Good day?

1218 Kata
[Kirana Gantari] Casting hari ini berjalan lancar. Dan aku berhasil mendapatkan job brand terkenal. Aku masih sedikit heran sebenarnya, kenapa mereka mau menempatkan aku sebagai brand ambasador mereka padahal aku memiliki masalah bahkan sempat menduduki tranding di Birdiest. Padahal mereka bisa menggunakan model lainnya tapi mereka malah mempercayakannya padaku. Namun, sisi baiknya aku jadi memiliki kesibukan saat ini. Dan mulai sekarang, aku harus menyusun schedule agar semua bisa terorganisir dengan baik. Aku menyalakan mesin. Menginjak pedal gas sampai akhirnya Thunder melaju keluar dari parkiran. Aku harus menceritakan ini pada Ivan. Tentu saja nanti saat pulang. Hal sebaik ini tak akan kusampaikan melalui telepon atau pesan singkat. Aku yakin, dia pasti akan ikut senang mendengarnya. Saat aku hendak menikung, ponselku berdering. Aku melirik, dan tampak jelas kalau Kak Ratih yang menelponku. Ada apa dia menelponku? Karena lupa membawa earbud, aku memilik untuk menepi sejenak, sekadar untuk mengangkat panggilan yang masuk. "Halo?" Aku yang lebih dulu bersuara. "Kira, apa kabar?" tanya Kak Ratih. "Baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?" tanyaku padanya. Aku bahkan tak tahu kalau dia sudah balik dari Swedia atau belum. Kata Mama, dia di sana sekitar dua minggu karena urusan bisnis, aku nggak tahu pasti urusan apa karena nggak terlalu tertarik untuk tahu juga. "Baik, oh ya. Bisa ketemu?" "Kakak udah balik?" Sebenrnya, tanpa ditanyakan pun sebenarnya sudah jelas kalau Kak Ratih pasti sudah pulang. "Udah. Jadi, gimana? Bisa ketemu nggak?" tanyanya. "Bisa. Kapan?" "Jam delapan malam, ya? Di Melted Cafe." "Okay. Ada yang mau dibicarakan lagi, kak? Soalnya aku lagi di jalan," kataku memberitahunya. ` "Oh, okay. Nanti kita ngobrol saat ketemu aja, ya. See you Kira. Love you," katanya. Lalu aku menutup telepon. Kak Ratih memang suka begitu padaku. Bisa dibilang, Kak Ratih adalah kakak terbaik untukku, hanya saja aku sedikit kasihan padanya, karena dia yang seharusnya masih bisa bersantai dengan hidupnya harus berjuang keras untuk menjadi direktur utama di perusahaan milik Papa. Dia bekerja sejak lulus kuliah dan sampai sekarang, Kak Ratih masih terus banting tulang agar perusahaan bisa tetap stabil bahkan terus berkembang. Aku salut padanya, dia tak sekalipun mengeluh pada mama ataupun padaku. Ya, mungkin di dalam hati dia selalu mengeluh, tapi berusaha tak ditunjukan pada orang lain. 'Orang-orang tak akan tahu apa yang kau rasakan sebenarnya ketika yang mereka lihat adalah senyuman.' Itu yang pernah dikatakan Kak Ratih dulu, dan kurasa dia masih menjaga prinsip itu sampai sekarang. Aku kembali ke jalanan, dengan pikiran yang masih mengingat soal Kak Ratih. Dari yang kudengar, Kak Ratih adalah tipe pemimpin yang sangat tegas, selain itu dia juga selalu serius dan seolah tak memiliki waktu untuk menobrol hal-hal remeh baik di kantor, atau di manapun. Dia bahkan memiliki lingkaran pertemanan yang sangat sempit dan dari yang kutahu, sampai sekarang dia tak memilki kekasih. Mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaanya, hingga tak sempat memikirkan mengenai kekasih. Aku sampai di rumah sekitar pukul empat sore. Ivan pulang sekitar pukul senam sore, jadi aku masih bisa membuatkannya makanan. Aku masuk rumah dan duduk bersantai di sofa ruang tamu yang empuk. Meletakkan tasku di samping dan bersantai dengan nyaman. Hari yang cukup melelahkan. Namun semuanya terbyar ketika aku mendapatkan kontrak. Aku membuka ponsel, mencari-cari resep makanan apa yang sebaiknya kumasak hari ini. Dan aku butuh yang simple saja, dan perlu waktu singkat untuk memasak. Omlette? Ide burukl Itu jauh lebih pas untuk sarapan, dan untuk makan malam, kurasa aku akan buat spageti saja malam nanti. Saat dia sudah berkendara ke rumah. Yeah, tentu saja. * * * Aku ketiduran, dan sekarang sudah jam tujuh malam. Dan ... di mana aku? Aku melirik ke atas dan ke samping. Aku di kamar? Bagaimana bisa? Apa mungkin aku tak sadar sudah naik ke sini? Atau bahkan Ivan sudah pulang dan menggendongku sampai ke sini. Kemungkinan kedua lebih masuk akal, karena aku buka tipe sleepwalker. Wait, kalau dia sudah pulang, kalau begitu aku telat untuk membuatkannya makanan? Ya ampun! Aku lansgung bangkit dari ranjang dan keluar kamar. Di dapur sudah ada Ivan yang tengah membuat ramyeon "Kau yang membawaku ke kamar?" "Bukan, satpam komplek ini tadi." "Hah?" Ivan malah ketawa, sambil menuang bumbu ke dalam panci yang rupanya mienya sudah natang. Aromanya sangat enak. Jadi kemungkinan besar rasanya juga enak. "Aku hanya bercanda. Tadi aku melihatmu di luar tertidur, jadi aku mencoba membangunkanmu. Tapi karena tak juga bangun akhirnya aku menggendongmu ke kamar," jelasnya sambil menbawa panci itu ke atas meja. Aku mengikutinya dan duduk. "Ya ampun, dan kau kuat menaiki tangga dengan membawaku?" tanyaku masih tak percaya. "Menurutmu?" "Wah ... kau kuat sekali." "Oh ya, mau?" "Mau dong kelihatannya enak," pujiku. "Ivan meniupkan untukku, lalu menyuapiku dengan mie." Rasa bumbu yang kuat langsung terasa di lidah. Pedas, gurih, dan rasa lainnya bersatu padu. Mennciptakan rasa yang nikmat dan lezat. Ketika aku bergantian mengambil mie yang ada di dalam panci, tatapnku teralihkan oleh sebuahh noda merah di kemeja Ivan. Apa itu lipstick? Entahlah, tak mungkin juga ada lipstik di sana apalagi aku tak punya lipstik dengan warna pink soft seperri itu. Ah, paling-paling itu noda lainnya," pikiraku berusaha sepositif mungkin. "Mas, malam ini aku ada janji sama Kak Ratih. Sekitar ... jam delpan malam. Boleh?" tanyaku. Ivan mengangguk, "salamkan padanya, ya!!" ujar Ivan. "Tentu," kataku lalu kembali ke kamar dan meninggalkan Ivan yang tengah makan karena aku harus ganti baju dan pergi menemui Kak Ratih. Akui bertemu dengannya di kafe Melted dan seperti biasa, dia selalu datang lebih awal dari perjanjian. Itu keren, ontime, Aku tersenyum ke arahnya begitu pandangan mata lami bertemu. Rasanya aku sangat merindukannya. Dan ditambah dia yang selalu sibuk, membuatku menjadi sangat jarang bertemu dengannya. Kak Ratih memakai dress hitam berlengan V yang kelihatan begitu elegan saat memakainya. Kak Ratih memang menyukai mode sejak lama, tapi sialnya, dia malah terdampar di kantor yang menyita sebagian besar waktunya. "Sudah lama nunggu?" tanyaku pada Kak Ratih. "Baru sekitar sepuluh menit. It's okay. Duduk!" ujarnya menyuruku. Aku duduk di depannya, di sebuah kursi yang bisa dibilang cukup nyaman ini. "Ada perli apa kakak mengundangku? Biasanya langsung ke rumah?" tanyaku yang penasaran karena tak biasanya kak Ratih seperti ini. "Ngomong-ngomong, kau tengah berkelut dengan masalah ya, saat ini? Maksudku, aku sempat membaca berita yang beredar dan aku menemukanmu menjadi perbincangan media. Padahal kau tak melakukan apapun dan kau adalah korban," jelasnya yang membuatku semakin malas untuk membicarakannya. Ya meskipun aku tahu kalau dia membelaku. "Masih bergulir masalahnya, tapi agency-ku sudah menganggap hal itu sudah selesai. Aku bahkan sudah kembali bekerja," jelasku padanya. "Baguslah, kalau begitu. Dan tolong dong, kalau ada masalah apapun, cerita sama kakak, ya?" ujarnya lalu menyuruhku minum kopi di depanku yang rupanya sejak dia satang, dia langsung memesannya. Obrolan kami berlanjut cukup lama, hingga pada akhirnya aku menyadari kalau malam sudah makin larut dan aku harus pulang. Aku berpamitan padanya dan menaiki Thunder. Senyuman tampak jelas begitu aku melihatnya dari balik kaca. Semuanya berjalan sangat baik hari ini, kecuali satu. Sebuah pesan yang muncul tiba-tiba saat aku telah sampai di depan rumah. Sebuah pesan yang membuatku ragu, dan mempertanyakan mengenai kebenarannya. Aku tak tahu, nomor ini berasal dari mana, tapi yang selas, isi besannya berbunyi seperti ini, 'Suamimu punya selingkuhan, Kalau tak percaya, datang ke Fleur de Nara lusa, dan kau akan tahu jawabannya.' Seketika napasku seolah terhenti untuk beberapa detik. Tak ada yang aneh dengan Ivan dan ... bagaimana bisa pesan itu menyatakan kalau Ivan berselingkuh. Apa yang melatarbelakanginya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN