Bad day

1562 Kata
[Ivan Adley] Kira pulang sekitar pukul sepuluh malam. Tadinya aku mau menelponnya, tapi setelah mendengar suara mobil di luar, aku urung melakukannya. Kulangkahkan kaki keluar kamar, membiarkan pintu kamar tetap terbuka lalu berjalan ke pintu depan untuk menyambutnya. Pintu depan terbuka saat aku sudah berada sekitar dua meter. Wajah Kira pucat, dan ada keanehan yang kulihat dari raut wajahnya. “Aku hampir menelponmu tadi, tapi tak jadi karena sudah melihat Thunder memasuki gerbang depan. Everything is okay?” tanyaku pada Kira. Jujur saja, wajah pucatnya membuatku khawatir. Apa dia sakit? Atau terjadi sesuatu padanya tadi di jalan? Aku menggenggam tangannya. Dingin dan sedikit gemetar. Dan yang aneh lagi, dia malah menepis tanganku. “Aku sedikit pusing, Mas. Mau langsung tidur,” ujarnya kemudian berjalan melewatiku tanpa menoleh atau melirik ke arahku. Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia hanya pergi menemui Kak Ratih? Atau Kak Ratih mengatakan sesuatu padanya? Tapi apa? Apa yang dapat membuat Kira sampai berubah pucat seperti itu? Tak mau ambil pusing, dan berusaha mempercayai ucapannya. Aku masuk ke dalam kamar. Kira sudah ganti baju menggunakan pajamas coklat. Dan begitu aku masuk, dia langsung meringkuk menghadap ke arah nakas dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Apa dia benar-benar sakit? Aku mendekat. Meletakkan tangan di kening Kira dan tak merasakan panas di sana. Apa dia hanya pusing karena lelah seharian pergi keluar? Yeah, mungkin hanya itu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan sepertinya. Semoga. Aku berbaring di sampingnya, melirik ke arahnya dan Kira tak juga melihat ke arahku. Padahal biasanya dia tak pernah sekalipun memunggungiku. Apa yang sebenarnya terjadi? Mataku tak bisa diajak kerja sama. Padahal jam sudah menunjukan pukul dua belas malam lebih. Aku merasakan gerakan Kira. Dan berpura-pura menutup mata sambil sesekali membuka sedikit agar bisa melihat ke arah Kira.  Dia menatap langit-langit. Seolah di sana ada banyak sekali tulisan yang bisa dibaca. Bukan, bukan seperti itu. Dia jelas tengah berpikir keras. Mungkin ada beberapa yang mengganjal di pikirannya saat ini. Tapi, bukankah biasanya dia menceritakan semuanya padaku? *** Aku terbangun oleh sebuah kecupan di keningku. Apa semalam hanya mimpi? Maksudku, semua keanehan yang terjadi pada Kira hanya mimpi? Bisa jadi. Aku menyunggingkan senyuman terbaikku padanya. Lalu berkata, "good morning Angel," "Good morning. Aku sudah membuatkanmu sarapan, bagun yuk!" ajaknya menarik tanganku turun dari ranjang. Yeah, kurasa semalam hanya mimpi. Buktinya, Kira tak nampak sedikitpun berubah. Dia masih sama seperti Kira yang kukenal sebelumnya. Dia tak bersikap aneh seperti mimpiku --sepertinya--  semalam. Dia masih menggandengku, bahkan sampai di tempat makan. Aku duduk bersebrangan dengannya. Di meja ada pancake dengan lelehan madu di atasnya serta buah-buahan kering sebagai toping. Tampak Menggiurkan dan membuatku berpikir kalau rasanya pasti enak sekali. Aku mulai menyendok pancake yang ada di hadapanku. Sementaara Kira lebih menggunakan pisau dan garpun sebagai alat makan. Hening. Tak ada satupun pembicaraan yang dimulai, sampai akhirnya aku memulainya. “Pencakenya enak sekali,” komentarku sambil menyendok pancake lagi dan memasukkannya ke mulut. “Terima kasih,” jawabnya singkat. Dan setelahnya aku bingung mau ngobrol tentang apa. Aku berangkat satu jam setelahnya. Dan hampir saja terjebak macet kalau aku tak buru-buru mengambil arah jalan alternatif lainnya. Ya … meskipun jauh lebih lama sekitar sepuluh menit dari rute biasa, tapi aku yakin benar, kemacetan itu bahkan jauh lebih lama dibanding sepuluh menit aku menggunakan jalur alternatif ini. Pikiranku masih saja berkelut soal Kira. Apa semalam benar-benar hanya mimpi? Rasanya sulit sekali untuk percaya dengan gagasan itu. Terkesan mengada-ada dan … baiklah, sepertinya semalam memang nyata dan setelah bangun tidur, Kira berusaha biasa saja dan menyembunyikan perasaanya. Itu nggak adil sebenarnya. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi padanya, meskipun sadar, mungkin dia masih belum mau menceritakannya padaku. “Selamat pagi, pak.” Seorang pegawai lain menyapaku dengan senyuman paginya. Sumringah dan penuh semangat. “Pagi,” balasku sembari terus berjalan menuju lift. Aku hampir saja tertinggal dan harus menunggu beberapa saat sampai lift kembali turun kalau seseorang tidak menggunakan tangannya untuk menghalangi pintu lift terbuka. Buru-buru saja aku masuk dan rupanya ada sekitar tiga orang di sini, ditambah aku tentu saja. Satu orang dari bagian keuangan dan satu orang membawa bunga besar. Tunggu, aku melihatnya lebih jelas dan … apa itu Nara? Dengan bunga besar yang bahkan menutupi wajahnya. “Nara?” panggilku. Di saat yang sama pintu lift terbuka. Gadis itu mengalihkan bunga dari wajahnya dan benar saja dia adalah Nara. Dan untuk apa dia membawa bunga ke sini lagi? “Selamat pagi, Pak.” Dia ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan pak. Padahal sebelumnya aku sudah memintanya untuk memanggil namaku saja. Rasanya aneh kalau orang dari luar kantor yang memanggilku dengan sebutan Pak. Kami keluar beriringan dan melangkah ke arah yang sama. “Pesanan siapa?” tanyaku penasaran. “Pak Vigo,” jawabnya. Ya ampun, jadi bunga sebesar ini adalah pesanan Vigo? Apa ini salah satu caranya untuk meminta maaf dari Nency? Sial, dia lebih romantis dariku. Maksudku, dalam hal minta maaf tentu saja. Aku jadi berpikir, apa semalam aku membuat kesalahan pada Kira sampai-sampai dia bersikap berbeda seperti itu? Tapi apa? Rasanya sulit, terjebak dalam pemikiran sendiri tanpa ada kejelasan yang membuatku bisa tenang. “Wahh … dia penyuka bunga ternyata,” ujarku seadanya. Padahal tahu kalau bunga ini pasti untuk Nency sekadar untuk minta maaf. “Bukan, ini untuk seorang gadis bernama Nency Juliana.” bantah Nara. Ya ampun, aku juga tahu ini untuk gadis itu. “Syukurlah, aku ingin pertengkaran mereka segera berakhir.” “Pantas saja dia meminta kartu ucapan permintaan maaf, dia juga mengirimkan beberapa paragraf permintaan maaf untuk disematkan dalam kartu.” Kalau dipikir-pikir, Vigo romantis juga, di samping tingkahnya yang kadang ribet dan menyebalkan tentu saja. “Memangnya dia menulis apa?” “Rahasia, Pak. Anda nggak boleh tahu isinya tanpa sepengetahuan Pak Vigo. Benar juga. Kami berpisah karena aku harus ke ruanganku dan Nara harus ke tempat kerja Vigo, tapi sebelumnya aku sudah mengingatkannya kalau aku akan ke tempatnya sepulang kerja. Dia hanya mengangguk dan aku berlalu pergi. Jemariku berkeliaran menelusuri setiap tombol yang ada di atas keyboard komputer. Ada banyak yang harus aku selesaikan hari ini, beberapa laporan untuk disetujui oleh Boss, tapi saat aku mengangkat cangkir berisi kopi yang hanya setengah, pintu terbuka dengan sangat keras. Boss masuk dengan cara sama sekali tak sopan lalu menutupnya dengan keras sampai aku berpikir akan membuat pintu kaca itu pecah saat dia menghempaskannya, tapi untung saja pikiranku salah. Aku langsung berdiri menghadapnya. Berusaha meminta penjelasan tentang apa yang dia lakukan tadi. Dan betapa kelakuannya membuat hampir semua pegawai di luar sana memperhatikanku. “Jelaskan mengenai ini! Kalau kau tak memiliki penjelasan yang masuk akal, akan kusiapkan surat pengunduran diri yang harus kau tandatangani besok!” tegasnya sambil melempat beberapa foto di atas meja kerjaku. Saat ini, jantungku berdebar keras. Hentakan rasa panas seolah naik menjalari hampir seluruh tubuhku. Tanganku mengepal begitu melihat foto yang berisi aku tengah memberikan sebuah map ke seorang pria berjas dan memakai kacamata hitam. Bagaimana bisa foto ini ada pada Boss? Aku bahkan tak tahu maksud semua ini. Kejadian ini sekitar dua minggu yang lalu dan aku hanya menolong Vincent untuk memberikan map pada pria itu. Tak ada yang aneh. Memang apa yang aneh? “Apa yang salah dengan foto itu?” tanyaku bingung sambil berusaha menenangkan diri agar tak meledak karena kelakuan Bos membuatku menjadi bahan tontonan saat ini. “Kau tanya padaku? Heh ….” Dia tersenyum sinis, seolah meremehkan pertanyaanku. “ Harusnya kau yang menjelaskan mengenai foto itu dan dokumen apa yang kau bawa! Apa kau sadar jika tindakan yang kau lakukan merupakan tindakan kriminal? Aku bisa saja menuntutmu karena menyebarkan rahasia perusahaan terhadap kompetitor dan aku … masih memberimu kesempatan untuk keluar baik-baik!” teriaknya cukup kencang. Yang sekaligus memvalidasi kalau saat ini aku resmi menjadi seorang pusat perhatian. “Aku hanya memberikan map itu padanya atas permintaan Vincent dia yang harusnya memberikannya tapi katanya dia memiliki urusan lain, sehingga dia memintaku memberikannya. Aku bahkan tak tahu apa isi map itu.” “Apa kau punya bukti mengenai hal itu?” “Yea … sebuah percakapan antara aku dan Vincent. Tunggu!” Aku meminta waktu sejenak untuk membuka ponselku dan mencari pesan yang kukirimkan pada Vincent dua minggu yang lalu. Jempolku terus menggulir layar, berusaha mencari pesan antara aku dan Vincent yang dapat menjadikan bukti kalau aku tak bersalah dalam hal ini. Ketemu! Aku langsung membukanya dan betapa terkejutnya aku ketika melihat tak ada satupun percakapan yang dilakukan kami dua minggu yang lalu. Di ponselku hanya ada percakapan di tanggal 12 dan itu lima hari sebelum Vincent meminta tolong. Aku bersumpah tak pernah menghapus percakapan itu, tapi bagaimana percakapan itu bisa menghilang? “Mana?” tanya Boss meminta kejelasan. Aku menatapnya tak percaya. Bingung dengan penjelasan apa yang harus kujelaskan padanya. Pada akhirnya, aku kalah setelah perdebatan sengit antara aku dan Bos yang berjalan beberapa menit. Dia bahkan memakiku dan mengataiku banyak hal. Dia menganggapku penghianat dan penyebab beberapa bulan ke belakang penjualan perusahaan mengalami kemerosotan yang drastis. Aku pulang sekitar jam empat sore, setelah membereskan ruang kerjaku dan membawa barang pribadi milikku dan memasukkannya ke dalam mobil. Menyandarkan kepalaku pada jok dan menatap lurus ke depan. Apa ini ulah Vincent? Dia berusaha menyingkirkanku dengan cara ini? Sialan! Bagaimana bisa aku tak menyadari kalau ada musuh di sekitarku? Aku janji, akan memberinya pelajaran, atau bahkan aku akan kembali lagi ke sini, dan mendepaknya keluar dari kantor. Tanganku terkepal. Buku jariku memutih, lalu menggebrak setir mobil dan berteriak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN