[Kirana Gantari]
Baru kali ini, mataku bisa membuat luka sebesar ini pada hati. Bukan, ini bukan salah mataku, tapi sesuatu yang dilihatnya. Bagaimana dengan jelas Ivan bermesraan dengan gadis itu. Kulit mereka bersentuhan, ketika gadis itu membantunya merangkai bunga sialan itu. Sesekali mereka saling memandang dan melemparkan candaan. Jelas sekali terlihat kalau kedekatan mereka benar-benar intim dan tampak sangat bahagia.
Aku memeluk tubuhku sendiri. Di antara rinai hujan yang membasahi kulit. Rambutku basah, begitu pula wajahku. Air hujan sanggup menyamarkan air mata yang keluar, membuatku seolah tegar bagaikan karang. Meskipun pada kenyataannya aku rapuh.
Tak seharusnya aku melihat pemandangan itu. Tak seharusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh pengirim pesan sialan itu. Tak seharusnya aku ... di sini. Aku mengurungkan niat untuk mendekati toko itu lebih jauh. Berbalik menuju mobil dan menutup pintu kuat-kuat. Percuma saja jika ku ke sana. Malah yang ada, aku akan dengan sangat marah mencakar wajah gadis itu dan membuatku kena masalah.
Seketika pikiranku berbalik. Ke beberapa saat yang lalu sebelum aku sampai di tempat ini. Sebelum aku melihat pemandangan menjijikan itu. Seharusnya aku tak ke sini. Aku tak akan terluka jika tak melihat ini semua. Aku tak akan terluka jika membiarkan ini semua tak terbongkar. Dan bisa terus hidup bahagia tanpa tahu kenyataan buruk yang disembunyikan.
Sial! Aku begitu naif menganggap bahwa semuanya begitu normal sampai-sampai kukira rumah tanggaku adalah yang paling bahagia di dunia. Dan sekarang, tembok kepercayaan yang kubangun selama ini runtuh tak tersisa. Semua terjadi hanya dalam hitungan detik setelah aku memutuskan memarkir Thunder di sini, berjalan mendekat dan melihat ke arah toko bunga di sana.
Aku meninggalkan tempat ini, sebelum melihat hal yang lebih dari sekedar apa yang kulihat sekarang. Aku bisa gila jika melihatnya. Pedal gas kuinjak dalam-dalam, yang spontan membuat tubuhku tersentak ke belakang karena kecepatan mobil yang begitu tinggi. Aku tak tahu harus ke mana saat ini. Pulang ke rumah? Ide buruk. Aku tak sanggup melihat Ivan nantinya. Tapi bagaimana? Bagaimana aku menjelaskan apa yang kulihat padanya? Dia pasti akan mengelak, dan tak mengakui perbuatannya itu.
Sekarang, aku bahkan seolah tak merasakan tubuhku. Karena kecepatan mobil yang kukendarai. Aku terbang. Melayang tanpa batas. Kelebatan bayangan tadi terus saja menggangguku membuatku sulit untuk berkonsentrasi mengendarai Thunder. Ada rasa takut jika pada akhirnya aku menabrak sesuatu, tapi entah kenapa kabut tebal yang menyelimuti pikiranku saat ini mampu meredam rasa takut. Aku tahu, ini berbahaya tapi rasanya lebih lega melampiaskan kecepatan dengan berkendara ngebut.
Aku bahkan memilih untuk menuju kawasan sepi yang jarang ada mobil. Hanya untuk melakukan kendaraan dengan sangat cepat. Ini sedikit membantuku menenangkan pikiran. Karena aliran adrenalin yang menggantikan perasaan patah hati yang kualami. Aku sadar, setelah ini semua akan kembali seperti semula. Kegiatan ini hanya bisa menghilangkan kegundahanku sementara dan bukan untuk seterusnya. Kecuali kalau aku mati. Semua akan selesai dan … aku tak lagi merasakan sakit akibat kepercayaan yang telah dikoyak.
Tepat di bawah sebuah pohon rindang, aku menghentikan laju Thunder tiba-tiba, hingga membuatku terdorong ke depan dengan kuat. Aku menangis sejadi-jadinya. Karena hidupku berakhir di sini. Ivan telah membunuhku. Membunuh hidup yang selama ini aku percayakan padanya. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa setega itu padaku. Apa kurangku dibanding gadis itu? Aku bahkan lebih cantik darinya, lebih tinggi, yang lebih sexy darinya. Jadi, apa yang membuat Ivan tega untuk mengencabi gadis itu?
Kedua tanganku menggebrak kemudi mobil berkali-kali sambil berteriak hingga kurasakan sengatan sakit di tangan. Tak apa, ini tak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan karena Ivan bersama perempuan lain. Aku menyeka air mata dengan punggung tangan. Memastikannya tak lagi mengalir dan menatap lurus ke jalanan depan yang sangat gelap dan sepi. Kurasa ini bukan tempat yang baik untuk menghentikan mobil. Terlalu sepi dan bagaimana jika ada orang jahat yang berusaha melukailu? Tak ada orang di sini. Jadi, ini merupakan tempat strategis untuk melancarkan kejahatan. Menyadari hal itu, aku pergi meninggalkan tempat ini.
Tidak Kira! Kau tak seharusnya hancur seperti ini. Cari tahu siapa hadis itu dan hancurkan! Seperti bagaimana dia menghancurkan rumah tangga yang sudah kau bangun bersama Ivan.
Tanganku mengepal sampai buku-buku jari memutih. Aku janji, gadis itu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Atau setidaknya Ivan mendapat pelajaran atas apa yang sudah dia lakukan padaku.
Bagaimanapun, air mataku terus saja mengalir. Membuatku tampak begitu lemah saat ini. Meski berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis, namun rasanya sia-sia saja. Mataku tak dapat diajak bekerja sama. Tanpa sadar aku mengingat Ibu. Ibu yang selalu mengelu-elukan Ivan. Dan berpikir kalau dia adalah menantu paling baik sedunia. Aku janji, hal ini tak akan pernah sampai ke telinganya. Aku tak akan membiarkannya jantungnya kambuh lagi seperti saat kematian Ayah.
***
Usai berusaha meredam amarah, dan memendam semua perasaan depresi yang sempat menyelubungi pikiran, aku pulang. Semoga usahaku untuk bersikap biasa saja membuahkan hasil. Sembari memikirkan cara balas dendam dengan gadis itu. Merebahkan tubuhku yang rasanya seolah sakit semua di atas kasur dan menatap langit-langit putih yang sesekali menampilkan kelebatan ingatan mengenai Ivan dan gadis berengsek itu.
Sekitar pukul sembilan malam, Ivan pulang dan di saat yang sama aku berpura-pura tidur. Aku belum siap untuk menatapnya. Mencium aroma gadis itu yang tertinggal di tubuhnya serta membiarkan Ivan seolah-olah bersikap mesra denganku. Aku belum siap dengan itu semua karena takut air mataku akan tumpah dan menunjukkan kelemahanku.
Aku membiarkan mataku tertutup sempurna dan hanya gelap yang bisa kulihat, tanpa berusaha mengintip untuk melihat kegiatan Ivan sekarang. Itu tak perlu. Suara langkah kaki Ivan terdengar mendekat. Dia begitu dekat dan … sial. Aku merasakan embusan napasnya di hidungku. Ivan berada di dekatku saat ini. Tenang, Kira! Tenang! Kau bisa melewati ini. Kau sudah tidur dan kau tak tahu kalau Ivan ada di depanmu. Aku merapalkan mantra itu berulang-ulang sampai pada akhirnya aku berhasil tenang.
Sebuah sentuhan terasa di punggungku, disusul sebuah kecupan di kening dan pipiku yang begitu lembut. Dan tiba-tiba terdengar, "selamat malam, My Angel. Aku mencintaimu," ucapnya lembut dan terdengar begitu tulus.
Apa maksudnya? Apa dia bermain dua peran, huh? Aku berusaha untuk tak memberikan respon sedikitpun bahkan aku berhasil mengontrol gerak refleks agar tak bereaksi saat dia mengecupku. Aku yakin, malam ini akan jadi malam terpanjang dalam hidupku. Karena berusaha meredam perang yang ada di hati.
Saat Ivan masuk kamar mandi dan terdengar gemericik air, aku meloloskan air mata yang sejak tadi tertahan. Bagaimana bisa aku menyembunyikan ini sendirian? Dan sampai kapan aku bisa membiarkan dia terus melakukan ini padaku?
Aku terbangun saat aroma kopi terindu di hidungku. Aromanya begitu menggoda dan membuatku langsung membuka mata. Kuharap semalam hanya mimpi. Namun, sayangnya tidak. Kemeja yang kemarin Ivan gunakan ada di sebelah tempat tidur. Dia bahkan belum memasukkannya ke keranjang cucian kotor seolah mendeklarasikan padaku kalau semalam, adalah hal nyata. Dan aku harus bisa menghadapinya. Jadi, berhenti berpura-pura kalau semua itu hanya mimpi, Kira! Kau sekarang hidup di dunia nyata.
Saat aku menurunkan kaki, Ivan masuk ke kamar. Mengenakan kaos berwarna putih dan celana panjang bermotif garis yang membuat kakinya semakin terlihat panjang. Dia berjalan mendekat ke arahku dengan senyuman yang merekah di bibir indahnya. Dia bersikap normal memang, dan aku yang sepertinya akan lebih tampak bersikap aneh.
“Kau sudah bangun?” Dia duduk di sampingku. Aku mengangguk untuk menanggapi. “Keluar, yuk! Aku baru saja buat kopi, dan roti bakar untuk sarapan,” ujarnya begitu lembut dan seolah menenagkan.
Tanpa menjawab apapun, aku keluar bersama Ivan dan duduk di meja makan yang terletak di ruang tengah. Di sana semuanya sudah siap dan hanya perlu untuk disantap. Seharusnya aku yang bangun lebih dulu dan melakukan ritual rutin kami. Namun rasanya aku begitu munafik melakukan itu semua. Aku membayangkan gadis itu melakukan hal yang sama pada Ivan dan itu membuatku semakin depresi.
“Oh ya, apa kau sakit? Kau selalu tidur lebih awal dua hari ini?” tanya ivan sembari menatap mataku.
“Hanya … kurang enak badan,” jawabku berbohong.
“Kita ke dokter, ya?” Ivan menawariku yang spontan saja kutolak karena mana ada dokter yang bisa menyembuhkan patah hati?