[Ivander Adley]
Saat ini gerimis, dan aku masih bergeming di tempat ini meskipun kebanyakan orang berlari untuk menyelamatkan diri dari tetesan kecil air yang turun jarang-jarang. Parahnya mereka berlari seolah-olah menghindari hujan meteor. Aku heran, bagaimana mereka sepanik itu hanya karena tetesan air hujan yang bahkan tak terasa menyakitkan. Lama kelamaan, gerimis berhenti, dan aku sudah mendapati beberapa bagian tubuhku kebasahan.
Aku belum siap untuk pulang, dan bertemu dengan Kira dalam keadaan seperti ini. Apa kau tahu artinya dipecat? Yeah, reaksi berantai yang pada akhirnya akan menghancurkanmu. Aku kehilangan pekerjaan, yang berarti kehilangan mata pencaharianku yang kugunakan untuk membayar semua kebutuhan, membayar listrik, asuransi, bensin, makanan, dan lainnya. Mula-mula kau akan mulai mencari pekerjaan, dan pada akhirnya kau mulai frustasi karena penilaian buruk yang sudah tersemat padamu karena kau dikeluarkan secara tidak hormat. Ya, Bos memang memberhentikan secara tak terhormat. Dia tak memberikan surat pengalaman kerja dan tak mau membayar uang pesangon karena menurutnya, dia sudah sangat baik dengan tidak melaporkan ke polisi.
Aku tahu, Kira baru saja mendapat kabar bagus kalau dirinya mendapat posisi brand ambassador sebuah kosmetik terkemuka, tapi apakah aku bisa bertopang padanya selama beberapa waktu? Kurasa tidak. Aku harus segera kembali ke D.A Food dan memperbaiki ini. Bersikap diam hanya cerminan dari kekalahan, dan aku tak mau si b******k Vincent menertawakanku.Untuk sekarang, mungkin dia sedang tertawa karena rencananya untuk mendepakku dari kantor berhasil, tapi tak lama lagi, kupastikan dia akan menangis karena dia yang akan berada di posisiku. Dan ketika itu terjadi, aku akan melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.
Aku mengusap wajah, membiarkan bulir-bulir air tersingkir dari wajahku. Kurasa aku harus merahasiakan ini sementara. Yeah, hanya sementara sampai aku bisa mengatasi ini semua dan meyakinkan Bos kalau aku tak bersalah. Kira tak boleh tahu, karena kalau dia tahu banyak hal yang bisa terjadi, dia akan mencari lebih banyak job, yang berarti membuatnya makin lelah, dan yang kedua dia kecewa berat padaku dan memilih untuk menjauh sementara. Sejauh pernikahanku dengannya, aku tak yakin kalau Kira sanggup melakukan kemungkinan kedua itu.
Aku menelpon Vigo berusaha memberitahunya mengenai jangan sampai buka mulut soal kondisiku pada Kira. Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dia mengangkat panggilanku.
“Halo!”
“Ivan? Kau di mana?” tanya Vigo terdengar sedikit panik. “Aku menanyai istrimu mengenai keberadaanmu, tapi dia tak tahu.”
“Sial! Kau memberitahunya soal kejadian tadi di kantor?” tanyaku tak sabar dengan nada kesal
“Belum, aku hanya menanyakan keberadaanmu saja, aku berbohong kalau kau keluar saat makan siang dan tak kembali lagi ke kantor, dan kukira kau pulang. Hanya itu, Kira juga hanya menjawab tidak tahu,” jelas Vigo padaku.
“Baguslah, jangan pernah kau katakan hal apapun soal kejadian itu pada Kira. Aku akan memberitahunya hanya setelah masalah ini selesai, okay? Beritahu pacarmu juga. Karena dia mengenal Kira. Aku takut Nency membicarakan soal itu pada Kira.” Aku menjelaskan alasanku dan Vigo setuju, dia bahkan mengajakku untuk bertemu dan menceritakan semuanya. Meskipun aku menolak. Aku hanya ingin sendiri saat ini. Butuh menenangkan diri sementara, hingga akhirnya setelah mempunyai cukup daya, aku bisa pulang dan bersikap seolah tak ada apapun pada Kira.
Aku tahu, ini sulit. Namun, kedua kemungkinan itu membuatku ragu untuk memberitahu Kira soal masalahku. Selain itu, aku juga tak mau menambah beban pikirannya, apalagi dia juga punya masalah yang belum terselesaikan. Perutku berbunyi, meminta diisi karena sejak tadi siang aku belum makan apapun. Hanya minum kopi dan itu tak membantu mengenyangkan perutku tadi siang. Rasa lapar kali ini tak bisa ditahan, aku harus mengisinya.
Aku makan kurang dari sepuluh menit. Sebuah burger besar dengan cola sebagai minumannya. Biasanya aku menghabiskan waktu lebih lama kalau makan bersama Kira, tapi kali ini karena rasa lapar sudah tak bisa kutahan lagi, aku menghabiskannya dengan cepat. Setelah menghabiskan minuman, aku langsung meninggalkan restoran cepat saji ini. Meskipun di luar hujan dan aku pasti kebasahan saat menuju mobil, tapi aku tak peduli. Aku butuh tempat lain yang lebih sepi dibanding restoran ramai yang berisik oleh suara anak-anak nakal.
Tepat saat aku memakai sabuk pengaman ponselku bergetar. Aku merogoh saku celana dan melihat pesan siapa yang baru saja masuk. Nara? Ya ampun, aku bahkan lupa untuk menemuinya hari ini. Aku sudah janji untuk ke Fleur de Nara hari ini dan aku telat. Sebenarnya ada kesempatan untukku membatalkan kegiatan les merangkai bunga hari ini. Namun entah kenapa rasanya sayang untuk dilewatkan karena kegiatan itu cukup mengasyikan dan mungkin saja bisa membuatku sedikit melupakan masalahku yang berantakan ini.
Kalau boleh jujur, aku juga masih belum siap untuk pulang saat ini.
***
Aku tiba di Fleur de Nara sekitar pukul enam kurang lima belas menit. Memarkirkan mobil di parkirannya yang lumayan luas dan masuk tanpa ragu. Aku langsung disambut oleh tatapan Lintang. Teman Nara yang berwajah oriental dengan mata sipit dan kulitnya yang pucat. Lintang memiliki rambut yang ditata ala artis korea dengan poni yang menutupi sebagian keningnya. Kalau kutebak, mungkin dia berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Tubuhnya hampir setara denganku, hanya saja aku lebih tinggi beberapa sentimeter, serta tubuhnya yang kelihatannya atletis dilihat dari otot di tangannya. Aku mencoba menyapanya dengan senyuman dan ucapan, “hi! Apa kabar?” tanyaku.
“Baik, kau mencari Nara?” tanya cowok itu sambil merapikan bunga dari daun-daun yang tak rapi.
Aku mengangguk, “di mana dia?”
“Di ujung sana, kelihatannya dia tengah sibuk,” ujarnya memberitahuku.
Usai mendapat informasi aku langsung mencarinya dan menemukan Nara tengah berjongkok mengurusi bunga-bunganya. Entah apa yang dia lakukan, tapi setelah menyadari keberadaanku dia langsung menghentikan kegiatannya.
“Saya kira Anda tak datang. Sudah jam enam kurang lima belas,” ujarnya sambil melirik jam tangan yang yang dipakai di pergelangan tangan. Dia benar, tapi … apakah ini berarti tak ada les hari ini? Ahh … sayang sekali, padahal aku butuh hiburan sedikit.
“Maaf, saya ada masalah tadi di kantor," ujarku.
"Masalah?" tanya Nara.
"Yeah … big problem dan …." Ucapanku terpotong oleh suara teriakan Lintang.
"Aku mau nganter bunga ini dulu!" teriaknya sampai aku sedikit heran. Apa mereka biasa berkomunikasi dengan cara primitif seperti ini? Ya ampun, yang benar saja.
"Anda bisa cerita jika mau. Saya punya kotak penyimpanan dan setelah anda memasukan semuanya saya akan membuang kuncinya," kata gadis itu. Dia memang tipe gadis yang menyenangkan.
Aku tersenyum dan menjawab, "kau janji tak akan cerita ke siapapun?" tanyaku memastikan.
"Yeah. Tentu. Selagi anda membiarkan saya berkeliaran di kantor anda dan membeli bunga saya kalau anda butuh," katanya yang membuatku menaikan alis.
"Hanya bercanda," ujarnya sambil terkekeh. Dan spontan membuatku juga ikut tertawa. Bukan karena lucu tapi karena gadis ini tertawa.
"This is a bad day. Aku baru saja dipecat dengan alasan yang tak masuk akal." Gadis itu melotot dan terkejut bukan main.
"Bukankah posisi anda cukup sentral di sana?"
"Tak lagi, karena sekarang, rekan brengsekku yang menggantikanku di sana," ujarku dengan nada kesal.
"Pak Vigo?" tanya Nara asal-asalan. Aku yakin di kantor dia hanya kenal Vigp atau mungkin juga ada satu-dua yang mengenalnya dengan catatan mereka pasti pernah memesan bunga Nara.
"Bukan. Dia sahabatku dan dia bahkan menanyakan kabarku beberapa kali karena pergi dari kantor dalam keadaan frustasi," jelasku.
Nara tampak canggung dan kelihatan kalau saat ini dia bahkan bingung harus melakukan apa untuk menanggapi. Aku tak terlalu membutuhkan kata-kata penyemangat. Karena itu cuma toxic yang diberikan oleh orang-orang. Yang saat ini kubutuhkan hanyalah pendengar yang baik. Dan meresponku ketika aku memintanya. Dan itu tercermin dalam diri Nara. Sejauh beberapa hari aku mengenalnya, dia cukup menjunjung tinggi privasi dan dia juga pendengar yang baik.