Aluna memandang mengikuti arah telunjuk gadis kecil itu, dia terkejut jika k*****a dari raut wajahnya, namun Aluna sangat pandai menguasai emosinya, dia berusaha tetap tenang dan stabil.
"Zahra, Ingat pesan Mama sayang?" Luna mengalihkan pandangannya pada gadis kecil itu.
Wajah Zahra mengkerucut masam, dia memajukan bibirnya beberapa centi membuat wajahnya bertambah menggemaskan bagi siapa saja yang memandangnya.
"Kenapa Zahra harus menyembunyikan Papa, Zahra ingin memeluknya Mama, Zahra ingin Papa yang mengantar dan menjemput Zahra kesekolah kayak temen-temen." Rengekan gadis kecil itu langsung membuat hatiku terenyuh, aku yang memang mendambakan seorang anak dalam sebuah pernikahan juga merindukan hal yang sama seperti yang gadis kecil itu katakan.
"Kan ada Mama, Zahra bisa minta apapun yang Zahra mau dari Mama." Luna menjawil hidung Zahra.
"Zahra sudah pernah minta gendong sama Mama, kata Mama Zahra berat, Zahra juga pernah minta es krim sama Mama, Mama gak bolehin, semua yang Zahra mau Mama gak kasih, kalau sama Papa pasti Zahra bebas mau melakukan apapun, seperti teman-teman Zahra." Gadis itu sangat pandai bicara, pasti Luna kewalahan dalam menjaganya, pantas saja Luna membawa Zahra bertemu denganku, rupanya dia cerewet dan suka memaksa, tanpa sadar aku tersenyum mendengar gadis kecil itu bicara.
"Oke-oke, mulai hari ini Zahra bebas mau minta apapun, Mama akan kabulkan permintaan tuan putri Mama."
Gadis kecil itu membalikan tubuh menghadap kearah lain, dia melipat tangannya kedada.
"Zahra gak mau, Mama pasti bohong lagi sama Zahra." Ekspresi Zahra persis pemeran antagonis yang ada di dalam sinetron.
Tawa ku hampir meledak di buatnya, tapi harus ku tahan karena ada Luna di sana, aku takut dia tersinggung.
"Zahra, kok gitu sih ngomongnya sama Mama." Luna masih dengan sabarnya membujuk gadis kecil yang cerewet itu, aku sudah tidak tahan lagi melihatnya, segera ku hampiri mereka untuk sekedar menyapa.
"Assalamualaikum Luna." Aku memberi salam tepat setelah berdiri berseberangan dengan Luna.
"Wa'alaikum salam." Luna menjawab.
"Assalamualaikum Mama." Sebelum berbicara dengan Luna aku terlebih dahulu menyapa Mama dan meletakan bunga yang kubawa di samping batu nisan tepat di sebelah bunga yang di bawa Luna.
"Hai gadis kecil, kita belum berkenalan, siapa nama kamu?" Kemudian aku menyapa Zahra sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Zahra yang sedang cemberut merubah ekspresinya menjadi malu-malu, dia kemudian memandang mamanya, mungkin meminta izin atau meminta instruksi dari mamanya apa yang harus di lakukannya pada orang baru.
Luna hanya bisa mengangguk pasrah, memberikan persetujuan pada Zahra untuk menjabat tanganku.
"Halo Papa, namaku Zahra." Kemudian dia tersenyum centil membuat hatiku riuh gundah, dan gemas, kenapa ada anak yang segemes ini.
"Mama, kenapa Papa cuma menjabat tanganku? Tidak memeluk ku seperti yang di lakukan oleh Papa teman-temanku?" Gadis kecil itu berbisik pada mamanya namun aku masih bisa mendengarnya, hatiku terluka, begitu beratnya hidup seorang anak tanpa ayahnya, semua yang di lakukan oleh temannya akan menjadi perbandingan hidupnya sehari-hari.
"Zahra mau peluk, ayo sini." Ku rentangkan tangan agar gadis kecil itu mudah memelukku.
Namun lagi-lagi Zahra menatap ibunya, mungkin minta persetujuan. Luna hanya mengangguk pelan, tak kuasa untuk menahan.
Gadis kecil itu benar-benar berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. "Papa, aku sudah lama merindukan pelukan Papa, aku iri sama teman-teman yang selalu di temani oleh Papanya kesekolah, mereka di peluk setiap hari." Oceh gadis kecil itu di telingaku, jantungku tidak berhenti berdebar mendengar setiap ocehan nya, ah perasaan apa ini, di tambah lagi air mataku jatuh berlinang.
Untuk pertama kalinya, aku merasa dicintai tanpa syarat. Bukan karena jabatan, bukan karena status, hanya karena aku—Papanya.
Setelah puas gadis itu melepaskan pelukan lalu menatap wajahku. "Papa kenapa menangis? Papa sedih?" Tanya Zahra heran, tangan kecilnya mengusap wajahku yang basah karena air mata.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana Zahra, apa aku sedang sedih? Entahlah, aku bahkan tidak tau untuk apa air mata ini keluar, yang bisa kulakukan hanya mengangguk.
Kulihat Luna memalingkan wajah, mungkin dia tak kuasa melihat pemandangan ini, bukan aku simpati pada wanita itu, aku hanya memandang dari sudut pandang wanita manapun yang ada di dunia ini pasti akan merasakan kesedihan jika anak mereka terus menanyakan keberadaan ayahnya.
"Zahra ayo kita pergi, sekarang sudah sore." Ucap Luna.
Zahra cemberut ada yang ingin di katakan nya, mulutnya sudah terbuka, tapi Luna lebih dulu yang berbicara.
"Zahra lupa kalau malam ini ada les piano, kita harus segera pulang jika tidak mau terlambat."
"Les piano?" Raut wajah Zahra yang cemberut berubah menjadi berbinar. "Mama Zahra lupa kalau ada les piano hari ini, Zahra suka les piano karena gurunya ganteng." Gadis centil itu langsung melepaskan tangannya yang berada di leherku dan terburu-buru mendekati ibunya.
"Kami permisi." Luna tanpa basa basi panjang langsung beranjak meninggalkan ku. Aku ingin sekali menahannya tapi untuk apa? Luna pasti menolak ku dengan berbagai alasan.
Pada akhirnya aku membiarkan mereka pergi begitu saja, setelah beberapa menit di makam ibu aku memutuskan untuk pulang, di sepanjang perjalan pikiranku terus memikirkan gadis kecil itu, kadang-kadang aku tertawa, kadang pula aku menangis.
'Jangan-jangan gadis itu benar darah dagingku?' Pertanyaan itu terus muncul dalam benakku tanpa bisa di bantah lagi, hatiku telah yakin kalau Zahra adalah anakku dan Luna, aku bisa merasakannya apa lagi di saat memeluknya.
Tapi apa yang harus aku lakukan setelah ini?
Aku benar-benar bingung di buatnya.
Sesampainya di rumah hari sudah malam, kedatangan ku di sambut oleh bi Nah, salah satu asisten rumah tanggaku dengan makan malam sudah terhidang di atas meja.
Aku duduk di bagian kepala meja, tepatnya di singgasana para kepala keluarga bertempat, ku tatapi semua hidangan dengan piring telungkup di sampingnya, semuanya lezat namun aku tidak berselera.
"Ada pesan dari nyonya?" Tanyaku dengan suara pelan.
"Ada tuan, nyonya Serina tidak pulang malam ini karena ada syuting di luar kota." Bi Nah menjawab dengan pelan dan hati-hati.
Aku mendesah, ini bukan yang pertama, Serina selalu sibuk dengan pekerjaannya, dalam satu Minggu hanya semalam atau dua malam saja Serina bisa menemani ku makan malam, sisanya Serina selalu ada kegiatan diluar, syuting film, syuting iklan, pertemuan, photoshoot dan lain sebagainya.
"Simpan semua makanan ini, saya tidak berselera." Aku mengangkat b****g meninggalkan meja makan begitu saja.
Aku masuk kedalam kamar lalu mengunci diri di sana, bukan untuk tidur tapi untuk merenungkan apa yang telah terjadi. Terutama gadis kecil itu, hati ku mengatakan kalau aku harus bertemu dengannya.
Tapi bagaimana caranya?
Aku tau, aku pernah menyimpan nomor ponsel Luna untuk menelponnya saat pertama kali dia datang dari kampung, tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol hijau, nomornya masih aktif.
Dan panggilan tersambung "Halo." Suaranya tenang, tapi dingin. Aku terdiam. Haruskah aku bicara?