dia meminta dengan sangat tegas. Aku langsung mengangkat tangan. “AKU NGGAK PUNYA PACAR!” Dia sedikit terkejut. Aku menghela napas panjang. “Kalau aku punya pacar mana mungkin aku ngajak kamu nikah, Sam.” Serius. Logikanya di mana? Dia memperhatikanku beberapa detik. Seolah memastikan aku tidak bercanda. Lalu dia mengangguk pelan. “Oke.” Aku pikir selesai. Ternyata belum. Dia bersandar. Nada suaranya tetap tenang. “Tapi tetap aja.” Aku langsung waspada karena Sam sepertinya belum percaya penuh padaku. “Kalau suatu hari kamu suka sama pria lain…” Dadaku ikut tegang. “Kamu harus bilang sama aku dulu.” Aku menatapnya. Dia melanjutkan. “Kita urus perceraian yang sah.” Tidak ada marah. Tidak ada emosi meledak. Justru terlalu tenang. “Setelah itu kamu bebas.” Tanganku berhenti di udara. “Aku cuma nggak mau jadi orang bodoh yang dikhianati.” Kalimat itu sederhana.Tapi terdengar sangat berat. Aku melihat sesuatu di matanya. Bukan marah. Bukan posesif. Tapi luka lama. Luka anak laki-laki yang melihat ibunya menangis terlalu sering. Dadaku terasa hangat sekaligus sedih. Aku meletakkan sendok. “Sam.” Dia menoleh. “Aku nggak punya pacar.” Aku berkata pelan dan jujur. “Aku juga nggak lagi ngejar siapa pun.” Aku tertawa kecil tapi pahit. “Fokus hidupku sekarang cuma dua.” Dia menunggu. “Aku mau rumah ini tetap jadi milikku.” Tanganku tanpa sadar menggenggam meja makan. “Dan aku harus cari cara melunasi semua hutang.” Aku menatapnya. “Hubungan percintaan itu… bukan prioritasku saat ini atau kedepannya juga.” Dia diam cukup lama. Lalu mengangguk. Seolah menerima jawabanku. Sunyi beberapa detik. Lalu aku menyenggol piringnya. “Sekarang makan.” Dia mengangkat alis. “Kamu yang masak. Masa aku sendirian yang makan.” Dia tersenyum kecil lagi. Dan anehnya— pagi itu terasa seperti kesepakatan yang jauh lebih penting dari sekadar sarapan. Kami bukan pasangan romantis, dan kami juga bukan orang asing. Tapi untuk pertama kalinya— aku merasa aman. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada jatuh cinta. Kami selesai sarapan dalam suasana yang anehnya terasa seperti sudah tidak ada canggung. Mungkin karena dulu kami sering makan di meja makan yang sama ketika SMP. Tidak ada musik romantis. Tidak ada adegan suap-suapan seperti drama Korea. Bahkan tidak ada pembicaraan manis suami istri baru. Yang ada cuma suara sendok beradu dengan piring. Dan sesekali Sam menambahkan lauk ke piringku tanpa permisi seperti dia sudah tinggal di rumah ini sejak lahir. Aku masih mencoba memahami fakta bahwa pria yang dulu makan mie instan di rumahku sekarang bisa membuat omelette yang rasanya seperti brunch mahal di hotel. Hidup memang penuh plot twist. Aku sedang menghabiskan jus jeruk ketika Sam tiba-tiba bicara. “Nanti sore kamu ada jadwal nggak?” Aku menoleh. “Kenapa?” Dia minum kopi dulu sebelum menjawab. Tenang sekali. Terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru menikah kemarin. “Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” Aku langsung waspada. “Tempat apa?” “Ketemu seseorang.” Sendokku berhenti. “Seseorang siapa?” Dia berdiri membawa piring ke dapur. “Nanti kamu tahu.” Aku langsung menyipitkan mata. Ini jawaban paling mencurigakan. “Sam.” “Iya?” “Kamu ngajak aku ke pertemuan investasi rahasia nggak sih?” Dia tertawa kecil dari dapur. “Bukan.” “Kalau investasi bodong kayak MLM aku pulang ya.” Dia keluar lagi sambil menggeleng. “Kamu terlalu banyak nonton berita dan drama.” Aku mendengus. “Ya mungkin karena aku mantan atlet yang semi pengangguran jadi banyak waktu luang.” Dia tersenyum tipis. “Pokoknya sore.” Nada suaranya tidak memaksa. Tapi juga tidak memberi ruang untuk ditolak. Aneh. Tapi aku akhirnya mengangguk. “Oke. Tapi aku juga ada urusan dulu siang ini.” Dia menatapku. “Urusan apa?” “Aku harus ketemu Pak Bisma.” Pengacaraku. Nama itu saja sudah membuat kepalaku ikut berat. “Dokumen nikah harus langsung diserahkan,” lanjutku. “Biar gugatan penyitaan bisa ditunda.” Sam mengangguk tanpa banyak komentar. Tatapannya berubah serius sebentar. “Bagus.” Hanya satu kata. Tapi entah kenapa terdengar seperti dia ikut lega. Pagi itu kami keluar rumah bersama. Aneh sekali rasanya. Biasanya aku pergi sendirian. Sekarang ada pria tinggi memakai kemeja rapi berdiri di depan pintu sambil menunggu aku mengunci pagar. Seorang suami. Aku hampir tersandung sandal sendiri memikirkan kata itu. Mobil Sam diparkir di depan rumah. Dia membukakan pintu. Aku menatapnya. Ada rasa canggung menyelimuti tapi segera kutepis. Toh, Sam itu adalah teman SMP ku yang kukenal. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Dia menurunkanku di depan kantor pengacara. Sebelum turun dia berkata, “Nanti aku jemput.” Aku mengernyit. “Kita janjian di jalan saja. Aku nggak tahu bakal lama atau nggak.” Dia mengangguk. “Oke.” Aku turun. Dan baru sadar sesuatu. Aku bahkan tidak menanyakan dia kerja di mana hari ini. Padahal dia suamiku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN