Come back work

1208 Kata
[Ivander Adley] Sosok pria yang ada di cermin menampakkan wajah khawatir. Sorot matanya terlihat tegar, tapi dalam dirinya masih saja terdapat rasa khawatir yang sulit untuk dihilangkan. 'You're gonna be okay, Ivan!' ucapku pada diriku sendiri sambil memasang dasi. 'Everything will gonna be alright,' lanjutku. Aku ragu sebenarnya untuk berangkat kerja hari ini, mengingat dari ucapan Vincent saja sudah membuatku bergidik ngeri untuk menghadapi Boss. Aku yakin, saat aku sampai di sana, boss akan langsung memanggilku, dan membuatku menghadap di ruangannya. Sebuah bantingan vas bunga sepertinya terlalu kecil, semoga hanya itu. Okay, semua sudah siap. Aku siap untuk berangkat kerja. Dan berusaha berpikir positif, lagipula boss tak akan berani membunuhku. Semoga saja. "Kau sudah selesai, Mas?" Suara Kira terdengar setelah pintu terbuka. Dia menunjukan wajah manisnya di ambang pintu. Pakaian yang ia kenakan masih berupa setelan pijamas silk panjang berwarna pink yang sangat cocok dengan kulit putih bersihnya. Rambutnya diikat cepol dengan tatanan yang berantakan tapi anehnya sama sekali tak menganggu, dia masih tampak begitu cantik dengan itu. "Yeah, sudah." Aku melirik melalui pantulan cermin ke arahnya. Dia menyunggingkan senyuman. lalu mendekat ke arahku dan menarik lengan kanan, membawaku turun ke meja makan yang sudah terisi oleh sarapan buatannya. Ada nasigoreng special dengan telur mata sapi di atasnya. Aromanya begitu menggoda, sampai-sampai membuat liurku terasa mengucur. Aku duduk berhadapan dengannya. "Aromanya enak banget," pujiku. Menurut penelitian, pujian yang dilayangkan terhadap seseorang dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang tersebut, selain itu juga bisa meningkatkan kreatifitas, serta mebahagiakan orang tersebut. Jadi, itulah alasanku sering memuji Kira. Dan nyatanya saat ini dia sudah sangat lihai dalam memasak, padahal dulunya dia tak bisa memasak. "Tentu, special for you," katanya. "Oh, ya, aku sudah siapkan bekal untukmu. Bukan nasi goreng, tapi sandwich, dan makanan lainnya. Kau bisa melihatnya nanti di kantor," katanya sambil menunjuk ke arah kotak makan berbentuk persegi panjang dengan warna hitam elegan. Aku yakin betul ada beberapa jenis makanan di dalamnya. "Terima kasih," kataku. Setelahnya, aku langsung melahap nasi goreng buatan kira yang aromanua begitu menggugah selera. Higga membuatku merrasa penasara untuk segera mencicipinya. Seusai makan, aku berangkat ke kantor. Tak lupa aku juga membawa bekal yang dibuatkan Kira. Dia pasti akan sangat marah kalau sampai aku lupa membawanya atau lupa memakannya. Jaraknya sekitar satu jam dari rumah dengan kecepatan normal. Namun, kali ini aku tak menggunakan kecepatan normal. Aku harus bisa sampai di kantor lebih awal. Setidaknya, untuk meminimalisir terjebak macet serta menghindari omelan tambahan yaitu karena telat. Aku memasang earphone di telinga kemudian menelpon Vigo. Butuh beberapapsaat hingga pada akhirnya, pria itu mau mengangkat panggilanku. "Halo, Pak," ujarnya. "Halo, Vigo. Boss sudah datang?" tanyaku penasaran. Karena rencanaku saat ini adalah, sampai di sana terlebih dahulu dari Boss. Meskipun pada akhirnya sepertinya aku akan gagal. Boss adalah orang yang tak bisa ditebak. Dia bahkan bisa ada di mana saja. Meskipun mustakhil jika dia tiba-tiba berada di jok belakang. "Sudah, Pak. Baru saja datang," katanya. Mampuss! Rencanaku gagal. Sekarang yang terpenting hanyalah, tidak terlambat datang. Dan semoga saja, jalanan bersahabat baik denganku. "Ada apa, ya?" tanya, Vigo penasaran. "Emm ... nope. Terima kasih infonya," kataku lalu menutup sambungan telepon. AC di dalam mobilku terasa lebih dingin dari sebelumnya. Seolah-olah ada yang mengatur suhunya menjadi lebih rendah, meskipun sepertinya mustakhil karena Kira tak akan berani mengotak-atik pengatur suhunya. Aku menaikan suhu ke suhu normal yang biasanya kugunakan. Jalanan di depan sana tampak begitu ramai, dan sepertinya akan macet. Aku yakin, pasti ada suatu hal yang membuat laju kendaraan berhenti dan membuat kendaraan di belakangnya jadi ikutan berhenti. Apa ada sebuah kecelakaan? Aku lumayan penasaran, tapi tak ada bisa kutanyai. Sebelum sampai ke arah kemacetan, aku memutar setir menuju belokan lain untuk mencari jalan alternatif. Aku tak boleh terlambat hari ini. Tidak kalau aku masih ingin selamat dari amukan Boss. Jam di tanganku menunjukan kalau lima belas menit lagi, sebelum aku terlambat. Paling tidak. Aku sudah harus sampai di sana lima menit lebih awal. Aku menaikkan laju kendaraan meskipun tanganku sedikit gemetar, akibat ingatan kemarin di Bandung masih juga belum bisa lepas dari ingatanku. Untung saja jalanan masih berpihak padaku. Jalan alternatif yang kugunakan cukup lengang dan bisa membuatku sampai lebih awal dan setelah memarkirkan kendaraan, aku langsung berlari menuju lantai di mana ruanganku berada. Berlari ke arah lift yang hampir menutup, dan gagal. Sial. Butuh waktu lebih lama jika aku menunggu lift kembali turun. Tak ada jalan lain. Tangga darurat. Lagi pula tak terlalu tinggi, aku bisa berlari menggunakan tangga darurat, itung-itung untuk berolahraga pagi mengingat sudah cukup lama aku tak berolahraga karena kesibukanku yang begitu padat. Aku langsung beringsut menuju tangga darurat dan berlari menaikinya satu persatu. Begitu sampai, napasku terengah-engah dan lututku rasanya benar-benar sakit dan gemetar. Aku berisitirhat sejenak hingga sebuah suara menyapaku. Aku menoleh dan mendapat Nency di sana. "Pak Ivan? Kenapa pakai tangga darurat?" tanya Nency. Ingin sekali kuabaikan, namun akhirnya kujawab juga. "Olahraga. Lumayan," jawabku dengan napas yang terengah-engah. Dan sialnya gadis itu menutupi mulutnya dengan laporan yang ada tangannya. Aku yakin betul jika di balik laporan itu, dia tertawa dengan tingkahku. Aku langsung masuk ke dalam ruanganku, lalu merapikan baju dan duduk untuk beristirahat. Astaga, aku bahkan lupa membawa bekal dari Kira di dalam mobik. Ahh sudahlah. Nanti saja saat makan siang. Belum juga aku beristirahat, sebuah ketukan terdengar. "Masuk!" kataku. Rupanya Nency. "Maaf, Pak. Anda diminta datang ke ruangan Boss," katanya. Aku hanya mengangguk, lalu setelahnya gadis itu keluar dari ruanganku dan kembali bekerja. Sial! Belum juga istirahat, Boss sudah memanggilku. Tak ada yang bis kulakukan. Aku beranjak dari kursi dan keluarruangan. Sorot mata para karyawan seolah menatapku sengan tatapan penonton yang ingin memihat pertarungan tinju. Meskipun tak semengerikan itu juga, sih. Boss bukan tipe orang yang suka menunggu, dan jika seseorang sudah dipanggilnya, maka dia harus secepat mungkin datang karena kalau tidak, akan ada sanksi lain yang berikan. Aku mengetuk pintu. Tiga kali dan menunggu respon Boss yang aku yakin sekali posisinya tengah duduk menatap pendulum yang ia gunakan sebagai penghias meja. "Masuk!" Tersengar suara di balik pintu. Dan itu merupakan isyarat kalau aku sudah boleh masuk. 'Okay Ivan, tegarkan dirimu! And just tryna be cool.' Aku berusaha menenangkan diri sendiri, dan pada akhirnya, tanganku menekan kenop pintu yang seketika membuat pintu terbuka. Boss langsung melihat serius ke arahku. It's not a good thing. Jelas sekali kalau ada sesuatu yang membuatnya kesal dan marah. Dan sudah pasti itu adalah karena ulahku sendiri yang membuat surat cuti secara mendadak serta menghilangkan jejak dengan cara sering mematikan telepon dan tak membuka aplikasi chatting. "Duduk!" perintahnya dengan begitu tegas. Baiklah, ini pasti berlangsung lama Tanpa basa basi aku langsung mengikuti perintahmya. Duduk di sofa keras dan satu-satunya yang bisa kami nikmati hanya makan di tempat sepi. "Kenapa jum'at lalu tak datang?" "Sesuatu terjadinpada istri saya, dan saya harus ada di sisinya saat dibutuhkan," jawabku tanpa ada yang ditutup-tutupi. "MFW?" tanya Boss yang membuatku cukup terkejut. Bahkan hal semacam ini sudah diketahui oleh boss? Ya ampun, bagaimana bisa kabar cepat sekali menyebar? Hampir semua orang di sini tahu, kalau aku sudah berkeluarga dan menikahi Kira. Karena wakktu itu, Kira juga pernah datang ke sini sehingga membuat hanpir semua orang di kantor ini mengingat Kira, ya selain itu karena wajah cantiknya juga mungkin, yang membuat banyak orang yang akan mengenalinya meskipun telah lama bertentu. "Ya, karena itu," jawabku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN