10. Luka Itu Dia Mas.

1139 Kata
Serina mengikuti aku, sekarang kami benar-benar berdua di ruangan VIP, jelas bukan untuk bermesraan tapi untuk berbicara lebih lanjut, mungkin saja sebentar lagi akan terjadi pertengkaran, aku merasakan itu. "Kamu harus tau Serina, tidak ada yang aku rencanakan, jangan salahkan aku" Pekik ku memenuhi kamar. Amarahku benar-benar meledak pada Serina, melihatku menjerit frustasi mata Serina nanar menandakan ketidakpercayaan pada apa yang ku lakukan. Serina terdiam. Matanya berkaca-kaca menatapku, bibirnya bergetar seolah ingin berkata sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar. Ini bukan pertama kali kami bertengkar, tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda. Lebih gelap. Lebih menyesakkan. “Aku tidak menyangka kamu akan berteriak seperti itu hanya karena wanita itu datang!” Suara Serina akhirnya pecah, penuh luka dan amarah yang ditekan. “Aku tidak tahu Luna akan datang! Aku juga tidak tahu anak itu akan berada dalam pelukan Avan!” balasku cepat. Nafasku memburu, emosi dan logika saling tarik-menarik di kepalaku. Serina melangkah mundur, pundaknya gemetar. “Tapi kenapa kamu begitu terpaku pada mereka? Bahkan saat kamu berdiri di podium, mata kamu… bukan ke arahku, bukan ke arah tamu undangan, tapi ke arah mereka!” Aku menatapnya lekat. Aku ingin menyangkal. Tapi aku tidak bisa. Karena apa yang dikatakannya… benar. “Kamu berubah, Mas,” lanjut Serina, suaranya mengecil. “Dan aku bisa merasakannya. Sejak Luna kembali muncul, kamu bukan lagi Lintang yang dulu.” Aku menarik napas dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadaku. “Aku... aku hanya terkejut, Serina. Aku tidak tahu mereka akan datang bersama. Aku tidak tahu Zahra akan ada di sana…” “Zahra?!” Serina mendekat, wajahnya memucat. “Kamu memanggil anak itu dengan nama? Sejak kapan kamu tahu nama anak itu, Mas?” Aku terdiam. Kali ini benar-benar tak bisa berkata-kata. Serina mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya aku melihat air matanya jatuh tanpa suara. “Berarti benar ya, Mas? Anak itu… anak kalian?” Pertanyaan itu menamparku lebih keras daripada semua teriakannya tadi. “Aku… tidak tahu, Serina. Aku benar-benar tidak tahu,” jawabku jujur. “Aku belum pernah menanyakannya langsung pada Luna.” Serina tertawa kecil, getir. “Belum pernah? Tapi kamu sudah memanggilnya Zahra. Kamu bahkan tidak yakin itu anakmu, tapi kamu memberi perhatian seperti seorang ayah.” Aku ingin membantah, tapi Serina terlalu cepat. “Aku yang salah, ya? Aku yang selalu pergi bekerja, aku yang tidak sepenuhnya menuruti keinginanmu, aku yang kamu anggap istri tidak sempurna…” “Serina, ini bukan soal siapa yang salah. Ini tentang—” “Cinta?” potongnya tajam. “Kalau kamu memang mencintai aku, Mas… kamu tidak akan melihat wanita lain seperti itu.” Aku menatap Serina lama. Perempuan yang dulu ku korbankan banyak hal untuk bersamanya. Tapi sekarang… aku bahkan tidak bisa mengenali siapa yang sedang berdiri di hadapanku. Aku melangkah pelan, mengambil jas yang tadi ku letakkan di sofa. “Aku butuh waktu, Serina. Aku perlu berpikir jernih.” “Kamu mau pergi?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar. Aku mengangguk perlahan. “Hanya sebentar. Aku tidak ingin membuat keadaan makin buruk.” Serina tidak menjawab. Hanya memalingkan wajahnya, membiarkan air matanya jatuh satu per satu tanpa ditahan. Aku melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkannya sendirian. Tapi di sepanjang koridor hotel mewah yang ku bangun ini… langkahku justru terasa paling rapuh. Aku ingin mengatakan banyak hal, tapi lidahku seakan kelu saat berhadapan langsung dengan wanita ini—wanita yang dulu ku campakkan tanpa berpikir panjang. Luna duduk tenang menikmati minuman dingin di sisi outdoor hotel, Entang mengapa langkah kakiku membawa jiwa ragaku mendekati wanita itu. "Kenapa kamu datang ke acara ini?" tanyaku pelan. Luna menoleh lalu tersenyum tipis, senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Aku diundang, sebagai tamu kehormatan, oleh seseorang yang sangat menghargai aku." Jawabannya memukulku tepat di d**a. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa ia tak lagi membutuhkan kehadiranku, bahkan untuk sekadar menjelaskan semuanya. "Aku gak pernah benar-benar ingin menyakitimu dulu," kataku nyaris berbisik, mungkin ini yang tempat untuk meminta maaf. Luna menatapku dalam. "Tapi kamu tetap melakukannya, Mas Lintang dan yang lebih menyakitkan, kamu melakukannya tanpa merasa bersalah." Aku menunduk. Rasa bersalah itu seperti belati yang menancap perlahan. "Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak lagi menunggu maafmu. Aku sudah belajar memaafkan diriku sendiri, dan itu jauh lebih penting." Sebelum aku bisa merespons, langkah kaki terdengar mendekat. Sosok jangkung itu muncul dengan senyum tenang dan karisma yang tak terbantahkan. "Avan, dimana Zahra?" Perhatian nya langsung teralihkan. "Gadis manis itu sedang berada di zona main anak-anak, dia pintar sekali bahkan sudah punya teman." Avan memuji Zahra, aku jadi iri. "Ah, kalian sudah kenalan rupanya," kata Avan santai. "Lintang, ini Luna, sahabat lamaku. Dan sekarang, mungkin calon partner masa depanku—jika dia berkenan tentu saja." Avan terkekeh. Aku terdiam. Kata-kata Avan seperti petir di siang bolong. Aku melirik Luna, menunggu reaksinya, tapi ia justru tersenyum, dan tidak membantah. "Sejak dulu, aku selalu mengagumi Luna. Bukan hanya karena dia punya bakat luar biasa di dunia desain, tapi juga karena dia punya kekuatan yang tidak banyak wanita miliki." Luna tertawa kecil, "Jangan dilebih-lebihkan, Van." Avan menatapnya, lalu menoleh padaku. "Aku hanya ingin orang-orang tahu, termasuk kamu, Lintang, kalau aku sangat serius dengan wanita ini. Dan kalau dia mengizinkan, aku ingin jadi bagian dari hidupnya. Kali ini, untuk waktu yang lama." Aku menatap Luna. Ia tidak menjauh dari Avan. Bahkan, aku melihat cahaya dalam dirinya yang dulu tak pernah bisa kutemukan saat bersamaku. Aku kalah. Tapi anehnya, aku tahu aku pantas kalah. Langkah mereka perlahan menjauh, meninggalkan aku yang masih terpaku di tempat. Aku—Lintang yang biasanya percaya diri dan tak tergoyahkan—kini hanya pria biasa yang kehilangan arah. Hatiku berdebar keras, bukan karena cinta, tapi karena penyesalan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku duduk di bangku lorong taman hotel, membiarkan hembusan angin malam menusuk jas mahal ku. Suasana hotel begitu meriah, tapi jiwaku hampa. Pikiranku berulang-ulang memutar senyum Luna dan Zahra bergantian dan tatapan tenang Avan yang begitu yakin. Avan, laki-laki yang selama ini kupikir hanya rekan bisnis muda yang berbakat. Ternyata, dia jauh lebih dari itu. "Lintang." Aku menoleh. Serina berdiri beberapa langkah dariku, wajahnya kini terlihat sedikit tenang—tapi aku tahu, itu hanya topeng. "Kenapa kamu masih di sini? Acara sudah selesai." "Aku hanya butuh waktu sendiri," jawabku singkat. Serina mendekat, duduk di sampingku, menjaga jarak tapi tidak menjauh. Kami tenggelam dalam diam yang tidak nyaman. "Aku lihat kamu bicara dengan Luna," ucapnya tiba-tiba. Aku tidak menjawab. "Aku tahu aku tidak punya hak untuk cemburu. Tapi aku juga tidak bisa pura-pura buta. Ada banyak luka yang belum selesai di antara kita, Lintang. Termasuk luka yang kamu tinggalkan di masa lalu mu." "Serina, tolong." Aku mengusap wajahku kasar. "Aku nggak merencanakan semua ini. Aku bahkan nggak tahu Luna bakal datang." Serina menarik napas panjang. "Tapi kamu juga nggak menutup pintu itu. Kamu biarkan rasa bersalah itu tetap ada, dan sekarang malah membiarkannya tumbuh jadi rindu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN