"Enak banget ya nonton TV terus ninggalin gue di Restoran." Celoteh Jeana yang baru pulang dari restoran dan melihat Andra yang asik menonton kartun Tom and Jerry.
"Kartun kesayanganku mulai ya makanya aku cepat pulang." Bohongnya padahal Andra mencari Yura tapi saat keluar dari Restoran gadis itu sudah pergi.
"Lu nyebelin banget sih pengen dicabik-cabik mukak lo yang nyebelin itu."
"Sini yok gelud." Andra menampilkan wajah mengejek hal itu membuat Jeana kesal dan melempar tasnya tapi tidak kena karena Andra berhasil menangkapnya.
"Gak ke..na." Baru saja Andra mengatakannya. Jeana melayangkan sepatu mengenai kepala Andra.
"Rasain itu sepatu melayang."
"Akh...sakit woy."
"Emang gue pikirin!" Jeana berlari menuju kamarnya meninggalkan Andra yang merintih kesakitan.
"Besar amat itu pentol di pala lu hahaha." Tawa Arga melihat adiknya yang baru selesai gelud bersama Jeana.
"Sialan."
"Makanya jangan main-main sama nak taekwondo kan tau rasa lo." Setelah mengatakannya Jeana pun masuk kamar untuk beristirahat.
"Kuat banget itu anak heran deh, mungkin kalau cowok yang deketin dia udah takut duluan."
"Gak apa-apa sih toh juga itu anak gak pernah deket sama cowo sekalinya deket, eh cowonya duluan kabur."
"Iyalah kena baku hantam."
Mereka berdua tertawa membicarakan Jeana dari jaman mereka SD dan mereka tidak tau saja bahwa Jeana mendengarnya. Gadis itu pun keluar dari kamar sambil mendobrak pintu secara keras.
"Eh kuping gue panas nih gara-gara lo berdua, pengen gue plekes satu-satu leher lo pada."
Arga dan Andra pun berlari menuju kamar masing-masing karena takut dengan kemarahan Jeana apalagi kalau dia sedang tidur nyenyak di ganggu anak itu akan marah.
"Kabur kan lu pada, hoam."
Setelah itu Jeana balik lagi ke kamar melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh kedua sahabatnya itu.
#
Malam begitu indah dengan penampakan langit yang begitu bercahaya oleh bulan dan bintang yang sangat bersinar terang.
"Bulan dan bintang itu saling melengkapi di setiap malam karena mereka sudah ditakdirkan untuk bersama." Suara Cana membuat Yura menoleh lalu tersenyum manis.
"Dan orang yang benar-benar saling mencintai itu bisa saja menjadi takdir tapi kita hanya manusia biasa yang tidak bisa merubah takdir."
"Cakep, nah gitu kek senyum."
"Iya nih udah cape aku pendem semuanya."
"Nah bagus tuh, yaudah sekarang kamu tidur." Yura mengangguk dan Cana pun keluar dari kamar Yura.
Keesokan paginya mereka berkeja seperti biasanya, tak hanya itu banyak sekali pengunjung di Gallery Rose melihat lukisan yang membuat semua tertarik untuk membelinya.
"Enaknya lukis apa ya?" Yura maish bingung apa yang akan ia lukis.
"Lukis aku saja." Suara itu cukup familiar, ya siapa lagi kalau bukan Andra. Lelaki yang selalu mengisi hatinya.
"Lukis Dimas Garendy aja deh." Andra menatap tajam ke arah Yura.
Dimas adalah penyanyi terkenal sama seperti Andra dan dia adalah saingannya.
"Kenapa?marah?" Yura terkekeh melihat reaksi Andra yang tak suka saat mendengar nama Dimas yang menjadi saingannya itu.
"Kalau kamu mau gambar lelaki itu, ya silahkan." Lagi-lagi Yura terkekeh melihat tingkah laku Andra yang masih marah.
Andra duduk di sofa memperhatikan Yura yang sedang melukis, yang Andra pikirkan adalah Yura melukis Dimas tidak memperdulikannya yang sedang marah. Padahal Yura melukis dirinya yang sedang memandangi Yura.
"Udahan dong liatinnya." Dari tadi ngeliatin mulu dah tau aku orangnya suka salting. Gerutu Yura dalam hatinya.
"Buat apa coba aku liatin kamu." Sudah jelas bahwa Andra dari tadi ngeliatin Yura, masih ada rasa kesal. Mendengar jawaban dari Andra membuat Yura malu. Gaboleh kegeeran makanya. Batin Yura.
"Nih, lukisan aku udah jadi." Yura memperlihatkan lukisannya kepada Andra tetapi lelaki itu malah menolaknya.
"Aku tidak ingin melihatnya."
"Aku udah cape ngelukis kamu terus gak mau liat." Yura tertawa kecil melihat tingkah Andra yang kekanak-kanakan dan lelaki itu bangun dari tempat duduknya mendekati Yura.
"Oh, ternyata yang kamu lukis itu adalah aku." Andra terlihat biasa saja tapi dalam hatinya ia merasa senang, dia pikir Yura akan tetap melukis Farel ternyata tebakannya salah.
"Iya, liat muka kamu yang marah bikin aku ketawa."
"Gini amat punya muka yang meme able."
"Tapi beneran aku ketawa aja gitu."
"Ketawa aja kamu, gak tau apa tadi aku marah pas kamu sebut nama lelaki itu."
"Ya maaf." Yura tau dia salah tapi ya mau gimana lagi dia aja liat Andra marah itu buat moodnya baik lagi.
"Sebagai permintaan maaf kamu, traktir aku makan." Yura kaget dan jangan di tanya hati Yura seperti apa saat ini. Eh bentar kok aku yang traktir sih. Batin Yura.
"Biar aku maafin traktir makan, toh juga kamu belum makan siang kan?"
"Iya." Mereka berdua pun pergi menuju Cafe yang tak jauh dari Gallery Rose. Yura tidak mau protes, toh juga ini salahnya dia harusnya dia tidak membuat Andra marah.
"Aku udah pesenin ya, tinggal ditunggu aja."
"Oke."
Mereka tidak tau saja kalau banyak kamera sekarang yang memfoto mereka berdua. Yura saja baru ingat bahwa Andra tidak menyamar.
"Kenapa?"
"Kita cari tempat lain aja yuk!"
"Makanannya udah di pesen."
"Tapi..."
"Udah kamu tenang aja, gak akan ketahuan kok." Andra berusaha menenangkan Yura yang seperti orang takut ketahuan selingkuh.
"Tenang kamu bilang, ntar kalau orang ngeliat aku sama kamu gimana? Dan aku gak mau terlibat sama kamu." Munculnya rasa takut yang membuat Yura terdiam dan menunduk.
"Eh udah santai aja." Ini makin lama Yura semakin takut, padahal dia sudah biasa kalau ada kamera tapi di sini bukan satu kamera tapi banyak orang yang memperlihatkan tatapan tak suka.
"Semua orang yang ada disini, jangan ada yang menyebarkan foto saya bersama seorang gadis ini kalau ada lihat saja apa yang akan saya lakukan!" Suara Andra yang besar membuat para pelanggan berhenti memfoto mereka dan menghapusnya karena mereka takut sesuatu terjadi kepada mereka.
"Dan semua yang kalian pesan itu saya yang bayar." Semua pelanggan pun merasa senang.
"Maaf ya harusnya aku tadi cari tempat lain aja." Yura gatau haru berbuat apa sekarang, harusnya tadi dia tidak takut padahal dia bilang sama dirinya sendiri kalau ketahuan dia akan klarifikasi.
"Udah gak apa-apa."
"Terus soal traktir aku cuman bercanda, semuanya aku yang bayar kalau kamu yang traktir mau taruh dimana muka ganteng Chandratama."
Yura pun terkekeh tapi emang bener sih Andra memang ganteng, orang yang selalu membuatnya tersenyum walaupun anak ini emang dari awal nyebelin dan usianya lebih muda dari pada dia tapi yang namanya cinta itu tidak mandang umur.
Suara vocalnya yang bagus membuat orang menyukainya setiap lagunya dan lelaki itu juga suka cover lagu milik penyanyi ternama.