Bab 16 Mansion Andra

1051 Kata
Yura udah wanti-wanti aja kalau dia ketemu keluarga Andra nantinya di sana, apalagi disana ada kakaknya Andra yang pastinya Yura pengen liat. Kalau Andra aja gantengnya begini apalagi kakaknya. Batin Yura, yang berbicara sendiri dan tersenyum seperti orang gila. Tak sengaja Andra memperhatikannya, dia gatau apa yang membuat Yura tersenyum sampai segitunya. Kalau aja Andra tau pasti dia sama perasaannya seperti Yura. Mereka berdua pun sampai dan Andra pun mengucapkan salam walaupun di dalam sepi tidak ada orang lalu Andra menyuruh Yura untuk pergi ke kamarnya. Yura pun membersihkan dirinya terlebih dahulu baru dia keluar dari kamar, apalagi mansion di sini sangat luas tapi tempatnya cukup jauh dari keramaian dan tentunya sangat nyaman. # Yura pun keluar danmelihat Andra yang sibuk di dapur menyiapkan makanan dan minuman. "Boleh aku bantu?" "Boleh." Yura pun membawa minuman itu ke meja makan dan menghampiri Andra yang masih memasak. Andra itu udah jago nyanyi juga jago masak, kurangnya gak bisa dimiliki. Batin Yura melihat Andra yang begitu tampan dan rupawan padahal sudah jelas lelaki itu tidak bisa ia gapai.Itu yang Yura pikirkan. "Aroma masakannya enak banget." Suara gadis dari ruang tengah membuat Andra dan Yura menoleh, tentu saja Yura kaget kalau gadis itu adalah Jeana. "Kak Yura!" Pekiknya dan memeluk Yura dan tentunya mengundang tanda tanya besar bagi Andra apalagi melihat kedekatan mereka berdua yang sepertinya sudah lama. "Kakak kok bisa ada disini?" Nah kalau ditanya kek gini Yura bingung mau jawabnya kek gimana. "I..itu aku." Yura gatau mau jawab apa dan Andra pun memotongnya. "Aku yang suruh dia tinggal disini." Jeana kaget apalagi Andra pertama kali membawa perempuan datang ke mansion selain dirinya dan gadis itu adalah kenalannya. "Oh, kalian udah lama deket ya?" "Gak kok kita cuman rekan kerja aja, aku juga gak lama tinggal disini." Yura gamau pembicaran tentang kedatangan dirinya yang berada di sini ini makin panjang. "Kalau lama gak apa-apa yang penting ada temen gue cewe disini." Jeana tersenyum apalagi ini pertama kalinya dia menemukan kenalan di Indonesia, padahal dari dulu dia gak ada niatan buat berteman dengan siapapun kecuali Andra dan Arga tapi karena sekarang ada Yura jadinya dia tidak sendiri perempuan di sini. "Yaudah makan dulu, ntar keburu dingin gak enak." "Oke." Jawab mereka berdua serempak. "Btw kak Arga mana?" "Paling lagi main playstation di ruang game." Andra pun keruang game dan benar saja kalau kakaknya ada di sana lagi asik bermain playstation sembari memakan cemilan sampai makanan itu berserakan dimana-mana. "Astaghfirullah, ruangan game yang selama ini aku gak pernah masukin sekarang jadi kapal pecah." "Sorry bro, ntar gue bersihin." Andra menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakaknya yang benar-benar seenak jidat memberantakan ini semua. "Udah nanti aku yang bereskan kalau kakak makin berantakan dan itu yang lain udah pada nunggu di ruang makan." "Emang ada siapa?" "Temen aku, cepet aja napa elah atau aku matiin nih." "Oke." Arga pun berhenti memainkan playstation lalu mematikannya dan bergegas menuju ruang makan bersama Andra. Yura? Batin Arga. Kaget melihat kedatangan Yura tak hanya itu dia pun melihat kedekatan Jeana dengan Yura. "Kenapa diam?" Tanya Andra memperhatikan arah mata kakaknya yang melihat Yura begitu lekat. Gak mungkin kan dia suka sama Yura?. Gerutu Andra dalam hatinya tak terima kalau kakaknya itu menyukai gadis pujaan hatinya. "N...nggak ada, cuman kaget aja pas lo pertama kali bawa cewe selain Jeana datang ke mansion." Yura pun sadar dengan suara ini mirip dengan lelaki yang sama persis seperti suara lelaki bertopeng hitam. "Dia temanku dan dia juga suka melukis." "Oh ini cewe yang lo carik se..." Baru aja Arga ingin mengatakannya tapi Andra langsung membekap mulutnya agar Arga tidak memberitahukannya dan barulah saat itu Andra melepaskannya. "Tangan lo asin huekk..." "Eh maaf bang tadi abis megang garam, lupa cuci tangan tadi." Andra pun beranjak dari tempat duduknya menuju wastafel membersihkan tangannya. Jeana tertawa melihat Arga yang tidak ada hentinya membersihkan mulutnya yang terkena garam. "Udah-udah makan dulu baru lanjut ngobrol." Mereka pun memakan masakan yang di masak oleh Andra dan emang benar kalau masakannya itu enak banget sampe Yura gak tahan mau nambah. "Itukan benar, Andra kalau masak itu selalu enak, ya gak kak?" Jeana memuji masakan Andra yang sangat enak. "Iya." "Besok-besok buatin nasi goreng, ya Andra?" "Buat sendiri." "Buat aja Andra, aku juga pengen nyobain masakan nasi goreng buatan kamu." Kali ini giliran Yura yang pengen dan Andra setuju. "Giliran kak Yura malah setuju." Jeana kesal tapi itu hanya candaan toh dia tau kalau Yura itu cuman teman rekan kerja sahabatnya jadi mana mungkin dia akan mengambil hatinya Andra. Jeana mencoba positif thinking tapi kalau itu benar dia ikhlas menerimanya asalkan dia bisa berteman baik dengan Andra. "Bukan gitu, tapi kamu tiap hari minta buatin ini itu eh pas aku mau ajarin eh kamunya gamau malah pergi gak jelas dan pulang dengan keringat." "Ya namanya juga anak perempuan yang jago bela diri pasti seneng banget kalau pergi keluar dan menghajar para preman pasar." Sekarang giliran Arga yang bersuara dan benar saja saat Arga mengatakannya kakinya langsung di injak oleh Jeana. "Sakit woy." "Makanya jangan sok tau." "Udah-udah lanjutin makannya." Mereka pun melahap makanan itu sampai habis. Andra pun senang karena makanannya itu habis. Setelah makan pun mereka pergi ke kamar masing-masing menyibukkan diri karena mereka betah berlama-lama di mansion apalagi ada wifi makanya mereka nyaman. "Aku boleh melukis di atas?" "Oke silahkan tapi jangan sampe berantakan." Yura pun mengacungkan jari jempolnya dan bergegas menuju lantai atas tak lupa dia membawa alat lukisnya. Karena menurutnya di atas sana lebih mendukung apalagi pemandangannya yang indah dengan pepohonan yang menjulang tinggi tak hanya itu kicauan burung yang merdu. Yura pun melukis dengan senang hati tanpa Yuda sadari kalau ada seseorang yang memperhatikannya lalu memfotonya dan setelah itu pergi. Andra sibuk menyiapkan minuman dan biskuit matahari untuk ia bawakan ke atas karena dia tau Yura tidak mungkin tidak ngemil. "Sibuk banget keknya." "Nggak kok tinggal buat pohonnya aja." Andra tersenyum manis saat melihat lukisan itu apalagi yang melukisnya adalah pujaan hatinya dan tidak hanya lukisannya saja di perhatikan tapi Yura juga dia perhatikan. "Cantik." Tiba-tiba saja Andra sepontan mengatakannya mana lagi dia saling berhadapan dengan Yura dan tentunya gadis di depannya terkejut. "Hah?" "Eh ini lukisannya yang cantik, jangan kegeeran." Setelah itu Andra pergi karena merasa salting apalagi di lihat begitu sama Yura. Sementara Yura malah malu karena dia pikir lelaki itu bilang dirinya cantik tapi dia salah sangka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN