Sesampainya di kantor polisi kami masih saja terus di interogasi layaknya pasangan m***m yang harus mendapat binaan.
"Pak, ini foto pernikahan kami kalau bapak tidak percaya bahwa kami adalah pasangan halal." Akhirnya Sandy menunjukan foto pernikahan kami berdua sebagai bukti. Lantas otak ku lalu traveling, dari mana Sandy mendapatkan foto pernikahan itu sementara kami menikah bukan karena keinginan sendiri melainkan salah sangka.
Ah sudahlah, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar kami bisa bebas tanpa syarat dari kantor polisi ini. Soal foto itu nanti aku tanyakan setelah kami ter bebas.
Polisi yang ada di hadapan Sandy langsung menerima ponsel Sandy lalu mengamati wajah kami yang ada di dalam foto dan aslinya.
"Kenapa tidak di tunjukan dari tadi?" tanya polisi itu kepada Sandy. Sepertinya polisi itu sudah percaya bahwa kami adalah pasangan halal tidak seperti mereka yang tangah duduk di kursi berjejer, mereka pasti pasangan kumpul banteng atau ketangkep di hotel.
"Baru keinget ada fotonya pak." Jawab Sandy sambil nyengir kuda.
"Ya sudah. Kalian tanda tangan di sini." Polisi itu menyerahkan kertas kepada kami dan menyuruh kami agar kami menanda tangani nya. Dengan senang hati.
Akhirnya kami menghirup udara segar. Kami berdua sedang berjalan ke halaman sambil bergandengan tangan. Saat kaki kami sudah melewati portal di halaman, tiba-tiba saja Sandy teringat akan sesuatu.
"Ay, bagaimana kita akan pulang?" tanya Sandy kebingungan.
"Maksud aa?" aku tak kalah bingungnya dengan pertanyaan Sandy.
"Mobil kita kan masih di jalan dan belum di perbaiki." Jawab Sandy.
"O, iya." Aku bergumam.
"Kita nginap di hotel kamu mau kan?" tanya Sandy.
"Nginap?" aku sedikit ragu dengan keputusan ini. Namun mau bagaimana lagi. Kami tidak bisa pulang karena mobilnya belum di perbaiki.
"Kita butuh istirahat ay." Ucap Sandy kemudian. Dan akhirnya aku mengangguk setuju. Sandy segera menuntunku menuju hotel terdekat. Dan sepertinya Sandy sudah tahu tempatnya ada di mana.
Hanya berjarak sekitar seratus meter dari kantor polisi, kami telah memasuki halaman hotel. Sandy segera memesan kamar untuk kami bermalam malam ini. Setelah membayar, kami langsung di antar ke kamar yang sudah di tetapkan.
"Kamu mau mandi atau tidak?" tanya Sandy kepadaku saat aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas kasur sesampainya kami di dalam kamar.
"Dingin jawabku sambil menoleh menatap Sandy yang masih berdiri di samping tempat tidur.
"Nanti aku yang akan hangatin kamu." Jawab Sandy sambil menaik turunkan kedua alisnya. Kedua sudut bibirnya tampak di tarik ke atas.
"Dasar tengil." Decak ku sambil bangkit lalu duduk. Jujur bulu kuduk ku langsung meremang saat Sandy mengatakan hal itu. Aku langsung menundukan wajahku karena gugup.
"Ay," tiba-tiba saja Sandy sudah berada di hadapanku. Ia mengangkat wajahku menggunakan telunjuknya.
"Iya a," jawabku sambil menatap lekat kedua bola mata Sandy yang meneduhkan itu. Pancaran matanya begitu sejuk seperti titik embun di pagi hari.
"Pejamkan matamu." Titah Sandy
"Untuk?"
"Memberimu hadiah."
Aku langsung menurut tanpa bertanya terlebih dahulu hadiah apa yang akan Sandy berikan untuk ku. Aku langsung memejamkan mata.
Cup. Bibirku terasa seperti di cubit oleh benda kenyal dan hangat. Sontak aku langsung membuka kedua bola mataku dan menatap Sandy dari jarak yang begitu dekat. Sudah tidak dapat aku bayangkan semerah apa pipi ku saat ini. Aku pun langsung menunduk kembali. Kali ini rasa gugup itu berubah menjadi debaran yang belum pernah aku rasakan selama ini.
"Mau lagi?" tanya Sandy. Aku menggeleng malu. Aku langsung berusaha menghindar dan beranjak meninggalkan Sandy, namun langkahku di cegah. Sandy mencekal pergelangan tanganku dengan lembut lalu mengarahkan langkahku mendekat ke atas tempat tidur.
"Ay, ijin kan aku meminta hak ku sebagai suami. Aku janji akan hati-hati." Ucap nya sambil mendudukkan ku di atas tempat tidur.
Sungguh otak ku langsung traveling ke mana-mana. Bulu kuduk ku langsung meremang. Aku ini bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Tapi aku adalah gadis remaja yang sedang beranjak dewasa. Aku tahu arah ucapan Sandy barusan. Dan kini nafasku sudah naik turun tidak beraturan. Membayangkan melakukan hubungan suami istri itu sangat ngeri. Rasa sakit saat selaput dara di robek paksa membuat ulu hati ku nyeri.
"Kenapa diam? tidak mau apa belum siap? mau tidak mau atau siap belum siap kamu harus memberikannya kepada suamimu karena itu adalah kewajiban mu."
Ah, ucapan Sandy benar-benar menyudutkan ku. Bukan nya aku tidak mau atau tidak siap. Aku benar-benar takut dengan rasa sakit itu.
"Aku takut." Lirihku.
"Jangan takut. Aku akan hati-hati agar tidak menyakitimu." Sandy berusaha menyakinkan aku.
Yang namanya luka ya tetap saja sakit aa. Gimana sih.
Dan akhirnya aku mengangguk setuju. Secara perlahan Sandy merebahkan ku di atas pembaringan secara lembut. Ia mulai melakukan pemanasan dengan menyentuh area sensitif di tubuhku. Sungguh aku merasakan sensasi yang sangat berbeda yang belum pernah aku rasakan selama ini. Aku benar-benar tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
"Ay, ternyata aku selemah ini?" ucapnya tanpa semangat saat ia belum berhasil menerobos karang milik ku.
"Di coba lagi aa," ucapku sambil menahan rasa sakit. Belum tembus saja rasanya sudah sesakit ini. Lalu bagaimana jika sudah tembus, pasti melebihi ini sakitnya.
"Maafkan aku ay, aku belum bisa menjadi lelaki sejati untukmu." Ucapnya penuh sesal. Ia bangkit dan menyudahi aktivitasnya karena takut akan menyakitiku.
"Nanti juga akan bisa." Aku mencoba menghiburnya. Dan akhirnya Sandy kini memberikan senyumannya kepadaku setelah beberapa menit menampakan wajahnya yang di tekuk.
Sandy menarik ku ke dalam pelukannya. Lalu mengarahkan kepalaku agar berbaring berbantal kan lengan nya. Kini kami berbaring saling berhadapan. Wajah kami, tubuh kami kini saling bersentuhan tanpa sekat. Hangatnya hembusan nafas Sandy begitu terasa saat menyapu sebagian rambutku. Sandy melingkarkan tangannya di pinggang ramping ku. Walaupun aku merasa sedikit risih, namun mulai sekarang aku harus mulai terbiasa dengan semua perlakuannya. Karena status kami sekarang adalah suami istri, jadi apa pun yang kami lakukan adalah sah.