"Aluna, aku sungguh minta maaf," ucap Avandi Albern — teman semasa SMA-ku yang kini duduk di hadapanku. Dulu, dia adalah primadona kelas; wajahnya tampan, kulitnya putih, dan aura Eropa dari ayahnya yang berkebangsaan Jerman sangat kentara.
Aku menyesap kopi latte yang sudah terhidang di atas meja. Kami duduk di sebuah coffee shop yang tak jauh dari kantor LAG TV.
"Minta maaf untuk apa?" tanyaku sambil tersenyum.
"Aku pergi ke Jerman tanpa sempat berpamitan padamu."
"Sudah lama berlalu, Van. Tidak perlu minta maaf."
Aku dan Avan memang selalu dekat. Dulu, banyak gadis cemburu padaku karena mengira kami berpacaran. Padahal kami hanya sebatas teman baik — dan satu-satunya yang mau berteman denganku saat itu adalah Avan.
"Kenapa kamu bisa sampai ke sini, Luna? Bukannya dulu kamu bilang ingin jadi penjaga kampung saja?" Candanya, membuatku tersenyum canggung. Benar, dulu aku sering berkata seperti itu, tapi kenyataannya mengubah apa yang aku inginkan.
"Kamu saja yang kelamaan balik," balasku tak kalah garing.
Kami jadi sama-sama kikuk. Dulu, kami saling terbuka — semua cerita, luka, dan tawa kami bagi bersama. Kini, ada jarak yang terasa, meski samar, kami tidak lagi sama seperti dulu, kisah ku yang begitu keluar membuat aku sedikit tertutup, apa lagi pada laki-laki yang baru saja aku jumpai, meskipun dulunya adalah sahabat.
"Ngomong-ngomong, nenek Suri di mana? Kamu bawa ke sini? Aku kangen ocehan nenek itu," katanya.
"Avan..." suaraku tercekat. "Nenek Suri sudah tiada."
Ia menunduk, lalu menatapku dengan penuh sesal. "Luna, kamu pasti sudah melalui banyak hal."
Kami lalu berpisah karena urusan masing-masing. Ternyata Avan kini menjadi dokter dengan jadwal yang sangat padat. Kami tak bisa lama berbincang, namun sempat bertukar nomor ponsel sebelum berpisah.
***
Hari itu, aku memenuhi permintaan Zahra untuk berziarah ke makam Ibu Chintia — nenek yang tak sempat dikenalnya tapi selalu ingin dia temui.
Menjadi orang tua tunggal tanpa keluarga itu sungguh berat. Segalanya kulakukan sendiri, dan aku sudah membiasakan Zahra untuk mengerti keadaan sejak dini. Zahra hanya punya aku. Neneknya sudah tiada. Ayahnya? Bahkan belum tentu mengakuinya.
Tak kusangka, pertemuan keduanya kembali terjadi — di atas pusara Ibu Chintia.
"Mama, lain kali kita ketemu Papa lagi, ya." Katanya sambil tersenyum. Sepanjang jalan pulang, wajah Zahra berseri-seri. Malam itu pun ia tertidur lelap tanpa mengigau memanggil ayahnya.
Aku bahagia melihatnya, tapi sekaligus takut. Takut jika Lintang hanya memberi harapan palsu. Haruskah aku menyetujui permintaan tes DNA? Tapi... apakah setelah terbukti Zahra anaknya, dia akan berlaku sebagai seorang ayah?
***
Lamunanku buyar ketika ponselku berbunyi. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
"Halo, assalamualaikum?"
Sunyi. Tak ada jawaban.
"Halo?" Aku ulangi sapaan, tetap tanpa suara. Lalu, sambungan terputus.
Baru saja hendak meletakkan ponsel, ia kembali berdering. Kali ini kupilih mengabaikannya. Tapi dering itu tak kunjung berhenti. Kesal, akhirnya kuangkat.
"Halo! Siapa sih, ganggu malam-malam begini?"
"Luna, maafkan aku... ini Avan."
Seketika amarahku reda. Aku cek layar, memang benar. Namanya tertera di sana.
"Avan? Maaf, aku tidak tahu itu kamu."
"Kamu gak simpan nomor aku?"
"Aku simpan kok. Tapi... kamu telepon malam-malam, aku kira orang iseng." Bohongku kecil.
"Aku baru selesai operasi besar. Baru bisa menelepon sekarang."
"Memangnya ada apa?"
"Luna, aku mau mengundangmu."
"Malam begini?"
"Iya. Acaranya besok malam. Aku takut kamu sudah ada jadwal lain."
"Besok kamu kirim undangannya ke kantorku, ya."
"Oke. Luna, kamu tamu kehormatanku."
***
Pagi ini, aku tersenyum saat menerima undangan dari Avan. Kukira dia akan menikah. Ternyata tidak. Undangan itu adalah Grand Opening hotel mewah miliknya — LA Luxury Hotel — yang berdiri megah di pusat kota.
Ternyata selain dokter, Avan juga seorang pengusaha. Sebagai sahabat, aku bangga.
Kupilih gaun terbaik — anggun namun tetap menutup aurat — dan aku mengajak Zahra ikut serta. Aku ingin mengenalkan Avan padanya.
Gedung megah itu memancarkan kemewahan di setiap sudut. Lampu taman bersinar lembut, air mancur menari di tengah-tengah hamparan hijau, papan ucapan selamat berjejer rapi menyambut para tamu.
Ballroom hotel itu pun tak kalah mewah, gemerlapan, dan penuh pujian dari setiap undangan yang datang.
"Kita ke sini mau ngapain, Ma?" tanya Zahra sambil menggenggam tanganku erat.
"Kita mau ketemu teman Mama. Kamu mau, kan?"
"Zahra boleh nyanyi gak?" tanyanya polos ketika melihat musisi live performance di sisi panggung. Sejak kecil Zahra memang suka menyanyi dan tampil di depan orang.
"Boleh, kamu mau nyanyi lagu apa?"
Suara itu membuatku menoleh refleks. Avan berdiri di sana, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang begitu rapi. Senyumnya hangat seperti dulu, namun kini ada sorot kagum yang membuatku sedikit salah tingkah.
"Avan?" panggilku.
"Hei, Luna," sahutnya sambil berjalan mendekat. "Dan siapa simanis ini?"
Zahra langsung bersembunyi di balik kakiku, matanya mengintip malu-malu.
"Zahra, ayo salim. Ini Om Avan, teman Mama sejak lama," ucapku pelan sambil membimbing tangannya.
Avan membungkuk sedikit, lalu menyodorkan tangannya, "Halo, Zahra. Om Avan senang sekali bisa bertemu kamu."
Zahra menyalami perlahan, lalu bertanya polos, "Om Avan yang punya hotel ini?"
Avan tertawa kecil. "Iya, Om yang punya. Zahra suka?"
"Bagus banget. Ada air mancurnya." Mata Zahra berbinar.
"Luna, terima kasih sudah datang. Aku benar-benar senang," ujar Avan, menatapku lekat-lekat. "Kamu cantik malam ini."
Aku tersenyum, sedikit kikuk. "Terima kasih, Avan. Aku kira kamu akan menikah, ternyata kamu buka hotel."
"Belum waktunya menikah," sahutnya santai. "Tapi siapa tahu... habis ini."
Aku tertawa kecil, berusaha mengabaikan degup aneh di d**a.
"Zahra tadi minta nyanyi, Van. Tapi—"
"Kalau begitu Zahra boleh nyanyi. Acaranya memang santai, kok. Ada sesi hiburan, dan anak-anak juga boleh tampil." Avan berlutut agar sejajar dengan Zahra. "Zahra, mau nyanyi sekarang atau nanti?"
Zahra melirikku sebentar, lalu menjawab mantap, "Sekarang aja Om."
Aku mengangguk memberi izin. Avan pun memberi isyarat pada panitia di dekat panggung. Tak lama, seorang MC mengumumkan penampilan khusus dari "Tamu cilik yang manis bernama Zahra."
Aku menahan napas saat melihat putriku naik ke atas panggung, menggenggam mikrofon dengan percaya diri. Musik pelan mulai dimainkan. Zahra menyanyi dengan suara lembut namun jelas, membuat beberapa tamu memutar kepala dan memberi tepuk tangan kecil.
Saat lagu usai, tepuk tangan menggema di dalam ballroom.
"Anakmu luar biasa, Luna," gumam Avan di sebelahku. "Dia kuat. Seperti ibunya."
Aku tersenyum, tapi mataku mulai berkaca-kaca.
"Luna..." Avan menatapku serius. "Kalau kamu tak keberatan, aku ingin lebih sering bertemu kalian berdua."