POV Lintang
"Halo, assalamualaikum."
Suara lembut Aluna terdengar dari seberang sana. Aku sudah membuka mulut, siap menjawab tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Tenggorokanku tercekat. Napas ku sesak. Aku tidak bisa bicara.
"Halo? Siapa ini?"
Nada suaranya mulai ragu, mungkin curiga, tapi tetap tenang. Namun aku masih membisu. Hatiku seolah berteriak, tapi lidahku kelu. Aku akhirnya menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Koneksi terputus—dan begitu pula keberanianku.
Aku menatap layar ponsel yang perlahan redup. Apa aku terlalu pengecut untuk sekadar menyapa?
Haruskah aku mulai dengan kata maaf? Tapi untuk apa?
"Lintang, kau sudah menghancurkan hati wanita itu enam tahun lalu."
Satu sisi dalam diriku berbicara—tegas, menyayat.
"Tapi aku tidak mencintainya waktu itu. Aku hanya menjalankan perintah Ibu. Mana mungkin aku bisa mencintainya ketika hatiku sepenuhnya milik Serina?"
Sisi lain ku membela.
Ya. Aku tak mencintainya. Pernikahan itu bukan keinginanku. Luna hanya ‘gangguan’ yang mencuri tempat Serina. Dan semua yang kulakukan padanya adalah bentuk penolakan. Tapi, malam itu... malam kelam itu aku tak bisa lari dari kenyataan. Aku melukainya dan itu sepenuhnya salahku.
dengan lebih keras? Kenapa ia membiarkan semuanya terjadi?
Namun... mengapa Luna tak menolak ku dengan lebih keras? Kenapa ia membiarkan semuanya terjadi?
Pertanyaan itu menyiksa, menggantung seperti jerat yang siap menjerumuskan. Aku menunduk. Perasaan bersalah itu kini datang seperti badai—membabi buta.
***
Pagi hari – Ruang makan
Saat melangkah ke ruang makan, aku dikejutkan oleh kehadiran Serina. Ia duduk dengan anggun, senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Selamat pagi, sayang," sapanya lembut.
"Pagi," Jawabku datar, energi untuk berbasa-basi lenyap. Aku masih dibebani pikiranku sendiri. Dan Serina seakan tak menyadari kekacauan yang merobek rumah tangga kami sedikit demi sedikit.
Bi Nah mulai menyajikan sarapan. Oatmeal, buah potong, dan s**u hangat. Aku makan dalam diam.
"Sayang? Kenapa kamu diam saja?" Serina mulai menggoda, mencoba mencairkan suasana. "Kamu nggak nanyain aku dari mana? Kenapa udah pulang padahal shooting masih seminggu?"
Aku menghela napas. Bukan sekali dua kali ini terjadi. Serina datang dan pergi sesuka hati, seolah status sebagai istriku tak berarti.
"Kamu marah, ya?" tanyanya lagi. Suaranya manja, tapi kosong.
"Sampai kapan kamu mau seperti ini?" tanyaku tajam, menatap matanya. Biasanya aku luluh, tapi tidak hari ini.
"Lho, salah aku di mana, Mas?"
Serina mulai tersinggung.
Aku menyeringai "Kamu bahkan nggak sadar letak kesalahanmu."
"Pagi-pagi kamu ngomel nggak jelas." Serina menusukan garpu pada potongan apel kemudian memasukannya kedalam mulut dan mengunyahnya dengan pelan.
Kubiarkan Serina menikmati potongan apel kecilnya terlebih dahulu kemudian aku melanjutkan bicara.
"Kamu selalu pergi tanpa izin. Itu bukan sekali, tapi berkali-kali. Dan kamu bahkan nggak merasa bersalah. Hebat kamu, jadi istri."
Serina menegakkan bahu, nada suaranya meninggi. "Aku kerja, Mas! Aku pergi buat kerja. Kamu bisa tanya manajerku."
Aku cukup tersinggung atas apa yang di ucapkan Serina "Kerja untuk siapa? Penghasilanku bisa menghidupi kita sebulan dalam hanya dalam sehari. Kamu kerja karena ego, bukan kebutuhan."
"Apa kamu nggak ingat siapa aku sebelum menikah? Dunia aku bukan di dapur. Kamu tahu itu dari awal!" Serina mulai gemetar. Marah—tapi juga takut kehilangan kontrol.
"Seharusnya kamu bersyukur aku pulang, Mas. Aku pulang karena kamu. Malam ini Grand Opening hotel kamu. Atau kamu pura-pura lupa dan memang sengaja nggak ngajak aku?"
Serina mulai bermain peran. Menggiring opini seolah akulah pihak yang lalai.
"Jangan-jangan ini semua karena Luna, si kampungan itu!"
Mataku membelalak. "Cukup, Serina! Jangan libatkan orang lain. Jangan cari kambing hitam!"
"Kamu membela dia? Luar biasa, Mas. Jangan salahkan aku kalau nanti aku yang bertindak!" Matanya basah. Tapi bukan karena rasa bersalah—karena ketakutan akan kehilangan.
"Faktanya kamu tertarik lagi padanya. Dan kalau ternyata anak itu anak kalian."
Serina menangis. Tersedu. Luka yang dia pendam meledak tapi aku heran, biasanya aku simpati, namun kali ini rasa itu entah kemana hilangnya.
"Mas! kamu kejam." Ucapnya semakin lirih.
Aku bangkit. Sarapan tak lagi terasa penting. "Jangan ungkit Zahra lagi, Serina. Aku sudah jelaskan semuanya."
"Mas, tunggu! Kita belum selesai bicara!"
Tapi aku sudah pergi. Dan mungkin... hatiku juga.
***
Malam – Grand Opening LA Luxury Hotel
Panggung megah, sorotan cahaya, tamu-tamu penting berdatangan. Tapi pikiranku kosong.
Lalu aku melihatnya—Luna. Mengenakan gaun putih elegan yang menutup seluruh tubuhnya menampakan bahwa Aluna adalah wanita yang menjaga diri dengan baik, dia terlihat mahal dan berkelas, senyumnya menyejukkan membuat aku sulit berpaling darinya. Di sampingnya ada Avan. Pria itu tampak melindungi, akrab dan berkelas.
Kemudian, Zahra tanpa di duga naik ke atas panggung, entah siapa yang mengizinkan gadis kecil itu.
"Aku mau nyanyi buat Papa dan Mama."
Dunia seketika runtuh. Entah siapa yang di sebut Zahra sebagai Papa.
"Mas Lintang."
Serina menggandeng lenganku dengan lembut tapi tegas, cukup untuk membuat beberapa mata menoleh. Senyum manis terukir di wajahnya, tipikal senyum Serina saat ingin menunjukkan bahwa ia adalah nyonya besar dari semua ini.
"Kita terlihat seperti pasangan bahagia, bukan?" bisiknya pelan, dengan nada yang menusuk.
Serina tampil cantik, pertengkaran yang terjadi pagi tadi tidak mempengaruhi penampilannya malam ini, dia profesional sebagai seorang istri direktur.
Harus ku akui Serina begitu sempurna mendampingiku sebagai istri direktur, dari segala sisi dia begitu piawai dalam situasi dan kondisi, Serina sempurna, oleh karena itu aku begitu tergila-gila ingin menjadikannya sebagai istri, tapi itu dulu.
Sekarang kami bagaimana orang asing, tidak mengenal antara satu dan yang lainnya, padahal pernikahan kami jelas termasuk lama, biasnya tidak seperti ini, semenjak Aluna hadir kembali seolah menjadi masalah besar dalam keluarga kami, padahal Aluna tidak mengusik, dia hanya ingin anaknya tau sosok ayahnya.
Aku hanya diam. Ada rasa bersalah, hingga Aku tidak tahu lagi siapa yang sedang ku sakiti: diriku sendiri, atau semua orang di sekelilingku.
Entahlah, entah siapa yang menyakiti siapa, semua orang punya lukanya masing-masing.
Aluna, Di sisi lain dia tersenyum bahagia, bersama seorang laki-laki yang menatapnya dengan tatapan kagum, ya aku merasakannya lalu aku menyimpulkannya.
"Mas." Serina sedikit menggoyang lenganku.
Aku tidak menjawab. Mataku kembali pada Luna yang masih berdiri di dekat Avan. Mereka tampak tenang, Zahra kini telah turun dari panggung dan berlari kecil menghampiri mereka. Luna mengangkatnya, memeluknya seolah dunia ini hanya milik mereka bertiga.
"Mas, kamu dengar aku tidak?" Serina menarik lenganku sedikit.
"Aku dengar," jawabku pendek.
"Masih juga diam?" desaknya lagi.
"Aku hanya sedang berpikir." Aku menarik nafasku dalam-dalam, mencoba menjaga emosiku yang nyaris meledak lagi.
"Berpikir tentang dia?" tanya Serina tajam, lirih, tapi jelas.
Aku menatapnya. “Kita sedang di acara resmi, Serina. Jangan buat drama.”
Serina mengerucutkan bibirnya, masih mempertahankan senyuman palsu. Tapi aku bisa lihat matanya sudah mulai berkaca-kaca lagi. Dia tahu, dan aku tahu… ada sesuatu yang tak bisa dia miliki sepenuhnya dariku, dan itu membuatnya marah.
"Aku akan ke ruang tamu VIP," kataku sambil melepas genggamannya dengan halus.
Serina tidak menahan. Ia hanya berdiri mematung, lalu mengangguk pelan. "Jangan lupa siapa istrimu," bisiknya sebelum aku melangkah pergi.
Langkahku berat. Setiap sudut hotel ini mengingatkanku pada proses panjang pembangunan yang ku pimpin. Tapi entah kenapa, malam ini aku merasa seperti tamu—bukan pemilik.
Mungkin karena wanita itu hadir di sini, membawa bagian masa laluku yang belum selesai.