[Kirana Gantari]
Aku bangun ketika sebuah suara lembut terdengar di telingaku. Begitu menoleh, wajah Ivan terlihat jelas. Tersenyum dengan senyumannya yang begitu manis, dan tatapan matanya yang berbinar. Sinar matahari di belakang tubuhnya semakin membuatnya terlihat indah. Sungguh, aku tak bisa menemukan padanan kata selain kata ‘indah’ untuk menggambarkan Ivan saat ini.
“Kau sudah bangun,” ujarnya lirih. Hampir terdengar berbisik.
“Kau sengaja membangunkanku,” kataku.
Dia tersenyum, kemudian beranjak dari kasur. “Kau lupa kalau hari ini kita pulang ke Mediter?”
Aku mengucek mata, kemudian perlahan bangkit dan duduk. Masih dengan tubuh yang berada di dalam selimut hangat. Aku benar-benar begitu malas untuk bangun dan meninggalkan kenyamanan ini.
“Aku benar-benar lupa,” jelasku.
“Kita hanya perlu mengemasi beberapa barang. Tak lama, kok.”
“Yeah ... jangan lupa memberitahu bapak dan ibu!” ujarku mengingatkan. Rencana awal, kita akan pulang esok hari, tapi karena bos kantor Ivan saat ini membutuhkannya lebih dari siapapun, akhirnya kami harus pulang hari ini juga agar besok Ivan bisa kembali bekerja. Kuharap tak ada hal buruk yang terjadi padanya setelah kembali bekerja. Aku tahu betul bagaimana bos Ivan, dia tegas dan memiliki mulut yang bisa dikatakan cukup pedas.
“Kau sudah mandi?”
“Sudah. Hanya perlu bersiap. Aku yang akan menyiapkan pakaian, kau bisa mengecek barang nanti, siapa tahu ada yang tertinggal.”
“Oke.” Aku melangkah ke arahnya, kemudian mengecup pipinya. Wajahnya langsung memerah, dan senyuman bahagia tergambar jelas di wajahnya.
Aku pergi ke kamar mandi, sementara Ivan mengemasi barang bawaan kami.
Jam menunjukkan pukul enam empat puluh delapan ketika aku keluar dari kamar mandi. Ivan tak ada di ruangan, beberapa tas yang sebelumnya kubawa tampak sudah rapi dan berisi. Aku yakin dia sudah memasukkan semuanya ke dalam tas. Aku mengambil pakaian yang ada di atas kasur. Ivan yang menyiapkannya untukku. Sebuah dress berwarna biru tua dengan lengan panjang yang longgar. Bahannya shiffon dan bisa dibilang dress ini seperti dress yang popular di tahun 90-an. Meskipun begitu, aku memang menyukai dress ini. Selain karena modelnya yang terkesan jadul, dress ini juga sangat nyaman dipakai seharian.
Aku ingat, saat pertama kali melihat dress ini. Kala itu, aku tengah pergi bersama Ivan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta usai mengunjungi mama. Kami mampir untuk berbelanja dan entah kenapa saat kami memasuki sebuah toko, dia menunjukan dress itu padaku. Menyuruhku untuk mencobanya di ruang ganti dan aku langsung menyukainya begitu melihat ke arah cermin usai kukenakan. Ukurannya pas dengan warna yang tak terlalu mencolok. Begitu keluar dari ruang ganti, aku langsung menunjukkannya pada Ivan. Matanya berbinar saat pertama kali melihatku menggunakan dress ini. Kemudian seulas senyum tercetak indah di sudut bibirnya. Dia menyukainya.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untukku hingga akhirnya aku keluar dari kamar dan mencari keberadaan Ivan. Rupanya, semuanya sudah berada di meja makan. Bukan Semuanya, hanya ada ibu, ayah dan Ivan, karena Dito sepertinya sudah pergi ke sekolah.
Mereka menoleh ke arahku saat aku berjalan mendekati meja. Ibu menatapku dengan tatapan lembut dan berkata, “kau cantik sekali.” Spontan aku tersenyum mendapat sebuah pujian di pagi hari.
“Terima kasih,” balasku kemudian duduk di samping Ivan. “Maaf, Kira tak bisa membantu ibu memasak,” ujarku.
“Nggak papa, cuma makanan sederhana kok. Gampang untuk dibuat.” Ibu tersenyum ke arahku.
“Kalian, kenapa cepet-cepet sih, pulang?” Ibu terlihat kecewa dengan keputusan kami untuk pulang lebih cepat.
“Aku ada kerjaan, Bu. Dan nggak bisa dihandle sama yang lain. Jadi hanya aku yang bisa menyelesaikannya.” Ivan menjelaskan pada ibu.
“Namanya juga orang sibuk, Bu. Biarkan saja. Bisa-bisa malah nambah masalah kalau dia maksa nggak berangkat.” Ivan mengangguk, menyetujui ucapan Ayah.
Setelahnya, kami melanjutkan menyantap makanan buatan Ibu. Dan setelahnya, kami pergi dari rumah ayah dan ibu. Hal yang tak disangka-sangka adalah, mereka membawakan kami maknan. Katanya untuk dimakan di rumah setelah kami sampai, jadi tak perlu masak lagi.
“Huhh ... akhirnya pulang. Kembali ke rutinitas yang membosankan di rumah,” ujarku setelah menghela napas panjang. Ivan melirik sekilah kemudian tersenyum.
“Kau bosan?” tanyanya.
“Tentu saja. Aku tak bisa bekerja, dan bahkan butuh effort yang besar hanya untuk pergi ke luar rumah. Aku benar-benar membenci para reporter itu. Bagaimana bisa mereka terus saja mencariku padahal banyak artis yang juga memiliki masalah, kan? Kenapa mereka lebih memilih untuk mengumbarku dibanding yang lain?”
“Entahlah, dan ... kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga. Kenapa mereka begitu tertarik denganmu? Dan dengan kehidupan pribadimu.”
“Kurasa saat ini yang kubutuhkan adalah masalah lebih besar yang dibuat oleh orang lain agar bisa meredam desas-desus mengenaiku.”
Ivan diam, enggan untuk menanggapi ucapanku. Tapi aku yakin dia setuju dengan pernyataanku barusan.
“Aku merasa senang, Ibu dan ayah tidak membicarakan masalahku. Mereka hanya fokus padaku di saat ini, dan tak mempermasalahkan hal di luar sana. Apa kau memberitahu mereka sebelumnya?” Aku menengok ke arah Ivan.
“Aku hanya memberitahu sedikit, dan sepertinya mereka langsung mengerti dan berusaha untuk menjaga perasaanmu dengan tak mengungkit masalah yang saat ini sedang bergulir di media.” Ivan menikung, dan menghentikan laju kendaraan di pom bensin. Perjalanan kami masih jauh dan butuh full tank agar lebih tenang saat berkendara.
Kami sampai di rumah saat matahari masih terik. Kami bergegas keluar dari dalam mobil, dan langsung mengeluarkan barang-barang dari dalam bagasi untuk dibawa ke dalam rumah. Ivan mengangkat yang berat, dan membiarkanku hanya membawa tas kecil.
Home sweet home. Sepetinya itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Meskipun aku juga merasa nyaman di rumah ibu, tapi bagaimanapun juga, rumah sendiri jauh lebih nyaman dari tempat manapun.
Aku masuk ke dalam kamar, dan berbaring setelahnya. Menatap ke arah langit-langit, dan beberapa saat kemudian Ivan masuk. Wajahnya tampak kelelahan. Wajar saja, dia mengemudi tanpa istirahat selama berjam-jam. Saat ini, yang ia butuhkan hanya istirahat, dan ... mungkin mandi air hangat.
Banyak hal yang kulalui di rumah ibu, termasuk kehilangan cincin paling berhargaku. Rasanya sulit untuk merelakannya begitu saja, karena cincin itu menyimpan sejarah panjang pernikahanku dengan Ivan. Kuharap ibu atau bapak menemukannya. Meskipun terasa mustahil, tapi bukankah jika sesuatu sudah ditakdirkan milik kita akan kembali pada kita bagaimanapun caranya?
Ivan duduk di sampingku usai berganti baju. “Sebaiknya kau tidur, terlihat jelas kalau kau tampak kelelahan.”
“Kau juga. Kau bahkan lebih tampak kelelahan dariku.”
“Aku akan tidur setelah menelpon Vigo. Ada hal yang harus kubicarakan dengannya,” kata Ivan menjelaskan.
“Baiklah.”
Setelahnya, Ivan pergi keluar kamar.