Kak Luna, anda di kagumi oleh seorang direktur, anda sangat beruntung sekali."
Kata-kata Dea terus terngiang di telingaku dan sangat mengganggu pikiranku, dulu waktu aku akan di jodohkan dengan Lintang usiaku baru menginjak sembilan belas tahun, baru saja tamat sekolah menengah atas, Aku tidak tau apa profesi Lintang, yang aku tau dia adalah orang kaya.
Saat pertama kali melihatnya di terminal, dia menjemput ku dengan menggunakan pakaian formal, celana bahan dengan kualitas tinggi berpadu dengan jas bewarna biru tua, dasi bermotif kotak masih bertengger di lehernya yang jenjang.
Sebagai seorang wanita normal tentu saja aku langsung mengagumi Lintang, jatuh cinta pandangan pertama itulah judulnya saat itu, di usiaku yang baru menginjak sembilan belas tahun tentu saja aku langsung membayangkan hidup bahagia bersama Lintang, namun sayangnya semua itu hanya khayalan semata.
Lintang tidak pernah ramah denganku, jangankan ingin bertegur sapa, memandangku saja Lintang seperti memandang najis, sebelum pernikahan terjadi aku mengadu pada ibu Chintia.
"Mama Chintia, mas Lintang tidak menyukaiku, apa sebaiknya pernikahan ini di batalkan saja, aku takut akan tidak baik kedepannya." Aku menangis tersedu di pangkuan ibu lintang, aku sadar diri, kalau orang lain tidak suka kenapa harus di paksa, tapi ibu Chintia berusaha meyakinkanku.
"Dulu Mama dan papa Lintang juga begitu, tapi lama-lama kami bisa menyesuaikan diri, akhirnya sekarang kami gak bisa jauh-jauh, selalu menempel kemanapun pergi."
Aku tidak kuasa lagi berdebat dengan ibu Chintia, ku biarkan saja pernikahan antara aku dan lintang terjadi, berharap apa yang di katakan oleh ibu Chintia akan benar-benar terjadi.
Beberapa bulan aku dan Lintang menjalani hidup satu atap, aku di perlakukan seperti pembantu, bahkan lebih dari itu, bahkan terkadang Lintang dengan sengaja membawa Serina datang kerumah, mereka bermesraan di depanku, wanita mana yang tidak hancur lebur di perlakukan seperti itu.
Aku di anggap Lintang sebagai sampah di dalam hidupnya, busuk, tidak enak di lihat, dan menghalangi jalannya, aku berusaha kuat namun Tuhan memberikan takdir yang lain.
Suatu hari Lintang membawa Serina pulang kerumah, aku di suruh berdiri di depan mereka, kemudian mereka b******u mesra di depanku, bukan satu kali tapi sering kali terjadi. Setiap mereka bermesraan Lintang selalu memaksaku untuk melihat kemesraan mereka, dan hari itu adalah hari na'as bagi kami, ibu Chintia datang tiba-tiba bertamu kerumah kami dan apa yang di lakukan oleh Lintang langsung di saksikan oleh ibu Chintia.
Seketika ibu Chintia langsung terkena serangan jantung dan berakhir di rumah sakit, lima hari ibu Chintia di rawat dinyatakan meninggal dunia, sejak kejadian itu lintang semakin menjadi, menuduh akulah penyebab dari kematian ibunya.
Sampai pada klimaksnya rumah tangga kami, aku mendapati Lintang pulang dalam keadaan mabuk, dia terus mencaci ku, menghinaku, menuduhku dengan kalimat yang sangat menyakitkan, puncaknya dia merudapaksa diriku dengan menyebutkan nama Serina tiasa henti.
Aku lemah, tidak ada yang bisa ku pertahankan selama berumah tangga dengan Lintang, harga diriku hancur, kehormatan ku sebagai seorang wanita pun tidak di junjung tinggi, itu semua terjadi karena aku wanita miskin, anak yatim piatu, tidak berharta tidak pula berilmu, tidak ada yang menjadi pelindung diriku.
Setelah di talak Lintang aku dikirim pulang ke kampung, rupanya penderitaan ku tidak sampai di situ, semua orang ikut menghinaku, mencaci hidupku, di tambah lagi aku dinyatakan hamil, berbagai spekulasi dari masyarakat mulai bermunculan, aku di anggap wanita hina, berbuat zina.
Karena semua kejadian ini nenek ku keluarga satu-satunya yang ku punya meninggal dunia, dunia seolah runtuh, aku benar-benar seorang diri.
"Hei wanita pelakor." Aku yang sedang duduk di lobi karena menunggu salinan beberapa berkas kontrak sebagai tanda kerja sama aku dan perusahaan LAG TV cukup terkejut mendengar suara lantang Serina yang ternyata turun menyusul ku.
Akibat dari ucapannya yang lantang kami mulai jadi pusat perhatian. Aku tetap duduk tenang, sedangkan Serina berdiri berkacak pinggang.
"Maaf Bu Serina, siapa yang anda anggap pelakor di sini?" Nada suaraku santai namun tetap tegas.
"Kamu, siapa lagi? Kamu itu bagian dari masa lalu Mas Lintang, kenapa kembali lagi, belum puas kamu menghancurkan hubungan kami?" Serina menunjuk wajahku, aku langsung berdiri.
Sepertinya Serina benar-benar ingin mencari cela untuk mempermalukan diriku, tapi aku tetap santai.
"Dasar pelakor!" Teriak Serina dan
Plak.
Sebuah tamparan mendarat di wajah ku begitu saja, aku tidak sempat menahan apa lagi mengelak.
"Hati-hati jika berbicara dan bertindak Mbak Serina, anda sudah mempersekusi saya dan melancarkan tuduhan yang tidak berdasar, anda bisa saya laporkan." Bisa saja aku membalas tamparan Serina, tapi aku memilih tidak melakukannya, biarkan saja Serina merasa di atas awan karena aku tidak melawan.
"Silahkan laporkan saya tidak takut, dasar wanita perayu." Serina semakin menjadi, dia tidak sadar dengan apa yang baru saja di lakukannya.
"Cukup Serina! Kamu kenapa sih? Kamu lihat, orang-orang mulai memperhatikan kamu." Lintang datang memberikan peringatan pada Serina.
"Kamu yang kenapa Mas? Kamu membiarkan wanita gatal ini kembali masuk kedalam kehidupan kamu?" Cemburu, Dea benar sekali, Serina benar-benar cemburu, oleh sebab itu dia bertindak gegabah.
Kisah macam apa ini?
"Serina! Cukup! Cukup! Kamu bisa menghancurkan nama baik kita." Nama baik? Aku berdecih, sudah lama aku tidak mendengar kata itu, nama baik memang selalu di jaga oleh orang kaya.
Akhirnya Serina terdiam, namun tatapannya masih tajam dan mengerikan menatapku.
"Bu Aluna, saya mohon maaf yang sebesarnya atas kejadian ini, istri saya pasti sudah salah paham." Lintang menggeser tubuh Serina, posisnya sekarang tepat di depan Serina..
"Gila kamu Mas, kamu minta maaf dengan dia dan menyalahkan ku?" Bisikan Serina terdengar sampai di telingaku, ah tidak bisa aku bayangkan setelah ini pasti ada perang besar. Haruskah aku merayakan kemenangan ini?
"Saya harap istri anda yang mengatakan permintaan maaf itu Pak Lintang, dan saya minta anda dan istri anda mengatakannya di media, karena saya perlu membersihkan nama baik saya, saya permisi." Aku melenggang pergi, biarkan saja kegaduhan ini terus berlanjut, aku suka dan aku sangat menikmatinya.
Astaghfirullah, aku memegang dadaku, kenapa aku jadi berbahagia seperti ini, maksudku aku tidak ingin balas dendam pada siapapun apa lagi menghancurkan orang lain, pihak Lintang dan Serina lah yang bereaksi berlebihan atas kemunculanku.
Semua yang terjadi bukan keinginanku, hanya secara kebetulan terjadi begitu saja, dan aku tidak merencanakan apapun, ini mungkin rencana tuhan.
Aku berjalan menunduk tanpa sadar aku menabrak seseorang.
"Maaf-maaf saya ..."
"Aluna."
"Avan."