Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, kerja keras kami selama berbulan-bulan akan segera launching dengan nama Brand Medina, kami cukup puas dengan hasil yang telah kami dapatkan, akhirnya dengan kesepakatan para desainer yang lainnya kami memutuskan untuk melakukan promosi dengan mengadakan fashion show, biasanya kami hanya melakukan fashion show yang biasa di lakukan di mall, atau di pusat perbelanjaan yang lainnya, namun kali ini kami akan mengadakan fashion show Mega bintang dimana busana yang telah kami rancang akan di pakai oleh para artis dan model papan atas yang ternama, itu semua kami lakukan demi menaikan nama brand Medina sebagai brand dalam negeri yang berkualitas, meskipun kami harus merogoh kantong lebih dalam lagi guna membayar promosi berbayar yang tidak main-main ini.
LAG Tv menjadi Channel pilihan kami, meskipun sempat di tawarkan oleh Chanel televisi yang lainnya namun kami hanya tertarik dengan LAG TV, itu karena LAG TV memiliki rating yang bagus dan selalu mensukseskan setiap acara yang di siarkan di sana.
Aku di sambut oleh sekretaris direktur LAG dan mempersilahkan aku masuk kedalam ruangan bosnya untuk melaksanakan meeting, saat pintu terbuka aku cukup terkejut karena yang duduk di kursi direktur adalah Lintang, laki-laki yang telah menghancurkan jiwa dan ragaku berkeping-keping bahkan hingga tidak berbentuk.
Namun keterkejutan itu hanya sebentar saja, hatiku yang kuat terus berbisik, 'Santai saja Luna, kau tidak perlu lagi menundukkan kepala seperti enam tahun yang lepas, kau adalah Luna yang berbeda'.
"Selamat siang Pak Lintang, senang bertemu dengan anda." Aku berbicara formal selayaknya seorang client, bertemu dengan direktur bukan yang pertama kalinya bagi diriku yang berkecimpung sebagai seorang desainer, aku bahkan sudah bertemu dengan beberapa direktur lainnya untuk bekerja sama, seperti untuk mendapatkan bahan yang berkualitas tinggi aku perlu berurusan dengan perusahaan textile yang ada di dalam negeri maupun luar negeri.
Tak jauh beda dengan diriku, terlihat kalau Lintang sangat terkejut dengan kedatangan ku, bedanya lintang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya di hadapanku, mungkin dia bertanya-tanya, siapa aku? Kenapa aku sampai berada di perusahaannya? Entah rasa penasaran atau rasa jijik yang ada di dalam diri Lintang belum berubah, masih sama seperti dulu.
Terserah, aku tidak peduli dengan apa yang di rasakan Lintang, aku berada di sini karena satu tujuan besar.
"Selamat siang Bu Aluna, silahkan duduk." Akhirnya suara Lintang keluar meskipun terdengar kaku.
Aku mengutarakan tujuanku, membicarakan inti dari pertemuan kami hari ini, soal komisi, model, panggung, kamera dan lain sebagainya tidak ketinggalan aku pertanyakan, hingga terkesan akulah yang lebih banyak bicara di bandingkan lintang.
Aku juga tidak lupa menyinggung soal pemilihan putri muslimah yang akan di adakan sebentar lagi, tujuanku adalah agar busana yang di pakai di pemilihan putri muslimah nanti adalah brand dari Medina.
"Terimakasih Pak Lintang atas kerjasama nya, selamat bertemu kembali." Diakhir pertemuan aku cukup puas dengan apa yang aku dapat kan, setidaknya Lintang tidak mempersulit diriku dan masih meminta komisi yang wajar, aku berdiri untuk segera meninggalkan ruangan Lintang
"Bu Aluna, bisakah kita berbicara empat mata?" Belum sempat membalikan badan Lintang kembali berbicara.
Aku terdiam sejenak, "Baiklah Pak Lintang." Aku memberikan kode pada sekretaris ku untuk keluar dan Lintang pun melakukan hal yang sama pada sekretarisnya.
"Ada apa Pak Lintang, apakah ini menyangkut kerjasama kita atau ada hal yang lain?" Aku tetap berbicara formal.
"Luna, bisakah jangan berbicara formal di saat berdua seperti ini?"
"Pak Lintang, saat ini kita sedang membicarakan soal kerja sama, saya hanya bersikap profesional sebagai client anda." Apa lagi hubunganku dengan laki-laki ini selain dari client nya, mau aku anggap apa dia.
"Luna, hm maksud saya Bu Aluna saya ..." Tiba-tiba saja lintang berbicara dengan penuh keraguan, sama persis saat aku menjadi istrinya dulu.
"Pak Lintang, sepertinya apa yang ingin anda sampaikan belum terlalu matang dalam pikiran anda, lebih baik saya permisi dulu karena saya terburu-buru." Aku kembali berdiri sambil menundukkan kepala sedikit untuk berpamitan. "Sampai berjumpa." Aku membalikan tubuh meninggalkan laki-laki itu, sama seperti yang di lakukannya dulu saat aku berbicara, belum lagi jelas aku mengutarakan maksudku Lintang sudah pergi meninggalkan aku.
"Bisakah aku melakukan tes DNA dengan Zahra?" Teriak Lintang berhasil menghentikan langkahku yang hampir sampai ke pintu, tanganku mengepal kuat, Aku marah mendengar perkataannya, rupanya Lintang tidak berubah, di masih sama seperti dulu, bejad tidak punya hati.
Harapanku terlalu tinggi kepada Lintang, berharap dia langsung mengakui Zahra sebagai putrinya.
"Kalau tidak percaya Zahra anak kamu, tidak perlu melakukan tes DNA, saya tidak memaksa kamu untuk mengakuinya Mas." Ucapku tanpa menoleh padanya, selanjutnya aku tidak ingin lagi mendengar kata-katanya, lebih baik aku pergi meninggalkan ruangan laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupku.
Di depan lift aku berpapasan dengan Serina, istri Lintang, wanita kebanggaan nya saat aku menjadi istrinya, aku tetap tenang, menatap wanita cantik itu sambil memberikan senyum.
Ku akui Serina cantik, tubuhnya sangat proporsional, kulitnya putih sangat kontras dengan rambutnya yang sedikit hitam kecoklatan, matanya yang bulat bewarna coklat menambah nilai kecantikannya, dan yang penting dari semua itu adalah penampilan Serina, pakaian yang mahal dan brandid melambangkan jika Serina adalah wanita paripurna yang tidak tertandingi.
Pantas jika dulu Lintang menolakku mentah-mentah karena nilai kekasihnya jauh diatas ambang batas, seujung kuku Serina yang selalu di nail art tidak sebanding dengan seluruh diriku.
"Kamu? Mau apa kamu datang kekantor suamiku, mau merayu?" Tanpa basa-basi kalimat tajam itu langsung tertuju untukku.
"Merayu?" Kalimat Serina aku ulangi lagi tentu saja dengan senyuman sinis "Apa saya terlihat seperti wanita perayu? Saya bahkan menutup seluruh aurat saya, bagaimana mungkin saya bisa merayu suami anda dengan pakaian tertutup." Skak mat. Serina tidak lagi menjawab, dia melengos meninggalkanku begitu saja.
"Kak Luna, sepertinya wanita itu cemburu." Dea sekretaris ku yang berkomentar saat kami sudah di dalam lift.
"Cemburu?"
"Ya, dia cemburu pada kakak."
"Buat apa dia cemburu pada wanita sepertiku Dea, bahkan suaminya saja membenciku." Benarkan? Wanita sekelas Serina untuk apa cemburu pada wanita yang tidak di toleh suaminya, kalaupun iya grade cemburunya pasti di atas cemburu buta.
"Tapi tatapan pak Lintang memang berbeda Kak Luna, sepanjang Kak Luna bicara pak Lintang sepertinya menyimpan kekaguman pada anda, jadi wajar saja jika wanita itu cemburu, apalagi kalau dia istrinya."
Aku terdiam, benarkah begitu.
"Kak Luna, anda di kagumi oleh seorang direktur, anda sangat beruntung sekali."