"Ay," Sandy memanggilku mesra. Suaranya mendayu mengalun seperti irama.
"Iya San," jawabku tanpa menoleh ke arahnya. Aku masih asyik menikmati indahnya air terjun itu.
"Kok masih manggil nama si?" protes Sandy. Aku menyerngitkan dahi.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanyaku.
"Pakai panggilan dong, aku kan sekarang suamimu."
"Hmmm" aku tengah berpikir. "Kamu kan keturunan orang Sunda, bagaimana kalau aku panggil kamu aa? soalnya kalau aku panggil abang takut di kiranya manggil abang-abang tukang bakso." Celetuk ku tanpa jeda. Dan itu malah membuat Sandy terkekeh.
"Ha ha ha, kamu bisa aja ay." Balas Sandy. Dan ia pun menggandeng tangan ku turun mendekati air terjun. Sesampainya di bawah, Sandy mengambil beberapa foto kami berdua sebagai kenangan katanya, bahwa kami pernah mengunjungi tempat itu.
Usai menikmati air terjun dan singgah di taman kupu-kupu, kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah beranjak sore. Kami menyusuri tempat di mana kami lewati tadi. Karena siang mulai menghilang, maka jalanan mulai sepi pengendara. Apa lagi cuaca berubah menjadi hujan.
"Aa, kenapa berhenti?" tanyaku heran saat Sandy menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Kayaknya mogok ay. Tidak mau maju, padahal bahan bakar masih cukup untuk pulang pergi.
"Yah," aku mendesah. Rada ngeri juga hujan-hujan mobil mogok di area hutan. Mana jalanan sepi dan hari sudah mulai gelap.
"Aku periksa dulu ya ay, kamu bisa tolong pegangin payungnya?"
"Iya bisa," aku ikut turun untuk membantu Sandy memegang payung saat ia memeriksa keadaan mobilnya.
Terpaan angin serta hujan membuat tubuhku kian merasa kedinginan. Hawa dingin semakin merasuk ke sum-sum tulang. Aku merapatkan tubuhku karena mulai menggigil. Detik kemudian suara petir menggelegar. Saking terkejutnya aku, aku langsung melempar payung yang tengah aku pegang lalu memeluk erat tubuh Sandy dari belakang.
"Aaaarkh." Teriak ku sambil memeluk tubuh Sandy. Setelah seperkian detik kami baru bisa menguasai suasana.
"Kamu takut ya?" tanya Sandy sambil membalikkan tubuhnya menghadap ku. Lalu kini ia yang memeluk erat tubuhku. Aku hanya mengangguk. Tubuhku masih bergetar menahan keterkejutan itu. Kini tubuh kami sama-sama basah karena terpaan air hujan yang belum mereda. Setelahnya, Sandy mengajak ku memasuki mobil kembali.
"Kamu pasti kedinginan ya ay?" tanya Sandy yang melihat tubuhku tampak bergetar dengan wajah pucat dan bibir membiru.
"Dingin banget." Jawabku. Lalu Sandy meraih paper bag yang tersimpan di jok belakang. Di sana ada beberapa kaos oblong dan celana santai. Sandy memberikan satu kaos dan satu celana panjang kepadaku.
"Pakailah ini." Ucap Sandy dan aku melotot lebar, Sandy malah tertawa kecil.
"Kamu mau aku ganti pakaian di sini? lalu dengan seenak hati kamu menatapku yang sedang berganti pakaian?" aku mencercanya dengan sederet pertanyaan.
"Ay, kamu kan istri aku. Jadi aku berhak dong memandang tubuhmu walau tanpa busana sekalipun?" gelak nya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar tengil! aku berdecak sebal ia malah semakin tertawa lebar.
"Kalau kamu mau mati kedinginan ya terserah." Sandy berpindah ke jok belakang, ia tampak meraih paper bag itu lalu mengambil baju yang lainnya dan segera melepas baju yang basah.
Aku mengalihkan spion yang ada di hadapanku agar tidak memantulkan dirinya yang tengah berganti pakaian. Aku bimbang. bertahan seperti ini mungkin aku bisa mati kedinginan. Namun jika ganti, oh Tuhan. Cuma ada pakaian luar, lalu bagaimana dengan pakaian dalam ku? aku benar-benar frustasi.
"Kamu tidak mau ganti baju?" tanya Sandy setelah ia selesai mengganti pakaiannya yang basah. Aku menoleh ke arah Sandy yang sudah duduk nyaman di belakang kemudi.
"Aku akan ganti tapi kamu merem." Titah ku kepada pria tengil yang sudah sah menjadi suamiku. Aku gak nyangka, waktu masih berteman ucapannya sangat jernih karena selalu ia filter dengan baik. Tapi kenapa semenjak menjadi suamiku ucapannya semakin melanglang buana? apa kah semua pasangan yang sudah menikah akan seperti itu?
"Iya iya aku merem." Ucap Sandy sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Namun aku tidak yakin Sandy akan melalukan apa yang aku perintahkan. Buktinya ia membalikan kaca spion itu ke arah semula.
Dengan gerakan cepat aku melepas pakaian atas ku lalu segera memakai yang kering. Setelah atasan selesai, kini ganti yang bawah. Aku menarik nafas lega saat selesai mengganti pakaian ku dengan cepat. Aku segera kembali ke jok depan dan duduk di sebelah Sandy.
"Ay, kamu pakai jaket ku. Aku tidak rela jika benda keramat yang belum sempat aku jelajah akan di lihat orang lain."Ucapnya sambil menyerahkan jaketnya untuk ku.
Aku bingung dengan ucapan Sandy. Lalu aku memandang tubuhku ke bawah. Ya ampun, aku melotot saat dua gundukan kembar ku menyembul keluar karena tidak di beri alas. Dan Sandy malah tertawa kecil.
"Dasar tengil," aku kembali berdecak kesal. Di saat genting seperti ini ia malah memanfaatkan keadaan untuk terus membuatku kikuk. Aku segera memakai jaket Sandy lalu merapatkannya di dapan dadaku.
"Lalu kita bagaimana?" tanya ku dengan wajah memelas nya. Aku benar-benar sudah kebingungan. Aku lelah juga lapar. Hampir dua jam menunggu tanpa kepastian di tepi jalan seperti ini membuat kepalaku berdenyut.
"Ya nunggu orang lewat lah untuk meminta bantuan. Mau bagaimana lagi. Aku sudah mencoba mencari bantuan namun tidak ada yang bisa. Jalanan di depan sana tergenang banjir." Ucap Sandy panjang lebar.
Aku mendesah. Senja sudah beranjak turun dan sebentar lagi akan di gantikan oleh malam.
Tok tok tok. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk kaca mobil dari sebelah kanan. Samar-samar terlihat seperti polisi, karena di sebrang jalan ada mobil patroli. Sandy pun menurunkan kaca di sampingnya.
"Selamat sore pak, ada apa?" tanya Sandy dengan ramahnya.
"Bisa tolong tunjukan kartu identitas kalian? kenapa berhenti di tempat sepi seperti ini? kalian bukan pasangan m***m kan?" cerca pak polisi bertubuh tinggi itu. Ia memakai topi dan membawa sebilah pentungan di tangan kirinya.
Kami melotot mendengar tuduhan itu. Aku tidak menyangka ini yang kedua kalinya kami di kira pasangan m***m.
"Kami pasangan sah pak. Mobil kami mogok." Jawab Sandy sambil menyerahkan KTP kepada polisi itu. Dan begitu juga aku. Aku ikut menyerahkan KTP ku.
Pak polisi itu pun menerima kartu identitas kami lantas menelitinya.
"Anak bau kencur ngaku pasangan sah. Ikut kami ke kantor polisi. Kalian harus di bina." Ucap nya sambil membuka paksa pintu mobil Sandy.
"Pak, serius. Kami pasangan sah." Sandy masih terus berusaha membela diri. Namun sepertinya sia-sia. Dua orang polisi langsung menyeret pergelangan tangan Sandy dan memasukannya ke mobil patroli. Setelah itu giliran ku yang di giring ke mobil patroli itu. Beruntung karena mobil patroli itu bukan mobil dengan bak terbuka. Sehingga kami tidak terlalu malu saat berpapasan dengan pengendara yang lainnya.
"Pak jangan pegang-pengang istri saya pak. Saya yang suaminya saja belum berani megang."Seloroh Sandy saat melihat salah satu polisi itu memegang pergelangan tanganku.
Aku kembali berdecak sebal mendengar ketengilan Sandy.
"Diam kamu! anak kecil tahu apa soal pegang-pegang." Gayanya kayak gitu masih nyangkal kalau bukan pasangan m***m. Sahut polisi yang barusan menggiring ku tadi. Lalu kami langsung di bawa ke kantor polisi.