Bab 15 Pertemuan Tak Terduga

1053 Kata
"Woy, bangun!" Kepalan tangan mendarat di pipi mulus Andra. Tentu saja Andra langsung terbangun dan melihat ke arah Jeana yang masih setengah sadar. "Yura!" Panggil Andra tentunya Jeana bingung. "Yura siapa lagi, ngigo kali ya lo." Andra pun tersadar kalau di depannya bukan Yura dan itu ternyata itu hanyalah mimpi. "Lama banget bangunnya gak biasanya lho Chandratama telat bangun apalagi mataharinya udah mau terbit." "Astaghfirullah." Andra pun berlari menuju musholla untuk melakukan ibadah sholat subuh, sebelum sholat dia berwudhu lebih dahulu Setelah sholat Andra bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan hari ini dia akan pergi mencari lelaki bertopeng hitam itu dan membongkar siapa lelaki tersebut. Andra pun melewati SMA tempat sekolahnya dulu dan melihat ke arah taman yang masih berbekas petasan dan cafe yang hangus terbakar akibat lelaki psikopat itu. Andra pun tak sengaja melewati rumah tantenya dan benar saja saat Andra memberhentikan mobilnya. Ada seorang lelaki memakai masker dan memakai topi hitam. Membawa topeng hitam lalu masuk ke dalam mobil, bagaimana Andra tidak curiga kalau penculikan ini ada sangkut pautnya dengan keluarganya. "Aku benar-benar tidak mengerti, sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dan untuk apa mereka berkerjasama dengan penculik." Mau tidak mau Andra harus mengikuti mobil itu pergi dan mungkin saja dia mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Yura. Mobil sedan itu pun berhenti di sebuah perkampungan tetapi masih berada di daerah perkotaan. Lelaki itu pun keluar dari mobil menuju rumah sederhana, Andra memperhatikannya di dalam mobil. # Tok..tok... Suara ketukan pintu terdengar, Yura yang sedang masak langsung mematikan kompor dan bergegas menuju keluar, dia pikir kalau itu sekretarisnya tapi saat Yura membuka pintu. Betapa terkejutnya Yura saat melihat lelaki itu datang dan menarik tangan Yura untuk masuk ke dalam mobil. Andra tidak mungkin diam saja saat Yura diperlakukan seperti itu dan Andra pun keluar dan menghajar lelaki bertopeng hitam itu lalu menyuruh Yura untuk masuk ke dalam rumahnya. Lelaki bertopeng hitam itupun kabur walaupun pukulan itu tak seberapa tapi lelaki itu tetap kabur iya takut ketahuan siapa dirinya yang sebenarnya. Andra pun menghampiri Yura sambil tersenyum manis yang disenyumin malah diam kek patung ya mau gimana lagi hati Yura itu tetap berdetak aja pas liatin Andra. "Kamu..gak... apa-apa kan?" Canggung iya itu sudah pasti apalagi udah gak lama gak ketemu. "Aku gak apa-apa yang aku khawatirkan itu kamu, terus itu di dahimu itu kenapa?" "Oh ini cuman ke gores doang." "Walaupun cuman ke gores doang tapi itu rasanya sakit banget." Andra pun memperhatikan dahi Yura yang lukanya yang menurutnya cukup parah. Rasanya mau pingsan aja. Batin Yura. Yang dari tadi ngeliatin Andra dan peduli banget pas Yura mau ngambil air tapi dia malah Andra yang ngambil. Harusnya dia yang ngambil karena dia tuan rumah bukan sebaliknya. "Sekarang udah enakan?" "Udah agak mendingan." "Yakin?" "Iya." Andra lega mendengarnya dan juga dia masih kesal dengan lelaki bertopeng hitam padahal dia udah peringatkan kepadanya tapi lihat yang sudah ia lakukan kepada pujaan hatinya. Andra tidak menerima itu semua. "Lebih baik kamu tinggal di mansion milikku saja." Yura yang sedang minum langsung tersedak mendengar perkataan Andra. "Hati-hati makanya kalau minum." "Kamu nawarin aku ke mansion milik kamu?" Andra mengangguk, Yura tak percaya kalau Andra menawarkannya untuk tinggal bersamanya. "Aku gak mau kalau lelaki itu akan kembali lagi kesini untuk menculikmu lagi dan lebih baik kamu tinggal di mansion." "Tinggal berdua gitu?" "Nggaklah di sana ada sahabatku dan kakak aku jadi kamu gak sendirian di sana." Yura pikir tinggal berdua tapi mikirlah ya kalau tinggal berdua yang ada jadi bahan perbincangan apalagi Yura itu adalah fans yang beruntung dan mungkin di luar sana banyak sekali yang ingin merebut posisinya saat ini. "Ouh, oke." Andra pun tersenyum tipis dan Yura hanya bisa cengengesan itupun karena Andra. Yura pun menyiapkan barang-barang yang harus ia bawa dan Andra yang membawanya ke bagasi mobil. Setelah semuanya dibawa Andra pun melajukan mobilnya dengan perasaan tenang karena dia merasa bahagia saat ia dipertemukan kembali oleh Yura, gadis yang sudah lama mengisi hatinya. "Makasih ya, padahal aku banyak ngerepotin kamu." Yura gak enakan soalnya, dia banyak banget ngerepotin idolanya. Emang beban. batin Yura dulunya Yura yang semangat ngelakuin apapun idolanya itu tapi sekarang lelaki itu yang mau melakukan apapun yang Yura mau. "Gak apa-apa, santai aja." Andra tidak ada hentinya tersenyum seperti seorang gila yang entah kemana pikirannya saat ini dan curi-curi pandang saat Yura sedang memperhatikan jalan raya yang begitu ramai. "Itu kamu bawa apa?" Tanya Andra menunjuk bekal itu semua dia lakukan untuk membuka percakapan dia tidak mau hening saja dan hanya suara musik yang terdengar. "Oh itu tadi aku masak sayur sop, kamu mau?" "Boleh, kamu yang suapin, ya?" Ini Yura gak salah denger kan? Ini hatinya masih jedag jedug gak karuan. "Iya suapin, aku lagi nyetir mana bisa." "Oke." Ini rasanya Yura mau nge-fly aja dan benar saja Yura menyuapkan makanan itu ke dalam mulut Andra. Dari kaca jendela yang tidak di tutup sepenuhnya banyak yang memperlihatkan kemesraan mereka berdua. "Pak, liat deh mesra banget mereka." Kata-kata mak emak yang dibonceng sama suaminya. "Cocok banget sih." Kata cewe yang meluk temen cewenya alhasil membuat temannya marah dan menahan ras malu karena menjadi pusat perhatian apalagi di sana ada fans Andra tapi dia tida memfoto mereka berdua. Bisa berabe kalau udah ke sebar. "Tutup jendelanya Andra!" "Kenapa?" "Malu diliatin banyak orang." Mau taruh dimana muka Yura yang kek ke kentang ini apalagi ketahuan nyuapin anak yang terkenal yang fansnya seumat bisa-bisa Yura yang di hate. Andra tertawa melihat tingkah Yura yang ketakutan tapi saat dia takut wajahnya sangat menggemaskan. Entah keberanian dari mana Andra mengelus puncak kepala Yura dan tentunya hati Yura gak aman apalagi Andra tau dan sampai hatinya sekarang berdetak kencang bisa saja dia diketawain. " Tenang mereka tidak akan menyebarkannya kalau pun mereka sebar berarti udah siap untuk diterror." "Eh jangan dong, kasian mereka." "Itu juga termasuk masalah." "Kalau sampai fotomu tersebar lelaki itu tidak akan diam untuk bisa menculikmu lagi, emang kamu mau?" "Nggaklah, apalagi di ruangan gelap itu sudah membuatku merinding." Saat berada di ruangan bawah tanah itu sudah membuat Yura ketakutan dan di sana Yura tidak bisa berbuat apa-apa. "Coba kamu ceritakan tentang kamu saat di culik!" Yura pun menceritakan semuanya berawal saat Andra mengajaknya makan bersama sampai Yura berhasil keluar dari gedung tempatnya disekap. Andra pun mengepalkan tangannya ingin membalaskan dendamnya dengan lelaki bertopeng hitam tersebut yang sudah membuat dirinya kehilangan gadis pujaan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN