POV Luna
Banyak orang bilang, balas dendam terindah adalah kembali dengan kesuksesan. Tapi benarkah begitu?
Sejak pertama kali menginjakkan kaki ke rumah yang dulu kutempati bersama Lintang, hatiku yang semula tenang kembali bergejolak. Tidak ada yang benar-benar indah dari balas dendam, apa pun konsepnya. Ia hanya menyisakan kegelisahan di d**a.
Aku kembali bukan untuk membalas apa pun. Aku datang karena pekerjaan, dan karena Zahra—gadis kecil pelipur suka dan dukaku—yang tak henti menanyakan ayahnya sejak bisa berbicara.
Pernah terlintas di pikiranku untuk menyembunyikan jati diri ayahnya. Lelaki b******k yang telah menghancurkan hidupku. Tapi Zahra tak pernah lelah bertanya. Sekali waktu, kukatakan bahwa ayahnya sudah meninggal, berharap pertanyaannya berhenti. Namun yang terjadi justru sebaliknya—setiap hari dia merengek ingin diantar ke makam ayahnya.
Saat itu aku sadar, aku harus menghadapinya. Aku harus mempertemukan mereka.
Pindah ke kota ini terasa seperti kembali ke medan perang. Luka yang belum kering kembali menganga. Tapi tawaran kerja sama dari komunitas desainer muslimah terlalu berharga untuk ditolak. Kami membangun branding besar untuk fashion muslim, dan aku menjadi salah satu penggagasnya. Kesempatan langka yang tak boleh kusia-siakan.
Sudah beberapa bulan aku menetap di sini. Kesibukan menyiapkan kantor pusat, merekrut tim desainer, dan membangun citra membuatku belum sempat mempertemukan Zahra dengan ayah kandungnya. Namun, desakan Zahra tak bisa lagi kuhindari.
Malam itu, sebelum berangkat, aku duduk lama di tepi ranjang. Zahra tertidur memeluk boneka rusanya. Napasnya tenang, polos, tanpa beban. Sementara aku, bergulat dengan ketakutan. Bagaimana jika Lintang mengusir kami? Bagaimana jika dia menghina Zahra? Atau lebih buruk—menganggapnya anak haram?
Tanganku gemetar saat menyiapkan baju terbaik Zahra. Gaun biru muda kesukaannya. Kucoba menata rambut ikalnya, membubuhkan sedikit bedak di pipinya. “Kita mau ketemu Papa, ya,” ucapku lirih sambil tersenyum. Zahra melonjak senang, tak sabar.
Rumah itu masih tampak sama. Mewah dan angkuh. Saat berdiri di depan pintunya, lututku hampir goyah. Tapi aku menggenggam tangan Zahra erat. Bismillah.
“Ini Zahra, Mas. Putri kita.”
Tanpa basa-basi, kata-kata itu keluar begitu saja. Aku tahu, Lima tahun lalu Lintang membenciku. Aku hanya perempuan dari kampung yang dijodohkan padanya, sementara hatinya telah terikat pada perempuan lain—Serina. Dan kini, mereka telah menikah. Terlihat bahagia.
“Kamu pasti bohong!” Serina menyambar. “Mas Lintang nggak pernah nyentuh kamu! Tiba-tiba datang bawa anak? Apa maksudmu?”
Lintang hanya tertunduk. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Bahkan menatap Zahra pun ia tak sanggup.
Zahra melangkah maju, mencoba mengulurkan tangan mungilnya ke arah Lintang. “Papa?” bisiknya pelan. Tapi tak ada tangan yang menyambut. Tak ada senyum yang menjawab. Lintang masih diam. Matanya terpejam sesaat, seolah melarikan diri dari kenyataan.
“Mbak Serina,” ucapku tenang, meski hatiku mulai pecah, “silakan tanya langsung ke Mas Lintang. Minta dia bicara jujur.”
Tanpa menunggu jawaban, aku pamit. Tak ada gunanya berlama-lama. Lintang pun belum menunjukkan sikap—menerima atau menolak Zahra. Aku pergi demi menjaga telinga kecil Zahra dari perdebatan yang tak pantas didengarnya.
“Mama, kenapa kita buru-buru pulang? Aku belum sempat salaman sama Papa… belum peluk juga…”
Zahra memandangku dengan mata sendu. Suaranya lirih.
“Papa dan Tante Serina belum siap. Kita kasih waktu, ya?”
Aku berusaha tersenyum meski hatiku perih.
“Zahra nggak nakal kok, Ma… Zahra akan nurut…”
Aku menahan napas. Rasa bersalah menyesakkan d**a.
“Zahra anak baik. Sangat baik. Tapi kadang, orang dewasa butuh waktu untuk mengerti, Nak. Kita sabar, ya.”
***
Beberapa hari kemudian, Serina menghubungiku. Katanya, mereka ingin bicara soal Zahra. Aku belum tahu tujuannya, tapi karena akulah yang memulai, maka aku menyetujui pertemuan itu.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah kafe. Aku datang sendiri. Zahra kutitipkan tinggal bersama Ica baby sitter nya. Kali ini aku tidak ingin membawa anakku menyaksikan permainan emosi orang dewasa.
“Apa buktinya anak itu anak Mas Lintang?” Serina membuka percakapan dengan nada tajam dan penuh curiga.
Aku mengatur napas, menjaga sikap.
“Saya hanya menyampaikan yang sebenar-benarnya. Mau percaya atau tidak, itu hak Mbak dan Mas Lintang.”
Serina mendengus. “Semua perempuan bisa datang dengan seorang anak, mengaku itu anak suamiku. Kamu sengaja kan? Mau hancurin rumah tangga kami? Pasti kamu iri!”
Aku tetap tenang. Di hadapanku, Lintang masih bungkam. Matanya kosong. Tak ada pembelaan, tak juga bantahan.
“Luna…” akhirnya dia bicara. “Kita cuma pernah melakukannya sekali. Dan waktu itu aku mabuk. Rasanya nggak mungkin kamu hamil…”
Aku tersentak. Ingatanku langsung mengalir deras—malam penuh luka itu. Saat tubuhku dipaksa berkali-kali, saat dia menyebut nama Serina di sela amukannya. Saat paginya, dia menjatuhkan talak seolah semua tak berarti.
Aku telah disakiti secara brutal—lahir dan batin. Tapi aku bertahan. Aku bangkit. Bukan demi dia, tapi demi diriku sendiri. Demi Zahra.
“Saya tidak menuntut apa-apa,” ucapku lirih. “Saya hanya menjawab pertanyaan Zahra. Dia ingin tahu siapa ayahnya.”
“Alasan! Kamu masih cinta sama Mas Lintang, kan?” bentak Serina lagi.
Aku tersenyum pahit. “Sepertinya Mbak Serina terlalu berlebihan. Jika pertemuan ini hanya untuk menyudutkan saya, saya undur diri. Semoga Mbak dan Mas Lintang bahagia.”
Aku berdiri. Tak ada lagi yang perlu dikatakan.
Aku melangkah pergi, meninggalkan dua sejoli yang saling diam dalam kekalutan. Seorang istri yang ketakutan—takut masa lalu suaminya menghancurkan kebahagiaan. Dan seorang suami yang tertekan—terlalu pengecut untuk mengakui kebenaran.
Setelah meninggalkan kafe itu, aku berjalan kaki menyusuri trotoar malam. Langit gelap, angin dingin menyapu wajahku. Langkahku terasa berat, tapi hatiku lebih berat lagi.
Aku ingin menangis. Tapi air mataku sudah terlalu sering tumpah. Sejak malam itu, sejak tubuhku dihempaskan ke lantai, sejak aku ditinggalkan dengan luka, dengan kalimat talak yang menyayat—aku belajar untuk tidak mudah menangis.
Zahra lahir dengan tangisan nyaring dan mata besar yang indah. Sejak detik pertama menatapnya, aku tahu hidupku tidak akan pernah sama. Dia bukan hanya anakku. Dia adalah alasanku untuk tetap waras, untuk terus berdiri.
Tahun demi tahun berlalu. Zahra tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan cerdas. Kadang dia memelukku sambil berkata, “Mama adalah perempuan paling hebat di dunia.” Saat itu aku selalu menjawab dengan tawa, padahal dalam hati aku ingin menangis karena merasa belum jadi apa-apa.
Lalu pertanyaan tentang ayahnya datang. Awalnya sekali-sekali. Lalu makin sering. Lalu menjadi obsesi.
“Mama, kenapa aku nggak punya Papa kayak teman-teman?”
“Mama, Papa aku ke mana?”
Dan akhirnya, “Mama, aku pengin ketemu Papa. Sekali saja.”
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawaku ke titik ini. Membawaku kembali ke hadapan orang yang pernah menghancurkan ku. Membuatku berani mengetuk pintu rumah masa lalu.
Tapi hari ini aku sadar: keberanian tidak selalu dihargai.
Lintang memilih diam. Serina memilih menyerang. Dan aku… aku memilih pergi.
Sesampainya di rumah, aku menemukan Zahra tertidur di sofa. Boneka rusanya tergenggam erat di pelukannya. Wajahnya damai, seperti tak ada yang terjadi. Tapi aku tahu, jauh di dalam hatinya, ada harapan yang belum terjawab.
Aku duduk di lantai di sampingnya. Menyentuh rambutnya perlahan.
"Maafkan Mama, Nak," bisikku. "Mama sudah mencoba."
Entah bagaimana kelanjutannya nanti. Tapi untuk malam ini, aku ingin percaya bahwa usahaku tidak sia-sia. Bahwa kebenaran akan menemukan jalannya, cepat atau lambat.
Aku bangkit, berjalan ke dapur, dan membuat secangkir teh hangat. Dari jendela, kulihat langit mulai mendung. Mungkin akan turun hujan malam ini. Dan mungkin, seperti hujan, luka juga akan turun—pelan-pelan menyapu bersih jejak pedih yang tertinggal.
Aku bukan korban. Aku adalah penyintas.
Dan Zahra... adalah kemenangan kecilku yang paling berharga.