Bab 6 Mawar Putih

1024 Kata
Pemandangan senja memang sangat indah dan menjadi inspirasi saat melukis. Yura tidak teralu suka berlama-lama di dalam ruangan lebih baik dia pergi ke pantai untuk menenangkan hati dan pikirannya. "Udahan dulu ra." Cana datang membawakan lemon tea untuk Yura "Makasih na." "Iya sama-sama, ra ntar malam kita ke restoran seafood ya?" "Dimana?" Tanya Yura sembari meminum lemon tea buatan Cana. "Di restoran deket dari villa ini kok." "Oke." Malam itu mereka berdua pergi ke restoran seafood dekat pantai yang memang tidak ramai pengunjung. "Kamu mau makan apa ra?" "Apa aja na, tapi minumannya rasa jeruk." "Oke." "Aku mau ke toilet sebentar." Yura yang kebelet buang air kecil berlari menuju toilet. Setelah itu barulah dia mencuci tangannya ke wastafel. Ia melihat seorang gadis belasteran Korea-Indonesia datang dan celananya di belakang terlihat adanya noda darah, untungnya di toilet hanya mereka berdua. "Duh, gak bawa pembalut lagi." Yura yang mendengarnya datang menghampiri gadis itu dan menyodorkannya. "Ini aku ada pembalut." "Makasih ya." "Iya sama-sama." "Nama kakak siapa?" Baru saja Yura melangkah lalu berbalik hadap ke arah gadis. "Namaku Ayura." Tak lupa Yura tersenyum. "Makasih kak Yura, gue Jeana." "Salam kenal ya, yaudah kamu pake dulu pembalutnya." "Sampai bertemu kembali." Jeana pun masuk ke dalam mengganti pembalutnya. "Lama tau!" Gerutu Cana. "Tadi ada cewe tembus makanya aku kasih pembalut." "Ouh, eh disini ada Andra lho." "Terus dia dimana?" Cana menunjuk meja makan yang di balkon yang tak jauh tempatnya makan dimana banyak orang yang memfoto Andra tapi mereka tidak bisa menghampiri karena terhalang jendela kaca dan pintunya dikunci. Dari kejauhan sana Jeana keluar dari toilet sambil berlarian dan Yura melihatnya lalu penjaga membukakan pintu. Yura penasaran tentang mereka berdua dan saat semua orang menjauh dari jendela. Yura melihat Jeana dan Andra sedang makan berdua. Jangan ditanya hati Yura seperti apa sekarang?sudah jelas sakit. "Kamu gak apa-apa kan?" "Gak apa-apa gimana?" "Ya.. kalau gak kuat kita pulang aja." "Gak usah, aku juga penasaran tau ada hubungan apa Jeana sama Andra." "kamu tau perempuan itu?" "Dia yang aku temui di toilet." Cana terkejut "Kamu gak cemburu gitu?" Yura menatap Cana sendu. "Ayo pulang! dibanding hati kamu sakit." Yura melirik sebentar ke arah balkon dan Andra juga melihatnya. Dan saat itu juga Cana menarik tangan Yura keluar dari restoran. Andra pun bangkit dari tempat duduknya hal itu mengundang tanda tanya bagi Jeana. "Kenapa?" "Aku balik duluan ya." Andra melangkah keluar meninggalkan Jeana yang memanggil namanya tetapi Andra sudah pergi duluan. # Dari tadi Yura hanya diam, fokus menyetir memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang. Di tengah perjalanan yang sepi ia hampir menabrak anak kecil yang sedang menyeberang. "Astagfirullah, Yura!" "Maaf...maaf aku tadi ngelamun." "Ganti posisi aja ya, aku gak mau kamu nyetir dalam kondisi banyak pikiran." Yura pun memberhentikan mobilnya di tepi jalan dan mereka berdua bertukar tempat. "Aku tau kamu mikirin yang tadi di restoran, padahal aku tadi udah nawarin buat nyetir eh kamunya ngeyel." "Ya maaf, aku teralu bawa perasaan aja gitu." Yura menunduk merasa bersalah dengan tingkahnya, dia harusnya tidak seperti itu tapi mau gimana lagi Yura sudah menganggap lelaki itu lebih dari seorang idola. "Gak biasanya Ayura Kejuana kek begini." Cana terkekeh melihat sahabatnya ini yang dulu ia kenal tidak pernah membuka hatinya pada lelaki apalagi sampai patah hati seperti ini. "Gatau na, aku kek gak suka liat Andra deket cewe lain mau marah aja terus mau nangis aja gitu." Cana tertawa mendengar jawaban Yura yang begitu menyukai Andra. "Kalau emang dia bukan jodoh, yaudah cari yang lain." Yura menatap tajam Cana yang sedang menyetir. "Gak ada yang bisa gantiin posisi Andra di dalam hatiku!" Cana terkejut dengan tingkah gadis didekatnya ini yang sepertinya melawan takdir. "Gak abis pikir aku sama jalan pikirmu." "Ya namanya juga fans walaupun si Andra itu agak nyebelin sih tapi dia itu..." "Ngangenin, yakan?" "Iyalah ngangenin dan sering banget bikin di ghosting." "Hahahaha sering dighosting." Cana tertawa dan mereka pun sampai ke rumah Yura. Saat Yura ingin membuka pintu dilihatnya buket mawar putih dan terselip surat didalamnya. "Bunga dari siapa tuh?" Cana penasaran tapi Yura malah membuang bunga itu ke tempat sampah. "Eh kenapa dibuang?" Cana tak tau siapa saja yang pernah bertemu dengan Yura sampai membuat Yura kepikiran. "Kalau kamu mau ambil aja, aku gak mau bunga pemberian dari laki-laki biadap." Cana terkejut dengan apa yang terjadi kepada Yura yang seperti orang kesal. Di perjalanan pulang mereka berdua tertawa dan sekarang gadis itu memendam amarah sambil meneteskan air mata. "Tenang dulu Yura, jangan kek begini." Cana mengelus pundak Yura pelan agar gadis itu berhenti menangis dan mengatai laki-laki yang Cana sendiri tidak tau namanya. "Gimana aku bisa tenang, dia kembali lagi di kehidupanku." "Cerita dulu deh, aku gatau siapa dia yang kamu maksud." "Dia Deren yang dulu hampir mengambil keperawananku saat aku masih kelas 3 SMA, kupikir dia laki-laki yang baik tapi aku salah dia adalah lelaki biadab yang pernah aku temui dan dia kembali lalu mengatakan cintanya lagi kepadaku." Ada jeda dalam ucapannya "Dia pikir aku akan luluh dengan kata-kata manis tapi kenyataannya itu pahit, terus dia yang kasih bunga mawar itu lalu menulis surat." Cana terdiam dan membaca isi surat itu yang memang isinya dengan perkataan manis yang akan membuat kaum hawa baper apalagi Cana sampai tersenyum walau surat bukan darinya melainkan dari sahabatnya. "Dasar buaya." "Aku udah tau kok dari dulu emang dia suka pake kata-kata manis untuk memikat cewe-cewe di sekolah agar dekat dengannya tapi aku yang kena sasarannya dan sampai sekarang aku gatau siapa yang selamatin aku dari laki-laki itu." "Kalau kamu ketemu dia, apa yang kamu akan lakukan?" "Aku akan menuruti kemauan dia." "Waw." "Aku masih menunggu lelaki itu, tapi aku tidak bisa menemukannya dan aku sudah suruh orang yang memfoto postur tubuh laki-laki yang sama postur tubuhnya dengan sketsa yang aku gambar, walaupun saat itu aku masih setengah sadar tapi aku inget bentuk tubuhnya." Yura memberikan kertas bergambar lelaki yang sedang memegang tongkat bisbol. Cana memperhatikan sketsa. "Dari postur tubuhnya mirip anak sulung Adipati, lupa aku namanya siapa?" "Arga namanya, rada mirip sih tapi itu bukan dia." Yura menolak kalau itu anaknya Adipati memang dari posturnya hampir mirip tapi ada yang membedakannya. Apalagi tingginya berbeda dan gaya rambutnya juga berbeda.Kalaupun itu benar dia akan memaafkan Adipati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN