Penyamaran yang gagal

1535 Kata
[Kirana Gantari] Sebenarnya, hari ini kegiatanku hanya berkaitan dengan rumah ini. Misalnya saja laundry, membersihkan debu dengan vakim, serta kegiatan lainnya yang hanya dilakukan di dalam rumah, namun rencanaku gagal gara-gara tadi pagi saat aku membuka kulkas, tak banyak bahan makanan yang tersisa. Bahkan saat ini sudah habis karena tadi pagi kugunakan untuk memasak sarapan, serta untuk membawakan bekal bagi Ivan. Tak ada jalan lain selain harus pergi ke supermarket hari ini. Aku memakai topi hitam, kacamata hitam serta sebuah masker scuba hitam untuk melindungi wajahku. Memastikan kalau aku tak bisa dikenali jika kau keluar rumah nantinya. Rambutku dikuncir kuda, meskipun agak pendek tapi rupanya keren juga. Jarak dari rumah ke supermarket lumayan jauh, jadi aku butuh kendaraan untuk sampai di sana. Sebenarnya Ivan meninggalkan Thunder di garasi, karena saat ke kantor dia membawa mobilnya yang lain, tapi aku masih enggan membawa Thunder karena dia baru saja mogok kemarin dan aku agak khawatir kalau nantinya dia akan mogok lagi saat kubawa. Jadi, pilihanku jatuh pada tyransportasi online yang bisa kupesan melalui sebuah aplikasi. Ada banyak sekali belanjaan yang harus kubeli hari ini karena stok yang ada di dalam kulkas dan tempat bahan makanan lainnya benar-benar habis. Sebenarnya, sudah seharusnya kami belanja bulanan, tapi karena kemarin kami ke Bandung, akhirnya kami harus menunda beli bahan makanan untuk di simpan. Aku keluar rumah begitu mobil yang kupesan datang. Mengunci pinntu dan melangkah ke arah mobil yang terparkir di tepi jalan. "Mbak Kira?" tanya sang sopir untuk memastikan kalau aku lah yang memesan jasanya mengingat saat ini penampilanku benar-benar aneh. "Ya," jawabku singkat lalu membuka pintu mobil dan masuk di dalamnya. Aroma mobil ini cukup segar, meskipun nggak terlalu bersih. Bahkan aku masih bisa melihat sampah permen berserakan di bawah sana. Kemungkinan besar sampah yang ditinggalkan penumpang. Ketika mobil yang kutumpangi sampai di depan supermarket, aku keluar dan melangkah menuju pintu masuk. Seluruh daftar belanjaaku telah kucatat di memo dalam ponselku, dan saat ini, aku hanya perlu mencarinya satu persatu. Tepat saat aku hendak memasuki area supermarket, seorang satpam dengan pakaian hitam mencegatku. Awalnya aku kesal, hingga akhirnya aku tersadar kalau penampilanku benar-benar mirip penjahat yang tengah menyamar. "Maaf, bisa lepaskan maskernya?" tanya sang satpam. "Saya sedang sakit, pak. Takutnya menular." "Kalau begitu, kacamatanya saja yang dilepas!" Dia memberikan opsi lain padaku. Tak mau membuatnya geram, aku pun meuruti keinginannya untuk membuka kacamata hitam yang kukenakan. Setidaknya, nanti dapat kukenakan lagi setelah lolos dari pandangan satpam ini. "Terima kasih," katanya lalu membiarkanku lewat setelah melalui sebuah alat metal detector. Saat berjalan, aku mengambil sebuah troli dan mendorongnya untuk diisi barang-barang yang nantinya akan kubeli. Cukup panjang daftar belanjaanku dan jelas akan memakan waktu lumayan lama. Aku menuju area bahan makanan, ada banyak hal yang ingin kubeli, seperti sosis, kornet, daging beku, daging asap, roti, mentega, minyak, telur, dan masih banyak lagi. Sembari memasukan belanjaanku ke dalam troli, aku juga menconteng bahan makanan yang baru saja masuk troli. Harusnya aku berbelanja dengan Ivan. Dia akan sangat membantu. Aku melihat ke rak atas, mengambil satu box s**u bubuk untuk kapan-kapan kubuat kue. Memasukannya ke dalam troli dan sadar kalau sesuatu baru saja akan menghantam kepalaku jika saja sebuah tangan tak menghalanginya. Aku mendongak, dan mendapati sosok pria yang kemarin kulihat di Bandung. Janu? Bagaimana dia bisa secepat ini kembali ke Mediter? "Hati-hati kalau mengambil sesuatu," katanya memperingatkan. "Terima kasih," kataku lirih pada pemuda dengan kaus berwarna cream yang dia kenakan. Ada tulisan di sana, tapi aku tak perlu repot-repot membacanya karena menggunakan cyrillic. "Kau lagi?" katanya seolah menyadari kalau aku adalah orang yang dikenalnya. Aku memang mengenal pria ini, tapi bagaimana bisa dia mengenalku dengan penyamaran ini? Tunggu! Ya ampun, aku lupa memakai kembali kacamata hitamku. Dia pasti mengenalku melalui mata. Masker rupanya tak terlalu membantu dalam penyamaran. "Kau mengenalku?" tanyaku memastikan. Lebih tepatnya, pura-pura tak tahu. "Kira, right?" dia menaikan alis tebalnya. Aku hanya tersenyum menanggapi jawabannya. "Aku nggak nyangka kita bakal ketemu lagi di sini. Dan ... look at you! Kenapa pakai masker dan topi seolah-olah tengah bersembunyi dari seseorang," katanya melihatku dari ujung kaki ke ujung kepala. "I've told you before, masih masalah yang sama," jelasku lalu memasukkan barang lain ke dalam troli. "Jadi, masalahmu belum juga selesai?" tanyanya. "It's not as simple as that, dan untuk sementara ini, aku harus menyembunyikan diri dari media," jelasku pada pria ini. Entah bagaimana, kami seolah-olah telah berteman lama padahal pertemuan awal kami hanya di bubble blue dan itu hanya sekali, selain itu, kemarin saat di Bandung, secara tak sengaja kami bertemu dan rupanya pemilik bengkel itu adalah teman Janu. Seolah-olah dunia ini begitu sempit sekali sehingga ke manapun aku pergi, kemungkinan untuk bertemu dengannya sama besarnya dengan pertemuanku dengan paparazi. Sebuah lampu flash terlihat oleh mataku, yang secara spontan membuatku menoleh dan mendapati seorang dengan kamera memotret diriku. Sial! Untuk apa dia memotretku? Aku berjalan cepat menghindarinya termasuk mengabaikan dan meninggalkan Janu tanpa sepatah katapun. Namun, saat aku hampir merasa aman, sebuah suara terdengar di telinga. "Bukankah itu Kira? Model sombong yang baru saja kena karma itu?" ucap seorang gadis dengan rambut pirang tergerai. s**t! Penyamaranku terbogkar, dan saat aku melihet ke belakang, ada dua orang dengan kamera yang tengah dibidiknya ke arahku. Mereka paparazi. Aku meninggalkan belanjaanku dan pewrgi menghidari mereka. Berusaha agar seminim mungkin memberikan mereka celah untuk memotret atau bahkan menanyaiku banyak hal. Aku keluar dari dalam supermarket dan mencari taksi tapi tak juga menemukannya, hingga akhirnya aku melihat beberapa wartawan yang datang. Mereka berjalan ke arahku dan menanyaiku beberapa hal salah satunya, bagaimana bisa hal itu terjadi padaku? Dan mengenai beberapa hal termasuk berkaitan dengan Terana. Aku bingung, untuk menjawab. Hendak pergi dan mengindar pun aku tak membawa mobil, dan sampai saat ini juga tak ada satupun taxi yang lewat di depanku. "Naik!" seseorang baru saja menghentikan mobilnya di depanku. Srbuah mobil tua dengan body berwarna silver yang cukup antik. Entah ada sentakan apa, akhirnya aku langsung menaiki mobil itu tanpa tahu siapa yang mengemudikannya. Barulah setelah aku masuk dan kami meninggalkan kerumunan paparazi dan wartawan itu aku baru sadar untuk menoleh ke arah si pengemudi. "Janu?" Aku kaget, karena lagi-lagi pria ini yang menolongku. "Thank me later," katanya dengan senyuman miring. Baiklah, yang terpenting saat ini adalah, aku bisa lolos dari paparazi-paparazi itu. Kalau aku di sana terus, bisa gila aku, dan mungkin aku bahkan bisa melakukan hal yang di luar kendaliku sendiri. Aku bersandar pada jok, merasa lebih tenang sekarang, karena tadi hampir terjadi serangan panik padaku. "Sekarang, kau mau ke mana?" tanya Janu setelah kami sudah cukup jauh dari area supermarket yang beberapa menit lalu kami tinggalkan. "Pulang," jawabku lalu meraih tas kecil dan mengambil ponsel di dalamnya. Sial! Hari ini aku gagal berbelanja, dan nanti siang, apa yang harus kumakan? "Are you okay?" tanya Janu melihat ke arahku. "Yeah, hanya saja ... niatku berbelanja gagal oleh mereka," jelasku lalu memasukan ponsel ke dalam tas, dan menoleh ke arahnya. "Bagaimana denganmu? Kelihatannya, kau juga tak membeli sesuatu?" kataku setelah melihat ke sekitar mobil ini dan tak ada apapun yang dibelinya. "Aku reflex membantumu tadi." "Kenapa? Kau bahkan tak terlalu mengenalmu?" "Yeah, kau benar. Mungkin satu kali pertemuan tak terduga lagi dapat membuat kita berteman," katanya sambil fokus ke arah jalanan ramai. Aku hanya terkekeh menanggapinya, lalu melihat ke jendela di kiriku. Oh ya, dia kan tak tahu rumahku. Bagaimana bisa dia membawaku pulang? Aku menyalakan GPS lalu mengintegrasikannya dengan LCD yang ada di dashbord mobil Janu. "Arah rumahku," kataku memberitahu. Dia hanya melirik dan kembali fokus ke jalanan. Meskipun ini mobil kuno, rupanya dia juga menyematkan beberapa teknologi canggih yang nggak kalah dengan mobil-mobil keluaran terbaru. Dan kalau dilihat-lihat, desain interiornya juga keren, dan classic banget. Aku cukup kagum dengan mobil ini. Aromanya buah peach sama seperti parfume yang kugunakan, tapi mobil ini lebih menyengat lagi. Meskioun begitu aromanya sama sekali tak bikin mual. Malah sangat menyegarkan. "Kenapa dengan mobilku?" tanya Janu yang rupanya menadari kalau aku tengah mengamati seisi mobilnya. Tak apa, hanya mobil. Bisa diblang aku memang lumayan tahu soal mobil, meskipun tak banyak. "Keren, kau memodifikasinya?" tanyaku penasaran apakah mobil ini dimodifikasi sendiri olehnya atau dibawa ke bengkel yang kemarin aku dan Ivan kunjungi di Bandung. Mengingat di sana selain bengkel untuk memperbaiki berbagai kerusakan mobil, juga merupakan bengkel untuk tempat modifikasi, itu dilihat dari beberapa mobil antik yang terparkir di sana, dan beberapa di antaranya tengah mengalami pengerjaan bagian finishing. "Yeah, aku memodifikasinya di bengkel temanku. Kau ingat, bengke yang kemarin kita ketemu," ujarnya sembari sesekali menoleh ke arahku. "Yeah, aku ingat. Sudah kuduga kalau kau memodifikasinya di sana," tanggapku. "Bagaimana dengan mobil suamimu?" tanya Janu. Aku memang memberitahunya kemarin, kalau aku tengah bersama Ivan untuk memperbaiki mobil kami yang rusak. Dan ada reaksi aneh yang dia berikan hingga pada akhirnya, semua kembali normal. Awalnya dia ingin bertemu dengan Ivan, karena penasaran, tapi dia harus pergi mendadak karena sebuah panggilan. "Di garasi, mobil itu memang jarang keluar. Suamiku selalu membawa mobil lain ketika pergi ke kantor," jelasku padanya. "Oh, begitu. Sayang sekali mobil seperti itu jarang dipakai," ujarnya lalu menghentikan laju kendaraan karena tanpa disangka aku telah sampai di depan rumahku. "Sudah sampai," katanya. "Yeah, terima kasih sebelumnya. Kapan-kapan kubalas kebaikanmu," kataku lalu keluar dari dalam mobil. Pria itu hanya menyinggingkan senyum kemudian berlalu pergi dari area rumahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN