3. Kubela Mantan.

1004 Kata
"Serina! dengarkan penjelasan ku dulu." Aku berseru pada Serina yang sudah masuk kedalam lift, pintu lift tertutup membawa Serina turun kelantai satu. Aku semakin panik, berharap Luna sudah meninggalkan kantor ini sebelum Serina mendapatkannya, aku berdiri di depan lift dengan gelisah, beberapa kali menekan tombol lift agar segera terbuka. Butuh waktu lima menit sampai lift terbuka, aku langsung masuk kedalam lift yang membawaku turun kelantai satu, aku langsung melangkah tak sabar keluar dari lift dan di sana aku sudah mendapatkan pemandangan yang tidak ku inginkan terjadi. "Dasar pelakor!" Teriak Serina dan Plak. Sebuah tamparan mendarat di wajah Luna tanpa ada yang bisa mencegah, dan aku sekalipun sudah terlambat untuk menahan tangan Serina. "Hati-hati jika berbicara dan bertindak Mbak Serina, anda sudah mempersekusi saya dan melancarkan tuduhan yang tidak berdasar, anda bisa saya laporkan." Luna memegang wajahnya yang merah akibat tamparan kuat dari Serina, meskipun mendapatkan tamparan dan serangan dari Serina, Luna tidak tampak gentar apa lagi takut. "Silahkan laporkan saya tidak takut, dasar wanita perayu." Serina semakin menjadi, dia kembali mengangkat tangan ingin menampar Luna, namun aku segera bertindak, tangan Serina segera ku tahan. "Cukup Serina! Kamu kenapa sih? Kamu lihat, orang-orang mulai memperhatikan kamu." Ku tatap mata Serina tajam memberikan peringatan. "Kamu yang kenapa Mas? Kamu membiarkan wanita gatal ini kembali masuk kedalam kehidupan kamu?" Serina kehilangan kendali, dia lupa sedang berbicara di tempat umum yang orang lain bisa mendengar, akibat dari kejadian ini orang-orang yang menyaksikan kejadian ini mulai berspekulasi. "Serina! Cukup! Cukup! Kamu bisa menghancurkan nama baik kita." Aku kembali menekan Serina dengan tatapan tajam supaya dia mengerti dengan apa yang ku maksudkan, susah payah aku menutupi pernikahanku dengan Luna, tapi hari ini Serina begitu lantangnya membukanya di tempat umum. Akhirnya Serina terdiam, namun tatapannya masih tajam dan mengerikan. "Bu Aluna, saya mohon maaf yang sebesarnya atas kejadian ini, istri saya pasti sudah salah paham." Aku meletakan Serina di belakangku agar dia tidak terlibat lagi percakapan dengan Luna. "Gila kamu Mas, kamu minta maaf dengan dia dan menyalahkan ku?" Kini Serina berbicara sambil berbisik, dia mulai paham dengan keadaan karena diam-diam beberapa orang mulai mengambil vidio kami. "Saya harap istri anda yang mengatakan permintaan maaf itu Pak Lintang, dan saya minta anda dan istri anda mengatakannya di media, karena saya perlu membersihkan nama baik saya, saya permisi." Luna langsung membalikan badan tanpa menoleh padaku. Aku menatap kepergian Luna dengan langkah yang penuh percaya diri. "Hapus vidio yang telah kalian rekam, jika ada yang berani mengupload di medsos saya akan memecat kalian." Aku memberikan ancaman pada karyawan ku yang telah menyaksikan pertengkaran kami, kemudian aku membawa Serina naik keatas masuk kedalam ruangan ku. "Keterlaluan kamu Serina? Kamu kira kamu hebat dengan memperlakukan Luna seperti itu? Kamu seperti wanita tidak terpelajar." Aku murka, jelas karena sebesar apapun cintaku pada Serina tetap saja apa yang di lakukan Serina salah, aku tidak bisa membenarkan nya. "Kamu membela dia Mas? Hah." Bukanya sadar diri Serina balik marah padaku. "Bukan membela Luna tapi kamu memang salah, Luna datang kemari karena dia telah menjadi client di perusahaan ini, kamu yang salah paham!" Aku berbicara tinggi, lebih tepatnya membentak Serina. "Client?" Kening Serina berkerut mencerna ucapanku lalu "Haha, jangan bohong Mas, aku tau siapa Luna, dia wanita bodoh dari kampung, memangnya siapa dia, artis? Model? Atau presenter? Haha." Serina terus mentertawakan ku, seolah apa yang baru saja ku katakan adalah sebuah lelucon. "Mas, kita bukan baru kenal, aku juga sudah tau seluk beluk perusahaan ini, aku juga terjun di dunia entertainment, jadi aku tau siapa-siapa saja yang bergelud disana, pendatang baru pendatang lama, semuanya aku kenal." Ucap Serina jumawa, dia berbicara seolah dia mengetahui segalanya. "Luna adalah seorang desainer, dia akan mengadakan fashion show terhadap karya-karya terbarunya, dan Luna memilih perusahaan ini mempersiapkan segala keperluannya." "Haha? Luna desainer? Jangan ngarang kamu Mas, semua desainer di negeri ini aku kenal, dan mereka semua selalu memilihku sebagai model, siapa Luna bahkan aku tau karyanya yang mana." Ucap Serina acuh, dia benar-benar tidak percaya terhadap apa yang aku ucapkan. "Kamu selalu di kontrak oleh desainer yang mengeluarkan produk kekurangan bahan, sedangkan luna adalah desainer pakaian muslimah." "Haha, Cukup ya Mas, cukup kamu melucunya, yang jelas apapun alasan kamu aku tidak ingin melihat kamu bertemu Luna lagi, titik!" Serina mengambil tas yang di lemparkannya ke sofa lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Aku menghempaskan bokongku ke kursi, sekarang aku benar-benar pusing, rasa cemburu Serina semakin menjadi, apa yang akan aku lakukan, tidak mungkin aku tidak bertemu dengan Luna secara langsung sementara aku ada kontrak kerja sama dengannya, bahkan dia telah membayar uang muka sebanyak dua miliyar untuk acaranya nanti. "Dua miliyar?" Aku bergumam, ya aku tidak sedang bermimpi, ini kenyataan, Luna membayar uang muka ke perusahaan ku sebanyak dua miliyar, itu bukan nominal yang sedikit, berarti ekonomi Luna sudah meningkat, saat aku di jodohkan sama Luna jangankan uang dua miliyar bahkan pakaian Luna lusuh saat aku menjemputnya di terminal bus, saat itu apa yang di pakainya melambangkan kemiskinan, sampai aku sangat jijik melihat Luna. Aku seorang direktur perusahaan, tidak mungkin aku memilih wanita yang miskin menjadi pendamping hidupku, hukum dunia telah mengatakan bahwa orang kaya akan berjodoh dengan orang kaya, bagiku Serina yang merupakan anak dari seorang produser jauh lebih segalanya di bandingkan Luna. Tapi aku tidak bisa menolak keinginan ibu yang memintaku menikahi Luna, saat itu ibu sedang sakit. Setelah satu bulan aku menikahi Luna ibuku meninggal, dan saat itulah aku mencari cara bagaimana cara menceraikan Luna dan menikahi Serina. "Ah iya Ibu, sudah lama aku tidak bertemu ibu." Aku rindu ibuku, mungkin ini saatnya aku pergi berkunjung ke makamnya, dan berbagi cerita. Setelah beberapa hari akhirnya aku bisa mengosongkan jadwal untuk pergi ke makam ibu, dengan langkah gontai dan membawa seikat bunga aku melewati beberapa makam sebelum sampai ke tempat peristirahatan ibu yang terakhir kalinya. Dari beberapa meter aku di kejutkan oleh kehadiran wanita yang belakang ini berseliweran di dalam otakku. Aluna duduk di samping makam ibuku di temani oleh gadis kecil yang cantik dan imut, jantung ku langsung berdetak cepat menyaksikan pemandangan ini. "Mama, itu papa!" Seru gadis itu menunjuk padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN