2. Metamorfosa Sang Mantan.

1046 Kata
Sudah seminggu yang lalu pertemuanku dengan Luna, aku berharap seiring waktu kejadian itu hilang dalam ingatan ku, tapi apa yang terjadi hari ini berbanding terbalik, semakin aku ingin melupakan Luna dan gadis kecil itu semakin aku memikirkan mereka. Fokusku terpecah, di dalam otakku terus bermunculan pertanyaan yang hampir tidak ada jawabannya. "Selamat pagi Pak, ini jadwal meeting hari ini." Aira menyodorkan tablet padaku. Aku yang sedang termenung langsung terkesiap "Kenapa kamu tidak permisi dulu masuk keruangan saya?" Aku melancarkan protes pada sekretaris ku. "Maaf Pak, saya sudah berkali-kali mengetuk pintu Bapak tapi ..." Aku sadar, aku banyak melamun hingga kehadiran Aira pun luput dari perhatianku, ini semua karena Luna yang telah menyita perhatianku. "Oke jangan di lanjutkan, kembali bekerja." Aku segera memeriksa apa saja yang akan ku kerjakan hari ini, dan pada siapa saja aku harus bertemu untuk melakukan meeting, cukup sudah memikirkan Luna. Tanganku terus menggulir layar tablet yang berisi jadwalku hingga sebuah nama menarik atensiku. "Aluna Fatimah?" Aku mengeja satu persatu huruf di layar tablet ku. "Ah! Sial, otakku benar-benar terkontaminasi oleh Luna, bahkan namanya pun ada di layar tablet ku?" Aku segera menyingkirkan benda pipih itu sambil terkekeh sumbang. "Terserah kau saja Luna, kau acak-acak seluruh otakku semampu mu." Aku segera mengambil berkas yang perlu ku tandatangani, memeriksa setiap laporan dan lain sebagainya, kemudian melaksanakan meeting dengan client hingga makan siang, untuk sementara Luna tidak muncul di otakku. Setelah makan siang aku kembali berkutat dengan pekerjaan, tapi sekretaris ku Aira kembali masuk keruangan ku. "Pak, sebentar lagi client kita akan datang, kita akan meeting di ruangan ini." "Oke." Aku kembali mempersilahkan Aira keluar kemudian aku mempersiapkan diri Serapi mungkin. Pintu kembali di ketuk kemudian terbuka, Aira masuk lebih dulu kemudian di susul oleh seorang wanita berpakaian sopan dan tertutup, aku langsung terpana saat wanita itu mengangkat wajahnya dan memberikan senyuman. "L-Luna?" Ucapku pelan. "Bapak sudah kenal dengan client kita?" Ternyata Aira mendengar gumaman ku. Aku tidak menjawab, karena tidak tau harus menjawab apa Luna sudah berdiri di depanku dengan wajah yang santai dan bersahabat, tidak ada keterkejutan di wajahnya seperti yang aku lakukan. "Selamat siang Pak Lintang, senang bertemu dengan anda." Sapa Luna dengan luwes, dia seperti wanita yang terlatih dalam berbicara, tidak ada canggung sedikitpun. Aku masih terbengong, otakku sangat lambat mencerna semua ini, sampai Aira berbisik di telingaku. "Pak, anda tidak menjawab sapaan Bu Aluna." "Selamat siang Bu Aluna, silahkan duduk." Akhirnya kini kami berhadapan, Luna mulai mengutarakan inti dari pertemuan kami hari ini, aku hanya menjawab seperlunya saja, iya atau tidak. Biasanya aku yang lebih banyak bicara dari pada mendengarkan, kini posisi sudah terbalik. Akhirnya kami mencapai kesepakatan kerja sama, Luna ingin memakai Chanel televisi kami sebagai media untuk melaksanakan fashion show pakaian muslimah menuju pemilihan putri muslimah, segala tempat, dekorasi lighting, model, kameramen dan editing semuanya perusahan ku yang menyediakan, Luna hanya perlu membayar uang di muka sebagai kesepakatan. Dari sini aku baru mengetahui jika Luna adalah seorang desainer pakaian muslimah, Luna merupakan perwakilan dari desainer-desainer yang lainnya yang sengaja di utus untuk melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan kami. Aku hampir jantungan menyadari ini semua, Luna memang telah bermetamorfosa dengan cepat sehingga aku tidak percaya jika Luna yang duduk di depanku ini adalah Luna yang pernah menjadi istriku. "Terimakasih Pak Lintang atas kerjasama nya, selamat bertemu kembali." Ucapnya di akhir pertemuan sambil mengangkat bokongnya dari tempat duduk. "Bu Aluna, bisakah kita berbicara empat mata?" Luna terdiam sejenak, "Baiklah Pak Lintang." Luna memberikan kode pada sekretaris nya untuk keluar dan akupun melakukan hal yang sama pada sekretaris ku Aira. "Ada apa Pak Lintang, apakah ini menyangkut kerjasama kita atau ada hal yang lain?" Luna berbicara formal membuatku semakin canggung. "Luna, bisakah jangan berbicara formal di saat berdua seperti ini?" Aku benar-benar merasa canggung atas sikap Luna. "Pak Lintang, saat ini kita sedang membicarakan soal kerja sama, saya hanya bersikap profesional sebagai client anda." Ucap Luna yang masih menggunakan bahasa formal. Aku sampai menelan ludah, apa yang ingin kutanyakan pada Luna hilang semua, bagaikan pantai yang terkena tsunami, sikap luna membuat aku mati kutu. "Luna, hm maksud saya Bu Aluna saya ..." Blank, aku bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatku, Luna sampai mengernyit kan dahi menunggu lanjutan kalimatku yang menggantung. "Pak Lintang, sepertinya apa yang ingin anda sampaikan belum terlalu matang dalam pikiran anda, lebih baik saya permisi dulu karena saya terburu-buru." Luna kembali berdiri sambil menundukkan kepala sedikit untuk berpamitan. "Sampai berjumpa." Luna membalikan tubuh berbalik meninggalkan ku. Tapi entah keberanian dari mana aku setengah menjerit berbicara pada Luna. "Bisakah aku melakukan tes DNA dengan Zahra?" Langkah Luna yang hampir sampai ke pintu terhenti, dia terdiam sejenak, sedangkan aku menunggu jawaban Luna dengan jantung berpacu kencang. "Kalau tidak percaya Zahra anak kamu, tidak perlu melakukan tes DNA, saya tidak memaksa kamu untuk mengakuinya Mas." Ucap Luna tanpa menoleh padaku, lalu dia pergi meninggalkan ku begitu saja. Aku terduduk di kursi kebesaranku, menatap bayang Luna yang di telan oleh daun pintu. tidak pernah terbayangkan oleh ku mendapatkan penolakan dari orang yang pernah memohon padaku, kenapa rasanya ada yang sakit di dalam d**a ini? Bayang gadis kecil yang datang tempo hari kerumahku kembali hadir, senyumannya, celotehnya, manjanya dan semua tentang gadis yang bernama Zahra itu membuatku penasaran, benarkan dia putriku? Aku tersenyum kecil membayangkan wajah imutnya dan tiba-tiba ada perasaan ingin bertemu dengannya, ingin melihatnya sekali lagi, ingin memastikan semuanya, tapi bagaimana caranya? "Mas, kamu apa-apaan sih, kamu janjian bertemu dengan Luna di kantor tanpa sepengetahuan ku?" Serina datang membuka pintu dengan kasar, bertanya dengan cara berteriak membuat aku cukup terkejut. "Kamu main belakang ya Mas!" Sergah Serina sambil menepuk meja. "Jangan salah paham dulu Serin, dengarkan dulu penjelasan ku." Aku berusaha menenangkan Serina yang terlihat sangat marah, bukan saja hari ini, bahkan sejak setelah kedatangan Luna dan Zahra kerumahku Serina terus memancing keributan denganku. "Penjelasan? Penjelasan apa lagi Mas, semua bukti sudah nyata di depan mata, kamu pasti terpengaruh dengan wanita itu." Bukannya mereda, Serina semakin berang. "Aku tidak akan tinggal diam Mas, aku akan memperingati wanita kampungan itu, akan ku permalukan dia." Tanpa menunggu apa yang aku katakan Serina membalikan badan keluar dari ruangan ku dengan langkah panjang. Aku kelabakan, segera mengejar Serina agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, Serina dengan karakternya yang terkesan blak-blakan dan mendominasi tidak akan melepaskan Luna begitu saja. Jangan sampai Luna di permalukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN